
...~•Happy Reading•~...
Recky berjalan cepat meninggalkan ruangan VIP menuju tempat parkir, lalu meninggalkan rumah sakit. Dia menjalankan mobilnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera sampai di rumah untuk mandi dan makan. Tanpa disadari, ada yang mengikutinya sampai dia memasukan mobil ke garasi.
Setelah selasai mandi dan makan, dia duduk di teras belakang rumah sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi santai yang disediakan kakaknya. Dia menatap halaman belakang rumah dengan rumput hijau dan lampu taman yang menyinarinya, sangat menenangkan hati. Dia jadi teringat kakaknya, kenapa tidak menyadari kehadirannya saat itu. Mungkin seperti yang dirasakannya saat ini, begitu menenangkan melihat halaman dengan hamparan rumut hijau yang terawat rapi.
Ketika melihat langit malam bertaburan bintang, dia menarik nafas panjang karena telah melewati hari yang menegangkan. Dia berdiri dan merapikan sweater, lalu turun ke halaman untuk melihat langit lebih baik. Sambil memasukan kedua tangannya di saku celana, dia berjalan tanpa alas kaki di hamparan rumput hijau.
Kembali dia memandang langit malam yang bertaburan bintang, warna warni di langit yang gelap. "Ya, Tuhan, inikah jawaban-Mu untuk permintaanku? Tolong aku, agar bisa melihatnya dengan baik. Berikan kekuatan padaku, jika harus menolong Ace lagi." Recky terus berjalan dan membatin sambil mengangkat wajahnya melihat bintang-bintang di langit.
Dia menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan Ace. Jadi pertolongannya tadi, belum berakhir. Dengan menarik nafas panjang, dia masuk ke dalam rumah untuk beristirahat karena besok akan menjadi hari yang melelahkan. Selain banyak pekerjaan di kantor, dia juga harus menemui Ace sebagaimana janjinya.
Keesokan harinya, Recky baru bisa ke rumah sakit menjelang malam. Setelah pulang dari kantor dan makan malam, dia mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit. Dia tidak lagi pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, karena akan makin malam menemui Ace dan khawatir dia sudah tidur.
Setiba di parkiran rumah sakit, dia melepaskan jas dan meletakan dalam mobilnya. Hari ini, dia memakai mobilnya sendiri ke kantor. Dengan santai dia turun dari mobil, lalu masuk ke rumah sakit.
Orang yang memberikan selimut telah menunggu Recky sejak sore di depan rumah sakit. Alisnya bertaut saat melihat Recky turun dari mobil. Dia tidak menyangka Recky turun dari mobil tersebut, karena dia menunggu sambil memperhatikan kedatangan mobil mewah Recky. Tetapi justru Recky datang dengan mobil yang lain, bukan mobil mewah yang dikendarainya kemarin.
__ADS_1
"Selamat malam, tuan. Mari ikut saya." Recky mengangguk dan mengikuti orang tersebut. Sambil berjalan di sampingnya, Recky berpikir kenapa orang tersebut menunggunya di depan rumah sakit. 'Apakah dia sudah tahu aku akan datang?' Tanya Recky dalam hati.
"Apa terjadi sesuatu dengan Nona Ace?" Tanya Recky, was-was melihat keseriusan orang tersebut. Tetapi orang yang ditanya lebih terkejut mendengar pertanyaan Recky yang menyebut nama Ace. Biasanya dia mengatakan Nona Anda, tetapi sekarang menyebut nama kecil Nonanya. Recky tidak memperhatikan perubahan wajahnya, karena mereka berjalan bersisian.
"Ada yang mau berbicara dengan tuan sebelum bertemu Nona." Jawab orang tersebut, sambil berjalan di sampingnya. Recky dibawa ke suatu ruang kerja yang luas di rumah sakit tersebut. Recky menjadi heran, dan bertanya dengan wajahnya kepada orang tersebut, karena tidak mengerti. Sebelum dijawab, salah satu pintu yang ada dalam ruangan tersebut terbuka. Recky melihat bapak yang berpakaian resmi keluar dari ruangan lain menuju ruangan yang dia dan orang pembawa selimut berada.
"Untuk apa lagi anda datang ke sini? Bukankah tadi malam kami telah memeriksa kesehatan anda? Kondisi tubuh anda sehat dan baik-baik saja. Apakah ada yang anda perlukan dari kami?" Tanya bapak yang berpakaian resmi serius lalu duduk di kursi kebesarannya.
Recky melihatnya dengan serius. 'Bukan berterima kasih, malah bertanya seperti truk gandeng.' Ucap Recky dalam hati, kesal. "Saya datang untuk melihat kondisi Nona Ace, bukan karena kondisi kesehatan saya. Katakan saja, jika saya tidak boleh menemuinya. Saya akan pulang." Ucap Recky yang tidak menyukai cara bapak tersebut berbicara dengannya. 'Emangnya saya datang mau minta ganti rugi?' Ucap Recky dalam hati lagi.
Bapak berpakain resmi terkejut mendengar apa yang dikatakan Recky. "Apa anda mengenal putri saya?" Tanyanya heran, mendengar Recky menyebut nama kecil putrinya. Nama kesayangan yang diberikan istrinya. Hanya dirinya dan istri yang memanggilnya demikian. Semua orang memanggil dengan namanya, Grace.
"Pak, kalau saya tidak mengenal Ace, apa perlunya saya malam-malam begini harus kesini? Saya hanya datang untuk melihat kondisinya karena tadi malam sudah berjanji akan datang hari ini. Jadi walaupun sudah malam, saya usahakan untuk menepati janji saya pada Ace. Tetapi jika tidak dijinkan untuk mememuinya, saya akan pulang dan bapak silahkan jelaskan kepada Ace. Jangan sampai Ace mengira saya pembohong." Jawab Recky santai, karena melihat perubahan sikap dan wajah Papa Ace.
Recky merasa, nama Ace berpengaruh dalam perubahan sikap Papanya, sehingga dia menyebut nama itu dengan santai dan berulang-ulang seakan mengenal Ace dengan baik.
"Karena sudah malam, nanti kita akan berbicara lagi. Silahkan menemui putri saya dan jangan membuatnya sedih." Ucap Papa Ace serius, mengingat tadi malam melihat Recky menghapus pinggiran mata Ace.
__ADS_1
Recky pamit dengan alis bertaut. 'Siapa yang membuatnya sedih? Putrinya sudah sedih sendiri sebelumnya. Jika tidak sedih, kenapa melakukan hal bodoh dengan menenggelamkan dirinya ke laut.' Ucap Recky dalam hati sambil keluar dari ruangan Papa Ace.
"Pak, sebenarnya Nona Ace sudah lebih baik atau belum?" Tanya Recky penasaran melihat sikap orang yang mengantarnya dan juga Papa Ace.
"Nanti tuan akan bertemu dengan Nona dan bisa lihat sendiri." Ucapnya pelan, tanpa mau menceritakan lebih lanjut. Recky menarik nafas panjang. 'Susah sekali kalau sudah bertemu dengan orang berpengaruh.' Ucap Recky dalam hati.
Dia menarik kesimpulan, Papa Ace pasti orang yang berpengaruh di rumah sakit ini, karena melihat ruang kerjanya. Recky hanya bisa mengusap wajahnya, karena dia sudah tidak bisa menarik kembali apa yang diucapkannya mau membantu Ace. Dia sudah tidak berminat untuk berurusan dengan orang seperti Papa Ace.
Dia tidak terlalu suka dengan orang yang arogan dan merasa dirinya hebat dan penting. Dia sering bertemu dengan orang demikian, tetapi usia selevel dengannya atau lebih muda darinya. Jadi dia bisa bersikap cuek dan mengatakan dengan santai. 'Di atas langit, masih ada langit, boss. Kita masih berdiri di bumi, jadi slooouuuw...'
Setelah mengetahui bapak tersebut adalah Papa Ace, dia menahan diri untuk berucap sesuatu yang mungkin akan menyulitkan Ace. Jadinya bukan dia menolong, malah memperkeruh situasi.
Saat tiba di kamar VIP tempat Ace dirawat, Recky melihat Ace sedang sendiri dan berbaring sebagaimana dia tinggalkan tadi malam. Hanya sekarang lebih segar dan rambutnya sudah disisir rapi. Wajahmya seperti bayi, lembut dan cantik. Dari penampilannya, Recky tau Ace sudah lebih baik hanya tidak mau merespon orang yang datang.
...~●○♡○●~...
^^^[Semua percakapan Recky dengan yang lain menggunakan bahasa Inggris]^^^
__ADS_1