
~•Happy Reading•~
Saat Aaric sedang berjalan menuju tempat parkir, tiba-tiba ada yang menanggilnya dengan suara pelan. Aaric menengok ke arah sumber suara. Ketika melihat siapa yang sedang berdiri di sana, rahang Aaric kembali mengeras.
"Maafkan Papa, Aaric. Berikan waktu sebentar untuk Papa bicara denganmu." Ucap Pak Biantra yang telah berjalan mendekati Aaric.
"Papa...? Sekarang baru tahu, kau seorang Papa? Kemana saja selama ini, hingga tidak tahu ada memiliki anak?" Aaric berkata sinis.
"Papa hanya bisa minta maaf dan ingin melihatmu dari dekat. Papa sangat merindukanmu, Aaric." Pak Biantra berkata pelan dengan mata berembun. Hatinya sangat terharu dan bangga melihat putranya telah berubah menjadi pribadi yang luar biasa membanggakan.
Melihat perubahan wajah Papanya, Aaric melunak. "Kau adalah Papa kami, tapi kau membiarkan kami berjuang sendiri. Semua hal buruk yang terjadi pada kami, kau hanya melihat dan membiarkannya. Apakah puluhan tahun bekerja untuk wanita itu dan keluarganya, tidak bisa merubahmu menjadi seorang lelaki dan juga sekaligus Papa yang baik bagi anak-anakmu?" Tanya Aaric serius dan dingin.
"Mengapa membiarkan keluarganya menguasaimu sampai kau lupa tanggung jawabmu sebagai seorang Papa? Apakah dengan minta maaf, dapat menghilangkan perjuangan anak-anakmu di jalanan?" Aaric kembali bertanya.
"Pergilah... Jika sudah bisa menjadi seorang Papa, barulah datang menemuiku. Mungkin saat itu aku bisa melupakan semua kepahitan yang harus kujalani tanpamu." Aaric berkata dan hendak berjalan meninggalkan Pak Biantra.
"Kau boleh marah padaku, tapi tolong lindungi adikmu. Jangan biarkan dia sendiri di luar. Walaupun dia seakan marah padamu, tetapi dia sangat menyayangi dan merindukanmu. Hanya itu yang aku minta sebagai Papamu, sehingga menemuimu saat ini." Ucap Pak Biantra pelan, dan memohon.
"Mengapa aku harus melindunginya? Kalian sudah nikahkan dia dengan orang yang kalian suka, jadi biarkan keluarga kalian yang melindunginya. Dia sudah dewasa dan sudah nenentukan pilihannya untuk menikah. Jadi biar dia sendiri yang menjalaninya, dengan kalian." Aaric berbicara seakan-akan dia tidak ikut campur dengan persoalan Recky.
Kemudian dia berjalan meninggalkan Pak Biantra yang termenung seorang diri. Melihat putranya berjalan meninggalkannya tanpa berbalik sekalipun. Hatinya sangat sedih, karena ditolak oleh putranya sendiri.
Aaric tidak jadi menunggu Sapta di mobil, karena dia tahu sedang diperhatikan. "Sapta, ambil salah satu mobil dari team keamanan untuk menjemputku. Mereka sedang memperhatikan saya, jadi jangan naik mobil saya." Ucap Aaric, saat Sapta telah berdiri di sampingnya.
"Baik, Pak. Saya akan menghubungi salah seorang menjemput bapak di sini." Sapta berkata, lalu mengambil ponsel dari sakunya. Dia menghubungi salah satu anggota keamanannya yang sedang memantau dan menjaga boss besar mereka.
__ADS_1
Saat sudah di dalam mobil keamanan, Aaric segera menghubungi Recky untuk mengetahui posisi dan keadaannya.
📱"Recky, bagaimana keadaanmu?" Tanya Aaric, saat Recky merespon panggilannya.
📱"Ini masih dalam perjalanan, Kak. Nanti kalau sudah tiba, aku akan hubungi kakak." Ucap Recky dengan hati lega, mendengar suara kakaknya. Dia merasa tidak tenang, karena berada diantara orang-orang yang tidak dikenalnya. Mereka yang bersamanya, tidak ada yang berani mengajaknya bicara.
📱"Baik. Sampai hotel, usahakan langsung istirahat. Besok pagi kakak akan hubungi, karena ada yang mau kakak kerjakan malam ini. Tenang, dan percaya kepada mereka yang menjagamu. Jangan lupa minum obat dan jaga tanganmu." Aaric berkata dan mengakhiri pembicaraan mereka setelah Recky mengiyakan yang dikatakannya.
Setelah berbicara dan mendengar suara Recky baik-baik saja, Aaric menghubungi Jekob untuk mengetahui situai yang sedang dihadapinya.
📱"Jekob, bagaimana kondisi di situ? Apakah ada yang masih mengikutimu?" Tanya Aaric saat Jekob merespon panggilannya.
📱"Masih, Pak. Ini kami sedang beriringan seperti sedang mengantar mobil jenasah. Apakah bapak sudah keluar dari tempat acara?" Tanya Jekob, sedikit lega melihat boss besarnya sudah menelpon.
📱"Baik. Share loc agar kami menyusulmu. Saya tidak membawa mobil sendiri, jadi kalau kau lihat mobil team keamanan, saya ada di antara mereka. Kau ada dengan berapa orang di situ?" Tanya Aaric, serius.
📱Baik. Nanti sudah dekat, kami akan memotong mobil dibelakangmu sebelum pintu tol. Kau perintakan sopirmu keluar tol saat kami sudah memotong mobil di belakangmu. Kau perhatikan, sinyal dari kami jika sudah di dekatmu." Aaric menjelaskan
📱Baik, Pak. Bapak tidak usah mendekat, biarkan kami saja. Saya akan memperlambat laju mobil untuk menunggu team keamanan." Jekob merasa lega, karena boss besarnya sudah di luar, jadi team keamanan akan fokus pada satu titik. Sedangkan Recky, sudah tiba di tempat dengan aman. Itu yang dilaporkan kepadanya oleh orang yang menjaga Recky.
📱"Ok. Fakus saja di situ, selanjutnya Sapta yang akan memberikan komando kepada mobil yang lain. Sedangkan kau dengarkan saya." Aaric berkata, lalu memgakhiri pembicaraan mereka.
Setelah mendapat lokasi Jekob, Aaric memberikan kepada Sapta agar dibagikan kepada anggotanya. Mereka semua langsung menuju satu titik, untuk menyelamatkan Jekob sebelum mobilnya mendekati bandara.
"Sapta, kita akan lewati mobil Pak Jekob, dan berikan sinyal pada mobil di belakangnya untuk melambat, agar kita bisa memotongnya. Saat ini, kita harus keluarkan Pak Jekob dari iring-iringan. Selanjutnya, saya percayakan untuk anggotamu." Aaric memberi instruksi.
__ADS_1
"Baik, Pak. Siap..." Setelah itu, terdengarlah pembicaraan semua anggota team keamanan Aaric. Dia hanya fokus untuk mengeluarkan Jekob, karena jika mereka melihatnya, perusahaannya akan terlibat.
Beberapa saat kemudian, team keamanan Aaric bisa mengeluarkan mobil Jekob dari tol sebelum mendekati bandara. Mobil yang ditumpangi Aaric juga sudah keluar dari tol, tanpa mobil keamanan lainnya.
Melihat dituasi yang terjadi, Aaric segera menghubungi Jekob.
📱"Jekob, langsung ke kantor. Kita akan kumpul di sana, jadi tidak usah ke tempat Recky. Besok pagi baru kita menemuinya." Perintah Aaric, saat Jekob merespon panggilannya.
📱"Baik, Pak. Kami akan akan langsung ke kantor." Aaric langsung mengakhiri pembicaraan mereka, setelah mendengar jawaban Jekob.
"Sapta, katakan kepada anggotamu untuk kumpul di kantor setelah mereka selesaikan urusan dengan team keamanan yang lain. Tambahkan beberapa orang ke tempat tuan muda Recky." Aaric memberikan instruksi kepada Sapta.
"Baik, Pak. Siap..." Ucap Sapta singkat dan mulai sibuk memantau dan mememberikan instruksi kepada semua anggotanya. Aaric hanya mendengar pembicaraan Sapta dengan anggotanya, karena ada yang bersitegang dengan orang-orang yang mengejar Jekob.
Saat tiba di kantor, Aaric mengajak Sapta ke ruangannya sebelum yang lain datang. "Sapta, apa informasi yang kau dapatkan tentang gadis yang tadi?" Tanya Aaric, setelah duduk di kursi kebesarannya.
"Iya, Pak. Menurut informasi, beliau bernama Carren. Owner wedding organizer yang menyiapkan dan mengatur acara pernikahan Nona Liana, istri tuan muda Recky." Jawab Sapta, sesuai informasi yang didapatnya.
"Kau tidak menanyakan apa nama dan alamat wedding organizernya?" Tanya Aaric, sambil menatap Sapta serius.
"Saya tidak menanyakan, tetapi mengambil kartu namanya, Pak." Jawab Sapta, lalu menyerahkan kartu nama yang diambilnya dari ballroom hotel Tarikalla.
"Baik, terima kasih." Aaric berkata, sambil mengamnil kartu nama yang diberikan oleh Sapta kepadanya.
"Sekarang tolong siapkan ruangan untuk kita berkumpul. Saya akan menunggu Pak Jekob di sini, nanti kami akan menemui kalian di sana." Aaric berkata sambil memperhatikan kartu nama di tangannya.
__ADS_1
Setelah Sapta keluar ruangan meninggalkannya, Aaric mencatat nomor telpon yang tertera dalam kartu nama dan juga menyimpan dengan nama Carren sebagaimana nama yang dikatakan Sapta kepadanya. Aaric mulai berpikir, apa hubungan Carren dengan wanita yang memanggilnya 'beb', sehingga dia begitu marah padanya. Aaric sempat melihat, bagaimana Carren menghentakan tangan Ayunna.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡