Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Pak Ariand Hutama.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Pak Ariand bersama Parry baru tiba di Grand Indonesia (GI) untuk makan siang setelah melakukan pertemuan di Hotel Indonesia (HI). Parry mengajak Papinya untuk makan siang di salah satu restoran yang santai dan nyaman. Karena dia mau Papinya mencoba menu baru di restoran tersebut, Salmon Teriyaki With Cauliflower Rice.


Saat mereka berjalan menuju Nine Five Restaurant, tiba-tiba Parry disenggol oleh salah seorang wanita dari dua orang wanita yang berpapasan dengan mereka di jalan. Hal itu membuat Pak Ariand berhenti dan melihat kedua wanita yang terus berjalan tanpa menoleh dan tidak merasa bersalah.


Parry menarik tangan Papinya untuk terus berjalan dan mengabaikan kedua wanita tersebut. Pak Ariand langsung pindah berjalan di sebelah kanan Parry, agar Parry berjalan di bagian sisi tembok. Tanpa diketahui Parry, Pak Ariand memberikan kode kepada petugas keamanan yang sedang mengikuti mereka dari jauh untuk menyelidiki kedua wanita tersebut.


"Apakah tangan kananmu ngga papa?" Tanya Pak Ariand, sambil memegang dan memeriksa lengan Parry yang disenggol. Karena beliau khawatir, dia kena suatu benda tajam dari wanita yang menyenggolnya.


"Ngga papa, Pi. Tapi wanita tadi pasti apa-apa, karena dia kena sikutku." Ucap Parry, sambil memegang sikutnya dan tersenyum untuk menenangkan Papinya yang terlihat khawatir.


"Apakah kau mengenal kedua wanita itu atau salah satunya diantaranya?" Tanya Pak Ariand, saat mereka telah duduk di restoran dan menunggu menu pesanan mereka. Pak Ariand juga sedang menunggu laporan, hasil penyelidikan petugas keamanannya.


"Ngga Pi, tadi aku kurang waspada saja. Padahal sudah pernah terjadi, seharusnya tadi aku lebih memperhatikan jalan." Ucap Parry, karena asyik berbicara dengan Papinya, dia tidak memperhatikan orang yang berjalan ke arahnya dan berpapasan dengannya.


"Apa maksudmu? Apakah pernah ada yang mengganggumu seperti itu?" Tanya Pak Ariand, sambil melihat Parry dengan rasa khawatirnya.


"Ngga seperti itu sih, Pi. Yang tadi terlalu ekstrim. Ada yang pegang tanganku atau hanya senyum atau dengan ngga malu mengedipkan matanya kepadaku." Ucap Parry, pelan menjelaskan untuk menenangkan Papinya. Tetapi Pak Ariand sudah tenang, saat mendapat laporan bahwa kedua wanita tersebut hanya ingin menarik perhatian Parry.


"Hahaha... Papi kira apa, ternyata seperti itu. Kenapa kau heran dengan kejadian seperti itu? Kalau ada wanita bersikap yang seperti itu kepadamu, kau ngga tau penyebabnya?" Tanya Pak Ariand, sambil tertawa melihat wajah Parry.


"Kenapa Papi mala tertawa mendengarnya?" Tanya Parry, heran melihat Papinya tertawa dan wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum.

__ADS_1


"Apakah kau tidak menyadari kalau kau itu sangat tampan? Ya, pantaslah ada wanita yang menyukaimu atau mengganggumu." Ucap Pak Ariand, masih tetap tersenyum. Parry langsung melihat Papinya, karena mengingat Carren.


"Oooh, ternyata benar yang dikatakan Carren. Aku kira dia hanya bercanda dan ngeledekin aku saja." Ucap Parry, sambil tersenyum mengingat Carren menertawakan dia seperti Papinya.


"Siapa Carren, dan apa yang dikatakan sampai kau tersenyum begitu?" Tanya Pak Ariand heran, tetapi tertarik mendengar yang dikatakan Parry.


"Carren itu temanku yang datang saat Kak Naina meninggal, Pi. Yang dia katakan, ya, seperti yang dikatakan Papi tadi. Dia juga katakan sambil tertawa seperti Papi. Tadinya aku pikir dia sedang ledekin aku." Ucap Parry, tersenyum lagi.


"Astagaaa... Di kamar mandimu ada kaca sebesar itu, tidak lihat bahwa kau itu tampan? Apa kau lupa, waktu sekolah dulu pernah ditawarkan jadi model? Kalau Kakakmu ngga keras menolaknya, mungkin sekarang kau ngga kuliah." Ucap Pak Ariand mengingat ada Agency yang mengikuti Naina dan Parry saat mereka lagi jalan-jalan di Singapura.


Karena Parry bukan saja tampan, tetapi juga tinggi. Sehingga selain di Indonesia, di Singapura juga Naina pernah dihubungi oleh Agency agar mau menjadikan Parry model. Tetapi Naina tidak setuju, karena dia mau Parry ikut membantunya mengembangkan bisnis keluarga.


"Iyaa, Pi. Aku jadi ingat galaknya Kak Naina yang beradu dengan mereka, karena mereka ngotot mau bicara denganku secara pribadi. Tetapi Kak Naina tidak mengijinkan mereka berbicara denganku." Ucap Parry tersenyum, tetapi matanya berembun mengingat Kakaknya.


"Hahaha....Papi ko' tau tentang artis korea? Apa Papi masih sempat nonton drakor?" Tanya Parry, tertawa mendengar yang dikatakan Papinya. Karena dengan kesibukannya, mana mungkin bisa menonton drakor.


"Dulu saat Mami mengandungmu, kadang-kadang harus ikut nonton menemani Mamimu yang lagi hamil. Orang lain ngidam makan sesuatu, tetapi Mamimu, maunya nonton drakor. Apalagi peran prianya yang ganteng. Waaaah... Papi sampai harus cari dan membeli CDnya." Ucap Pak Ariand, sambil tersenyum.


"Pantesan Carren bilang, aku akan laku keras bagi pecinta drakor. Hahaha..." Ucap Parry, sambil tertawa. Pak Arian juga ikut tertawa mendengar yang dikatakan Parry. Mereka terdiam, saat pelayan menyajikan menu pesanan mereka.


"Mari kita makan, sebelum pecinta drakor mengganggu makan siang kita." Ucap Pak Ariand, lalu mereka bersyukur dan makan bersama.


Setelah makan siang, mereka segera kembali ke kantor karena ada yang harus dikerjakan di kantor sebelum bertemu dengan para kolega bisnis Pak Ariand di malam hari.

__ADS_1


Saat tiba di tempat parkir Hutama Building, Pak Ariand dan Parry langsung masuk ke lift khusus yang disediakan untuk para Direksi dari tempat parkir. Mereka naik lift khusus tersebut ke lantai 23 dimana terdapat ruang kerja Pak Ariand dan Parry.


Parry telah memiliki ruang kerja sendiri untuk bekerja, walaupun belum memiliki Jabatan resmi di Perusahaan. Ruang kerjanya berada satu lantai dengan ruangan Papinya di lantai 23. Dimana ruang kerja tersebut, dulu ditempati oleh Kakaknya, Naina.


Saat Agra, Asisten Pak Ariand melihat boss besarnya datang bersama Parry, dia terkejut. Karena Ferdy sedang mengikuti mobil Parry, dan mereka katakan sedang ke tempat duka.


"Ada apa Agra? Kau seperti belum pernah melihat tuan muda." Ucap Pak Ariand, saat melihat wajah Agra yang berbeda dan terkejut.


"Ooh, iya tuan. Saya tidak tau, tuan muda ada bersama tuan. Saya kira sedang ke kampus, jadi tidak ke sini." Ucap Agra, cepat mengendalikan dirinya.


"Tidak. Tadi saya mengajak tuan muda bertemu dengan Pak Hardadi di HI dan sekalian makan siang denganku. Kau urus yang lain dulu, karena saya mau berbicara dengan tuan muda di ruanganku." Ucap Pak Ariand, mengerti keterjutan Agra, lalu mengajak Parry masuk ke ruang kerjanya.


"Parry, duduk dulu. Ada yang ingin Papi bicarakan denganmu." Ucap Pak Ariand, lalu duduk bersama Parry di sofa yang ada dalam ruang kerjanya. Parry duduk sambil berpikir, karena melihat wajah Papinya yang serius.


"Tadi kau katakan, temanmu yang datang saat Naina meninggal bernama Carren bukan?" Tanya Pak Ariand, serius dan Parry mengangguk mengiyakan. Tetapi dia berpikir, kenapa Papinya tiba-tiba membicarakan Carren.


"Apakah dia sudah selesai kuliah atau tinggal ujian sepertimu?" Tanya Pak Ariand, mengingat Parry pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Beliau juga memikirkannya sepanjang perjalanan pulang dari GI.


"Carren ngga kuliah, Pi. Dia teman SMU, tetapi sangat pintar jadi aku suka berdiskusi dengannya tentang bahan kuliahku. Dia sangat membantuku, setelah Kak Naina ngga ada." Ucap Parry pelan, dia khawatir Papinya melarang dia bertemu atau berteman dengan Carren.


"Kalau dia pintar, kenapa ngga kuliah?" Tanya Pak Ariand, terkejut dan heran dengan apa yang dikatakan Parry. Beliau makin penasaran, lebih ingin tahu tentang Carren.


"Ngga tau, Pi. Carren ngga pernah mengatakannya, padahal dia hampir kuliah di Wangsa." Ucap Parry lagi, menjelaskan dan berharap Papinya tidak meminta dia menjauhi Carren.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2