
...~•Happy Reading•~...
Aaric menatap Carren yang sedang terkejut sambil memegang dada dan menutup mulutnya, seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aaric.
"Jangan melihatku seperti itu, jika tidak ingin aku memajukan pernikahan kita ke minggu depan." Ucap Aaric serius, tapi menggapai pundak Carren lalu memeluknya karena melihat Carren terkejut. Dia menepuk pelan pundak Carren untuk menenangkannya.
Walaupun mereka sudah bertunangan, Aaric menyadari Carren pasti terkejut dengan permintaanyanya. Oleh sebab itu, dia tetap memeluknya dengan sayang agar Carren bisa mengerti dan mendukungnya.
Setelah bertemu dan berbicara dengan Recky, konsentrasinya terganggu. Sebelumnya dia bisa bersikap sedikit santai untuk merencanakan pernikahan mereka. Tetapi sekarang banyak hal mendesaknya untuk menetapkan hari pernikahan mereka secepatnya, jika ingin beristrikan Carren.
Sehingga dia ingin mempercepat resmikan hubungan mereka, agar bisa mengikat Carren tetap berada di sisinya. Sebagaimana yang disarankan adiknya. Jika besok bisa dilaksanakan, dia akan melaksanakannya. Hanya dia menghargai perasaan dan keinginan Carren serta Mamanya.
"Bicaralah dengan Mama, agar bisa mendukung rencanaku untuk kita menikah dua minggu lagi. Tetapi akan jauh lebih baik, sepuluh hari lagi, di hari Sabtu. Jadi acaranya di malam Minggu." Ucap Aaric pelan, sambil terus memeluk Carren.
Mendengar apa yang dikatakan Aaric serius, Carren melepaskan pelukannya, lalu memandang Aaric. "Apakah kakak sudah bicara dengan Papa? Apakah jika sepuluh hari lagi, Papa bisa datang ke sini?" Tanya Carren mengingat Pak Biantra, tetapi menahan diri untuk bertanya tentang Mamanya.
"Nanti aku akan bicara dengan Papa, setelah kau bicara dengan Mama. Papa tidak akan datang saat kita menikah, tetapi kita akan ke sana setelah menikah. Sedangkan Mamaku tidak bisa hadir, karena sebentar lagi sidang akan dimulai. Jadi kalau bisa, kita menikah sebelum persidangan. Aku tidak ingin ada yang bicarakan itu saat kita menikah nanti. Aku minta pengertianmu untuk meyakinkan Mama." Ucap Aaric sambil menatap Carren dengan serius.
__ADS_1
Carren melihat Aaric sambil mencerna apa yang diucapkannya. 'Apakah karena persoalan Mamanya yang membuatnya kepikiran sehingga terlihat kurang segar? Ataukah kondisi Papanya yang belum pulih, sehingga mau membawanya ke sana?' Tanya Carren dalam hati.
"Iya, Kak. Nanti aku bicara dengan Mama. Adakah lagi yang kakak inginkan?" Tanya Carren, karena dia tidak mau menambah beban pemikiran Aaric. Toh' sekarang pun, mereka bisa dibilang seperti orang yang sudah berkeluaga. Sering berbagi cerita dan saling mengkhawatirkan jika berjauhan.
Yang membedakan dengan orang yang sudah berkeluarga adalah mereka belum tinggal bersama dan terutama belum resmi secara hukum dan agama. Carren mau mendukung rencana Aaric, karena menurutnya usulan Aaric baik.
"Yang aku inginkan dan kau bisa bantu, hanya itu. Yang lain aku sedang berusaha selesaikan. Jika Mama setuju, kau tidak usah mengurus acaranya. Mungkin konsepnya saja yang kau siapkan, nanti rekan WO lain yang kerjakan. Atau kalian kolab juga boleh. Kau tolong pikirkan, ya." Ucap Aaric sambil mengelus sayang lengan Carren. Dia sangat bersyukur melihat responnya, sehingga hatinya sedikit lega. Carren tidak bertanya banyak hal yang membuat dia harus berpikir untuk menjawabnya.
"Kakak mau konsepnya seperti apa? Biar aku bisa pikirkan dari sekarang." Ucap Carren, karena ini pernikahan mereka, mungkin Aaric ada menginginkan acara pernikahannya seperti apa. Carren belum punya bayangan untuk konsep pernikahannya. Sangking sering memikirkan konsep pernikahan orang lain, dia tidak memikirkan konsep pernikahannya seperti apa.
Dia pikir, masih lama menikah karena Pak Biantra masih belum pulih. Dia tidak menyangka pemikiran Aaric berbeda. 'Mungkin karena persoalan Mamanya.' Carren kembali memikirkan persoalan hukum Mamanya Aaric.
Carren jadi teringat konsep pernikahan Recky. "Oooh, jadi kakak mau hanya ada kursi pelaminan untuk kita? Apakah banyak orang yang mau kakak undang?" Tanya Carren, karena jika benar Mamanya setuju, dia harus bekerja keras dan cepat.
"Tidak banyak. Hanya beberap rekan bisnis, supaya mereka tahu aku sudah menikah. Keluarga tidak ada." Ucap Aaric sambil berpikir. Ternyata dia tidak memiliki keluarga yang banyak selain keluarga dari Mamanya. Papanya anak tunggal. Jika ada keluarga jauh Papanya, tidak mungkin mengundang mereka, karena Papanya tidak bisa hadir.
"Undangan untuk rekan bisnisku, aku yang email. Kau buat konsep undangannya dan email untukku. Aku sekarang tidak bisa memikirkan desainnya. Di resepsi tidak ada ruang VIP, semuanya duduk di meja masing-masing. Nanti aku bicara dengan Jekob untuk menghitung jumlah mejanya. Sedangkan gedung, Jekob yang siapkan. Nanti aku katakan padamu, setelah kau bicara dengan Mama." Ucap Aaric jadi berpikir dengan serius. Ternyata untuk menikah, banyak sekali yang harus diurus.
__ADS_1
"Baru terpikirkan, jika bicara mau menikah, banyak hal yang harus dipikirkan. Sudahlah... Kau bantu yang lain, baik di Gereja dan di resepsi. Kau pakai kartu yang aku berikan untuk semua keperluannya. Nanti malam, jika bisa pulang cepat aku akan menghuhungimu untuk mengetahui pendapat Mama." Ucap Aaric lalu berdiri.
"Aku akan keluar kota, jadi tolong pikirkan dan minta tolong karyawanmu juga. Kalau mereka mau hadir di acara pernikahan kita, biarkan mereka libur dan WO lain yang mengurusnya. Aku serahkan bagaimana baiknya kau mengatur dengan karyawanmu." Ucap Aaric, sambil mengelus lengan Carren yang sudah berdiri.
"Bagi aku pelukan, Arra. Supaya aku tau semuanya aman dan baik-baik saja. Aku tidak bisa lama, kasihan Jekob sedang menungguku." Ucap Aaric lalu memeluk Carren dengan sayang, karena tidak menuntut banyak hal untuk acara pernikahannya.
"Semoga kakak cepat kembali, agar jika Mama setuju, kita bisa pergi lihat bajunya." Ucap Carren dalam pelukan Aaric.
"Astagaaa... Itu juga aku tidak memikirkannya. Ternyata kita tetap sibuk, walau sudah pikirkan aku untuk menyerahkan kepada orang lain. Ok... Segeralah kabari aku, agar Jekob bisa mengatur ulang schedule ku." Ucap Aaric lalu melepaskan pelukannya untuk mengambil jasnya.
Dia segera menghubungi sopirnya untuk siap2 di lobby, begitu juga dengan yang akan mengantar Carren ke kantor. Kembali Aaric memeluk Carren sebelum membuka pintu. "Doakan semua yang kita rencanakan dan yang sedang kukerjakan, agar kita tetap sehat dan semuanya lancar." Ucap Aaric sambil mencium puncak kepala Carren dalam dan lama.
Carren memeluknya dengan erat, terasa hanya sebentar bertemu dengan Aaric. Walaupun mereka tinggal dalam satu daerah tapi kesibukan membuat mereka jarang bertemu.
Beberapa waktu lalu Aaric menjaga perasaan Recky, jadi tidak menghubungi Carren. Mereka hanya berkirim pesan untuk bisa tahu keadaan masing-masing. Carren mengerti, jika dia kirim pesan dan Aaric tidak menghubunginya tetapi hanya balas pesan, berarti sedang sibuk. Itu yang ada dalam pikirannya beberapa hari belakangan ini.
Setelah mereka akan berpisah di lobby, Aaric kembali memeluk Carren dengan sayang sebelum naik ke mobil. "Hati-hati. Kabari aku, jika sudah tiba di kantor." Ucap Aaric lalu melepaskan pelukannya. Carren mengangguk, sambil mengelus lengan Aaric, pelan.
__ADS_1
...~●○♡○●~...