
~•Happy Reading•~
Sainy berbicara dengan waiters yang sedang menata menu pesanannya di meja. Kemudian dia hendak pesan dessert juga, setelah melihat daftar menu. Jadi tidak melihat apa yang sedang diperhatikan oleh Riri.
"Riri, kau sedang lihat apa, sih?" Tanya Liana, penasaran. Ayunna jadi melihatnya juga dengan penasaran. Karena Riri tidak fokus dengan pembicaraan mereka.
"Aku lagi lihat seseorang yang bikin penasaran. Aku hampir dihajar oleh bodyguardnya, karena menyenggol dia beberapa waktu lalu." Riri berkata sambil terus melihat ke satu titik.
"Siapa, sih? Mana orangnya yang membuat kau lupa statusmu sebagai putri Piltharen?" Tanya Ayunna penasaran dan ikut-ikutan kepo.
"Itu, cowok yang pakai kaos hitam di depan ceweknya yang berambut hitam ikal melewati pundak." Riri menerangkan, sambil menunjuk dengan matanya ke arah yang dimaksud.
"Ayunna, bukannya itu ikan?" Tanya Liana ragu-ragu, saat melihat yang dimaksud Riri. Mereka hanya bisa melihatnya dari samping. Sedangkan ceweknya hanya bisa terlihat dari belakangnya saja. Penampilan yang berbeda dari dikenalnya, membuat Liana ragu.
"Ikaannn...? Masa siiih...?" Tanya Ayunna, ragu-ragu juga dengan apa yang dilihat dan dikatakan Liana. Tetapi Ayunna tetap memperhatikan untuk memastikan.
"Astaga, kalian ini. Semua cogan (cowok ganteng) discan. Apa kalian ngga lihat, dia sudah punya tempelan? Ayoo... Makan, Riri. Makananmu sudah minta discan." Sainy tidak ikut-ikutan kepo seperti ketiga temannya. Dia lebih tertarik dengan menu pesananannya yang telah tersaji di depannya.
"Astaga. Ayunna kau benar, itu ikan." Liana terkejut, saat melihat Parry berdiri. Dia makin yakin ketika bisa melihat wajah Parry dengan jelas.
"Iya. Kau benar, dan dia bersama wanita kampung itu." Ayunna membenarkan, saat melihat Carren telah berdiri dan berjalan di samping Parry. Walaupun penampilan Carren telah berubah makin cantik dan tenang, mereka tetap memanggilnya dengan sebutan tersebut. Kalau dulu, Carren selalu tidak tenang, apalagi ada di antara mereka.
Ayunna dan Liana terus memperhatikan, karena selain penasaran, mereka sudah selesai makan. Jadi mata mereka bebas scan, sambil menunggu dessert mereka diantar oleh waiters.
"Siapa yang kau maksudkan dengan ikan? Dan apakah kalian mengenal pria itu?" Tanya Riri, masih penasaran sehingga berhenti makan dan memperhatikan Parry yang telah berdiri.
__ADS_1
"Astaga, jangan kau panggil dia ikan, kalau tidak ingin dijadikan sarden. Dia putra pemilik Hutama N & P Corp, namanya Parry. Tadi kami hanya keceplosan memanggilnya begitu, karena kebiasaan di sekolah dulu. Kalau sekarang berani memanggilnya demikian, siap-siap diplester mata dan mulut." Ayunna berkata pelan, karena khawatir didengar oleh orang lain.
"Parrriii..." Panggil Liana, saat melihat Parry dan Carren akan melewati mereka tanpa melihat sekitarnya. Ayunna langsung protes kepada Liana dengan menyenggolnya. Kenapa dia harus memanggil Parry yang sedang bersama Carren.
Liana tidak bisa meralat panggilannya lagi, karena Parry sudah mendengar. Parry yang sekarang, membuat Liana tidak berani memanggilnya dengan sebutan ikan. Dia bukan lagi pria lemah, cendrung lembut sebagai seorang pria seperti dulu. Dia terlihat sebagai pria dewasa, kekar dan berdada bidang yang tampan.
Mendengar namanya dipanggil, Parry mencari sumber suaranya. Ketika melihat Ayunna, Liana dan teman-temannya, Parry berbisik kepada Carren. "Tegakan kepalamu, mari kita hadapi biang pengacau itu." Parry berkata pelan, lalu mengajak Carren mendekati meja Ayunna dan Liana. Carren berjalan di samping Parry dengan tenang dan percaya diri, membuat hati Ayunna garuk-garuk.
"Selamat makan. Perut kalian berdua baik-baik saja?" Tanya Parry, sambil melihat Ayunna dan Liana dengan wajah dingin dan tidak bersahabat. Riri tidak tahan, langsung meletakan alat makannya dan memperhatikan Parry. Begitu juga dengan Sainy yang sedang makan.
"Perut kami baik-baik saja. Kenapa kau tanyakan perut kami?" Tanya Ayunna, kesal mendengar pertanyaan Parry di depan Carren yang terus memperhatikannya dan Liana tanpa berkedip. Hal itu membuat mereka berdua menjadi salah tingka.
"Aku khawatir kalian berdua salah makan. Karena pikiran kalian akan mengikuti perut. Jadi kalau perut kalian baik-baik saja, dunia sekitar akan aman." Parry tidak perduli dengan kekesalan Ayunna dan Liana.
Riri tidak memperhatikan ucapan Parry kepada Ayunna dan Liana. Dia telah terpesona pada saat pertama kali melihat Parry, sehingga saat itu dia tidak segan dan tidak malu menyenggolnya. Dia tidak memperdulikan Ayunna dan Liana yang kesal dengan ucapan Parry.
Begitu juga dengan Sainy yang sedang diam terpaku melihat Parry dari dekat. Sehingga Riri harus menyenggolnya untuk berkenalan dengan Parry dan Carren yang sedang melihatnya.
Setelah bersalaman dengan Riri dan Sainy, Parry dan Carren langsung pamit meninggalkan mereka. Karena suasana tidak menyenangkan, terutama untuk Carren yang terus dilihat oleh Ayunna dan Liana. Sedangkan Sainy dan Riri terus menatap Parry.
"Kenapa dia sinis kepada kalian? Apakah kalian pernah mengganggunya atau pacarnya?" Tanya Sainy yang tidak lagi meneruskan makannya, karena penasaran dengan Parry yang baru dilihatnya.
"Bukan karena mengganggu Parry, tapi karena gebetan Ayunna lebih menyukai wanita tadi." Liana menjawab Sainy dan menjelaskan dengan santai tanpa melihat Ayunna.
"Aku ngga ngerti yang kau katakan. Apakah gebetan Ayunna lebih ganteng dari Parry?" Tanya Sainy lagi, karena menurutnya Parry sangat tampan.
__ADS_1
"Tergantung selerah, sih. Gebetan Ayunna tampan dari tipe yang lain. Wajahnya blasteran dengan mata coklat pucat, hidung mancung, juga sangat tampan." Liana menjawab dan menjelaskan lagi, membuat Ayunna melihatnya dengan alis berkerut. Liana tahu Recky lebih mendetail dari padanya.
"Melihat Parry sudah dengan wanita tadi, sekarang Ayunna pasti lebih tenang." Liana berkata, sambil melihat Ayunna dengan wajah tersenyum senang. Justru Ayunna melihatnya dengan wajah yang tidak happy.
Mendengar yang dikatakan Liana, Sainy dan Riri terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. "Berarti kalian kenal baik dengan Parry?" Tanya Sainy, penasaran.
"Kenal sih, iya. Tapi kalau kenal baik, ngga. Dia suka menolong wanita tadi, dari dulu di sekolah. Dia ngga mau berkumpul atau berteman dengan kami. Orang tuamu pasti kenal dengan orang tuanya." Liana menjelaskan kepada Sainy.
"Aku pernah bertemu dengan Bu Hutama di Butik. Beliau datang bersama Mommy dan ibu-ibu yang lainnya saat ada acara pagelaran dan pelunjuran produk baru dari butikku." Sainy berucap dan mengingat lagi wajah Ibunya Parry.
"Jadi kalian juga sudah mengenal wanita tadi yang bersamanya? Apakah wanita itu teman kalian juga?" Tanya Sainy, ingin tahu karena penasaran dengan Parry. Riri memperhatikan wajah Sainy saat bertanya tentang Parry. Karena itu bukan kebiasaan Sainy yang mau kepo dengan kehidupan pribadi orang lain.
"Wanita tadi kami kenal, karena satu sekolah, tetapi bukan teman kami. Dia bukan dari kalangan kita, makanya kami suka memanggilnya dengan wanita kampung." Kini Ayunna yang menjelaskan, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya terhadap Carren.
"Oooh, apakah cowok gebetanmu itu selevel dengan wanita itu juga, yang kau sebut wanita kampung?" Tanya Sainy, penasaran dan tidak mengerti dengan penjelasan Ayunna.
"Ngga, kau pasti tau dan kenal dengan orang tuanya. Dia putra bungsu pemilik Biantra Group." Ayunna berkata pelan, karena dia tahu Sainy pasti mengenal orang tua Recky.
"Ooh, aku tau tentang mereka. Karena Ibu mereka sering bercerita tentang kedua putranya, saat datang ke butik. Aku belum pernah bertemu dengan mereka karena mereka lebih sering tinggal di luar negeri." Sainy berkata, sambil mengingat apa yang dikatakan Bu Biantra saat datang ke butik bersama Mommynya.
"Oooh, yang bungsu namanya Recky, satu SMU dengan kami. Setelah lulus sekolah, dia kuliah dan tinggal di Aussie. Sedangkan Kakaknya, kami belum pernah melihatnya. Mungkin seperti yang kau katakan, dia tinggal di luar negeri." Liana menjelaskan seperti yang diketahui dari orang tuanya.
"Pantesan kau katakan dia blasteran, karena pasti dari Ibunya yang blasteran. Ya, sesuai dengan selera masing-masing orang. Lalu bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan gebetanmu yang lebih banyak tinggal di Aussie? Apakah LDR kalian tetap lancar?" Tanya Sainy, penasaran dengan hubungan Ayunna dengan putra bungsu Biantra group.
"Dia sedang berjuang dan bersabar menjalani hubungan yang belum jelas. Karena Recky lebih menyukai dan tergila-gila dengan wanita yang tadi." Liana berkata pelan, bantu menjelaskan kepada Sainy, karena melihat Ayunna terdiam. Dia berpikir, Ayunna tidak bisa menjelaskan hubungannya dengan Recky.
__ADS_1
"Hehehe.. Kau bisa saja Liana. Aku kira, sudah cukup membicarakan sesuatu yang ngga jelas. Sudah cukup juga waktu istrirahatku, karena harus kembali ke butik." Ucap Sainy, lalu berdiri. Riri ikut berdiri dan pamit pulang dengan pikiran dan hati yang tidak happy.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡