Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Meninggalkan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Jekob dan Sapta tetap diam, tanpa berbicara sedikitpun. Mereka bisa merasakan apa yang dirasakan oleh bossnya setelah mendengar yang dikatakan Pak Biantra kepadanya. "Kalian boleh pulang setelah mengantar saya ke apartemen." Ucap Aaric lalu menyandarkan punggungnya untuk menenangkan hatinya yang sedang bergemuru.


Saat tiba di apartemen, Jekob tidak mau mendengarkan permintaan bossnya. Dia tetap ikut turun bersama Aaric dan meminta Sapta untuk kembali ke Sero sendiri. "Jekob, saya ingin sendiri. Pulanglah dengan Sapta." Ucap Aaric, saat melihat Jekob turun bersamanya.


"Bapak tidak perlu melihat saya. Anggap saja, saya tidak ada di apartemen. Saya tidak akan keluar dari kamar tamu jika bapak tidak mau melihat saya." Ucap Jekob tidak mau mengalah dan mendengarkan permintaan bossnya. Pengalaman sebelumnya bersama Aaric membuat Jekob tidak mau meninggalkan bossnya sendiri.


Aaric melihatnya dengan serius dan mulai emosi. "Jika karena ini, bapak mau pecat saya, tidak mengapa. Asal jangan meminta saya meninggalkan bapak sendiri malam ini. Biarkan saya ada dalam kamar tamu saja." Ucap Jekob pelan dan berharap bossnya mengerti maksudnya.


Dia pernah melihat Aaric sakit sebelumnya, sehingga dia tidak mau melinggalkan bossnya sendiri setelah apa yang baru dialami. Aaric berjalan masuk ke lift tanpa berkata apapun untuk mencegah Jekob. Dia mengerti maksud Jekob, tetap mau bersamanya malam ini.


Saat masuk ke apartemennya, Aaric segera masuk ke kamar untuk merendam tubuhnya di dalam bathtub untuk mengurangi ketegangan yang sedang dirasakannya. Dia sedang berusaha tidak memikirkan apapun yang baru terjadi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jekob di kamar tamu. Setelah itu, dia keluar ke dapur untuk membuat minuman hangat untuknya.


"Jekob, tolong buatkan hot chocolate untuk saya. Kalau kau mau, buatkan juga untukmu. Saya letakan semuanya di situ." Ucap Aaric yang baru keluar dari kamar dengan kaos dan celana pendek, sambil menunjuk kitchen set tempatnya menyimpan sachet hot chocolate.


Jekob melakukan permintaan bossnya dengan hati sedikit lega, karena mau berbicara dengannya. Padahal tadinya Jekob berpikir, bossnya tidak akan keluar kamar untuk bertemu dengannya. 


"Jekob, lakukan semua seperti yang saya katakan padamu. Tidak ada yang berubah. Sedangkan Gungun, kau yang serahkan dia kepada Pak Hutama dan biarkan pengacara kita mendampingi Gungun. Kita akan bantu dia semaksimal mungkin." Ucap Aaric sambil menunggu hot chocolate buatan Jekob.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Pak Biantra, Pak?" Tanya Jekob pelan dan ragu-ragu, mengingat yang dilakukan Pak Biantra sebelum mereka berpisah.


"Saya akan pergi bertemu Recky. Nanti setelah bertemu dan berbicara dengan Recky, baru kita menghubunginya." Ucap Aaric, karena dia akan berbicara dengan adiknya tentang apa yang akan dilakukannya kepada Mama mereka dan keluarganya.


"Jekob, saya akan memakai jet, karena ada tempat yang saya tuju sebelum ke Sydney." Aaric menjelaskan perjalamannya kepada Jekob, agar bisa mengurus keberangkatannya. Dia ingin menyelesaikan masalah dengan keluarganya, agar bisa mengelurus yang lainnya.


.***.


Di tempat yang lain ; Pak Biantra kembali masuk ke dalam rumah, setelah melihat mobil Aaric meninggalkan halaman rumah mereka. Beliau mengabaikan pintu yang terbelah, langsung masuk ke kamarnya. Sebagai seorang Ayah melihat kepergian putranya untuk kedua kalinya, membuat hatinya tercabik dan sakit.


Beberapa waktu kemudian, Pak Biantra keluar dari kamar sambil mendorong sebuah koper di tangannya dan tas di pundaknya. Bu Biantra terkejut melihat itu, lalu menyuruh para security yang sedang merapikan pintu rumah, agar keluar meninggalkan mereka.


"Kau tidak pernah mendengar apa yang aku katakan selama ini, karena kau tidak pernah menganggapku sebagai suami. Aaric telah membuka mataku, ternyata kau dan Papahmu selama ini memanfaatkanku untuk bisa membalas sakit hati kalian kepada keluarga Hutama."


"Sekarang kalian selesaikan apa yang selama ini telah kalian lakukan. Aku tidak mengambil bagian dalam setiap rencana jahat kalian. Kau merasa hartamu mampu mengontrol dan mengendalikan banyak orang bukan? Teruskan itu dan semoga kau dan keluagamu bahagia." Ucap Pak Biantra lalu hendak meninggalkan rumah.


"Kau kira aku akan membiarkanmu pergi dengan membawa semua yang kuberikan untukmu?" Bu Biantra emosi, mendengar yang dikatakan suaminya. Beliau tidak menyangka suaminya bisa melawannya setelah puluhan tahun selalu melakukan yang dimintanya.


"Semua kartu dan kunci aku letakan di kamar. Kau bisa ambil dan memakai itu sepuasmu. Kau tidak pernah belajar, tetap tinggal di masa lalu untuk memperjuangkan sesuatu yang semu. Kau tidak lihat anak yang pergi dari rumah tanpa uang darimu, masih hidup sampai sekarang? Apalagi aku yang sudah tua dan malang melintang di dunia ini puluhan tahun? Aku masih bisa bekerja untuk makan dan minumku."

__ADS_1


"Kau masih memikirkan hartamu, saat seorang anakmu tidak tahu keberadaannya. Sekarang entah dia masih hidup atau sudah mati. Kau tidak pernah berpikir, bahwa dia bisa mengakhiri hidupnya setelah menuruti keinginanmu? Saat kau memintanya menikah, dia hampir menceburkan dirinya ke danau. Bersyukur aku datang tepat waktu. Kau tidak pernah pikirkan apalagi tau tentang itu bukan?" Ucap Pak Biantra serius, karena cemas keadaan Recky.


"Seperti yang Recky katakan, biarlah hartamu yang akan mengantarmu ke liang lahat. Aku aku akan pergi mencari kedua putraku dan memohon maaf dari mereka, karena telah menjadi orang tua yang jahat bagi mereka. Mungkin mereka mau memaafkanku dan nanti bisa mengantarku ke liang lahat." Pak Biantra berkata dengan tegas, tetapi hatinya sedih.


Setelah melihat kepergian Aaric, Pak Biantra menetapkan hatinya untuk meninggalkan rumah dan semua kemewahan yang telah diperoleh selama ini. Banyak keringat dan tenaga yang telah dicurahkan untuk membesarkan perusahaan Biantra. Tetapi semuanya tidak ada artinya, saat melihat mata putranya yang menatapnya tanpa bisa didefinisikan artinya. Entah dia benci, marah atau sayang. Cara kepergian untuk kedua kali dari rumah, menyadarkannya sebagai seorang Ayah yang gagal.


Setelah keluar di halaman, Pak Biantra duduk di pos tanpa berbicara dengan security yang sedang diam mematung. Mereka tidak tahu dan bingung melihat Pak Biantra yang biasanya ramah dan ajak mereka berbicara hanya diam. Mereka mau bertanya, mungkin Pak Biantra membutuhkan sesuatupun, tidak berani.


Tidak lama kemudian sebuah mobil online tiba di pintu gerbang yang sedang di perbaiki. Pak Biantra berdiri dan memasukan kopernya ke bagasi lalu naik ke mobil tersebut. Beliau hanya menengok sejenak ke halaman rumah, lalu melihat ke jalanan di depan.


Beberapa waktu kemudian, mobil yang ditumpanginya berhenti di terminal bus luar kota. Pak Biantra membayar lalu turun dari mobil. Beliau mengambil koper yang dikeluarkan sopir dari bagasi lalu berjalan menuju tempat jual tiket bus malam umtuk membeli tiket bus untuknya.


Pak Biantra percaya, saat melihat wajah Aaric meminta nomor teleponnya. Dia akan mencari adiknya dan akan menghubunginya. Oleh sebab itu, beliau mengambil keputusan untuk meninggalkan semuanya.


Saat sudah duduk di dalam bus malam menuju Malang, Pak Biantra merusak salah satu sim card yang biasa dipakai untuk berbisnis dan juga diketahui oleh keluaraga istrinya. Karena beliau tidak membutuhkannya lagi setelah tiba di rumah peninggalan orang tuanya.


Pak Biantra tertunduk diam lalu berdoa untuk perjalanan dan keselamatan kedua putranya. Ada harapan di hatinya untuk menunggu telepon dari putra tertuanya, agar bisa mengetahui keadaan putra bungsunya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2