Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kerinduan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah tiba di hotel dan beristirahat, keesokan harinya Carren pergi ke tempat yang akan di jadikan tempat pernikahan clientnya. Dengan menggunakan taksi, dia tiba di salah satu Resort di Dreamland. Dia sengaja berangkat agak siang, karena akan melihat lokasi menjelang sore.


Rencana acara resepsi pernikahan akan diadakan pada sore sampai malam hari. Sehingga dia akan melihat suasana saat sunset di tempat terbuka resort. Bagian terbuka dekat tebing pantai akan menjadi tempat resepsi. Ketika tiba di sana, Carren sangat mengagumi lingkunan resort yang terletak di atas tebing karang dengan pemandangan spektakuler ke arah laut nan luas dan biru. Di bawahnya terlihat pantai dengan hamparan pasir putih yang indah.


Sebelum berbicara dengan pihak pengelolah resort, Carren melihat-lihat lingkungan. Dia juga mengukur besar tempat terbuka milik resort yang terletak dekat tebing pantai batu karang dan dikelilingi dengan pagar kayu.


Carren langsung mengabadikan lokasi tersebut sebelum siang. Dia mengambil gambar lokasi dengan ponselnya. Semua sudut tempat difoto untuk memberikan pengambaran kepada karyawannya. Tidak lupa juga, dia membuat video lokasi dengan ponselnya.


Kemudian dia mrnikmati makan siang di tempat itu. Sebenarnya dia bisa saja tinggal di tempat itu, biar lebih mudah untuk survey. Tetapi karena perjalanannya dengan biaya perusahaan, dia tinggal di hotel sesuai anggaran. Untuk tinggal di resort tersebut, dia harus merogo dalam kantongnya.


Setelah melihat tempat itu, dia teringat Mamanya di rumah. Jika harus tinggal di tempat itu, dia akan datang berlibur dengan Mamanya. Melihat keindahan tempat itu, dia membayangkan Mamanya akan sangat senang berada di tempat itu. Karena dia dan Mamanya sangat menyukai pantai, apalagi ada hamparan pasir putih. Mereka bisa berjam-jam berjalan di hamparan pasir atau duduk santai mendengar deburan ombak.


Cuaca yang cerah, sangat mendukung suasana, sehingga dia jadi makan siang di tempat itu. Dia merogo kantongnya sendiri, diluar biaya perusahaan untuk sejenak menikmati makan siang di tempat yang indah dan mewah. Dia memanjakan dirinya dengan mencoba menu yang disediakan sambil mendengar alunan musik yang indah. Dia duduk di meja yang tidak jauh dari kolam renang, karena tempat itu benar-benar indah sejauh mata memadang melewati kolam renang.

__ADS_1


Setelah makan siang, dia tergoda untuk turun ke pantai. Air sedang surut, membuat pantai pasir terlihat luas dan banyak orang sedang bersantai. Dari resort, Carren turun lewati anak tangga batu yang disusun rapi. Kemudian duduk di kursi santai yang sediakan untuk pengunjung. Dengan menggunakan selendang untuk memutupi kepalanya dari sinar matahari, dia berjalan di sepanjang pantai pasir putih.


Hamparan pasir putih dan deburan ombak sangat memanjakan mata. Dia bisa menikmati keindahan pantai yang dimiliki oleh resort tersebut. Carren melepaskan sneakersnya, lalu berjalan pelan dan santai di sepanjang pantai.


Tiba-tiba dia merasa kakinya peri dan mulai sakit. Dia duduk di pasir untuk melihat apa yang membuat kakinya sakit. Ternyata ada bagian diantara jempol dan jari telunjuk kakinya terluka. Carren segera membersihkan pasir di kakinya dengan tangan. Kakinya makin sakit dan mulai berdarah, mungkin terkena sesuatu yang tajam dalam pasir.


Ketika melihat kakinya mengeluarkan darah, Carren mengambil sapu tangan dari dalam tasnya. Kemudian mengikat kakinya dengan sapu tangan tersebut untuk mencegah makin berdarah. Dia paksakan untuk pakai sneakers kembali agar bisa menghindari pasir masuk ke tempat luka. Dia berusaha berjalan cepat, lalu naik anak tangga batu untuk kembali ke tempat dekat kolam renang. Dia mau memeriksa kaki, agar bisa mengobati lukanya.


Sambil berjalan naik dan agak pincang, dia meminta tolong petugas resort yang ditemuinya untuk membeli air mineral. Dia mau membersihkan pasir dari kaki untuk melihat lukanya. Dia duduk di salah satu kursi di tempat yang agak sejuk sambil menunggu petugas resort. Dia sudah tidak memperhatikan lagi sekitarnya yang sudah mulai ramai. Para penghuni atau pengunjung seperti dirinya mulai berdatangan dan duduk di kursi-kursi santai yang tersedia dekat kolam renang. Ada juga yang sedang mandi, tapi Carren tidak bisa lagi menikmati pemandangan indah menjelang sore di tempat itu, karena kondisi kakinya.


Setelah petugas resort datang membawa sebotol air mineral berukuran sedang, Carren melepas saputangan dari kakinya dan perlahan mulai menyiram kakinya. Sambil menahan perih, dia terus membersihkan pasir disekitar luka dengan air mineral dan tissu yang dibawanya.


Aaric mengambil air mineral dari tangan Carren, lalu duduk di samping tempat duduk Carren. Dia menyiram perlahan kaki Carren yang masih berpasir, terutama di sekitar lukanya. Sambil lakukan itu, Aaric menyadari, Carren tidak bersuara maupun bergerak. Padahal luka di kakinya pasti sangat sakit. Hal itu membuat Aaric melihat ke arah Carren.


Dia terkejut melihat wajah Carren yang memerah, terutama hidungnya. "Kenapa melihatku seperti itu? Kau merindukanku?" Tanya Aaric sengaja, agar Carren bisa berinteraksi dengannya. Tetapi dia makin terkejut dengan reaksi Carren kepadanya.

__ADS_1


Carren langsung merangkul dan memeluk leher Aaric, yang sedang berjongkok untuk membersihkan kaki Carren. Sambil merangkul leher Aaric, Carren mulai menangis. Hal itu membuat Aaric kelagapan. Dia menutup botol air mineral dan meletakanya di lantai.


"Ssssstttt.... Arra, tenang. Kita sedang dilihat banyak orang. Kau tidak malu dilihat mereka?" Tanya Aaric, karena beberapa orang mulai melihat ke arah mereka. Mendengar ucapan Aaric, Carren makin menangis tanpa melepaskan rangkulannya.


~Flashback~


Aaric sedang di Sydney, harus datang ke Bali untuk menghadiri pertemuan pengusaha muda Nasional dan Internasional yang diadakan di salah satu hotel di Nusa Dua, Bali. Dia baru pulang dari pertemuan terakhir, sehingga dia ingin bersantai sejenak dengan duduk di tepi pantai menunggu waktu sunset tiba.


Tetapi dia sangat terkejut, saat akan melewati area dekat kolam renang. Dia melihat Carren sedang membersihkan kakinya yang sedang berdarah. Sehingga dia berhenti dan melihat Carren yang tidak menyadari kehadirannya, lalu menegurnya.


~Flash off~


Dalam kebingunan untuk menenangkan Carren, Aaric hanya bisa mengusap punggungnya pelan. "Sudaaaa, jangan menangis lagi. Biarkan aku lihat dan obati kakimu. Nanti kau tidak bisa berjalan ke pelaminan bersamaku." Ucap Aaric serius, membuat Carren melepaskan rangkulannya dan menangis dengan tertahan.


Sambil terus terisak, Carren melihat Aaric yang sedang menyiram kakinya dengan alkohol yang dimintanya dari petugas resort. Aaric menyiram sambil meniup kaki Carren, karena dia tahu sangat perih. Carren menahan sakit dan tangisnya, tetapi masih sesekali segukan.

__ADS_1


"Aku sangat lama memikirkan, bagaimana cara melamarmu. Tetapi lihat. Aku melamarmu dengan cara seperti ini. Sangat tidak romantis." Ucap Aaric dengan wajah tersenyum dan terlihat binar matanya. Carren menatap Aaric seakan tidak percaya. Aaric menganggukan kepala untuk meyakinkan Carren, bahwa dia sedang bicara serius. Carren kembali terisak, sambil memegang dadanya, karena jantungnya berdebar tidak teratur. Dia benar-benar syok dengan semua yang dialaminya.


~●○♡○●~


__ADS_2