
~•Happy Reading•~
Aaric tidak jadi meneruskan maksud hatinya, hanya memandang Carren dan Bu Nancy bergantian. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan perubahan suasana dan sikap dari Carren dan Mamanya.
"Nak Aaric, Tante permisi sebentar ke toilet." Ucap Bu Nancy pelan, lalu berdiri tanpa menunggu persetujuan Carren. Beliau keluar meninggalkan Aaric dan Carren yang sedang bertanya-tanya dalam hati, karena tidak mengerti.
Perubahan wajah dan sikap Bu Nancy, membuatnya bingung. Aaric memandang Carren yang duduk di sampingnya lalu mengambil tangan Carren yang ada di pangkuannya. Dia meletakan kedua tangan Carren dalam telapak tangannya lalu menggenggamnya. Dia menatap Carren dengan serius. "Arra, apa aku ada buat kesalahan selain terlambat tadi?" Tanya Aaric khawatir dan tidak mengerti dengan perubahan sikap Mama Carren.
"Tidak, Kak. Mama mengerti soal terlambat tadi. Kalau yang ini, Arra tidak tahu. Mungkin menu yang dimakan tidak sesuai dengan perut Mama." Ucap Carren mengalihkan siatusi, karena dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Semoga Mamamu tidak marah padaku." Ucap Aaric, ragu. Apa yang dikatalan Carren tidak bisa diterimanya, karena dia melihat Mama Carren baik-baik saja setelah makan. "Kalau begitu, coba disusul, jangan sampai beliau butuh bantuan." Ucap Aaric lagi, lalu mengusap punggung Carren pelan. Carren mengangguk, mengerti.
Saat Carren hendak berdiri, Mamanya sudah kembali dengan wajah yang membuat Carren tersentak. Mamanya baru selesai menangis, dilihat dari ujung hidungnya yang masih merah. Carren tahu itu, jika Mamanya menahan tangis pasti ujung hidungnya memerah.
"Nak Aaric, kami permisi pulang dulu, ya. Nanti lain kali baru kita bicara lagi." Ucap Bu Nancy pelan dengan suara bergetar. Carren melihat Mamanya dengan bertanya-tanya, tapi hatinya ikut sedih mendengar suara Mamanya.
"Ooh, iya, Tante. Sebentar, saya antar." Ucap Aaric, lalu memberikan isyarat kepada waiters untuk membawa bill. Setelah membayar semuanya, mereka keluar dari restoran menuju tempat parkir.
__ADS_1
Setelah Carren berada di dalam mobil, Aaric memberikan isyarat kepadanya untuk menelponnya dengan meletakan tangan di telinganya. Dia melihat kepergian mobil Carren keluar dari tempat parkir dengan berbagai tanya di kepalanya. Dia segera masuk ke dalam mobil untuk cek GPRS, agar bisa mengetahui percakapan Carren dan Mamanya. Apa kesalahan yang dibuatnya, sehingga Mama Carren tiba-tiba pamit pulang.
Setelah sekian lama perjalanan Carren dan Mamanya, tidak ada pembicaraan. Mereka hanya diam dalam mobil, membuat Aaric makin bingung. Apa yang sedang terjadi. Dia kembali ke apartemen lalu duduk di ruang tamu sendiri. Dia memikirkan pertemuan tadi, dari saat datang bertemu sampai perubahan suasana saat dia hendak berbicara tentang hubungannya dengan Carren.
'Apakah menyangkut perpindahan tempat duduk Carren yang tiba-tiba?' Aaric membatin. Tadi setelah Carren dan Mamanya telah pulang, dia meminta Jekob dan Sapta tidak usah menemaninya di apartemen. Mereka hanya menjemputnya di bandara lalu menunggu di tempat parkir restoran dan mengantarnya pulang ke apartemen.
Jekob sebenarnya minta mau menemani Aaric di apartemen, karena melihat wajah tidak happy bossnya saat keluar dari restoran. Tetapi Aaric meminta mereka berdua pulang, karena ingin sendiri untuk memikirkan kejadian yang tidak diduganya.
.***.
Carren yang sudah tidak tahan menangis sejak dalam mobil, jadi menangis terisak setelah sopinya telah pamit pulang. Carren dan Bu Nancy dalam mobil tidak berbicara, karena sama-sama menahan rasa sedih menurut perasaan masing-masing. Carren menahan tangis karena rasa sedih mengingat Aaric yang ditinggalin dalam keadaan bingung. Mereka menahan tangis karena ada sopir bersama mereka.
Carren mendekati Mamanya yang sedang menghapus air mata di meja makan. Dia sudah tidak bisa menahan rasa penasaran dan sedihnya. Ketika melihat Mamanya sedang menanggis, dia makin menangis sedih.
Dia mendekati Mamanya yang sudah berdiri dari meja makan dan beranjak. Bu Nancy tersentak melihat Carren mendekatinya dengan berurai air mata lalu memeluk kakinya. "Mama, maafkan Kak Aaric, jika ada buat kesalahan. Tadi Kak Aaric benar-benar tidak sengaja datang terlambat." Ucap Carren dalam tangisnya sambil memeluk kaki Mamanya. Bu Nancy diam terpaku melihat yang dilakukan putrinya.
Carren baru pertama kali melakukan itu membuat Bu Nancy menunduk dan memeluk putrinya lalu kembali menangis. "Mama, Arra mohon, jangan buat Kak Aaric bingung dengan Mama mendiamkannya. Kasihani Kak Aaric yang sedang lelah dari penerbangan yang jauh dan tidak mudah. Kalau Mama mau marah, marahlah Arra, Ma. Jangan Kak Aaric. Sekarang Arra tidak tahu mau bilang apa buat Kak Aaric. Arra minta maaf, sudah buat Mama menangis. Maafkan Arra, Ma." Carren berkata sambil terus memeluk kaki Mamanya dengan erat dan meletakan dahinya di lutut Mamanya.
__ADS_1
"Bangun, Arra. Kalian tidak salah. Mama yang salah. Jangan menangis lagi." Ucap Bu Nancy, lalu mengangkat Carren berdiri dan memeluknya. "Segera telpon Aaric, Mama akan bicara dengannya." Ucap Bu Nancy lagi, karena melihat kesedihan putrinya.
Mendengar itu, Carren melepaskan pelukannya lalu mengambi tasnya. Dengan isakan tertahan dia memgeluarkan ponsel lalu menghubungi Aaric. Bu Nancy mengambil ponsel dari tangan Carren lalu masuk ke kamarnya.
📱"Halloo. Nak Aaric, ini Tante." Ucap Bu Nancy, saat Aaric merespon panggilan Carren. Aaric yang hendak menyapa Carren, jadi tertegun.
📱"Eeh, iya Tante. Saya minta maaf, jika tadi ada buat kesalahan." Aaric yang tidak siap menjawab sapaan Bu Nancy, jadi kelabakan hendak berkata apa.
📱"Kalian tidak salah. Tante yang tidak bisa kendalikan perasaan. Jadi sekarang Tante minta maaf, telah membuat kalian bingung. Tante mau jelaskan sedikit tentang peristiwa tadi, tapi Nak Aaric tidak usah bicarakan dengan Carren." Ucap Bu Nancy pelan, dengan suara bergetar karena sedang mengendalikan perasaannya.
📱"Baik, Tante." Jawab Aaric sedikit lega, mengetahui bukan telah berbuat salah..
📱"Tadi saat melihat Carren berdiri dan duduk di sampingmu, Tante jadi teringat Alm. Papanya. Tindakan itu terakhir dia lakukan saat kami sedang berbicara serius untuk hidup kami." Ucap Bu Nancy mengenang masa lalu bersama suaminya. Kembali air matanya mengalir.
📱"Sejak kecil, jika dia melihat kami berbicara serius atau bertengkar, dia tiba-tiba akan duduk di samping siapa yang dibelanya. Entah di samping saya atau Papanya. Dia akan duduk diam tanpa bersuara dan Papanya akan tersenyum senang jika dia duduk di sampingnya. Secara otomatis kami akan berhenti berbicara atau bertengkar, jika Carren sudah menunjukan posisi dimana dia berada. Terakhir dia lakukan itu saat kami sedikit berselisih paham di meja makan, sebelum Papanya pergi ke kantor. Hari itu Papanya mengalami kecelakan di kantor, tidak lama kemudian meninggal." Bu Nancy menjelaskan dengan pelan, menahan rasa harunya.
~●○♡○●~
__ADS_1