Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ancaman.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah tiba di apartemen, Aaric meletakan semua alat komunikasi di meja ruang tamu. Dia telah mendengar percakapan Bu Biantra dengan salah seorang dari anggota keamanan yang mengikutinya. Namanya telah dicatat oleh Aaric. Kemudian dia masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.


Sambil menunggu kedatangan Jekob, Aaric menghubungi Sapta untuk mengetahui keberadaanya dan juga informasi tentang tugas yang diperintahkannya.


📱"Kau sudah di mana?" Tanya Aaric saat Sapta merespon panggilannya.


📱"Saya sedang dalam perjalanan pulang, Pak. Saya agak memutar, karena ada yang mengikuti saya. Apakah bapak sudah aman?" Tanya Sapta, setelah Aaric menghubunginya. Dari tadi, Sapta menahan diri untuk tidak menghubungi bossnya, karena dia diminta untuk tidak berkomunikasi dengan anggota dan bossnya.


📱"Saya sudah di apartemen dan sedang menunggu Pak Jekob untuk pergi ke Sero." Aaric membahasakan tempat tinggal team keamanannya dengan Sero.


📱"Kau dalam perjalanan pulang dan ada yang mengikutimu? Jadi tadi kau tidak bisa menghindari dari mereka saat mengantar Nona Carren?" Tanya Aaric baru tersadar dengan apa yang dikatakan Sapta. Jika ada yang mengikutinya saat pulang, berarti saat pergi mereka bisa mengikutinya.


📱"Iya, Pak. Saya tidak perlu menyembunyikan tempat kerja Nona Carren, karena saat kami mau pulang Nona Carren mengenal wanita yang bersama dengan Bu Biantra. Dan ...." Sapta menceritakan apa yang terjadi di tempat parkir Goropaku Restaurant.


Hal itu membuat Aaric terkejut dan menjadi emosi. 📱"Kalau begitu, kau segera tempatkan orang untuk berjaga di kantor Nona Carren. Sekarang kau secepatnya kembali ke Sero, karena ada yang mau kita kerjakan malam ini di sana." Aaric berkata tegas, karena mendengar perkembangan yang baru terjadi.


"Siap, Pak. Saya segera ke sana, karena sudah tidak ada lagi yang mengikuti saya. Apakah hanya kantor Nona yang dipantau atau tempat tinggalnya juga, Pak?" Tanya Sapta untuk memastikan yang ditugaskan kepadanya.

__ADS_1


"Sementara, tempat kerja saja dulu. Selanjutnya nanti setelah saya berbicara dengan Nona Carren." Jawab Aaric tegas, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Aaric jadi teringat peristiwa yang membuat jari Carren terluka. 'Jangan, jangang wanita yang memanggilku 'beb' itu yang dilihat Carren.' Pikir Aaric lagi, mengingat kedekatannya dengan Mamanya malam itu. Dia makin memikirkan itu dengan serius, karena dia mulai melihat benang merah dari peristiwa di pesta pernikahan Recky dan kebersamaan Mamanya dengan wanita itu.


Tadinya Aaric menganggapnya hanya sebuah ganguan kecil yang tidak perlu diperhatikan atau ditanggapi, kini bisa menjadi sebuah ancaman baginya. Apalagi Mamanya telah mengetahui keberadaan Carren.


Ketika Jekob tiba diapartemennya, Aaric menceritakan peristiwa yang terjadi dan juga tentang Carren yang baru disampaikan oleh Sapta kepadanya. "Astaga, Nyonya sudah mulai kalap dan melakukan hal-hal secara terbuka. Ini pertanda mereka mulai panik, sehingga tidak bisa mengontrol tindakannya lagi." Jekob menarik kesimpulan dari peristiwa yang sedang terjadi.


Biasanya, Bu Biantra dan keluarganya bekerja secara senyap. Tidak terang-terangan seperti sekarang. Hal itu membuat Jakob memperhatikan bossnya dengan serius, karena ini menyangkut keluarganya juga.


"Mereka panik, pasti. Karena perusahaan sedang dalam keadaam hampir tenggelam. Tetapi yang membuat terbuka dan tidak terkontrol, karena kehadiran saya yang bertahun-tahun tidak mereka ketahui." Aaric telah memikirkannya sejak dari restoran.


"Apakah urusan saham sudah selesai?" Tanya Aaric, karena dia ingin memsstikan semuanya sebelum mengambil tindakan berikutnya.


"Kalau begitu, kita segera ke Sero untuk memastikan satu hal. Ada seorang anggota keamanan yang terus di hubungi oleh iblis di rumah. Saya ingin bicara dengannya secara pribadi. Yang lainnya, saya serahkan padamu dan Sapta." Aaric berkata serius.


"Lalu bagaimana dengan Nona Carren, Pak. Apakah perlu diawasi juga?" Tanya Jekob, karena dia tahu ada perasaan spesial bossnya kepada Carren. Semenjak melihat bossnya bernyanyi malam itu, dia tahu, Carren telah menarik perhatian bossnya.


"Saya sudah perintahkan Sapta untuk mengirim anggota keamanan untuk berjaga sekitar kantornya. Nanti selanjutnya, kita akan atur lagi setelah berbicara dengan Sapta dan yang ada ditahan di Sero." Ucap Aaric serius, karena dia menyadari Carren bisa dipakai sebagai senjata oleh Mamanya dan keluarganya.

__ADS_1


"Baik, Pak. Kalau begitu, kita segera ke sana, agar tidak terlalu larut. Bapak juga harus istirahat, sebelum berangkat ke Eropa." Jekob mengingatkan schedule Aaric.


"Baik. Mari kita pergi." Ucap Aaric, lalu mengambil jacket dan topi yang sudah disiapkan untuk perjalanannya ke Sero.


Saat tiba di Sero, Sapta telah tiba terlebih dahulu. Aaric memanggilnya untuk bicara bertiga dengan Jekob di ruangan khusus yang disediakan untuknya.


"Sapta, tolong pisahkan mereka. Cari yang bernama Gungun, lalu berikan kepada saya. Kau tau cara mencarinya, jangan menanyakan." Ucap Aaric lalu berdiri. Sapta dan Jekob segera meninggalkan bossnya yang siap-siap ke ruangan interogasi.


Saat masuk di ruangan dimana anggota keamanan Bu Biantra ditahan, Sapta tiba-tiba memanggil nama Gungun. Ketika melihat reaksi dari keenam orang tersebut, Sapta dan Jekob tau yang mana bernama Gungun. Jekob memegang lengannya lalu segera membawanya menemui Aaric di ruang interogasi.


Mereka ditanya berjam-jam, terutama Gungun. Seperti yang diduga Aaric, Gungun adalah orang kepercayaan Mamanya. "Sapta, biarkan mereka istirahat. Tidak boleh satupun lolos dari sini. Kau berikan penjagaan khusus untuk Gungun." Ucap Aaric setelah dia merasa cukup mendapat informasi.


"Siap. Laksanakan, Pak." Jawab Sapta cepat, karena melihat perubahan wajah bossnya yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Entah marah, sedih, kecewa, geram, semuanya jadi satu. Karena bossnya berbicara dengan rahang yang kaku dan mata memerah.


"Jekob, mari kita pulang. Ada yang harus kita kerjakan." Aaric berkata sambil melangkah meninggalkan Sero ke tempat parkir mobilnya. Jekob berjalan cepat mengikuti bossnya yang melangkah panjang dan cepat.


Saat di dalam mobil, Jekob tetap diam menunggu apa yang akan dibicarakan oleh bossnya. Tetapi sampai tiba di tempat parkir apartemen, bossnya tetap diam. Hal itu membuatnya berhati-hati bertindak dan berucap, karena dia tahu bossnya sedang dalam mood yang tidak baik.


Dia memakirkan mobil dengan baik, lalu mengikuti turun, karena bossnya telah membuka pintu sendiri dan turun dari mobil. Dia melangkah cepat mengimbangi langkah bossnya. Saat tiba diruang tamu apartemennya, Jekob terdiam melihat bossnya hanya mondar-mandir sambil menjambak rambutnya dengan kuat lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Jekob si Gungun itu yang kau cari selama ini. Dialah orang yang membuat Naina mengalami kecelakaan. Jadi seperti yang saya pikirkan selama ini, iblis itu berada dibalik kecelakaan Naina." Jekob melihat bossnya dengan terkejut, sampai tidak bisa berkata-kata.


"Batalkan keberangkatan saya ke Eropa. Saya akan mengurus ini, sampai tuntas. Kau siapkan semua yang harus kau lakukan, besok saya akan pergi sebentar." Aaric berkata sambil terus berjalan tak tentu arah dalam ruang tamu. Dia terus berpikir, sambil memegang kepalanya yang terasa mau pecah.


__ADS_2