Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Peringatan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Beberapa waktu kemudian, menjelang sore, Sapta memberitahukan bahwa 'karang' telah siap dipakai. Jekob segera memberitahukan bossnya, lalu mereka keluar ruangan pribadi Aaric menuju tempat parkir 'karang'. Sapta telah mengeluarkannya dari garasi dalam keadaan siap digunakan.


"Sapta, bawa alat pengamanmu dan ikut dengan kami. Antar kami ke apartemen, nanti kita bicarakan rencananya di sana." Ucap Aaric, lalu naik ke 'karang' bersama Jekob. Sapta dengan sigap naik ke belakang kemudi, setelah masuk mengambil semua alat pengamanan yang dimaksudkan bossnya.


Setelah tiba di apartemen, Aaric masuk ke kamarnya untuk mandi dan menyiapkan semua yang akan dibawa dan dikenakan. Saat keluar dari kamar, dia terkejut melihat makan malam telah tersedia di atas meja makan. Jekob sudah pesan makan malam untuk mereka saat bossnya sedang mandi. Dia berpikir, harus makan sesuatu sebelum berangkat, karena belum tau apa yang akan dihadapi dan terjadi.


Selesai makan malam, Aaric melihat jam di tangannya. Dia perhitungkan kedua orang tuanya sudah pulang dari kantor, jika mereka ke kantor. "Kalian berdua ikut saya, tapi tidak ikut turun. Kalian hanya memantau dari dalam 'karang'. Saya sudah belasan tahun tidak ke rumah itu, jadi kalian bantu lihat yang di luar." Ucap Aaric serius. Dia tidak mau Sapta dan Jekob masuk ke dalam rumah, sehingga ada yang mengenal mereka.


"Baik, Pak. Tapi bapak harus tetap pakai alat komunikasi, agar bisa berkomunikasi dengan kami." Saran Sapta, karena mengkhawatirkan bossnya. Keadaan yang akan dihadapi belum disurvei oleh anggota keamanannya, sehingga dia harus lebih waspada.


"Bawa saja. Jika harus pakai, akan saya pakai. Nanti kita lihat kondisi di sana." Aaric mengerti rasa khawatir Sapta dan Jekob. Tetapi yang akan dihadapi adalah keluarganya sendiri, sehingga kalau bisa dia akan menghindari hal yang memalukan tentang keluarganya.


"Ayo, mari kita berangkat." Ucap Aaric, lalu mengenakan rompi dan jacket yang telah disiapkannya. Jekob dan Sapta juga mengenakan rompi dan jacket utk berjaga-jaga, lalu membawa minuman yang telah dipesan oleh Jekob. Semua alat pengaman Sapta sudah letakan dalam 'karang'.

__ADS_1


Aaric mengetahui jalan potong ke rumahnya, jadi bisa menghindari jalanan macet, karena waktunya pulang kantor. Hampir satu jam perjalanan, mereka mendekati kediaman keluarga Biantra.


"Ganti plat nomornya Sapta. Sebentar lagi kita sampai." Ucap Aaric, ketika melihat kira-kira 500 meter akan sampai di gerbang rumahnya. "Sudah siap, Pak." Jawab Sapta, setelah plat nomor 'karang' telah diganti secara otomatis.


"Klakson tiga kali, Sapta." Aaric berkata saat melihat security, keluar dari pos dan berdiri di garbang untuk melihat mobil siapa yang datang. Melihat security tidak berniat membuka gerbang, Aaric menurunkan sedikit kaca lalu mengeluarkan tangannya untuk menyuruh security minggir.


Security yang tidak tahu siapa yang ada dalam mobil tetap berdiri sambil mengamati siapa dalam mobil dengan heran. Karena ada tangan yang menyuruhnya menyingkir. "Sapta, mundur. Tabrak gerbangnya." Ucap Aaric, sambil menyiapkan semua perlengkapan pengamanannya. Begitu juga dengan Jekob yang duduk di depan, samping Sapta.


Melihat mobilnya mundur, security menyingkir sambil mengambil senjata di pos. Belum sempat mengambil, pintu gerbang telah ditabrak oleh Sapta lalu masuk ke halaman.


"Jekob, kalau satu jam saya belum keluar, kalian segera tinggalkan tempat ini. Kau segera hubungi Recky dan kau tau apa yang akan kau lakukan. Apapun yang terjadi, kalian jangan buka pintu atau turunkan kaca." Ucap Aaric, karena tidak mau memakai alat komunikasi dengan Jekob dan Sapta.


Salah seorang security yang lebih tua langsung menunduk hormat, karena memgenal Aaric. Sedangkan yang masih baru hendak melawan. "Tuan muda, Aaric. Maaf, anggota kami tadi tidak mengenali tuan. Silahkan masuk, tuan." Ucap security yang lebih tua dengan hormat. Anggotanya yang lebih muda jadi mundur dan minta maaf dengan hormat setelah mendengar ucapan pimpinan mereka.


Aaeic berjalan meninggalkan mereka, menuju pintu utama rumahnya dengan kedua tangan di saku jacketnya. Tanpa menunggu dibuka, dia langsung menendang pintu rumah. Saat pintu terbuka, para pelayan yang hendak buka pintu untuk mengetahui keributan di gerbang terkejut melihat Aaric berdiri di depan mereka. Diantara pelayan ada yang mengenalnya, sehingga menunduk hormat. Aaric menyuruh mereka semua menyingkir.

__ADS_1


Bu Biantra yang masih di kamar dan mendengar keributan dan bunyi pintu rumah dibuka dengan kasar segera keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Begitu juga dengan Pak Biantra yang baru selesai mandi, ikut tergesa-gesa keluar.


"Akhirnya, wanita itu membuat kau melanggar janji untuk tidak pulang ke rumah ini. Yang satu membuat kau pergi, yang satu membuatmu pulang. Aku akan melihat siapa yang paling mempengaruhimu." Ucap Bu Biantra, saat melihat Aaric berdiri di ruang tamu.


"Kau sebut ini pulang? Seharusnya kau jaga jantungmu, saat melihatku berdiri disini. Sekarang aku datang bukan untuk pulang, tetapi sebagai peringatan untukmu dan keluargamu. Karena berikutnya, tidak ada lagi peringatan."  Aaric berkata dengan mata membara, tanpa melepaskan tangannya dari saku jacketnya.


"Apa yang kau katakan? Kau berani mengancamku? Anak tidak tahu diri dan kurang ajar." Bu Biantra berkata dengan amarah yang meluap-luap, karena melihat sikap Aaric yang tidak menganggapnya sebagai Mamanya.


"Kau kira aku tidak tau, yang kau dan keluargamu lakukan kepada Naina? Kau dan keluargamu yang tidak tahu diri dan kurang diajar. Kau dan keluargamu masih sakit hati kepada keluarga Hutama, karena mereka tidak menerima perjodohanmu dengan Hutama?" Aaric menyampaikan sedikit yang disampaikan oleh Gungun.


"Kau dan keluargamu masih menyimpan dendam kepada keluarga Hutama, padahal kau sudah menikah dengan pria itu? Pria itu sudah bekerja padamu dan keluargamu puluhan tahun. Dia sudah memberikan banyak kemewahan untukmu dan keluargamu nikmati. Tetapi kau dan keluargamu tidak pernah melihatnya sebagai manusia." Ucap Aaric, mendekati Mamanya dengan geram sambil menunjuk Pak Biantra.


"Pria itu sudah memberikan dua orang anak padamu, tetapi kau tetap tidak menganggapnya. Tidak pernah sedikit saja menganggapnya sebagai pria yang menyayangimu. Kau hanya memperhatikan Hutama dan ingin menjatuhkannya." Aaric berkata dengan gigi gemeretuk.


"Sakit hati karena ditolak, kau balaskan kepadaku dan Naina yang tidak tau apa-apa. Kau tidak ingin kami bersama, seperti dirimu dengan Hutama? Apakah kami pernah ikut campur, sampai keluarga Hutama menolakmu? Sekarang aku tau, mengapa keluarga Hutama menolakmu. Karena kau tidak layak menjadi seorang istri dan ibu." Ucap Aaric, lalu mengeluarkan tangannya dari jacket dan mendorong pundak Bu Biantra dengan ujung jari telunjuknya.

__ADS_1


"Aku tidak tau, betapa bodohnya pria itu yang terus bertahan puluhan tahun hidup bersamamu. Melihat dan rasakan semua siksaan yang kau dan keluargamu lakukan padanya dan anak-anaknya." Ucap Aaric yang sangat marah, sambil menunjuk lagi ke arah Pak Biantra yang hanya diam terpaku dengan mata berembun. Pak Biantra tidak bisa menyembunyikan rasa sayang kepada putranya yang dirindukan belasan tahun.


~●○♡○●~


__ADS_2