Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Yang Tertinggal 1.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Keesokan harinya, Carren berangkat ke tempat bekerja agak terlambat karena bangun kesiangan. Sepanjang malam tidurnya tidak tenang, karena tidak bisa menghubungi Recky. Pesan yang dikirim hanya ceklis satu. Hal itu membuatnya khawatir dengan kondisi Recky.


Saat bangun dan melihat ada pesan dari Liana yang mau datang ke kantornya pagi ini, Carren segera mandi untuk siap-siap ke kantor. Ada secerca harapan di hatinya, Recky baik-baik saja. Dia hanya minum minuman hangat yang telah disediakan Mamanya, lalu membawa sarapan yang disediakan untuknya ke kantor.


Ichad telah berangkat terlebih dahulu, tanpa membawa mobil. Saat datang ke rumah Carren untuk berangkat kerja bersama-sama, Bu Nancy mengatakan Carren belum bangun. Ichad melarang Bu Nancy membangunkannya, karena dia tahu apa yang sedang dialami Carren saat di kantor kemarin.


Dengan menggunakan ojol, Carren berangkat ke kantor. Karena dia berpikir, akan menyiapkan semua yang dibutuhkan Liana, sebelum dia datang. Saat membuka pintu kantor, Carren terkejut melihat Recky sudah datang dan sedang duduk di meja penerima client sambil meletakakan kepalanya di meja.


"Pagiii, semua." Carren menyapa tanpa suara, hanya ucapan bibir dan gerakan tangan ke arah karyawan yang ada di lantai bawah. Dia berpikir, Recky sedang tidur jadi dia tidak mau mengganggunya.


Ketika hendak melangka ke tangga, dia kembali terkejut dengan sapaan Recky yang telah mengangkat kepalanya. "Boss beda ya, bisa datang lebih siang." Recky berkata sambil melihat Carren yang sedang berjalan menjinjit.


Carren berbalik dan malu melihat Recky yang sedang menatapnya. "Aku masuk siang gara-gara siapa? Aku tadi bangun kesiangan." Ucap Carren, sambil berjalan ke meja dimana Recky sedang duduk. Karyawan yang mendengar, jadi tersenyum.


"Kau ngga bisa tidur mikirin aku, ya. Kalau aku, sakit kepala karena mikirin kau dan rasanya mau pecah." Ucap Recky dengan santai dan cuek.


"Sekarang sudah tidak sskit lagi?" Tanya Carren tidak mau menanggapi ucapan Recky. Karena dia percaya, Recky benar sakit kepala dan lagi berbicara asal untuk menutupinya.


"Sudah. Makanya datang kesini pagi-pagi untuk bertemu denganmu sebelum iblis be**na itu datang." Recky berkata dengan santainya.


"Kau sudah sarapan, belum?" Carren bertanya, tanpa menanggapi ucapan Recky, karena mengingat dirinya belum sempat sarapan.

__ADS_1


"Belum. Yuuuk... Mari kita keluar cari sarapan. Aku sudah sangat lapar, karena tadi di rumah mau sarapan, ada iblis be**na duduk di meja makan. Jadi aku langsung ke sini." Recky berkata sesukanya berucap.


"Ngga usah. Mari, ikut aku ke atas dan sarapan yang ada saja. Waktunya sudah sangat mepet." Ajak Carren, lalu Recky berdiri dan mengikuti Carren naik tangga.


"Sarapan yang ada saja ya, ini aku bawa dari rumah karena tadi tidak sempat sarapan. Nanti aku buat minuman panas untuk kita." Carren berkata, lalu meninggalkan Recky sendiri di ruang kerjanya.


Dia kembali bersama Rosna yang mengantar dua cangkir teh panas dan juga satu kotak tahu isi yang dibawa untuk rekan kerjanya. Carren meminta beberapa dari Rosna, karena dia tahu sarapan yang dibawanya mungkin kurang untuk Recky.


"Makan semua roti yang aku bawa itu. Jika masih kurang, bisa tambah dengan ini." Carren berkata sambil menunjuk kotak berisi tahu isi. Dia lalu meminum teh panas yang dibuatnya. Begitu juga dengan Recky, mengikuti semua yang dikatakan Carren.


Selesai makan, Carren mengajak Recky turun sambil membawa teh yang belum dihabiskan oleh Recky. "Duduk di sini sambil habiskan teh ini. Aku akan menyiapkan yang diperlukan, karena sebentar lagi dia datang." Recky refleks melihat jam tangannya, lalu mengangguk.


Tidak berapa lama, Liana masuk ke kantor Carren dan mencoba tersenyum saat melihat Recky telah duduk di ruangan kantor Carren. Dia mengucapkan selamat pagi kepada semua yang ada, tetapi hanya karyawan yang membalas salamnnya. Sedangkan Recky hanya diam menatap cangkir teh dalam genggamannya dengan wajah mulai memerah.


Rosna segera naik memanggil Carren, saat melihat perubahan wajah Recky yang begitu cepat. Liana duduk agak jauh dari tempat duduk Recky, karena khawatir Recky akan pergi lagi.


"Tanggal resepsi yang kau kirimkan untukku, kami bisa menanganinya karena schedule kami kosong pada hari itu. Ini kau bisa lihat beberapa desain dekor dan jenis menu catering yang bisa kau pilih." Carren menyerahkan semua yang dibutuhkan Liana, tanpa melihat Recky.


"Karena ini di ballroom hotel kami, kau bisa sesuaikan dengan tempatnya. Desainnya aku serahkan kepadamu." Liana berkata tanpa berbicara dengan Recky karena takut.


"Baik. Karena ini sangat mendadak, jadi lekas tentukan pilihan menumu agar kami bisa mulai bekerja. Berapa orang yang akan kalian undang? Supaya kami akan menghitung budgetnya." Carren berkata lalu memberikan isyarat kepada Akri untuk mendekatinya. Akri yang akan bantu menghitung budget yang diperlukan oleh Liana.


"Seribu orang. Pakai catering yang terbaik dan semua menu yang termahal. Begitu juga dengan dekornya dengan bunga segar yang terbaik." Jawab Recky, tanpa melihat Liana yang sedsng berpikir dan mencoba hitung berapa orang yang akan diundang.

__ADS_1


"Itu untuk undangan 500 eksp. Semua undangannya dari iblis ini, tidak satupun dari pihakku. Sekarang hitung secepatnya, pakai semua paling mahal yang disediakan oleh kantor ini." Recky berkata datar tanpa ekspresi.


Akri menyerahkan kepada Carren, setelah menghitung semua yang dibutuhkan, tanpa gedung. Akri mengangguk yakin dengan angka yang diberikan sesuai permintaan Recky. Carren berbisik kepada Akri untuk memberikan diskon, karena mereka dikenalnya.


Melihat Carren ragu-ragu dengan jumlah yang harus dibayar dengan berbisik kepada Akri, Recky berkata. "Berikan itu padaku." Recky meminta lembaran yang dihitumg Akri dari tangan Carren. Liana hanya diam, tidak berani berkata atau protes.


Carren memberikan kepada Recky dengan ragu-ragu sambil melihat Liana yang sedang kaku. "Karena ini sangat mendadak, kalian harus bekerja ekstra keras dan cepat. Jadi angka ini, dikalikan tiga." Recky berkata tegas, lalu mengembalikan kertas ditangannya kepada Carren.


"Cepaaatt.. kalikan tiga angka itu. Atau kau mau aku sendiri yang menulisnya?" Recky berkata kepada Carren dengan wajah serius. Carren segera menulis angka yang dimaksudkan Recky, karena dia sangat mengerti. Jika Recky sendiri yang menulisnya, dia bisa mengalikan angka tersebut dengan angka lebih dari tiga.


Carren menulis dengan tangan bergetar dan Liana tetap diam tidak bersuara. "Cepat cantumkan itu dalam kontrak kerja, dibayar lunas hari ini dan berikan kepada iblis ini." Recky berkata serius, sehingga Akri langsung berdiri dan membuat surat kontrak kerja sama dengan budget yang ditulis Carren. Tanpa poin lain, karena akan dibayar lunas.


Setelah selesai, Akri memberikan surst kontrak kerja sama ke tangan Carren dengan hati cemas. Karena itu adalah angka yang sangat besar. Begitupun dengan Carren yang menerima dan membacanya.


"Berikan itu padaku." Ucap Recky, sambil mengulurkan tangannya. Carren menyerahkan kepada Recky dengan tangan bergetar. Liana hanya bisa melihat, tanpa bisa melakukan atau mengatakan sesuatu.


"Ok. Berikan padanya dan kita tunggu limabelas menit dari sekarang, mereka transfer dananya. Lewat dari itu, tidak usah kalian tanggapi ocehannya, karena tidak akan ada acara itu." Recky mengembalikan kontrak kerja sama kepada Carren dan Carren berikan kepada Liana.


Liana hanya terbelalak melihat angka dalam surat kontrak kerja. Tetapi karena ucapan Recky, dia mengambil ponsel lalu menelpon. Tidak lama kemudian, dia mengangguk kepada Carren dan kembali duduk. Orang tuanya bisa menerima angka itu tanpa banyak protes, karena waktu acara yang mendesak.


Carren tidak berani melihat Recky, setelah melihat pemberitahuan dari pihak bank bahwa dana tersebut telah ditransfer. "Sudah ditransfer?"  Tanya Recky singkat, saat tahu Carren melihat ponselnya dengan terkejut. Carren mengangguk kepada Recky.


"Berikan surat kontrak kerja itu padanya dan kalian lekas tanda tangan. Agar iblis ini segera pergi meninggalkan ruangan ini. Jika dia lama di sini, ruangan ini akan terbakar." Setelah Liana tanda tangan dan giliran Carren, tangannya bergetar. Sehingga dia memegang tangannya dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Carren, kau perlu bantuanku untuk memegang tanganmu, agar bisa tanda tangan?" Mendengar itu, Carren langsung tanda tangan tanpa berpikir lagi. Dia khawatir Recky akan melakukannya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2