
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Ichad sedang memacu motornya ke rumah Almh Bu Florens. Karena tadi ditelpon oleh Carren membuat dia agak terlambat berangkat dari tempat kontrakannya. Dia diminta oleh Sisil untuk datang jam enam dan sudah hampir jam enam.
Saat tiba di rumah Bu Florens, dia sudah ditunggu oleh Pak Frans dan anaknya, Maxi serta Sisil. "Selamat sore." Ichad menyapa setelah turun dari motor dan meletakan helm nya di teras.
"Selamat sore, Ichad. Mari, masuk." Maxi membalas sapaannya dan mempersilahkan dia masuk ke ruang tamu. Ichad berjalan masuk mengikuti Maxi tanpa mengerti apa yang sedang terjadi sehingga dia diminta datang.
"Silahkan duduk, Ichad. Sisil buatkan minum untuk Kak Ichad." Maxi mempersilahkan Ichad duduk. Sisil berjalan ke dapur dengan wajah yang ditekuk, tetapi jantungnya dag dig dug tidak beraturan melihat Ichad benar-benar jadi datang.
Sambil menunggu Sisil membuat minuman, Pak Frans mengajak bicara Ichad. Beliau tahu Ichad yang pertama membantu Almh istrinya mendekor bersama Bu Nancy. Sehingga beliau sudah mengenalnya dengan baik.
"Duduk di situ juga, Sisil. Ada yang ingin kami bicarakan denganmu dan Ichad." Maxi menahan Sisil yang hendak kembali ke belakang setelah meletakan minuman Ichad di meja tamu. Sisil kembali duduk dalam diam, tanpa melihat ke arah Ichad.
"Begini, Ichad. Saya memintamu datang ke sini, karena ingin mendengar langsung darimu. Kenapa kau tidak datang bekerja lagi setelah Mama meninggal. Saya kira kau bisa bantu mengembangkan usaha Mama." Maxi memulai pembicaraan.
"Begini Kak Maxi, selama kami bekerja dengan Tante Florens, kami bukan pegawai negeri atau pegawai kantoran yang harus masuk setiap hari kerja. Kami biasanya datang bekerja jika dihubungi oleh Tante Florens, bahwa ada kerjaan untuk kami. Jadi selama Tante tidak hubungi kami, kami tidak akan datang." Ichad berucap sambil melihat Maxi dengan serius.
"Itupun berlaku sampai sekarang. Karena kami tidak dihubungi, jadi kami tidak datang bekerja. Kami berpikir, mungkin Tante sudah tidak ada, jadi sudah tidak ada pekerjaan lagi." Ichad tidak mau mengatakan kalau Sisil tidak memberitahukan mereka. Biarkan itu diselesaikan saja diantara mereka sebagai keluarga.
Maxi terkejut mendengar apa yang dikatakan Ichad. Karena Sisil sudah bekerja setelah Bu Florens meninggal. Dan mereka telah mendekor di beberapa tempat. Dia menatap Sisil yang hanya menunduk dan diam.
Pak Frans juga ikut melihat ke arah Sisil, saat mendengar yang dikatakan Ichad. Beliau mulai menyadari ada yang tidak beres dengan Sisil dan pekerjaannya. Beliau membujuk anaknya, Maxi untuk memberikan pekerjaan itu di bawah tanggung jawab Sisil, karena selama ini Sisil telah bekerja bersama istrinya.
__ADS_1
"Sisil, kau bisa menjelaskan ini kepada kami? Kenapa kau tidak memberitahukan Ichad, tentang pekerjaan yang telah kalian kerjakan?" Maxi bertanya beruntun sambil menatap tajam Sisil yang sudah mengangkat wajahnya.
"Aku kira, Kak Ichad ngga mau kerja lagi setelah Tante ngga ada. Dan juga, pekerjaannya hanya kecil, jadi ngga membutuhkan banyak orang untuk bekerja, Kak." Sisil mencoba membela diri dan mencari alasan yang bisa diterima oleh Om dan Kakak Sepupuhnya.
"Apakah Ichad saja yang ngga kau kasih tau, atau ada yang lain lagi?" Tanya Maxi curiga, karena saat Sisil bermasalah kemaren hanya dengan mereka berlima. Bagaimana dengan Akri dan Rosna yang tidak ada bersama-sama dengan mereka.
Mendengar pertanyaan Maxi, Ichad tertunduk diam. Dia jadi mengerti, bukan maunya keluarga Bu Florens untuk tidak mempekerjakan mereka. Tetapi memang maumya Sisil seperti yang diduga oleh dirinya, Akri dan Rosna.
"Akri dan Rosna juga ngga dikasih tahu, Kak." Jawab Sisil pelan. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi dari pertanyaan Maxi. Karena Maxi sedang menunggu jawabannya.
"Jadi kau sengaja tidak mempekerjakan orang-orang lama, yang sudah bekerja dengan Mama? Apa kau tau, mereka ini yang pertama-tama bekerja bersama Mama?" Tanya Maxi emosi saat mendengar yang dikatakan Sisil. Dia tidak menyangka perilaku Sisil seburuk itu, karena dia selalu berbicara baik dan manis dengan Papanya.
"Ini akibatnya kalau Papa selalu menolong dan membelanya selama ini. Dia besar kepala dan berlaku seenaknya terhadap orang lain. Dia tidak menghormati dan tidak menghargai jerih payah Mama selama ini." Ucap Maxi, sambil melihat Papanya yang terdiam mengetahui kelakuan ponakannya.
"Sekarang, serahkan kartu Mama yang Papa berikan untukmu. Dengan apa yang terjadi kemaren dan hari ini, kami tidak mempercayai kamu untuk meneruskan semua ini. Jadi serahkan semua yang berhubungan dengan pekerjaan ini." Sisil berdiri dan mengambil ATM dan CC Bu Florens, lalu menyerahkannya kepada Maxi dengan hati berat dan gerundel.
"Kalau kau sedang pegang uang tunai, serahkan juga. Karena aku akan membayar Ichad dan yang lainnya. Kalau tidak bisa mengelolah usaha, tanya Papa atau aku. Jangan berlaga bisa, malah menghancurkan semuanya. Setelah ini, serahkan juga semua catatan kekuangan yang kau buat saat Mama sakit sampai hari ini." Maxi merasa belum puas memarahi Sisil, karena dia sangat kecewa dengan apa yang dilakukannya.
"Ichad, berapa banyak yang Mama belum bayar upahmu dan juga mungkin Akri dan Rosna? Biar aku membayarnya dulu, baru kita bicarakan yang lain lagi." Maxi merasa tidak enak hati terhadap Ichad.
"Begini, Kak Maxi. Sebenarnya Tante Florens tidak pernah menahan upah kami. Setelah selesai kerja, beliau langsung membayar upah kami. Jadi beliau tidak berhutang upah terhadap kami. Hanya yang terakhir kami bekerja itu saja yang belum dibayar, karena beliau jatuh sakit dan dibawa ke Rumah Sakit. Upah yang itu, kami bertiga sudah mengikhlaskannya." Ucap Ichad, karena Itulah yang dikatakan juga oleh Akri dan Rosna kepadanya.
"Tidak bisa Ichad. Saat Mama jatuh sakit, kalian tetap bekerja menyelesaikan dekornya. Sisil telah merima bayaran dari client. Jadi kalian harus menerima upahnya." Maxi baru memikirkannya, setelah mendengar penjelasan Ichad.
__ADS_1
"Sisil, apa kau sudah membayar juga karyawan yang lain untuk pekerjaan saat itu?" Maxi balik bertanya kepada Sisil, karena mengingat kemaren mereka tidak dibayar untuk itu.
"Sudah, Kak Maxi." Ucap Sisil pelan, karena merasa takut akan kemarahan Maxi.
"Lalu kenapa kau tidak membayar sekalian Ichad, Akri dan Rosna? Upah mereka kau kemanakan?" Tanya Maxi, marah. Dia melihat Sisil dengan tajam, karena merasa malu terhadap Ichad atas perilaku sepupuhnya.
"Kau keterlauan. Upah orang yang hanya segitu saja kau memakannya. Kau tidak akan menerima apa-apa dariku. Papa dengar itu? Jangan biarkan orang terus berbuat tidak benar, nanti susah membedakan benar dan salah. Karena yang salah sering dibenarkan." Maxi berkata sambil memandang Papanya, tegas.
Dia tahu, Papanya sering menolong dan membela saudara dari keluarganya. Karena itu bukan baru sekarang saja terjadi. Sudah dari saat Mamanya masih hidup.
"Ichad, sebutin angka upah kalian bertiga, biar sekalian aku bayar dan menitipkan punya Akri dan Rosna untukmu. Nanti aku akan menghubungi mereka untuk minta maaf, upah mereka tertahan sudah lumayan lama.
"Sekarang kita bicarakan pekerjaan dekor Mama. Aku tau, kalian yang memulainya dulu bersama Mama. Apakah sekarang kau bisa meneruskannya? Sekalian kau ajak Akri dan Rosna. Aku akan serahkan tanggung jawabnya untuk kalian bertiga." Maxi menunjukan sikapnya di depan Papanya dan Sisil. Pak Frans hanya diam, tanpa berkomentar karena beliau sendiri sedang merasa malu dan kecewa dengan Sisil, ponakannya.
"Kami mohon maaf, Kak Maxi. Kami sekarang sudah bekerja, jadi tidak bisa bekerja di sini lagi. Kami pikir tidak diteruskan lagi, jadi kami sudah diberikan kepercayaan untuk mendekor di tempat lain." Ichad menolak secara baik-baik, kepercayaan Maxi.
"Apakah sekarang kalian bekerja dengan Carren dan Tante Nancy?" Maxi menebak, karena dia mengingat titipan Mamanya untuk Carren.
"Iya, Kak Maxi. Carren telah mengusahakan pekerjaan bagi kami bertiga. Jadi sekarang kami sudah bekerja dengannya. Jadi mohon maaf, kalau kami bertiga tidak bisa bekerja di sini lagi." Ichad berkata pelan.
"Baiklah, nanti aku akan hubungi Carren dan Tante Nancy untuk membicarakan selanjutnya. Terima kasih sudah datang ke sini. Tolong berikan nomormu dan nomor Carren, ya." Ucap Maxi, tenang. Mendengar itu, Ichad memberikan nomor telponnya dan Carren kepada Maxi dengan hati bertanya-tanya.
Sisil mendengar yang dikatakan Ichad dengan hati berbatu karang. Ternyata Carren masih tetap bekerja sebagai pendekor dan telah memberikan pekerjaan kepada Ichad, Akri dan Rosna. Sedangkan dirinya sebentar lagi harus mencari pekerjaan.
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡