Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Amarah.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Mendengar itu, Bu Biantra terkejut karena menyadari Pak Biantra ada dalam ruangan yang sama dengannya. Bu Biantra menutupi rasa terkejutnya dengan mundur lalu mencoba berbicara dan bersikap galak. "Kau percaya ucapan wanita yang sudah jadi abu itu?" Bu Biantra berkata tanpa menyadari perubahan karakter putranya yang sudah belasan tahun tidak ditemuinya. Aaric bukan lagi anak kuliahan yang dulu pergi meninggalkan rumahnya.


Aaric maju dengan langkah panjangnya dan hendak menarik senjata api dari kantong jacket dengan tangan kanannya. "Aariiiiic..." Tiba-tiba Pak Biantra berteriak karena terkejut melihat gerakan tangan Aaric dan Amarah di wajah putranya. Pak Biantra takut, Aaric bisa membunuh Mamanya, karena perkataannya yang menyakitkan hati.


Teriakan Pak Biantra membuat Aaric menahan tangannya tidak mengeluarkan senjata api dari kantong jacketnya. "Hari ini kau beruntung, karena darah Biantra lebih kental mengalir di tubuhku. Jika darah Sunijaya yang lebih kental mengalir di tubuhku, kau sudah kutembak mati saat ini juga." Ucap Aaric dengan amarah yang meluap di depan wajah Bu Biantra.


Bu Biantra langsung bergidik melihat perubahan wajah Aaric yang berjarak sangat dekat dengannya. Perubahan itu membuat Bu Biantra hampir tidak mengenal anaknya sendiri.


"Karena kau dan keluargamu yang membuat Naina jadi abu, aku akan menyerahkanmu kepada keluarga Hutama. Mereka mau jadikan kalian apa, tunggu saja. Kali ini kau tidak akan bisa lari dari jangkauan mereka. Aku akan serahkan kalian semua, termasuk orang yang sedang kalian cari." Ucap Aaric tanpa membiarkan Bu Biantra bernafas dengan bebas.


Mendengar ucapan Aaric, wajah Bu Biantra memucat. Beliau mengingat Gungun yang sedang dicarinya dan belum ditemukan. Begitu juga dengan Pak Sunijaya yang sudah tidak sabar menunggunya membawa Gungun dan anggota keamanan lainnya.


"Kau katakan Naina membuatku pergi dan wanita itu membuatku pulang? Kau ingin tau siapa yang lebih mempengaruhiku? Buka telingamu dan dengar baik-baik, sebelum kau menutup matamu." Ucap Aaric tanpa melepaskan tangannya dari saku jacket dan sedikit menunduk ke arah wajah Bu Biantra yang sudah memucat.

__ADS_1


"Kau sudah lihat dan mengukur cintaku pada Naina saat pergi tinggalkan rumah ini dengan segala kekayaanmu dan tidak pernah kembali padamu." Ucap Aaric dengan mata menghujam tajam ke arah mata Bu Biantra yang mulai ketakutan.


"Kau tunggu nanti apa yang akan aku lakukan padamu dan keluargamu. Ketika kau melihat kehancuranmu dan keluargamu, saat itu kau bisa mengukur seberapa besar cintaku pada gadis itu." Ucap Aaric dingin, seakan mau menelan Bu Biantra dengan matanya.


"Kau perlu ingat juga, dalam tubuhku ini mengalir darah Sunijaya. Jika kau berani menyentuh sehelai rambut gadis itu, aku akan mematahkan jarimu satu demi satu." Ucap Aaric sambil mengambil tangan Bu Biantra dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang jari Bu Biantra dari kelingking hingga jempol.


Bu Biantra terkejut dan menarik tangannya dengan sekuat tenaga. Tetapi tangannya tidak bisa terlepas, karena Aaric memegang tangannya dengan kuat. Tangan Bu Biantra bergetar dan sudah sedingin es dalam genggam Aaric. Dengan tatapan tajam, Aaric melihat Bu Biantra dengan seringai mengancam.


"Setelah selesai mematahkan jari-jarimu, aku akan mematahkan kaki dan tangan orang-orang disekitarmu yang berani menyentuh gadis itu." Ucap Aaric lalu menghentak tangan Bu Biantra dengan kuat lalu berbalik meninggalkannya. Bu Biantra meringis kesakitan saat menyadari cengkraman Aaric menyakiti tangannya.


Pak Biantra tidak bereaksi mengetahui istrinya yang sedang kesakitan. Beliau hanya melihat apa yang dilakukan putranya dengan hati yang sangat cemas. Putranya sudah sangat berubah dari anaknya yang hangat dan baik hati, menjadi pria yang berhati dingin dan garang.


Aaric melangka keluar ruang tamu rumahnya dengan hati yang membara karena tidak bisa mematahkan tangan Mamanya. Suasana hatinya bisa membakar siapa saja yang menghadangnya. Dia menutup pintu utama yang ditendangnya dengan kemarahan di dada. Sehingga membuat kaca jendela disekitarnya bergetar dan pintu yang sudah retak jadi terbelah.


Pak Biantra yang sedang memikirkan perubahan sikap anaknya, terkejut melihat pintu terbelah. Menyadari Aaric telah keluar, Pak Biantra berlari keluar mengejar Aaric yang melangka cepat dengan langkah panjangnya. Beliau tidak mempedulikan teriakan istrinya yang memanggilnya.

__ADS_1


Sedangkan Aaric berjalan dalam kemarahannya, tidak mengetahui Pak Biantra sedang mengejarnya. Dia juga tidak mempedulikan para security yang berdiri menghormatinya dari pos penjagaan.


"Ayo, jalan." Ucap Aaric, saat sudah masuk mobil dan duduk dengan menghempaskan tubuhnya dengan kuat ke kursi mobil. Jekob dan Sapta yang merasa sedikit lega melihat bossnya keluar dari rumah dalam keadaan baik. Tetapi mereka jadi panik melihat Pak Biantra sedang berlari menyusul bossnya.


"Maaf, Pak. Itu Pak Biantra sedang berlari ke sini mengejar bapak." Ucap Jekob yang telah memberikan kode untuk Sapta untuk bersabar, jangan menjalankan mobil seperti yang diminta oleh bossnya.


"Kalian tidak perlu membuka jendela." Ucap Aaric, lalu membuka kaca jendelanya sedikit. Pak Biantra mendekati kaca mobil yang sedikit terbuka, karena beliau lihat Aaric naik di pintu itu. Jekob dan Sapta spontan menunduk, saat melihat Pak Biantra mendekat. Padahal kaca mobil yang gelap tidak mungkin Pak Biantra bisa melihat mereka.


"Aaric, Papa minta nomor telponmu. Ada yang mau Papa bicarakan tentang adikmu. Kali ini Papa memohon padamu, karena adikmu. Papa akan mati dengan tenang, jika sudah mengetahui keberadaan adikmu. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Walaupun dia marah pada kami, dia akan hubungi Papa. Aaric, tolong adikmu jangan sampai ada yang mencelakai dia diluar sana. Saat kau pergi, hanya dialah kekuatan Papa." Ucap Pak Biantra pelan dengan suara bergetar karena sedang mengkhawatirkan Recky.


"Sebutkan nomormu, nanti ada yang hubungi." Ucap Aaric, sambil menjetikan jarinya kepada Jekob untuk mencatat nomor telepon yang disebutkan Pak Biantra. Jekob dan Sapta yang sedang terharu mendengar apa yang dikatakan Pak Biantra terkejut. Jekob segera mengeluarkan ponselnya lalu mencatat nomor yang disebut oleh Pak Biantra. Setelah itu, Aaric menutup kaca mobil dan meminta Sapta keluar dari halaman rumah keluarganya.


Gerbang yang rusak ditabrak oleh Sapta telah disingkirkan oleh security. Sehingga Sapta membawa mobilnya keluar halaman dengan pelan dan hati-hati. Aaric tidak melepaskan pandangannya dari Pak Biantra yang tetap berdiri di halaman sambil melihat mobil yang ditumpangi Aaric keluar dari halaman.


Melihat Papanya seperti itu, Aaric yang duduk di belakang berteriak sekeras-kerasnya. Hatinya seperti tercabik-cabik melihat Papanya yang terus berdiri tanpa bergerak. Matanya tidak lepas dari mobil yang ditumpangi oleh Aaric sampai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2