Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tidak Kebetulan.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di bagian bumi yang lain ; Aaric dan Carren sedang makan malam di salah satu restoran mewah dan romantis di Cappadocia. Ini adalah malam ketiga mereka berada di sana, jadi Aaric ingin mereka menghabiskan malam dengan jalan-jalan dan makan malam yang romantis.


"Arra, mau perpanjang berapa lama di sini?" Tanya Aaric sambil menunggu makan malam mereka disajikan.


"Rencana kakak sebelumnya sampai kapan?" Tanya Carren mengingat mereka belum membicarakan hal tersebut. Berapa lama mereka akan berbulan madu di Cappadocia, Turkey.


"Aku belum punya rencana. Tetapi dari Recky sampai besok. Dia memintaku untuk perpanjang sesuai keinginanmu. Gimana, mau sampai kapan? Biar pulang dari sini aku perpanjang lagi waktu tinggal kita. Tadi karena keasyikan jalan-jalan dan melihat souvenir, aku lupa membicarakan itu." Ucap Aaric, karena dia sudah mengatur pekerjaannya dengan Jekob. Jadi bisa sedikit lama berbulan madu.


"Tidak usah perpanjang, Kak. Besok kita pulang saja. Karena sudah kangen sama Papa. Sudah lama tidak melihat Papa." Ucap Carren, karena sudah rindu bertemu dengan Pak Biantra yang sudah beberapa hari tidak bertukar kabar.


"Baik kalau begitu, setelah pulang dari sini, kita istirahat lebih awal. Besok kita harus bangun sebelum jam lima, agar bisa menikmati sunrise dari balon udara." Ucap Aaric tenang. Dia mengikuti apa yang diinginkan Carren, karena sebelumnya Aaric berencana langsung pulang ke Swiss dan akan berbulan madu di sana.


Ada banyak tempat indah di kaki gunung Alpen yang bisa dijadikan tempat bulan madu. Oleh sebab itu, dia tidak merencanakan untuk berbulan madu di tempat lain. Dengan berbulan madu di Swiss, mereka bisa dekat dengan Papanya. Tetapi hadiah yang diberikan Recky, membuat semuanya berubah.


Keesokan harinya, sebelum jam lima Aaric dan Carren telah berada di tempat untuk naik balon udara. Aaric menyewa balon udara hanya untuk mereka berdua. Mereka tidak naik balon udara yang besar untuk umum. Dia ingin menikmati indahnya sunrise secara pribadi dengan Carren.

__ADS_1


Setelah balon udara mengudara, Carren tertegun dan agak takut sehingga Aaric harus memeluknya. Setelah di atas, semuanya terasa berbeda. Sekitarnya masih gelap dan dingin, agak menakutkan. Tetapi seiring dengan sinar mentari mulai bersinar dengan sinarnya yang orange kemerahan, perlahahan rasa takut mulai berkurang. Sinar mentari perlahan menyibak kabut dan suasana sekitar balon mulai terlihat dengan baik.


Semua balon yang sudah mengudara menambah keindahan di atas kabut. Carren dan Aaric tertegun melihat keindahan dari atas saat kabut perlahan terkuak. Perlahan mereka dapat melihat keindahan alam Cappadocia dari atas. Dengan terbitnya mentari berwarna orange kemerahan di ujung langit, membuat Carren dan Aaric terpesona dan takjub.


Ketika Aaric merasakan Carren sudah mulai tenang dan excited, dia melepaskan pelukannya. Dia menjadi lebih tenang, saat melihat Carren telah menikmati sekitanya dengan wajah yang bahagia. Aaric mengabadikan semuanya dengan ponselnya. Dia sangat menyesal tidak membawa kameranya.


Setelah mengabadikan semua keindahan yang terlihat, Aaric kembali mendekati Carren. "Arra, kau lihat kabut itu perlahan tersibak. Ada pemandangan yang sangat indah di bawah." Ucap Aaric yang sudah kembali memeluk Carren dari belakang untuk bersama melihat pemandangan yang begitu indah di bawah mereka.


Carren menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia benar-benar dibuat takjub dengan keindahan alam sekitar, setelah kabut perlahan terkuat. 'Ya, Tuhan. Kau sedang memperlihatkan perjalan hidupku di depanku. Sebelumnya aku sangat tertekan dan sedih dengan hidupku yang kusam, suram dan berkabut.' Carren membatin.


'Kini aku tahu, kabut hidup itu akan selalu ada di sepanjang hidupku. Tetapi apa yang kulihat ini akan selalu mengingatkanku. Ada banyak keindahan dibalik kabut hidup, jika melewatinya bersama-Mu.' Carren terus membantin dalam pelukan Aaric sambil melihat sekitarnya dengan mata berembun.


"Kak, tidak kebetulan kita ada di sini dan bisa semua melihat ini. Semua ini mengingatkanku tentang hidupku. Awalnya semuanya berkabut, tidak tau apa yang ada dibaliknya. Jika aku berhenti berjuang dan putus asa dengan apa yang kualami, mungkin aku tidak akan pernah melihat dan merasakan indahnya hidup." Ucap Carren lalu balik memeluk Aaric dengan erat.


"Kakak adalah salah satu keindahan hidup yang Tuhan karuniakan bagiku." Ucap Carren pelan sambil terus memeluk Aaric yang masih memeluknya. Aaric mencium puncak kepalanya dengan sayang. Diapun takjub dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Arra, lihatlah ke bawah. Makin jelas setelah semua kabut sirna. Jangan sampai kau tidak melihatnya." Bisik Aaric lalu membalikan tubuh Carren, agar bisa melihat semua keindahan yang ada di bawa dan di depan mereka saat kabut perlahan menghilang.

__ADS_1


Aaric menarik nafas panjang dan terus memeluk Carren dari belakang. "Hanya orang yang kuat dan teguh hatinya yang bisa berjuang untuk melewati kabut hidupnya. Bukan hanya kau yang memiliki kabut hidup. Kita semua menjumpai kabut, di jalan hidup masing-masing. Aku bersyukur bisa melihat cara kabut ini terkuak. Semua ini menguatkanku untuk melihat kabut hidup yang ada di depanku."


"Ini baru awal bisa lewati kabut di kehidupan pribadi kita. Kini kita akan bersama berjuang untuk menyikapi setiap kabut yang akan dijumpai dalam keluarga kita bersama Tuhan. Agar keindahan hidup itu benar-benar bisa kita nikmati bersama." Bisik Aaric, lalu mencium pelipis Carren.


"Ini adalah pelajaran kehidupan yang tidak pernah kira dapatkan di bangku pendidikan. Ini adalah perjalanan hidup yang harus kita jalani. Kita bisa belajar dari alam di sekitar kita, dimana pun berada. Karena Tuhan mengajari setiap orang tentang hidup dengan cara-Nya yang ajaib." Ucap Aaric pelan sambil mengingat perjalanan hidupnya ketika meninggalkan rumah dan harus kehilangan Naina. Dia tidak bisa melihat masa depannya akan baik. Tetapi dengan keyakinan dan tekad di hatinya, semua kemarahan dia rubah untuk melakukan sesuatu bagi dirinya. Sehingga dia bisa seperti sekarang. Bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.


"Kadang kita tidak mau berjuang melewati kabut hidup, tetapi iri dengan kehidupan orang yang sudah melewati kabut hidupnya. Kita tidak tahu betapa sulit dan harus jatuh bangun orang itu, baru bisa mencapai apa yang kita lihat padanya."


Aaric jadi menyadari arti pemberian adiknya. "Ini adalah hadiah terindah yang kuterima dalam hidupku. Adikku memberikannya untukmu, tetapi aku jadi melihat segala sesuatu dari sudut yang lain. Selama ini aku tidak sendiri, ada Tangan Yang Ajaib mengatur hidupku." Aaric berkata sambil terus memeluk Carren dengan sayang.


"Benar katamu. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Tuhan memakai adikku untuk mengantar kita ke sini. Dengan ke tempat ini, makin menguatkanku untuk menghadapi kabut hidup yang akan datang. Semoga kau juga bisa melihat ini dan tidak merasa takut menghadpi kabut hidup keluarga kita." Ucap Aaric memaknai semua yang mereka alami dari atas balon udara.


"Iya, Kak. Tuhan mengajari kita tentang awal hidup berkeluarga dengan cara yang tidak terpikirkan." Ucap Carren setelah mendengar yang dikatakan suaminya.


"Kita tidak bisa menarik pelajaran penting tentang hidup keluarga, jika awal berkeluarga yang dilihat dan dipikirkan hanya ranjang." Ucap Aaric sambil tertawa, Carren refleks memukul pelan tangan Aaric yang sedang memeluknya dan ikut tertawa.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2