Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Interval.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Setelah keberangkatan Aaric ke Swiss bersama Pak Biantra, Carren sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor dan rumah. Dia bersyukur, pekerjaannya ada pada fase yang sibuk karena menerima banyak orderan. Mereka mendekor di berbagai tempat dan menangani berbagai event, sehingga Carren harus fokus pada pekerjaannya.


Semua kesibukan itu, mampu membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk merindukan kekasih hatinya yang jauh. Mereka kembali menjalani hubungan jarak jauh antar sinyal dan tergantung sinyal.


Carren bersyukur, Aaric tetap menghubunginya, menanyakan kabarnya, pekerjaannya dan juga Mamanya. Aaric juga memberitahukan kabarnya, pekerjaannya dan kondisi Papanya yang sedang dirawat di rumah sakit.


Mereka bersyukur, kondisi kesehatan Pak Biantra tidak terlalu buruk. Ada gangguan pada sistim saraf sehingga membuatnya sulit tidur dan juga gangguan pada alat pencernaan, sehingga badannya terus berkurang bobotnya.


Hasil pemeriksaan team dokter yang diminta oleh Aaric, kondisi Papanya diakibatkan oleh stress yang berkepanjangan. Oleh sebab itu, Aaric meminta Papanya dirawat di rumah sakit agar bisa berada dalam pengawasan dokter.


Aaric merasa lega setelah berbicara dengan Dokter pribadinya. Ternyata Papanya tidak mememiliki penyakit yang serius. Tetapi jika kondisi Papanya tidak ditangani dengan cepat dan tepat, akan memperburuk kondisi kesehatannya. Memang terlihat tidak berbahaya, tetapi dengan mengabaikannya, dapat mengganggu dan merusak organ vital lain. Itu akan makin sulit, sakit dan lama penyembuhannya.


Semua itu Aaric ceritakan kepada Carren, karena setiap saat Aaric menghubunginya, Carren terus menanyakan kondisi Pak Biantra dan minta tidak ditutup-tutupi. Rasa rindu mereka terabaikan karena kecemasan tentang kondisi Pak Biantra lebih mendominasi. Sehingga kadang-kadang saat berbicara, mereka lebih banyak berbicara tentang kondisi Pak Biantra daripada kondisi hati mereka.


Seperti hari ini, setelah satu Minggu berlalu, Carren yang kelelahan karena kesibukan di kantor sudah naik di tempat tidur untuk beristirahat. Apalagi setelah minum segelas susu murni hangat yang dibuat Mamanya, matanya mulai meredup. Carren hendak mengatupkan tangannya untuk berdoa, sebelum dia bebar-benar tertidur. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar dan wajah Aaric dan dirinya saat acara pertunangan muncul di layar ponsel. Mata Carren langsung cliiiing, karena Aaric melakukan video call (vc).


πŸ“±"Hi ... Carren. Sudah mau tidur?" Tanya Aaric, karena melihat Carren sudah di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Carren tersenyum dan mengangguk, karena dia merasa lucu dengan tindakannya menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Dia sudah mengenakan pakaian tidur yang minim.


πŸ“±"Iya, Kak. Tadi siang kakak ngga bilang mau vc, jadi aku bisa siap-siap. Sedikit banyak, aku bisa kelihatan agak cantik, tidak seperti lontong begini." Carren protes, tapi sambil tersenyum.


πŸ“±"Kau bukan seperti lontong, tapi kura-kura yang cantik. Tuuuh... hanya kepalamu yang kelihatan. Hahaha..." Aaric tertawa senang melihat wajah Carren tersenyum lucu.

__ADS_1


πŸ“±"Aku vc, karena ada yang tiba-tiba kangen dan ingin melihatmu." Ucap Aaric, lalu mengarahkan layar ponsel ke Pak Biantra yang sedang duduk di atas tempat tidur rumah sakit.


πŸ“±"Papaaaa... Waaaah, Papa sudah sangat segar dan pipinya sudah kelihatan." Ucap Carren senang sambil mengangkat jempolnya lalu menutup mulutnya dengan tangan, khawatir Mamanya mendengar teriakannya. Pak Biantra tersenyum senang melihat wajah Carren dan gerakannya yang merapikan selimut menutupi bahunya.


πŸ“±"Hahaha... Apa selama ini, Papa ngga punya pipi? Kau bisa saja membuat hati orang tua senang. Kau dan Mamamu sehat-sehat?" Tanya Pak Biantra dengan hati senang.


πŸ“±"Iya, Pa. Kami sehat-sehat dan maaf ya, Pa. Tadi sangking senang lihat Papa, jadi spontan bilang itu. Maksudnya, sebelum ini, Papa punya pipi, tapi dagingnya dikit. Lebih banyak tulangnya. Hehehe..." Carren tertawa sendiri mendengar ucapannya. Begitu juga dengan Pak Biantra ikut tertawa senang.


πŸ“±"Carren, ngga usah diperjelas. Papa sudah tau itu, makanya sekarang minta vc untuk pamerin daging di pipinya untukmu." Ucap Aaric yang sudah mengarahkan layar ponsel ke wajahnya yang tersenyum senang.


πŸ“±"Hehehe... Iya, Kak. Senangnya bisa lihat perubahan Papa. Semangat Papa. Makasih sudah vc, Kak. Jadi bisa lihat Papa." Ucap Carren dengan hati riang.


πŸ“±"Iya, makasih juga sudah berikan semangat untuk Papa. Sudah lanjutkan tidurmu dan jangan lupa doakan kami di sini. Gd night." Ucap Aaric, lalu mengakhiri vc mereka setelah Carren membalas salamnya.


Selesai berbicara dengan Aaric, Carren tidak bisa langsung tidur, karena matanya sudah tidak 5 watt lagi. Dia mengambil laptop untuk melihat desain yang dibuatnya tadi siang. Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Dia mengambil ponselnya, karena mengira Aaric kembali menghubunginya. Ketika melihat nama di layar ponselnya, dahi Carren berlipat, tetapi menerima panggilannya.


πŸ“±"Allooo, Parry. Ngga papa. Iya, sudah di tempat tidur. Gimana?" Jawab Carren dan juga bertanya, karena Parry tiba-tiba telpon tanpa mengirim pesan terlebih dahulu.


πŸ“±"Besok kau ke tempat resepsi dengan siapa?" Tanya Parry, karena dia belum tahu hubungan Carren dengan Aaric.


πŸ“±"Ke tempat resepsi? Memangnya, siapa yang menikah?" Tanya Carren terkejut dan heran dengan pertanyaan Parry.


πŸ“±"Looh, kau ngga dapat undangan dari ayunan?" Tanya Parry yang juga terkejut mendengar pertanyaan Carren.

__ADS_1


πŸ“±"Nggaa... Oooh, Ayunna akan menikah tooh, syukurlah." Ucap Carren lega. Dia berpikir, dengan menikah, mungkin Ayunna akan jadi lebih baik.


πŸ“±"Kau tidak ingin tahu, ayunan menikah dengan siapa?" Tanya Parry, penasaran dengan reaksi Carren yang biasa-biasa saja.


πŸ“±"Yaaa, ngga lah... Tidak mungkin dia menikah dengan Recky, kan. Kalau dengan Recky, ayooo ceritakan." Ucap Carren jadi bersemangat memikirkan yang diucapkannya.


πŸ“±"Kau kira, Recky piala bergilir? Kalau sudah ngantuk, pikirannmu mulai ngga konek. Dia menikah dengan Franky." Ucap Parry sambil tersenyum membayangkan Carren yang terkejut.


πŸ“±"Franky teman kita yang dibencinya itu? Astagaaa... Benar kata orang, jangan kelewat benci, karena benci dan cinta tetanggaan. Tinggal towel, jadi dah... Baguslah, dia dapat suami yang selevel dengannya." Ucap Carren, mengingat Ayunna sangat alergi dengan orang yang kurang atau tidak berpunya.


πŸ“±"Selevel apaan, Franky berbohong saat di sekolah. Dia bukan anak pengusaha, tetapi Ayahnya seorang ASN. Dia dari keluarga sederhana, tapi berlaga demikian mungkin karena suka sama ayunan." Jawab Parry, menebak.


πŸ“±"Oooh... Ko' bisa orang tua Ayunna setujuh mereka menikah, yaa." Tanya Carren heran, karena mengetahui latar belakang orang tua Ayunna yang tajir melintir.


πŸ“±"Yaaa, setujuh lah... Ayunna sudah tek duuum... Dengan sedih hati dan terpaksa, harus menerima Franky jadi menantu mereka." Ucap Parry santai, tapi tersenyum sendiri mendengar ucapannya.


πŸ“±"Maksudmu, Ayunna sudah di'DP'in sama Franky?" Carren keceplosan kata yang suka diucapkan karyawan di kantornya untuk wanita yang hamil sebelum menikah.


πŸ“±"Carren, katamu, itu looh... Emangnya ayunan mobil? Di'DP'in... Terserah katamu, yang pasti ayunan sudah tek duuumm tra la la." Ucap Parry sambil tersenyum.


πŸ“±"Kau tau dari mana, Ayunna sudah tek duumm? Jangan jadi penyebar hoax." Carren jadi serius, dan mengingatkan Parry. Karena yang dibicarakan menyangkut nama baik seseorang.


πŸ“±"Memangnya aku kurang kerjaan sampai mau menyebar hoax? Aku tau dari Franky, karena dia menghubungiku. Dia minta aku jadi saksi pernikahannya. Aku tanya seperti yang kau tanyakan tadi, bagaimana bisa orang tua ayunan setujuh mereka menikah. Lalu dia cerita soal tek duumm itu. Kondisi ayunan ngga bisa ditutupi lagi, karena sudah kelihatan tek duumm nya. Kau bisa lihat sendiri, jika datang. Mau aku bilang Franky mengundangmu?" Tanya Parry, agar Carren bisa datang ke resepsi.

__ADS_1


πŸ“±"Ngga usah, Parry. Anggap saja aku ngga tau dan aku juga ngga mau datang. Makasih infonya." Ucap Carren, tidak enak hati. Kemudian Parry mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling mengucapkan salam. Carren mengerti, kenapa Ayunna tidak mengundangnya.


...~●○♑○●~...


__ADS_2