
~•Happy Reading•~
Melihat kehadiran Carren, Pak Biantra jadi penasan lalu mengikuti mereka ke dapur. Kemudian duduk di meja makan tanpa mengalihkan pandanganya dari mereka. Beliau melakukan itu, karena Aaric telah mengatakan bahwa dirinya tidak menjadi pengganggu mereka. Selain itu, rasa penasaran dengan calon mantunya yang sangat cantik, sopan dan juga ramah.
Ini pertama kali Pak Biantra bertemu dengan calon mantu. Dulu saat Aaric pacaran dengan Naina, tidak pernah memperkenalkan Naina kepadanya. Mereka hanya pacaran di luar, apalagi mereka lebih banyak di luar negeri. Jika Mamanya tidak bertemu mereka saat makan malam, beliau tidak tahu bahwa Aaric sudah punya pacar.
Begitupun dengan Recky, belum pernah memperkenalkan pacarnya. Jadi saat bertemu dengan Carren, Pak Biantra jadi ikut senang melihat ada orang baru dalam kehidupan mereka. Beliau merasa senang juga, karena Carren bukan saja cantik, tapi tau etika dan lembut. Beliau merasa sangat cocok dengan putranya yang sekarang tidak sehangat dulu. Lebih banyak serius dan kadang bisa galak dan cendrung sangar jika ada yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan hatinya.
Beliau masih trauma saat melihat Aaric hampir membunuh Mamanya malam itu. Oleh sebab itu, Pak Biantra berencana mau mendekati Carren, mungkin bisa membantunya. Agar bisa mengerti dan mau sabar terhadap putranya. Pak Biantra mengingat ucapannya kepada Mamanya. 'Saat kau melihat kehancuranmu, kau bisa mengukur seberapa besar cintaku padanya.' Melihat sikap Aaric memperlakukan Carren, beliau bisa merasakan kasih sayang Aaric kepadanya. Sebagaimana yang dia lakukan padanya.
Beliau tidak mau putranya kehilangan gadis yang baik untuk kedua kalinya. Karena menurutnya, Naina juga gadis ysng baik dan sopan. Tidak menunjukan dia putri seorang konglomerat. Pak Biantra pernah menerima laporan, bahwa istrinya pernah menemuinya dan melabraknya. Tetapi dia tetap sopan tidak membalas atau melapor kepada orang tuanya. Dia juga mungkin tidak melapor kepada Aaric. Jika Aaric tahu, mungkin dia akan berlaku sama kepada Mamanya.
Saat itu Aaric marah karena Mamanya menentang dan mengancamnya jika terus berhubungan dengan Naina. Bukan karena tahu Mamanya melabrak Naina. Kalau Carren, mungkin dia tidak melapor juga. Pak Biantra melihat Carren bukan gadis yang suka mengadu dan mungkin Aaric tahu dari orang yang ada di sekitarnya. Apalagi sekarang dia memiliki segalanya, mungkin dia sudah menyelidiki Carren dan tahu Mamanya mememui Carren.
Aaric meletakan kantong belanjaan Carren di dapur, lalu berdiri di samping Carren melihat dia mengeluarkan isi kantong. "Perlu bantuanku?" Tanya Aaric, penasaran dengan semua isi kantong yang dibawa Carren.
__ADS_1
"Kakak sudah sangat membantuku, jika kakak tinggalkan tempat ini. Jangan membuatku grogi, hingga tiba-tiba ada yang lompat keluar dari dalam kantong ini." Carren berkata pelan, karena dia merasa sedang diperhatikan oleh Pak Biantra.
Aaric tersenyum mendengar ucapan Carren lalu mengangkat kedua tangannya. "Baik, aku tinggalkan. Oh iya, kenapa hari ini kau pakai baju?" Aaric baru tersadar, Carren mengenakan baju, saat Carren melipat lengan bajunya untuk mulai bekerja.
Jika Carren menggunakan celana psnjang dan blouse atau kemeja, akan mudah dia meminjamkan kaosnya sebagai ganti, walau kebesaran. Tapi sekarang mengenakan baju, dan harus bekerja di dapur, bisa basa dan kotor.
"Tadi aku bertemu dengan client, jadi harus tampil sedikit femina, Kak. Apakah aku ngga cocok dengan baju ini?" Tanya Carren pelan, yang belum mengerti maksud pertanyaan Aaric.
"Bukan tidak cocok. Kau sangat cocok dan cantik dengan baju ini. Hanya aku tidak punya baju untuk mengganti baju ini, saat mau masak nanti." Ucap Aaric pelan, ikut berbicara pelan seperti Carren.
"Ngga papa, Kak. Aku akan berhati-hati. Aku akan mengenakan celemek Bibi. Habis tadi malam kakak ngga bilang mau buatkan soup, jadi aku bisa bawa baju ganti dari rumah." Ucap Carren protes, karena Aaric baru mengatakan saat dia sudah di kantor.
Setelah ditinggal Aaric, Carren yang sudah melipat lengan bajunya, mulai membersihkan semua yang dibelanjakan. Ada yang dibelih lebih, dimasukan ke dalam kulkas. Tanpa disadari, Pak Biantra mendekatinya yang sedang membumbui ayam sebelum di rebus.
Dia hampir menabrak Pak Biantra saat hendak berbalik. "Astagaaa, Om. Jantungku bisa copot. Om memerlukan sesuatu untuk dimakan?" Tanya Carren, sambil memegang dadanya. Senyum Pak Biantra makin melebar saat melihat wajah terkejut Carren.
__ADS_1
"Om masih kenyang. Tadi sudah sarapan sandwich di bawah. Om hanya mau lihat kau memasak." Ucap Pak Biantra, karena penasaran. Beliau tidak pernah melihat istrinya masak sesuatu selama mereka hidup berumah tangga. Jadi saat melihat Carren sedang memasak di dapur, sangat menarik perhatiannya.
"Waaah... Om, mohon maaf, ya. Untuk menyelamatkan makan siangnya, bisakah Om tinggalkan dapur ini? Saya tidak bisa konsen, Om." Ucap Carren berharap sambil meletakan kedua tangannya di dada dengan wajah memohon. Pak Biantra jadi tertawa melihat sikap dan mendengar ucapan Carren.
Pak Biantra tidak meninggalkan dapur, tapi malah mengambil wortel dari kulkas lalu meletakannya dekat panci. Carren heran melihat yang dilakukan Pak Biantra. Tanpa sadar, Carren mendorong pelan Pak Biantra keluar dari dapur sebagaimana yang suka dia lakukan terhadap Alm. Papanya.
Sambil tertawa, Pak Biantra berkata pelan. "Dia sangat suka makan wortel. Tambahkan lagi wortelnya, jika kau mau makan wortel nanti." Ucap Pak Biantra, memberikan bocoran kesukaan Aaric sambil berjalan mengikuti dorongan Carren. Carren jadi tertawa melihat cara jalan Pak Biantra.
"Eeeh... Kenapa ini, pada main kereta-keretaan?" Tanya Aaric yang baru keluar kamar dengan ipad di tangan. Dia melihat Carren dengan heran dan wajah bertanya. Carren secara refleks melepaskan tangannya dari punggung Pak Biantra.
"Aku sedang mengamankan soupnya dari rasa lautan, Kak. Tolong ajak ngobrol Om, ya, Kak. Bisa-bisa aku salah masukan bumbu. Nanti sudah matang baru aku panggil." Ucap Carren dengan wajah memohon kepada Aaric. Aaric hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu mengajak Papanya ke ruang tamu.
"Papa duduk di situ saja. Sebentar lagi Jekob datang membawa perlengkapan kerja untuk Papa. Supaya Papa ngga bosan atau iseng." Aaric jadi ikut mendorong Papanya seperti yang dilakukan Carren, karena Pak Biantra mau duduk di ruang makan.
"Kak, Pak Jekob mau ke sini? Kenapa tadi ngga bilang, Kak. Supaya aku bisa beliin yang mau dimasak agak lebih." Ucap Carren terkejut, mendengar Jekob akan datang. Dia hanya membeli seekor ayam dan beberapa potong ayam tambahan serta sedikit tahu dan tempe.
__ADS_1
"Ngga usah pikirkan Jekob, nanti bisa pesan makan siang dari luar untuknya. Soup itu sengaja untuk Papa. Kalau aku ngga bisa ikutan, nanti pesan makan siang untukku bersama Jekob. Ngga usah dipikirkan, masak saja yang sudah dibeli." Ucap Aaric untuk menenangkan Carren. Pak Biantra berbalik melihat Aaric dengan dengan rasa haru, saat mendengarnya meminta Carren membuat soup untuknya.
~●○♡○●~