
~•Happy Reading•~
Aaric melihat Papanya melewati pinggiran cangkir yang sedang diminum. "Di sini tidak ada buku atau bacaan, karena aku tidak tinggal lama di sini. Papa tulis buku atau bacaan apa yang mau dibaca, biar besok Jekob akan membawanya ke sini." Ucap Aaric senang, karena Papanya sudah mulai membicarakan keinginannya. Dia memiliki banyak koleksi buku bagus, tapi semuanya tersimpan di ruang baca di rumahnya di Swiss.
Tidak usah buru-buru, Papa bisa nonton di kamar. Jadi Papa tidak akan keluar dan mengganggumu." Ucap Pak Biantra. Beliau berpikir, mungkin saja Aaric telah memiliki pacar dan sering di bawa ke apartemen jadi beliau tidak mau mengganggu kesenangan putranya.
"Papa tidak akan menggangguku di sini. Jadi Papa mau lakukan apa di sini, lakukan saja. Kalau mengenai seorang gadis, aku sudah punya pacar. Nanti aku akan kenalkan dia pada Papa." Ucap Aaric sesantai mungkin, agar Papanya tidak merasa sebagai pengganggu.
"Apakah pacarmu, gadis yang dikatakan Mamamu saat itu." Tanya Pak Biantra pelan, mengingat Aaric sangat marah saat megetahui Mamanya ikut campur dan menganggu gadis yang dianggap pacar oleh Pak Biantra. Karena Aaric tidak mungkin bereaksi demikian, jika tidak ada hubungan spesial diantara mereka.
Beliau tidak mau mengungkit nama Naina yang sudah tidak ada, agar tidak mengganggu hubungan yang baru terjalin baik dengan putranya. Beliau tahu, Aaric berpacaran serius dengan Naina, putri dari keluarga Hutama. Ketika Mamanya marah dan mengancamnya, dia mengamuk lalu pergi meninggalkan rumah tanpa memberi kabar. Apalagi setelah Naina meninggal, dia benar-benar tidak kembali dan menghilang.
"Iya, Pa. Dalam waktu dekat aku akan perkenalkan dia pada Papa." Ucap Aaric pelan. Dia tidak membicarakan tentang rencana lamarannya, agar Papanya tidak berpikir dia menjemputnya di Malang untuk menemaninya pergi melamar.
__ADS_1
"Kau lebih beruntung dalam hal ini dari adikmu." Ucap Pak Biantra mengingat pertemuan terakhir di villa malam itu, dengan putra bungsunya di tepi danau. Dia mengatakan sedang mencintai seorang gadis, sehingga merasa sedih dan hancur ketika akan menikahi wanita yang tidak disukainya. Wanita yang disebutnya dengan hantu gentayangan.
"Lebih beruntung? Maksud Papa bagaimana?" Tanya Aaric serius, lalu meletakan cangkir di tangannya. Dia belum mengerti maksud dari perkataan Papanya. 'Kalau soal beruntung karena keberhasilan dalam karier, yaa... Rejeki masing-masing orang berbeda-beda, walaupun mereka kakak adik, pasti berbeda juga. Kalau soal gadis, apa iya, dia beruntung?' Aaric membatin.
"Sebenarnya, saat itu adikmu sedang mencintai seorang gadis, tetapi diminta Mamamu untuk menikah dengan wanita yang menjadi istrinya sekarang." Ucap Pak Biantra lalu ikut meletakan cangkir ditangannya.
"Recky sudah punya gadis yang dicintai?" Tanya Aaric terkejut. Selama ini yang Aaric tahu, Recky belum memiliki pacar yang jelas dan pasti. Dia hanya suka-suka dengan gadis-gadis saat kuliah. Hanya sebatas pacaran biasa yang tidak serius.
"Itu yang dikatakannya, saat Papa menemuinya malam itu di tepi danau di villa. Dia sangat marah saat Mamamu menjebak dia untuk melamar istrinya itu. Sehingga dia memukul tembok karena sangat frustrasi. Dia mau berontak, tetapi tidak bisa karena sudah terlanjur datang melamar." Ucap Pak Biantra pelan, karena mengingat kesedihan putra bungsunya malam itu. Tatapannya yang putus asah dari lantai atas, setelah memukul tembok.
"Apakah gadis itu di Indonesia atau di Aussie?" Tanya Aaric ingin tahu, karena setelah Recky kembali ke Australia dia tidak menunjukan ada wanita yang dia sukai. Dia lebih sering di rumah, atau bepergian dengan mobil bersama asistennya. Dia tidak menunjukan atau mengatakan sedang mencintai seorang wanita kepadanya.
"Papa tidak tahu, karena dia belum pernah kenalkan pada Papa. Perkiraan Papa, mungkin di Australia. Sebab tidak mungkin di Indonesia, karena setiap kali pulang ke Indonesia dia cuma sebentar. Hanya bantu Papa di kantor, lalu kembali lagi ke Australia." Ucap Pak Biantra, sambil berpikir dan coba menebak.
__ADS_1
Aaric makin bingung mendengar penuturan Pak Biantra. Dia melihat Papanya sambil berpikir, siapa sebenarnya gadis yang dicintai adiknya dan dia tidak tahu. Siapa gadis yang membuat adiknya harus memukul tembok, hingga membuat tangannya cedera.
"Apakah Papa tidak menanyakan kepada Recky, siapa gadis itu? Recky tidak mungkin berbohong untuk menghindari pernikahan itu dengan mengatakan sedang mencintai seseorang. Dia pasti sedang mencintai seseorang." Ucap Aaric yakin, karena mengenal baik karakter adiknya.
"Itu yang Papa sesali, tidak menanyakannya malam itu. Dari pelukan, tangisan dan bantingan kakinya, hatinya sedang bergolak dan putus asah. Setelah dia pergi baru Papa sadari, benar, dia sedang mencintai seorang gadis dan sedang berjuang untuk mendapatkannya. Tetapi Mamamu memotongnya, sebelum dia mendapatkan gadis itu. Bantingan kaki penyesalan dan tidak berdayanya, sangat membekas di hati Papa." Pak Biantra berkata tanpa meneruskan bahwa itu yang kedua kali dia lakukan.
Pertama kali dia lakukan saat menangis di tepi tempat tidur rumah sakit ketika dirinya sakit setelah kepergian Aaric. Recky membanting kakinya dengan rasa kesal, marah bercampur sedih, karena tidak terima Papanya sakit akibat terlalu memikirkan kakaknya. Sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendatangkan kakaknya, agar Papanya bisa lekas sembuh.
"Papa sendiri masih terkejut melihat dia tiba-tiba datang di ruang tamu keluarga Tarikalla malam itu. Mamamu tidak bilang kalau kami ke keluarga itu untuk maksud melamar. Recky saat itu ada di Australia, jadi Papa tidak memikirkan hal itu. Papa kira keluarga itu mengundang kami untuk makan malam. Tidak taunya, Mamamu sudah telpon Recky dengan ponsel Papa dan bilang Papa sedang sakit. Dia diminta segera pulang dan adikmu tanpa curiga mengatakan kapan akan pulang. Kemudian Mamamu dan Opamu mengatur semuanya, hingga Recky berada di ruang tamu keluarga Tarikalla malam itu." Pak Biantra menceritakan hal yang menjadi beban pikiran dan sesalnya.
Mendengar cerita Papanya, Aaric menjadi emosi dan geram. 'Pantas Recky katakan merasa gatal jika bersentuhan dengan wanita yang menjadi istrinya. Ternyata banyak kuman bertebaran di sekitarnya.' Aaric membatin.
"Papa tidak sedang mencari alasan untuk membenarkan diri di hadapanmu. Papa hanya mau mengurangi sedikit rasa sesal, dengan menceritakan ini padamu. Seorang Ayah tidak bisa menolong anaknya sendiri dari jebakan di depan mata, sangat menyakitkan." Pak Biantra berkata sambil menatap Aaric dengan mata yang menyimpan kesedihan. Aaric bisa merasakan penderitaan Papanya sebagai pria yang tidak berkuasa dalam rumahnya.
__ADS_1
"Papa bersyukur malam itu adikmu membawa mobil Mamamu, jadi Papa tahu dia kemana. Jika dia membawa mobilnya sendiri, mungkin besok paginya Papa akan mengeluarkan dia dari dalam danau." Ucap Pak Biantra bergidik dan tertunduk sedih memikirkan peristiwa itu.
~●○♡○●~