
...~•Happy Reading•~...
Aaric mengendalikan dirinya, karena menyadari Pak Hutama sedang menatapnya dengan was-was. "Pak Jekob, berikan data peserta rapat untuk saya. Tuan ini sedang berbicara tentang siapa? Jika beliau datang dengan seseorang, segera cari orangnya untuk minta kaca matanya, agar bisa melihat dengan jelas." Ucap Aaric tanpa memperdulikan Pak Sunijaya yang sedang melihatnya dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Aaric sengaja memeriksa daftar hadir yang diberikan Jekob seakan tidak mengenal Pak Sunijaya. "Aahhaaa... Anda yang bernama Sunijaya? Tuan Sunijaya, hati-hati berbicara di sini karena seharusnya anda sudah tahu, kursi ini memberikan kekuasaan bagi yang mendudukinya. Jika anda masih ingin duduk di ruangan ini, lebih baik duduk diam dan dengarkan." Ucap Aaric dingin dan tajam tanpa eksepresi.
"Tetapi jika anda tidak bisa menyaksikan orang lain duduk di kursi ini, lebih baik anda tinggalkan ruangan ini. Jangan bicara seperti orang yang baru pernah menghadiri rapat pemegang saham." Ucap Aaric membalas ucapan Pak Sunijaya sebelum dia hadir dalam ruang rapat. Dia mengucapkan itu tetap tanpa ekspresi sambil menatap tajam Pak Sunijaya.
"Kau kira aku akan meninggalkan perusahaan yang aku bangun dengan susah payah ini begitu saja? Kau kira aku akan membiarkan semua ini untukmu dan bapakmu yang pengejut dan penghianat itu? Kau kira ...." Pak Sunijaya tidak bisa meneruskan ucapanya, karena Aaric membentaknya.
"Diiiiaaamm... Anda menyebut Papaku apa? Pengecut dan penghianat? Siapa yang pengecut dan penghianat di sini? Anda membangun perusahaan ini dengan apa? Dengan nama Papaku, Biantra dan keringatnya. Semua yang anda berikan untuk membangun perusahan ini, sudah dibayar berkali lipat oleh Papaku sehingga Sunijaya tetap masih bisa berdiri sampai saat ini. Puluhan tahun Papaku membangun semua ini, dan kalian berfoya-foya dengan hasil keringatnya. Setelah itu kalian melemparnya seperti sampah yang tidak berguna?"
"Anda lihat apa yang diajarkan seorang pengecut itu untuk putranya. Mengambil apa yang menjadi haknya, tetapi bukan dengan cara gaya katak seperti yang kalian lakukan. Ini adalah hasil keringat seorang anak yang kalian anggap bapaknya pengecut dan penghianat itu."
__ADS_1
"Kalau bukan nasehat Papaku, perusahaan ini sudah berada di dasar tebing. Aku sudah melemparnya jadi berkeping-keping. Pria yang kalian sebut pengecut dan penghianat itu masih mengingat perut para karyawan yang begini banyak, termasuk perut panci kalian. Mulai sekarang saya tidak akan membiarkan kalian mengisi panci-panci kalian dengan sesukanya." Ucap Aaric serius, tetapi Pak Hutama yang tadinya merasa sedih jadi tetawa dalam hati mendengar ucapan Aaric.
Pak Sunijaya yang sudah kepalang malu di depan Pak Hutama karena dibentak oleh cucunya sendiri, jadi meradang dan menyenggol Bu Biantra untuk menenangkan anaknya. Tetapi Bu Biantra tetap diam mematung. Karema beliau tahu, semua yang dikatakan Aaric bisa dia lakukan.
Aaric yang belum surut emosinya tetap menatap Pak Sunijaya dengan kulit wajah mulai memerah. "Anda berani mengatakan Papaku pengecut dan penghianat? Anda tidak tahu jika mulutmu adalah harimaumu? Sekarang anda seperti seekor harimau yang sudah tidak bergigi. Saya ingatkan anda, Danang Biantra tidak ada di sini hingga bisa mencegahku untuk menggigitmu." Ucap Aaric tanpa beralih tatapannya dari Pak Sunijaya.
"Jadi tuan Sunijaya yang terhormat, jika masih mau menikmati hasil keringatku, katupkan mulutmu. Jangan pamerkan gusimu untuk menakutiku." Pak Sunijaya menatap Aaric dengan marah dan geram, mendengar ucapannya. Aaric terus berkata tanpa memperdulikan Opa nya yang sedang memandangnya, dengan mata nyalang dan seakan-akan api bisa keluar dari matanya.
"Jadi kuperingatkan anda untuk yang terakhir kali, jangan coba-coba menggangguku dengan nyamuk-nyamuk peliharaanmu itu seperti yang anda lakukan tadi. Anda harus berterima kasih untuk pria yang anda sebut pengecut itu, karena darahnya mengalir kental di tubuhku. Jika tidak, saya sudah membakar nyamuk-nyamuk peliharaanmu dan anda sebagai kayu bakarnya."
"Kursi ini bukan pemberian atau warisan anda untuk saya, sehingga boleh seenaknya di sini. Jadi sekarang jika anda tidak bisa menerimanya, anda bisa angkat kaki dari sini dan nikmati sisa saham anda. Semoga setelah ini, anda masih bisa nikmati santapan lezat dari hasil keringat seorang Biantra lagi." Ucap Aaric, mengingat sebelumnya adalah hasil keringat Papanya.
"Sebagaimana saya memperoleh saham ini dengan tidak mudah, hidup anda dan antek-antek anda tidak akan mudah setelah ini." Ucap Aaric sambil melihat Pak Sunijaya dan saudara lainya dengan dingin dan rahang yang kaku.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pemegang saham yang lain? Kita persingkat saja rapat ini, dan sekarang tentukan posisi anda." Ucap Aaric, lalu memberikan isyarat kepada Jekob untuk meneruskan apa yang harus dilakukan. Jekob memberikan memo kepada sekretarisnya untuk mencatat proses selanjutnya.
Pak Sunijaya bagaikan duduk di atas bara api, saat melihat para pemegang saham minoritas, yang berada di pihaknya sebelum ini, mulai condong ke arah pemegang saham mayoritas. Jekob tersenyum dalam hati, melihat gelagat mereka akan membelot ke arah bossnya.
Sapta tiba-tiba mengatakan posisinya berada di pihak pemilik saham mayoritas. Pak Hutama langsung mengatakan posisinya tanpa berkasak kusuk. Membuat Pak Sunijaya tiba-tiba memegang dadanya dan Bu Biantra jadi berteriak memanggil nama Papahnya. Bu Biantra yang duduk diam sejak tadi karena ketakutan terhadap Aaric jadi histeris melihat Pak Sunijaya mulai sesak nafas sambil memegang dadanya.
Aaric menjetikan jarinya ke arah Jekob. Sapta hanya duduk diam, tapi tetap memberi komando kepada anggotanya yang sedang berjaga di luar ruang rapat. Tiba-tiba security masuk ke ruangan bersama tim medis yang sudah disiapkan oleh Jekob.
"Masukan ke ambulance dan bawa ke rumah sakit. Itu adalah kebaikan terakhir dari seorang Biantra." Ucap Aaric dingin, kepada security yang masuk, karena melihat Pak Sunijaya hampir kehabisan nafas. Tim medis memberikan oksigen kepada Pak Sunijaya, sebelum membawanya keluar ruangan.
Aaric telah mengatur dengan Jecob agar menyediakan ambulance di tempat parkir gedung untuk berjaga-jaga. Mengingat Opa nya sudah tua, bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika mengetahui telah kehilangan kekuasaannya di Biantra Group.
"Ibu Sunny, anda tidak ikut dengan Papah anda? Apa yang anda tunggu di sini? Apakah anda belum puas melihat Pak Hutama? Saya akan memberikan kesempatan untuk anda agar bisa melihatnya lebih lama, tapi tidak di sini. Anda akan melihatnya dengan puas, saat mengenakan gelang besi di kedua tangan anda. Tunggu bagian anda setelah ini." Aaric berkata dengan wajah serius dan sangar, membuat Bu Biantra bergidik dan makin gemetar. Apa yang dikatakan Aaric malam itu dan belum ditemukannya Gungun, makin menghantuinya.
__ADS_1
...~●○♡○●~...