Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Melegakan & Meresahkan.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Pak Biantra menunggu dengan hati berdebar, karena sudah sangat merindukan putra bungsunya. Begitu juga dengan Aaric, karena dia khawatir Papanya tidak tahan dan langsung memanggil nama Recky.


πŸ“±"Kakaaaa, aku kira aku saja yang kangen, ternyata kakak juga. Aku baru mau menelpon kakak, tetapi kakak sudah telpon duluan." Ucap Recky dengan riang saat merespon panggilan telpon Aaric, karena dia memang mau menghubungi kakaknya.


πŸ“±"Kau bukannya tanya kabarku, malah teriak. Kau lagi bikin apa?" Tanya Aaric, agar Papanya bisa lama mendengar suara Recky. Dia melihat Papanya benar-benar memegang janjinya dengan menutup mulutnya dengan tangan, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Mata Papanya langsung meredup dan air mata tergenang di matanya.


Aaric menguatkan hatinya, agar bisa bicara dengan suara yang normal agar Recky tidak curiga ada sesuatu yang terjadi sehingga dia menelponnya.


πŸ“±"Melihat kakak yang telpon, berati kakak baik-baik saja. Kalau Jekob yang telpon, naaah..., itu baru panik dan khawatir. Ada apa sampai kakak tidak bisa menghubungiku. Hahahaha..." Ucap Recky sambil tertawa.


πŸ“±"Aku dan William baru pulang dari jalan-jalan coba mobil kakak putar-putar apartemen. Kami mau menguras isinya, karena melihat hantu-hantu itu sudah tidak gentayangan lagi. Kakak tidak usah khawatir, karena William tiap hari pergi ngecek sebelum aku ke sana." Ucap Recky untuk meyakinkan Aaric, bahwa dia tetap berhati-hati.


πŸ“±"Baik. Tetap berhati-hati, sampai aku katakan semua sudah beres di sini." Ucap Aaric lalu hendak mengakhiri pembicaraan mereka, karena melihat Papanya yang tidak tahan mau berbicara dengan Recky. Dia tidak mau sampai itu terjadi.


πŸ“±"Kakaaaa.." Teriak Recky, saat mengetahui Aaric akan mengakhiri pembicaraan mereka.

__ADS_1


πŸ“±"Iyaaa... Jangan teriak-teriak, ada apa lagi?" Tanya Aaric sok galak, padahal hatinya tersenyum senang dengan sikap adiknya. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Recky, senang berbicara dengannya.


πŸ“±"Kakak belum cerita tentang Papa. Apa kakak sudah bertemu dengan Papa lagi? Bagaimana kabar Papa? Apa Papa baik-baik saja? Apa Papa sehat-sehat saja, Kak?" Tanya Recky beruntun, karena memang dia mau telpon Aaric untuk menanyakan keadaan Pak Biantra.


πŸ“±"Astagaaa, kau bertanya seperti gerbong kereta gandengan. Bertanya satu, satu, agar aku bisa tau mau jawab yang mana lebih dulu." Aaric sengaja bercanda, karena melihat Papanya yang makin terharu, mendengar Recky bertanya tentang dirinya.


πŸ“±"Itu pertanyaan satu paket, Kak. Biar kakak mudah menjawabnya, tapi kalau kakak mau jawab berpaket, paket juga ngga papa. Aku lagi selonjor, ko'.Β  Hahaha..." Recky tertawa sendiri mendemgar ucapannya dan Aaric.


πŸ“±"Jawabanku juga satu paket, Papa baik-baik saja. Ok...?" Jawab Aaric, agar bisa cepar selesai berbicara dengan Recky.


πŸ“±"Apa Papa bertanya tentangku, Kak? Apa Papa percaya yang kakak katakan tentangku? Apa aku kirim rekaman suaraku, agar Papa percaya aku baik-baik saja dan percaya kakak menjagaku dengan baik?" Tanya Recky lagi beruntun, membuat Aaric tersentak. Begitupun dengan Pak Biantra yang langsung menangis tertahan.


"Maafkan Papa dan terima kasih sudah melindungi adikmu seperti yang Papa minta malam itu." Ucap Pak Biantra pelan dan terbata-bata karena sangat terharu, mengetahui kondisi putra bungsunya. Beliau bersyukur saat menyadari, putra tertuanya malam itu walaupun sangat marah padanya, tetapi tetap melindungi adiknya.


Sebenarnya, Pak Biantra sudah curiga saat semua orang tidak menemukan Recky setelah pesta pernikahannya berlangsung malam itu. Recky tidak mungkin menghilang begitu saja, karena dia tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang rumit. Jika Aaric tidak menolongnya, berarti mungkin dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Itu yamg ada dalam pikiran Pak Biantra selama ini.


Karena Recky tidak mungkin bersembunyi lama darinya. Dia akan datang menemuinya, apapun resikonya. Seperti yang dikatakan Aaric, dia tidak akan peduli dengan apa yang akan terjadi. Dia akan membawa dirinya ke rumah sakit, walau harus bertemu dengan Mamanya, istrinya atau keluarganya.

__ADS_1


Apapun akan dilakunan untuk orang yang dia sayang, sekalipun dia harus menanggung akibat perbuatannya. Pak Biantra sangat mengenal karakter kedua putranya, makanya beliau meminta Aaric menolong adiknya. Menurutnya, Aaric bisa melihat, memilah dan berpikir panjang dalam mengambil keputusan. Dia sangat sistimatis dalam menentukan pilihan, jika lakukan ini, apa resikonya dan konsekuensinya. Semuanya dia pikirkan dengan baik dan detail.


"Baik. Sekarang Papa istirahat, nanti setelah Jekob datang baru kita bicara rencana selanjutnya. Aku masih mau bekerja, jadi ngga bisa temani Papa ngobrol." Ucap Aaric serius. Dia sudah merasa lega, masalah Papanya sudah selesai, tinggal menunggu waktu keberangkatan.


Setelah Pak Biantra masuk ke kamar, Aaric mulai sibuk bekerja menerima laporan dan berbicara dengan Direktur Pemasaran kantor pusat Elimus di Belanda. Tidak lama kemudian Jekob datang dengan wajah mendung, sehingga membuat Aaric menatapnya dengan serius dan heran.


Saat bicara dengan Jekob di telpon tadi, Jekob baik-baik saja. Dia tidak berkata apapun yang mengkhawatirkan. "Ada apa Jekob? Mengapa wajahmu seperti benang kusut yang tidak ada ujungnya untuk diurai?" Tanya Aaric setelah Jekob telah duduk di sofa ruang tamu.


"Begini, Pak. Tadi sebelum kesini, ada info dari A1 yang mengejutkan dari perusahaan Biantra. Pak Biantra sedang dimana, Pak?" Jekob bicara sangat pelan dan cendrung berbisik. Aaric menjawab dengan menunjuk kamar Papanya, tapi alisnya bertaut karena tidak mengerti yang dilakukan Jekob.


Jekob mengangguk dan mencondongkan badannya untuk berbicara dengan bossnya. Sebelum Jekob berbicara, Aaric memberikan isyarat dengan tangan kepada Jekob untuk mengikutinya ke kamar.


Jekob berjalan cepat mengikuti langkah panjang bossnya. "Ada apa sebenarnya, Jekob? Apa terjadi sesuatu di Biantra, sehingga kau bersikap seperti itu?" Tanya Aaric penasaran, setelah mereka duduk di sofa dalam kamar Aaric.


"Iya Pak. Saya baru dapat info dari A1, yang bisa dipercaya. Nyonya di rumah berencana mau menggugat cerai Pak Biantra, karena mereka tidak bisa mengetahui keberadaan Pak Biantra." Aaric terdiam laku melihat Jekob dan langsung berpikir apa yang akan dilakukannya.


"Kalau kau sudah yakin tentang informasi itu, mungkin lebih baik. Jadi tidak usah dipikirkan, biarkan mereka selesaikan persoalan dengan cara mereka." Ucap Aaric tidak tertarik untuk membicarakan kehidupan rumah tangga orang tuanya.

__ADS_1


"Bukan itu saja, Pak. Mereka akan menggugat cerai Pak Biantra, setelah mengambil semua saham yang dimiliki Pak Biantra untuk disatukan dengan saham milik mereka saat ini." Aaric yang tadinya bersikap santai, jadi memperhatikan apa yang disampaikan Jekob dengan serius.


...~●○♑○●~...


__ADS_2