
~•Happy Reading•~
Setelah dari rumah keluarga Biantra, Pak Sunijaya dilarikan ke rumah sakit karena tekanan darahnya naik. Bu Biantra masih bisa bernafas lega, karena Papahnya masih bisa tertolong. Sehingga tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan keluarga besarnya.
Di dalam kesendiriannya di rumah sakit, Bu Biantra berpikir dia harus berhuat sesuatu untuk mencegah semuanya hancur berantakan. Ketika mengingat itu, Bu Biantra teringat dengan ucapan Aaric. 'Saat melihat kekancuranmu dan keluargamu, kau bisa mengukur seberapa besar cintaku pada gadis itu.' Bu Biantra terkejut. 'Apakah yang terjadi dengan perusahannya ada Aaric dibaliknya?' Bu Biantra membatin.
'Yaa, gadis itu. Mungkin gadis itu bisa menolongku. Aku kulakukan apa saja, untuk mencegah terperosok lebih dalam.' Ucap Bu Biantra dalam hati.
Dengan meredam rasa malu, keesokan harinya Bu Biantra pergi ke kantor Carren. Saat tiba di kantor, ternyata kantornya tutup. Tetangga kantor mengatakan semua karyawan sedang keluar kota. Bu Biantra pulang dengan rasa kecewa
Carren dan semua karyawannya masih ada di Bandung untuk acara resepsi pernikahan yang menjadi tanggung jawab pekerjaan WO nya. Mereka semua akan kembali ke Jakarta setelah selesai acara wedding.
Bu Biantra tidak putus asa, keadaan membuatnya harus mengambil resiko apapun yang akan terjadi. Karema sekarang ini, semua pintu solusi atau penyelesaian seakan-akan tertutup baginya. Yang terlihat sekarang ini hanya gadis itu. Bu Biantra tidak bisa melupakan genggaman tangan Aaric pada tangan dan jari-jarinya, ketika menyebut gadis itu.
Belasan tahun lalu, dia tidak melakukan tindakan berani seperti itu terhadapnya. Dia hanya melawan dalam diam, lalu pergi meninggalkannya. Sekarang dengan terang-terangan dia memgancam, tanpa terlihat sedang berhadapan dengan Mamanya sendiri.
'Mengapa harus menunggu kehancuranku untuk mengetahui dia mencintai gadis itu? Genggaman tangan tanpa perduli siapa dirinya sudah membuktikan dia mencintai gadis itu.' Berdasarkan pemikiran yang timbul, Bu Biantra berencana kembali menemui Carren sebagai peluang satu-satunya saat ini.
'Mungkin Aaric akan berubah pikiran dan membantunya, jika aku berlaku baik kepada gadis itu.' Itu yang ada dalam pemikiran Bu Biantra yang sudah putus asa.
.***.
Di sisi yang lain ; Carren yang sudah kembali dari Bandung, tidak beristirahat lagi seperti yang direncanakan. Setelah tiba di rumah hari Minggu menjelang malam, Carren langsung tidur setelah mandi karena kelelahan.
Keesokan harinya, dia bangun pagi-pagi karena akan dijemput Ichad lebih pagi dari biasanya. Melihat itu, Bu Nancy segera menyiapkan air panas, agar Carren bisa mandi air hangat. Bu Nancy tahu, putrinya sangat lelah.
__ADS_1
"Mari, sarapan ini dulu sebelum Ichad datang menjemputmu." Ucap Bu Nancy sambil meletakan minuman panas dan sarapan yang ada, roti dengan telur ceplok kesukaan putrinya. Carren memeluk Mamanya sebagai ungkapan sayang dan terima kasih, karena telah mengerti dan mendukungnya.
"Arra, kenapa hari ini tidak istirahat dulu? Besok baru masuk dengan kondisi yang lebih baik." Ucap Bu Nancy yang melihat putrinya masih belum segar seperti biasanya.
"Kami ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Ma. Karena beberapa waktu ke depan Arra mau keluar kota. Ada client baru yang menyewah kami saat bertemu di pernikahan kemarin. Mama bantu doa, ya. Semoga semuanya lancar dan kami semua tetap sehat." Ucap Carren serius dan berusaha tenang, agar Mamanya tidak kepikiran dengan kondisinya.
"Iya, Mama selalu doakan. Namanya orang tua, bisa apa lagi ketika anaknya sudah hidup mandiri. Hanya berikan doa, agar semua yang dilakukan anaknya berhasil dan diberkati." Ucap Bu Nancy dengan sayang, melihat putrinya yang harus bekerja keras untuk hidupnya.
Tidak lama kemudian, Ichad datang menjemputnya untuk berangkat ke kantor. "Kau jadi ke Bali?" Tanya Ichad saat mereka sudah dalam perjalanan. "Iya, Kak. Aku akan pergi survey seperti yang mereka minta. Agar kita bisa tau tempat dan berapa banyak biaya yang diperlukan." Ucap Carren, sebelum turun dari mobil, karena mereka sudah sampai di kantor.
Semua karyawan mulai sibuk dengan tugasnya masing-masing. Saat Carren sedang sibuk di depan laptop untuk melihat lagi hasil desain ruangan yang akan dikerjakan, tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. "Masuuuk... Ada apa Ros?" Tanya Carren, melihat Rosna yang telah masuk ke ruangannya.
"Kak, Ibu yang pernah datang itu, sekarang ada di bawah." Ucap Rosna sambil berjalan mendekati meja kerja Carren. "Ibu yang pernah datang yang mana?" Tanya Carren yang belum mengerti maksud Rosna.
"Ibu yang datang bukan urusan kerjaan, tapi masalah pribadi." Ucap Rosna mengingat ucapan Bu Biantra waktu itu. "Oooh, Ibu itu." Carren tidak meneriskan ucapannya, karena dia sudah mengingat Mama Aaric yang pernah datang menemuinya.
"Kau sudah katakan aku ada di sini?" Tanya Carren yang merasa berat mememui Mamanya Aaric.
"Iya, Kak. Abis Ibunya tetap mau menunggu, malahan minta alamat tumah Kakak segala." Ucap Rosna, agak kesal melihat sikap Bu Biantra.
Dahi Carren berlipat, mendengar apa yang dikatakan Rosna. "Kalau begitu, mari kita menemuinya saja supaya tidak panjang dan ngular." Ucap Carren mengikuti candaan karyawannyan untuk orang yang suka berliku-liku.
Rosna mengikutinya dari belakang, dan setelah di bawah dia berjalan menjauh tanpa diminta lagi oleh Bu Biantra atau Carren. "Selamat pagi, Bu." Ucap Carren sopan, lalu duduk di seberang meja, depan Bu Biantra.
"Iya, selamat pagi." Ucap Bu Biantra, membuat Carren yang telah duduk, melihatnya dengan wajah terkejut. Sapaan ramah Bu Biantra membuat Carren jadi waspada.
__ADS_1
Carren jadi memperhatikan Bu Biantra dengan baik. Tanpa berbicara apapun. Dia hanya menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Bu Biantra. "Apa Carren sibuk hari ini?" Tanya Bu Biantra ramah, melihat Carren hanya duduk diam di depannya.
"Seperti yang Ibu lihat, kami semua sedamg sibuk, karena kami baru kembali dari luar kota." ucap Carren sambil melihat semua karyawan di lantai bawah
"Ooh, saya kira Carren tidak sibuk, mau ajak makan siang." Ucap Bu Biantra ramah dan akrab. Ucapan dan sikap Bu Biantra membuat Carren waspada dan bergidik. Orang yang galak dan sombong, tiba-tiba berlaku ramah dan sok akrab.
"Terima kasih untuk undangannya, Bu. Kami lagi banyak kerja, jadi semua makan siang di kantor." Carren menolak dengan cara yang tidak menyinggung Bu Biantra, dan juga supaya Bu Biantra bisa mengerti kondisinya.
"Sebenarnya, saya mau minta tolong sama Carren. Mungkin Carren bisa menolong saya." Ucap Bu Biantra pelan, menekan rasa malunya.
"Ibu mau minta tolong sama saya?" Tanya Carren terkejut. Menurutnya, apa yang bisa dia tolong. Soal uang, Bu Biantra pasti gudangnya.
"Iyaa. Mungkin Carren bisa minta kepada Aaric untuk menolong saya." Bu Biantra langsung pada tujuannya dengan pelan dan malu.
"Saya meminta kepada Pak Aaric? Apa Ibu tidak salah ucap?" Tanya Carren dengan alis bertaut, karena tidak mengerti yang dimaksudkan oleh Bu Biantra.
"Saya tidak salah. Makanya datang ke sini untuk berbicara denganmu. Mungkin kau bisa menolongku." Ucap Bu Biantra makin pelan, tapi Carren makin tidak mengerti. Dia mencoba bersikap tenang dengan menarik nafas pelan.
"Begini, Bu. Yang Ibu katakan ini, saya tidak mengerti. Bukankah Ibu perkenalkan diri kepada saya, bahwa Ibu adalah Ibunya Pak Aaric? Mengapa Ibu tidak meminta sendiri kepada beliau?"
"Saya ini bukan istri atau pacar Pak Aaric, sehingga bisa meminta sesuatu dari beliau. Saya sudah katakan waktu itu, saya ini jangankan istri atau pacar, teman saja bukan. Jadi Ibu salah jika meminta tolong kepada saya." Ucap Carren tegas, karena tidak tahu mau berkata bagaimana lagi.
Bu Biantra terdiam mendengar yang dikatakan Carren dengan serius. Beliau jadi berpikir, mungkinkah sudah salah menafsirkan ucapan dan tindakan Aaric? Tapi hati kecilnya mengatakan benar apa yang dikatakan Aaric. Bu Biantra langsung berdiri dengan lemas dan pamit. Peluang satu-satunya tidak bisa menolongnya.
Sebelum Bu Biantra melangkah, Carren berdiri untuk mengantarnya ke pintu. "Bu. Saya pernah katakan, Pak Aaric bukan pria sembarangan. Jika benar Pak Aaric putra Ibu, jangan sampai beliau tau, Ibu ke sini dan meminta tolong pada saya. Beliau akan malu, jika mengetahuinya. Karena saya sendiri merasa malu, jika Mama saya melakukan hal seperti ini." Ucap Carren, lalu membuka pintu untuk Bu Biantra yang terdiam dan menunduk.
__ADS_1
~●○♡○●~