
~•Happy Reading•~
Carren kembali ke dapur untuk meneruskan aktivitas memasakannya. Begitu juga dengan Aaric, dia mengajak Papanya ngobrol di ruang tamu. Tidak lama kemudian, Jekob tiba lalu Aaric membuka pintu untuknya. Jakob terkejut saat masuk ke apartemen dan melihat Carren sedang memasak di dapur.
Ketika Jekob hendak menyapa dan mau meledekin, Aaric menyenggol lengannya. "Jangan coba-coba mengganggunya, jika tidak mau pergi beli ayam dan bikin soup baru ganti soup rasa lautan." Aaric berkata serius, tapi tersenyum dalam hati melihat Jekob langsung menutup mulutnya dengan tangan dan berjalan pelan ke ruang tamu sambil tersenyum mendengar yang dikatakan bossnya. Suatu ungkapan baru, yang baru pernah didengarnya.
Jekob menyerahkan laptop dan ponsel baru yang dibelinya untuk Pak Biantra. Aaric bantu memindahkan simcard Papanya ke ponsel yang baru, lalu mencobanya. Begitu juga dengan laptop yang baru dibeli, Jekob bantu mengaktifkan dan bantu menjelaskan kepada Pak Biantra karena yang dibeli adalah laptop keluaran terbaru dari merek terkenal sesuai permintaan bossnya.
Pak Biantra menerima laptop dan mencoba password baru yang dibuat Jekob. "Jekob, laptop ini terlalu canggih untuk saya." Ucap Pak Biantra setelah membuka berbagai fitur yang tersedia. Laptopnya yang ditinggalkan di rumah, jauh ketinggalan dari yang dibeli Jekob. Sehingga beliau agak kesulitan menggunakannya.
"Papa tidak usah buru-buru menggunakannya. Lihat dan pelajari saja pelan-pelan. Nanti kalalu Jekob sudah selesai dengan pekerjaannnya, dia akan bantu menjelaskannya kepada Papa." Ucap Aaric serius, karena melihat Papanya hendak menutup laptop yang baru dibelinya.
"Papa buka fitur yang biasa Papa gunakan saja dulu, nanti setelah itu baru yang lain." Ucap Aaric lagi, agar Papanya mau gunakan laptop yang dibelinya. Dia ingin Papanya kembali bekerja, walau dari rumah. Dia sudah memiliki rencana untuk Papanya agar bisa kembali bekerja.
__ADS_1
Pak Biantra mengangguk mengerti kemauan Aaric, lalu buka lagi laptop yang hendak ditutupnya. Beliau mencari nama perusahaan Biantra Group dan membaca semua yang diberitakan mengenai perusahaan tersebut. Beliau juga melihat nama para Direksi yang sedang menjabat di Biantra Group. Susunan nama pejabat yang diumumkan kepada publik sudah tidak ada namanya tercantum di sana. Beliau tersenyum miris saat melihat sepupu istrinya sudah masuk dan menjabat di Biantra Group.
Walapun penasaran, Pak Biantra menahan diri tidak membuka lebih lanjut untuk melihat isi dan dokumen perusahan dengan passwordnya. Beliau khawatir bagian IT perusahaan mengetahui beliau sedang mengakses dan mengetahui kehadirannya.
Pak Biantra tidak jadi meneruskan membaca tulisan mengenai perusahaan Biantra Group dan tidak mau membicarakan dengan Aaric tentang sepupu Mamanya yang sudah menguasai Biantra. Beliau khawatir, Aaric akan marah dan nanti melakukan suatu tindakan yang menyusahkannya.
Pak Biantra tidak mengetahui, Aaric sudah ada dalam jajaran pejabat Biantra Group dan bisa mengakses semua hal tentang kepemilikan perusahaan. Bisa dibilang saat ini dialah pemilik Biantra Group, karena sebagai pemegang saham terbanyak. Walaupun saham Pak Biantra, istrinya, Pak Sunijaya dan istrinya digabung, Aaric tetap melebihi mereka. Semua dokumen sedang disiapkan untuk rapat pemegang saham. Dia menunda untuk mengadakan rapat pemegang saham, karena data tentang sepupunya belum terkumpul semua.
Tidak lama kemudian, mereka mendengar bunyi piring dan sendok di ruang makan. Pak Biantra yang penasaran, tidak sabaran menunggu dipanggil makan oleh Carren. Beliau menutup laptop dan memasukan ke dalam tasnya. Aaric dan Jekob masih asyik berbekerja, karena Jekob membawa banyak dokumen yang harus diperiksa oleh Aaric. Pak Biantra tidak mau ikut nimbrung atau bertanya tentang pekerjaan putranya. Beliau hanya memperhatikan dan menunggu Aaric berbicara tentang pekerjaan dengannya. Pak Biantra yakin, Aaric akan memberikannya pekerjaan, karena sudah membelikan laptop untuknya.
"Arra, apakah masakannya bisa cukup untuk kita berempat? Kalau ngga, biar kita tunggu Jekob pesan makanan dari luar sebagai tambahannya." Aaric berkata pelan, sambil mengikuti Carren ke dapur untuk mengambil perangkat makan.
"Sepertinya, cukup Kak. Aku masakin semua yang dibeli tadi. Jadi nanti malam, kakak harus cari yang lain untuk makan malam." Ucap Carren pelan. Dia masak semua tempe dan tahu yang dibelinya, sehingga tidak ada belanjaannya yang tersisah di kulkas.
__ADS_1
Ayam yang tadinya mau dibuat dua masakan berbeda, jadi hanya satu biar bisa cukup. Bila dibuat dua, akan tidak cukup jika masing-masing mau mencoba keduanya. "Mohon maaf, ini tidak ada sayur hijau, karena tadi buru-buru jadi lupa membeli." Ucap Carren saat mereka telah duduk di meja makan. Sudah sampai apartemen, baru dia teringat ada yang kurang saat mengeluarkan semua belanjaannya dari kantong belanja.
Mereka terkejut melihat seekor ayam kampung utuh yang direbus bumbu dimeja makan. Dan ayamnya sudah disayat-sayat, sehingga memudahkan mereka untuk mengambilnya. Semua masakan yang tersedia di meja sangat menggiurkan, karena mereka jarang makan masakan rumahan.
Setelah berdoa masing-masing, Carren mengingat ucapan Aaric bahwa soup sengaja dibuat untuk Papanya. Dia mengambil mangkok Pak Biantra, lalu mengisinya dengan soup. Soup ayamnya lengkap dengan kentang, wortel dan potongan paha pentung dan sayap yang dibelinya tersendiri, ekstra.
Pak Biantra tersenyum senang melihat perlakuan Carren terhadapnya. Beliau mencipi soupnya dengan mata berembun karena baru pernah diperlakukan demikian oleh orang lain selain Ibunya. Carren yang tidak menyadari tindakannya berdampak kepada Pak Biantra, meneruskan mengisi manggkuk soup untuk Aaric, ditambah banyak wortel.
Aaric yang sedang mencicipi ayam rebus berbumbu, tersenyum sambil mengelus punggung Carren sebagai ucapan terima kasih. Melihat banyak wortel di mangkoknya, dia tahu Papanya sudah memberikan bocoran, kalau dia suka wortel kepada Carren. Dia tidak mau membahasnya, hanya menikmati dalam diam dan mengingat adiknya Recky yang juga suka makan wortel. Sehingga mereka suka meminta kepada pelayan di rumah untuk menyiapkan wortel lebih, jika sedang memasak menu menggunakan wortel agar mereka tidak rebutan.
Jekob juga mengisi manggkoknya dengan soup lalu ikut menikmati masakan Carren bersama yang lain. "Waaah... Masakannya lezat sekali, Carren. Tadi Om berharap ada sedikit rasa lautan supaya bisa kirim sinyal bagus untuk seseorang." Ucap Pak Biantra sambil tersenyum, lalu melirik Aaric sebagai kode, tidak usah lama-lama berpacaran. Aaric yang menangkap kode lirikan dan ucapan Papanya, langsung mengerti maksudnya.
"Ngga usah pake sedikit rasa lautan untuk berikan sinyal, Pa. Besok kita bertiga akan pergi melamar Carren." Ucap Aaric serius, menyambut bola yang diumpan Papanya. Seperti kata pepata: 'pucuk dicinta, ulam tiba.' Aaric tidak perlu repot-repot memikirkan cara menyampaikan kepada Pak Biantra untuk menemaninya pergi melamar Carren. Dengan ucapan Papanya, dia mendapatkan lebih dari yang diharapkan.
__ADS_1
~●○♡○●~