
~•Happy Reading•~
Carren memandang Aaric yang sedang menanti jawabannya dengan serius. Dia jadi menyadari, Aaric sedang memastikan sikap hatinya dan dia harus berkata jujur. Dia teringat ucapan Mamanya. 'Kejujuran adalah dasar untuk membangun suatu hubungan yang baik. Jika tidak bisa berkata jujur seorang terhadap yang lain, lebih baik jangan teruskan hubungan itu. Karena kau akan menipu dirinya dan juga dirimu.'
Carren melihat itu dalam sikap Aaric, berkata jujur dengan menceritakan masa lalunya. Aaric pasti berharap dirinya bisa bersikap yang sama dengannya. "Tidak, Kak. Semenjak dia menikah, kami tidak pernah bertemu atau berkomunikasi lagi. Aku tidak tau sekarang dia tinggal dimana, karena tidak pernah ada kabar lagi darinya." Carren menceritakan tentang Recky yang tidak pernah lagi menghubunginya. Dia juga tidak tau keberadaan Recky. Aaric tetap memandang Carren dengan serius.
"Apakah dia mencintaimu?" Tanya Aaric serius, karena ada yang tidak pas baginya. Jika pria itu mencintai Carren kenapa menikah dengan wanita lain. Dia juga ingin tahu, agar pria itu tidak menjadi pengganggu hubungan mereka kelak.
"Menurut yang dia katakan saat terakhir kami bertemu, dia mencintaiku. Kami harus berpisah karena ada hal yang tidak bisa dihindari. Situasi dan kondisi yang membuat kami tidak bisa melanjutkan hubungan kami." Ucap Carren pelan, mengingat pertama kali bertemu dengan Recky di ruang kerjanya. Bagaimana Recky sangat terluka saat mengatakan mencintainya dan mereka harus berpisah. Aaric masih melihat Carren dengan tatapan tidak mengerti.
Melihat tatapan Aaric yang tidak mengerti, Carren berusaha menjelaskan dengan baik agar tidak terjadi salah paham. "Begini, Kak. Kadang kita berada dalam kondisi yang tidak bisa kita hindari dan harus mengambil keputusan. Kadang keputusan itu bisa menyakiti orang lain atau diri kita sendiri. Dia dalam kondisi harus membuat keputusan dan keputusannya mungkin telah menyakiti hatinya. Dia tidak menghubungi atau memberi kabar untukku juga bagian dari keputusannya, karena dia sudah menjadi suami orang." Ucap Carren pelan, dan masih menunduk.
"Akupun membuat keputusan untuk tidak mengharapkannya. Karena jika aku berharap ada hubungan diantara kami, sama saja aku berharap dia bercerai dengan istrinya. Itu jahat sekali." Carren mengingat apa yang dikatakan Mamanya.
__ADS_1
"Aku sekarang bersama Kak Aaric, bukan sebagai pelarian, tetapi benar mencintai kakak. Mengenai dia, aku minta maaf, Kak. Walaupun tidak tahu keberadaannya, aku selalu mendoakannya. Aku tetap mendoakannya, karena dia pernah melakukan banyak hal baik untukku. Dia hadir pada masa sulitku dan menolongku dalam banyak hal. Karena dialah, aku bisa seperti ini. Kami berpisah baik-baik, dan aku telah berjanji akan mendoakannya." Ucap Carren pelan, dan berharap Aaric bisa mengerti dan menerimanya.
"Ini bukan bagian dari masih mencintainya, tetapi bagian dari orang yang tahu diri dan tidak lupa diri. Aku tidak bisa membalas semua kebaikannya, jadi hanya bisa mendoakan agar Tuhan memberkatinya." Ucap Carren pelan, berharap Aaric bisa menerima. Sebenarnya, untuk berdoa, Aaric tidak akan tahu jika dia berdoa untuk Recky, tetapi dia ingin terbuka, agar tidak menjadi masalah dan merasa bersalah kepada Aaric ketika mendoakan Recky.
"Arra, aku tidak mengapa jika kau mau mendoakan orang lain. Karena itu berhubungan dengan Tuhan. Bukankah kita harus saling mendoakan? Yang penting sekarang, kau tau siapa yang ada didepanmu." Ucap Aaric sambil menunjuk wajahnya dengan jari. Carren yang tadinya merasa khawatir, langsung memeluk Aaric dengan erat saat melihat binar di matanya.
"Terima kasih, Kak. Aku bisa saja tidak mengatakannya padamu soal doa ini. Tetapi aku akan merasa bersalah, jika mendoakannya dan tidak mengatakannya pada kakak." Ucap Carren dengan perasaan lega.
"Sekarang kau harus memasukan namaku dalam daftar doamu. Agar kedepan aku bisa menjadi orang yang lebih baik, terutama untukmu." Ucap Aaric sambil mencium pundak Carren yang sedang memeluknya.
"Kita cukup membicarakan ini. Kau sudah mengetahui sedikit tentangku, jadi kedepan jangan menyerah untuk memperjuangkan sesuatu yang kau anggap baik. Jangan biarkan situasi atau kondisi menekanmu, hingga mengambil keputusan yang akan kau sesali." Ucap Aaric, sambil mengelus punggung Carren.
"Kita hidup dalam dunia yang tidak bisa diperdiksi apa yang akan terjadi selangkah di depan kita. Jadi aku suka mengatakan ini untuk orang yang aku sayangi, sekaligus untuk mengingatkanku, karena aku menyayangi diriku." Ucap Aaric tegas dan serius.
__ADS_1
"Sekarangpun aku katakan padamu, sekaligus mengingatkanku. Mari kita tinggalkan pikiran yang membuat kita lemah. Semua yang terjadi di waktu lalu, ada yang bisa melemahkan hati dan pikiran kita untuk melangkah. Tetapi ada juga bagian dari masa lalu yang bisa memberikan kekuatan untuk membangun sesuatu yang baik. Peganglah pikiran yg memberi kekuatan bagimu, agar bisa bertahan dan berjuang." Aaric mengatakan itu dari pengalaman hidupnya.
"Sekarang lebih baik kau beristirahat, tidak usah begadang denganku. Kondisimu tidak sedang sehat, nanti besok tidak bisa bekerja. Mari, kembali ke tempat tidur lalu beristirahat. Tidak usah pikirkan aku yang akan berangkat." Ucap Aaric lalu memegang lengan Carren untuk mengajaknya kembali ke tempat tidur. Carren tidak bisa menolak, karena matanya sudah berat dan hatinya lebih tenang. Dia tidak mau menunjukan rasa sedih, akan berpisah dengan Aaric agar tidak memberatkan langkahnya.
"Jika sudah pasti waktu kembali ke Jakarta, aku akan memberitahukan padamu. Supaya kau bisa mengatur waktu dan reservasi tempat untuk makan malam dengan orang tuamu. Aku akan bertemu dengan mereka dan minta ijin, sebelum datang ke rumah untuk melamarmu secara resmi." Ucap Aric saat Carren sudah berbaring. Dia ingin Carren bisa tenang saat dia berangkat nanti. Kemudian Aaric melangkah kembali ke sofa untuk beristirahat sejenak.
"Aku hanya tinggal dengan Mama, Kak Aaric. Papa sudah lama meninggal, saat aku masih kecil. Jadi nanti aku bicara dengan Mama setelah pulang dari sini." Carren bicara pelan, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Aaric tertegun mendengar yang dikatakan Carren. Dia kembali mendekati tempat tidur, lalu menunduk dan mencium kening Carren lama sambil mengusap kepalanya. "Maafkan aku, karena tidak mengetahui itu." Bisiknya, sambil terus mengelus kepala Carren. "Tetaplah di sisiku." Bisik Aaric lagi lalu mengacak rambut Carren dengan sayang.
"Sekarang, tidur yang nyenyak. Jika besok pagi bangun dan aku sudah berangkat, jangan lupa berdoa untuk penerbanganku." Ucap Aaric, lalu mengangkat tangannya dari kepala Carren yang matanya mulai meredup. Carren mengangguk kuat untuk meyakinkan dan menguatkan Aaric.
Aaric kembali ke sofa dan merapikan bad cover di atas sofa untuk tempatnya berbaring. Dia hanya memandang langit-langit kamar, tanpa bisa memecamkam mata. Dia jadi mengerti tentang apa yang dikatakan Carren tentang kehadiran dan pertolongan pria itu disaat masa sulitnya. Dia berkonsentrasi untuk mengamankan Carren dari Mamanya, sehingga belum sempat memeriksa latar belakang keluarga Carren.
__ADS_1
Menjelang jam tiga, Aaric mengeluarkan tas dan jasnya dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, agar tidak membangunkan Carren yang sedang tidur nyenyak. Dia mendekati tempat tidur Carren lalu mengusap kepalanya pelan, merapikan selimut Carren lalu berjalan keluar kamar. Dimana anggota keamanan telah menunggu untuk membawa semua barang bawaannya.
~●○♡○●~