
...~•Happy Reading•~...
Recky tidak bisa menyembunyikan rasa tertariknya, ketika mengetahui nama tunangan kakaknya. "Tunangan kakak bernama Carren?" Recky terkejut mendengar Aaric menyebut nama tunangannya. Dia memandang kakaknya dengan serius, sambil berusaha menenangkan hati dengan berpikir ada banyak nama Carren di Indonesia.
"Iya. Ada apa? Apa kau mengenal seseorang yang bernama Carren?" Tanya Aaric yang belum pahami rasa terkejut Recky.
"Kakak kenal Carren dimana? Apa kakak sudah lama mengenalnya?" Tanya Recky dengan perasaan mulai tidak enak dan hatinya mulai was-was.
Aaric menatap Recky dengan mata memicing, karena melihat wajahnya yang tidak happy saat mengajukan pertanyaan seperti biasanya. "Aku mengenalnya untuk pertama kali, di pesta pernikahanmu." Ucap Aaric sambil melihat Recky dan juga mengingat pertemuannya dengan Carren.
"Saat itu, tangannya terluka karena berurusan dengan wanita yang kau bilang salah seorang iblis juga padaku. Aku mau keluar ruangan untuk mengecek anggota keamanan, lalu melihat wanita itu sedang menarik rambutnya yang diikat. Carren memegang tangan yang sedang pegang rambutnya, memelintir dan menghentaknya."
"Mungkin tangannya tergores sesuatu di tangan wanita itu, hingga membuatnya terluka. Dia berjalan tanpa menyadari tangannya berdarah. Aku mengetahuinya, karena ada tetesan darah di lantai lalu menegurnya." Aaric menceritakan pertemuan pertamanya dengan Carren dan tertarik padanya saat melihat wajah dan matanya.
Recky langsung lemas dan diam membisu. Carren mana lagi yang berurusan dengan Ayunna, kalau bukan Carren yang ada di hatinya. Dia menunduk tanpa bisa berkata-kata. Hatinya bagai disayat, karena wanita yang dicintainya telah bertunangan dengan kakaknya.
"Setelah bertemu dengannya saat itu, aku sempat minta tolong keamanan untuk mengecek siapa dia. Jadi tahu dia pemilik WO yang mengatur pernikahanmu. Setelah itu, kami tidak bertemu lagi karena aku ke Aussie untuk mengantarmu dan banyak kejadian setelah pernikahanmu dan persoalan perusahaan." Aaric menceritakan pertemuannya dan perkenalannya dengan Carren.
__ADS_1
"Kemudian terakhir aku dari Aussie itu, aku tidak langsung ke Eropa, karena ada pertemuan dan harus ke Bali. Selesai pertemuan itu, aku bertemu dengannya lagi di Bali. Dia sedang survey tempat untuk acara resepsi clientnya. Setelah itu, kami mulai sering berkomunikasi dan kemudian bertemu lagi." Aaric menceritakan kelanjutan pertemuannya dengan Carren, tanpa mengatakan dia langsung melamarnya.
Dia mulai curiga dengan perubahan wajah dan sikap Recky. Dia tidak bisa menyimpan apa yang ada di hatinya. Tetapi menunggu apa yang akan dikatakan oleh Recky. "Apakah kakak punya foto Carren?" Tanya Recky pelan, untuk meyakinkan dirinya dan memastikan yang ada di pikiran dan hatinya.
Aaric memgeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu membuka galery untuk mencari foto Carren saat mereka bertunangan. Ada beberapa foto yang diberikan Jekob dan disimpan olehnya. Dengan perasaan was-was, dia memperlihatkan foto Carren bersama Mamanya. Dia tidak memperlihatkan fotonya bersama Carren. Ada tanda peringatan di wajah dan sikap Recky, membuat dia harus berhati-hati.
Setelah melihat foto Carren, Recky kembali terdiam dan menunduk. "Ada apa Recky? Apakah gadis yang kau cintai itu Carren ini?" Aaric mencoba menebak, lalu bertanya dengan hati-hati. Recky mengangguk kuat dalam diam, karena tidak bisa berkata-kata dan tidak bisa memandang kakaknya.
"Reckiii... Apa yang kau lakukan? Mengapa kau mencintainya, tetapi kau membiarkan dia mengurus pernikahanmu? Apa kalian berdua sudah gila, dengan melakukan hal yang tidak masuk akal itu?" Tanya Aaric terkejut dan mulai emosi.
"Aku bersyukur hari itu tidak marah atau melarangnya untuk mendoakan pria yang pernah dicintainya. Ternyata dia mendoakan adikku sendiri." Aaric mengingat Carren minta ijin untuk mendoakan pria yang pernah bersamanya saat mereka di Bali.
Recky memgangkat wajahnya dan melihat kakaknya dengan mata sedih dan berkaca-kaca. "Kakak tidak usah menghiburku dengan berbohong, kalau dia mencintaiku." Ucap Recky pelan, karena sepanjang mereka bersama, tidak sekali pun Carren mengatakan bahwa dia mencintainya.
"Untuk apa aku menghiburmu dengan berbohong? Apa sebuah kebohongan dapat menghiburmu? Apa hati nuranimu sudah tidak bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang jujur? Dan untuk saat ini, apa manfaatnya berbohong untuk kita berdua?" Aaric bertanya, beruntun dengan emosi dan berbagai rasa di hati.
"Saat itu ketika aku mau melamarnya, tapi aku harus jujur katakan padanya, bahwa sebelumnya ada seseorang pernah aku cintai. Agar itu tidak akan jadi duri dalam hubungan kami. Iblis di rumah bisa mempengaruhi dia dengan bualannya tentang Naina." Ucap Aaric serius.
__ADS_1
"Saat itu juga dia katakan, ada seseorang yang pernah dia cintai, tapi tidak bisa bersama karena suatu hal yang memisahkan mereka. Aku tanya kenapa, dia katakan karena dituasi dan kondisi membuat pria itu harus menikah. Aku tanya, apakah masih berhubungan, karena aku mau semuanya jelas agar tidak mengganggu dikemudian hari. Dia bilang, sudah tidak berhubungan lagi dan dia tidak tahu dimana pria itu berada. Saat itulah dia minta ijin untuk mendoakan pria itu, karena kalian berpisah baik-baik dan banyak kebaikan yang dilakukan oleh pria itu sampai dia bisa seperti itu." Aaric berkata pelan dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.
"Apakah aku bisa mengarang cerita seperti itu? Ternyata kau itu hanya pintar akademik, tapi sangat bodoh dengan urusan seperti ini. Kau berspekulasi dengan perasaanmu dan juga perasaan orang yang kau cintai. Kau menyia-nyiakan makanan yang sudah di depanmu untuk mengikuti keinginan iblis itu?" Aaric kesal, marah dan juga sedih untuk apa yang harus dialami oleh adiknya dan juga dirinya serta Carren.
"Masa kau tidak tau, kalau dia mencintaimu saat kau menyatakan cintamu padanya? Apa kau tidak bisa lihat, apa yang ada dihatinya? Semua yang ada di hati Carren tergambar jelas di wajah dan tindakannya." Aaric berkata beruntun karena hatinya sangat emosi, gundah dan sedih. Dia yang belum lama kenal Carren sudah bisa melihat suasana hati Carren.
"Berapa lama kau mengenalnya, sampai kau tidak mengetahui itu?" Tanya Aaric lagi, karena sangat penasaran dengan hubungan adiknya dan dia belum memahami apa yang terjadi sebenarnya dengan adiknya. Semua yang diceritakan Papanya tentang Recky dan gadis yang dicintainya, menguap dari pikirannya karena shock dan sedih.
"Kami sudah bersama dari saat di sekolah. Dia teman sekolahku di Wangsa." Jawab Recky pelan dangan wajah sedih.
"Astaga, Reckiii... Apa yang kau lakukan selama itu? Kenapa kau membiarkannya, tanpa menyadari perasaannya?" Tanya Aaric penasaran dan sedih.
Recky langsung meletakan dahinya di atas tangannya yang ada dimeja makan. Posisi yang menunjukan dia sangat sedih. "Jangan memegang kepalaku, kakak." Ucap Recky pelan dan sedih, karena dia tahu kebiasaan kakaknya akan menghiburnya dengan mengusap kepalanya dan mengacak rambutnya dengan sayang.
"Bagaimana aku bisa memegang kepalamu, sedangkan aku sendiri sedang ingin dihibur?" Ucap Aaric dengan hati yang sedih, karena melihat posisi adiknya jika dia sedang bersedih.
...~●○♡○●~...
__ADS_1