Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
H -1. Masih Tertinggal.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Menjelang sore, Recky tiba di Bandara Soeta dari Australia. Dia segera keluar dari Bandara dan naik taksi untuk pulang ke rumah. Tidak ada yang menjemputnya, karena dia tidak memberitahukan rencana waktu pulangnya kepada orang rumah. Termasuk Papanya yang beberapa kali mengirim pesan menanyakannya. Dia yakin itu adalah pesan yang dikirim Mamanya dengan menggunakan ponsel Papanya.


Saat tiba di rumah, dia melihat Mama dan Papanya sudah ada di rumah. Tanpa memberikan salam, dia langsung naik ke kamarnya. Dia bisa melihat senyum senang dan lega di wajah Mamanya saat melihat dia masuk ke dalam rumah.


Tanpa membuang waktu, dia membersihkan diri, berganti pakaian lalu menyiapkan semua yang diperlukan untuk acara besok. Setelah melihat semua keperluan telah dimasukan ke dalam koper, dia membawa turun kopernya dan memasukan ke dalam mobilnya.


Pak Biantra yang baru keluar dari kamar dan melihat Recky turun membawa koper, ikut keluar menyusulnya ke halaman rumah. "Recky, kau mau kemana? Apa tidak lebih baik tinggal di rumah saja dulu? Besok sudah acaranya." Pak Biantra berbicara pelan, saat Recky hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Aku langsung ke hotel saja, Pa. Aku agak capek, karena baru dari Canberra dan sambung terbang ke sini. Nanti Papa kabari tempat akadnya saja. Aku pingin istirahat malam ini." Revky berkata lalu masuk ke mobil dan menyalakan mesin.


Pak Biantra mengangguk mengerti dan membiarkan Recky membawa mobilnya keluar halaman rumah. Ketika mendengar suara mobil meninggalkan halaman rumah, Bu Biantra berlari keluar untuk melihat siapa yang keluar. Padahal sebentar lagi sudah tiba waktu makan malam.


Pak Biantra menjelaskan apa yang dikatakan Recky kepada istrinya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Bu Biantra ikut masuk, dengan berjalan di sampingnya.


Sebenarnya Bu Biantra agak keberatan Recky tinggal di hotel. Beliau ingin besok Recky keluar dari rumah saat menuju ke tempat akad. Tetapi melihat kondisi yang ada, beliau tidak bisa menuntut banyak. Recky sudah pulang sekarang saja, sudah sangat melegakan hati.


Waktu masih di Australia, Recky telah meminta Carren reservasi kamar untuknya secara pribadi disamping kamar yang akan digunakan sebagai ruangan tempat persiapan pengantin. Sehingga dia tidak perlu repot kemana-mana.


Saat tiba di hotel, dia langsung di antar ke kamar yang telah direservasi Carren untuknya. Setelah masuk ke kamar, Recky membuka kopernya dan memasukan semua keperluan untuk acara akad dan resepsi ke dalam lemari.


Dia menyiapkan sendiri keperluannya saat masih di Australia. Sehingga Carren tidak perlu membantu menyiapkannya, apalagi Mamanya atau Liana. Dia merasa jijik, mengingat Mamanya atau Liana menyentuh baju yang akan dikenakanya.


Setelah menata pakainnya di lemari, dia merada sangat lapar. Recky keluar kamar hotel menuju restoran untuk makan malam. Dia menikmati kesendirian yang sudah terbiasa dilaluinya.


Dia tidak berlama-lama di restoran, karena dia tidak mau bertemu dengan seseorang yang mengenalnya. Dia tidak dalam kondisi baik untuk bercakap-cakap dengan orang lain.

__ADS_1


Ketika kembali ke kamar, Recky teringat dengan mobilnya. Dia menghubungi seorang teman yang dia kenal di bengkel. Dia tidak menanggapi Sofyan atau lainnya, termasuk Ayunna yang sudah menelponnya berkali-kali semenjak dia masih di Australia.


'Mungkin mereka sudah menerima undangan dari Liana dan ingin tahu cerita tentang pernikahannya.' Itu yang dipikirkan Recky, sehingga dia tidak merespon semua panggilan telpon dari teman-temannya.


Sebelum istirahat, dia melihat jam di tangannya menunjukan waktu yang belum terlalu larut. Dia kembali mengambil ponselnya, lalu menelpon.


πŸ“±"Allooo, Carren. Kau sudah di rumah?" Tanya Recky, saat Carren merespon panggilannya. Dia meresa sedikit lega, Carren belum tidur sehingga bisa menerima panggilannya.


πŸ“±"Allooo, Recky. Iya, ini belum lama sampai di rumah. Kau ada di mana?" Tanya Carren pada intinya, karena dia sangat cemas sepanjang hari. Recky belum menghubunginya untuk memberitahukan bahwa dia sudah ada di Jakarta atau belum. Dia menahan diri tidak menghubungi Recky, walau hatinya cemas.


"Aku sudah cek in di hotel. Karena lapar, aku makan malam dulu baru menghubungimu. Kau sudah santai? Ada yang mau aku bicarakan denganmu." Recky berkata, lalu berjalan dan duduk di tempat tidur.


"Iya, ini aku sudah di tempat tidur, mau istirahat. Sepanjang hari ini lumayan capek." Carren menjelaskan, tanpa bisa mengatakan bahwa hatinya sangat cemas memikirkannya sepanjang hari.


πŸ“±"Baiklah. Aku bicara sekarang saja, karena besok aku ingin bangun agak siang. Aku mungkin sama capek denganmu. Begini, besok mobilmu kau bawa ke hotel bukan?" Tanya Recky.


πŸ“±"Bagus, kalau begitu. Mobilku yang sekarang ada di parkiran hotel, akan aku berikan untukmu..."


πŸ“±"Recky, sebentar. Apa maksudmu dengan berikan mobil untukku? Saat kerja di situ, aku tidak membutuhkan mobil lagi. Karena aku tidak akan pergi ke acara akadmu." Tanya Carren terkejut mendengar yang dikatakan Recky.


πŸ“±"Carren, kau bisa mendengarku sampai selesai? Supaya kau bisa mengerti dan tidak bertanya sesuatu yang aku sendiri tidak pikirkan." Recky berkata serius, karena Carren salah mengerti maksudnya.


πŸ“±"Iya, maaf. Tadi aku terkejut, karena mengira kau memintaku untuk datang ke acara akadmu." Carren berkata pelan, karena menyadari kesalahannya.


πŸ“±"Kau itu, untuk apa aku memintamu untuk melakukannya? Apa tidak cukup hatiku yang sakit, jadi memintamu untuk menambah lukaku? Kembali ke awal, dan dengarkan aku."


πŸ“±"Ini mobilku pribadi. Aku yang membelinya sendiri dengan uangku. Bukan pemberian orang tuaku. Aku berencana besok mau menjualnya, tetapi waktunya tidak memungkinkan. Jadi aku akan memberikannya untukmu. Kau bisa pakai untuk menunjang kerjamu." Recky berkata dengan serius dan jelas.

__ADS_1


πŸ“±"Recky, jangan sembarang bicara. Aku tidak bisa menerimanya." Carren sangat terkejut, tapi dengan cepat dia berkata tegas. Karena dia merasa tidak mungkin menerima pemberian Recky.


πŸ“±"Baik. Sekarang kau berikan alasan untukku, kenapa tidak mau menerima mobilku." Recky berkata serius dan tegas, membuat Carren tertegun dan berpikir cepat.


πŸ“±"Pertama, aku tidak bisa bawa mobil. Yang kedua, aku tidak akan bisa bayar pajak mobil mewahmu. Jadi maafkan aku, Recky." Itulah yang terpikirkan oleh Carren, agar tidak menyinggung Recky.


πŸ“±"Baik. Aku mengerti dan ini aku berikan solusi untukmu. Pertama, cari seorang sopir yang baik di luar karyawanmu. Agar bisa mengantarmu dengan baik saat bekerja atau keperluanmu sehari-hari. Aku tau, kau masih bisa membayar seorang sopir." Recky berkata tegas, agar Carren tidak mencari alasan lagi.


πŸ“±"Solusi untuk keberatanmu yang kedua, aku yang akan membayar pajak tahunannya. Jadi kau tidak usah memikirkannya." Recky berkata tegas untuk mengunci pemikiran Carren yang mau mencari alasan lagi.


πŸ“±"Reckiii... Kau memang sangat keterlaluan." Carren berkata dengan suara bergetar, karena menahan tangis. Dia sangat terharu mendengar yang dikatakan Recky, dan tidak mampu menolaknya lagi.


πŸ“±"Sudaaa... Berhenti menangis. Aku berikan ini, agar menunjang performa kerjamu saat harus bertemu dengan client sekelas iblis. Biar bagaimanapun, dalam usaha, penampilan seseorang mejunjukan status bisnisnya. Jadi dengarkan aku, lalu pergunakan dengan baik yang aku berikan untukmu. Hhhmmmm...?" Recky sudah berkata lebih pelan dan lembut, karena dia tahu Carren sedang menangis. Walaupun dia menutupi mulutnya, tapi isakan masih bisa didengar oleh Revky.


πŸ“±"Terima kasih, Recky." Hanya itu yang bisa diucapkan Carren pelan dan dengan suara bergetar.


πŸ“±"Sudaaa... Berhenti menangis. Jangan membuatku sedih malam ini, sehingga tidak bisa tidur. Aku sangat lelah, karena baru melakukan perjalanan dan penerbangan yang panjang."


πŸ“±"Kau tolong kasih tau orang rumah, ya. Mobilnya akan diantar ke rumahmu saat selesai acara akad dan orangnya mengantarku kembali ke hotel. Supaya yang di rumah bisa menerimanya, karena kau sedang bekerja di sini." Recky menjelaskan yang telah direncanakannya.


πŸ“±"Iya, Recky. Terima kasih. Selessi ini, minum hangat, lalu istirahat. Sampai bertemu besok." Carren sudah lebih tenang, sehingga bisa berkata dengan tenang. Dia tidak mau mengecewakan atau membuat Recky bersedih. Kemudian mengakhiri pembicaraan mereka dengan hati yang sedikit lega.


Carren tertunduk dan kembali menangis, mengingat semua yang dilakukan Recky baginya. Dia tidak mampu berbuat sesuatu untuk menolong Recky. Dia menengadakan wajahnya yang sudah berlinang air mata lalu berdoa dalam hati.


'Ya, Tuhan. Kau mengenal semua hati. Walaupun air mata Recky tidak mengalir, tetapi Kau mengetahui hatinya sedang menangis. Tolong berikan kekuatan padanya. Dan tolong hibur dia malam ini, karena saat ini terasa sangat berat baginya. Tenangkanlah hati dan pikirannya, agar bisa tidur nyenyak malam ini.'


β™‘β€’~Jangan lupa like, komen, vote danΒ  favorit, yaa... πŸ™πŸ» Makasih~β€’β™‘

__ADS_1


__ADS_2