
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Ayunna sedang menuju rumah Liana untuk menjemputnya, agar bisa berangkat sama-sama ke Universitas Darmawangsa. Mereka akan mengikuti ujian masuk di sana dari jalur umum, karena mereka dari keluarga mampu bahkan kaya.
"Gue ngga bisa tidur nyenyak semalaman. Sekarang gue lagi dag dig dug ni, Yunna. Maunya Nyokap, gue harus bisa kuliah di Wangsa." Ucap Liana yang baru duduk di dalam mobil Ayunna.
"Gue dong, santuuui... Gue mala berharap ngga lulus, biar bisa ikut Recky ke Aussie." Ucap Ayunna, sambil menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah Liana.
"Ngga salah, Lu? Emang Recky pernah ngomong apa ama, Lu?" Tanya Liana, sambil menatap Ayunna yang lagi konsentrasi menyetir di tengah hujan. Karena setahu Liana, Recky tidak pernah merespon pedekatenya Ayunna.
"Ngga salah, lah. Kalau di Aussie kan, ngga ada cewek yang kegatelan itu. Jadi gampang gue dekatin dan dapatin Recky." Ucap Ayunna, membayangkan dirinya dan Recky bisa bersama. Dia sangat tergila-gila dengan Recky.
"Maksud Lu, Carren? Setahu gue, bukan dia yang kegatelan. Tapi Recky yang seperti kena ular gatal, jika lihat atau ada dekat dengannya." Ucap Liana, mengingat Carren sering menghindari Recky atau bersembunyi darinya.
"Enak aja, Lu. Dia yang suka so' cantik dan pintar di depan Recky. Padahal penampilannya seperti orang kampung. Mana cocok sama Recky, ngga level kaleee..." Ucap Ayunna, sambil mengibaskan tangannya.
"Semoga rencana Lu ke Aussie sukses, dah. Supaya ngga bertemu cewek kampung itu lagi. Bisa-bisa rambutmu berdiri, kalau lihat dia di kampus setiap hari. Atau kerjaan kita cuma mencari cara membully atau mengerjainya." Ucap Liana, yang sedang memikirkan Carren.
"Apa kata Lu? Dia mau kuliah di Wangsa juga? Mana mungkin dia bisa kuliah di Wangsa, emangnya dia mampu? Tas dan sepatu saja ngga pernah diganti-ganti. Kalau kita ngga putusin tali tasnya, dia akan memakainya sampai lulus sekolah. Hahahaha..." Ucap Ayunna, sambil tertawa mengingat mereka memutuskan tali tas Carren.
"Gue ingat itu. Kalau Parry ngga cari peniti untuk membantunya, mungkin dia pulang sekolah sambil menggendong tasnya seperti bayi. Hahahaha..." Ucap Liana dan ikut tertawa, mengingat peristiwa Parry kebingungan mencari peniti.
"Ikan melambai itu juga, selalu saja membantunya. Lain kali, gue akan menggoreng atau memanggangnya." Ucap Ayunna kesal, mengingat Parry yang selalu jadi dewa penolong bagi Carren.
"Tapi ngomong-ngomong, Lu serius, kalau dia mau kuliah di Wangsa juga? Lu dapat info dari siapa?" Tanya Ayunna penasaran.
"Informan gue bisa dipercaya dan dijamin benar. Dia ikut jalur beasiswa yang ditawarkan pihak Wangsa untuk siswa berprestasi. Secara dia kan siswi di sekolah kita yang selalu berprestasi." Ucap Liana, meyakinkan.
__ADS_1
"Bagaimana, kau makin ingin pindah ke Aussie? Atau jadi tetap kuliah di Wangsa?" Tanya Liana, ingin tahu.
"Walaupun gue mau, bokap ngga bakalan ijinin. Bokap mau gue harus kuliah di Wangsa. Jadi kalau gue ngga lulus juga, bokap akan gunakan pengaruhnya untuk lulusin gue." Ucap Ayunna yakin, mengingat pembicaraan Mama dan Papanya.
"Kalau begitu, jika gue ngga lulus, tolong bilang bokap Lu bantuin gue agar bisa kuliah di Wangsa, ya. Gue belum mau kawin. Nyokap gue ngancam, akan nikahin gue dengan anak teman bisnis Bokap jika ngga lulus ujian masuk di Wangsa." Ucap Liana, ingat ancaman Mamanya.
"Siiip... Nanti gue mau minta bokap juga, agar wanita itu ngga diterima di Wangsa. Bikin sepat mata dan juga, anak kampung mau kuliah di kampus terkenal. Mimpiii..." Ucap Ayunna, tersenyum sinis.
"Eeehhh... Ayunna, pelankan mobilmu. Bukankah yang lagi jalan di trotoar itu, gadis kampung? Gue ingat dan kenal banget payung hadiah yang dipakainya." Ucap Liana, memgingat mereka pernah menyembunyikan payung Carren. Dia mencari dikelas dan hampir menanggis karena tidak menemukannya. Untung dibantu Parry mencarinya, sehingga tidak kehujanan saat pulang sekolah.
"Lu benar, itu dia. Gue dapat ide, jadi ngga perlu meminta bantuan bokap gue untuk menyingkirkannya." Ucap Ayunna, sambil menambah kecepatan mobilnya. Kebetulan Carren sedang berjalan sendiri, jadi lebih mudah melaksanakan rencananya.
Ayunna makin menambah kecepatan mobilnya, saat melihat Carren berjalan dekat dengan genangan air di jalan. Maka tanpa hitung sampai tiga, air genangan di jalanan telah pindah ke trotoar dan juga membasahi Carren.
Sumpah serapa dari mobil yang ada di sebelah kanan Ayunna. Mereka sangat terkejut melihat air bercampur lumpur menghantam mobil mereka. Ayunna buru-buru masuk ke gerbang Wangsa, sebelum terjadi keributan dengan pengendara mobil yang lain.
"Gila Lu... Tadi gue hampir putus nafas, melihat air di kiri kanan mobil kita yang seperti air terjun. Apa yang terjadi dengan gadis kampung itu? Astagaaa, lu nyingkirin dia dengan cara yang sangat licik, Ayunna." Ucap Liana, sambil memegang dada dengan kedua tangannya.
.***.
Setelah selesai ujian, Ayunna dan Liana masih mencari-cari sebelum berjalan ke tempat parkir. "Itu dia..." Ucap Liana, sambil menunjuk ke tempat parkir.
"Ikan, ikaan, ikaaann..." Teriak Ayunna, memanggil, sambil mengejar.
"Parriiii..." Teriak Liana, mengejar Parry yang hendak naik mobilnya.
"Ngapain lu pada teriak-teriak. Gue ngga budek, tauuu." Ucap Parry, kesal.
__ADS_1
"Habis gue panggil-panggil, lu ngga nengok. Jadi kami teriak, dah." Ucap Ayunna, melunak. Karena sedang mengharapkan informasi dari Parry.
"Kapan lu panggil gue? Ma gue, kasih nama gue bagus-bagus, kalian ganti seenaknya. Ntar gue ganti nama lu lu pada dengan nama hewan, baru tau rasa." Ucap Parry, sambil menunjuk wajah Ayunna dan Liana.
"Iyaa, sorriii... Kami mau tanya aja, di mana pelayan lu." Ucap Ayunna, berlagak manis dan Parry tahu maksudnya.
"Pelayan gue di rumah, lah. Ngapain lu tanyain pelayan gue. Jangan bilang, lu mau bajak pelayan gue." Ucap Parry dengan wajah serius, sambil menunjuk wajah Ayunna.
"Bukan pelayan di rumah lu, ikaan. Yang begituan, ada banyak di rumah gue. Pelayan lu yang suka ngejar-ngejar Recky gue." Ucap Ayunna menjelaskan.
"Ooh, Carren. Ngapain lu nanyain dia ama gue, ayunaann. Nanya ama Nyokapnya giiih.. Siapa yang ngejar siapa, kata lu? Makanya jangan kelamaan jadi ayunan, sampi ngeliat dunia jadi terbalik." Ucap Parry, sambil membuka pintu mobilnya.
"Gue serius ni, Parry. Lu ngga tau kalau dia ada ikut ujian masuk di sini?" Tanya Ayunna, penasaran.
"Ngga tau, gue. Lagian, mana mungkin dia bisa kuliah di sini. Kalian ada-ada saja ngegosipnya." Ucap Parry, sambil mengibas tangannya.
"Eehh.., lu lu pada, urusan putih abu-abu sudah berlalu. Sana giiih... Kejar Recky, siapa tau dia masih ingat ama lu. Kalau dia ngga ingat, ada koala." Ucap Parry, kesal karena mereka masih menyimpan dendam terhadap Carren.
Parry langsung mengeluarkan mobilnya dari parkiran Wangsa menuju pintu gerbang. Tetapi pertanyaan Ayunna membuatnya berpikir, apa benar Carren mengikuti ujian masuk di Wangsa juga. 'Gue perlu mengeceknya, karna Carren ngga mengatakan apa-apa ama gue.' Ucap Parry dalam hati.
Setelalah ditinggal Parry, Ayunna dan Liana naik ke mobil. "Sepertinya, ikan ngga tau kalau pelayannya ada ikut ujian." Ucap Ayunna menebak, karena melihat reaksi Parry ketika mereka bertanya soal Carren.
"Coba lu tanya saja di grup WA, siapa tau ada yang jawab. Karena setahu gue, dari sekolah kita bukan hanya wanita kampung itu saja yang ikut ujian lewat jalur beasiswa. Mungkin ada teman dalam grup yang bisa menjawab." Ucap Liana, memberikan ide.
"Lu emang bisa diandalkan. Gue lupa, kita masih punya grup WA dan pelayan itu ada juga dalam grup itu." Ucap Ayunna, sambil mengangkat jempolnya kepada Liana.
Setelah Ayunna memposting pertanyaannya di grup WA, tidak lama ada jawaban dari salah seorang yang ikut ujian dari jalur beasiswa. Carren tidak ikut ujian dan tidak ada pemberitahuan.
__ADS_1
"Jadi yang tadi kejipratan air itu benar, pelayan itu." Ucap Ayunna, happy. Begitu juga dengan Liana, ikut tertawa girang.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡