Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ace 3


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Ketika orang yang mengantarnya meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya, Recky mendekati tempat Ace berbaring. "Heiii... Apa kabarnya hari ini? Sorry, baru bisa datang jam segini." Recky berkata pelan, lalu memegang tangan Ace yang masih berbaring lemah. Ace membuka matanya pelan lalu melihat Recky yang mengajaknya bicara. Dia mengenal suara Recky, tetapi belum mengenal wajahnya. Ketika bisa melihat wajah Recky dengan baik, matanya membulat dan jantungnya berdegup, tidak beraturan karena terkejut.


"Kenapa melihatku seperti itu? Aku memintamu untuk berbicara sambil melihatku, tapi bukan melihat dengan mata seperti itu." Recky berkata cuek, untuk menenangkan hatinya. Dia menahan rasa iseng dan narsisnya untuk meletakan jari telunjuk dan jempolnya di dagu seperti yang dilakukan kepada kakaknya.


Wajah Ace mulai merona, malu, melihat Recky yang sedang memandangnya. Dia malu terhadap Recky yang melihat tindakannya yang memalukan. Dia juga merasa bersalah telah melibatkan Recky dalam persoalannya. Dia berusaha bangun untuk duduk, agar bisa berbicara dengan baik.


"Tidak usah dipaksakan. Nanti aku akan naikan tempat tidurmu." Ace mengangguk mengiyakan, lalu Recky berdiri untuk menaikan tempat tidur agar Ace bisa duduk dan bersadar dengan lebih baik.


"Gimana, sudah lebih nyaman?" Tanya Recky sambil duduk kembali di salah satu kursi samping tempat tidur. Ace mengangguk pelan dengan wajah merasa bersalah. Hal itu menjadi perhatian Recky, sehingga dia tidak mau membahas apa yang telah dilakukan Ace.


"Sudah makan malam?" Tanya Recky lagi, mencoba ajak Ace berbicara. Dia tahu, Ace sedang merasa bersalah dan tidak enak padanya. Sehingga dia mencoba bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan pendek dan umum.


Ace kembali mengangguk mengiyakan. "Apakah, kakak sudah makan?" Tanya Ace, mencoba menanggapi dan merespon niat baik Recky. Melihat Recky kembali mengunjunginya, hatinya sangat tersentuh dan terharu.


"Sudah. Tadi makan dulu sebelum ke sini, agar bisa lebih lama menanimu. Gimana, apa sudah bisa berbicara denganku? Aku sekarang seperti berada di hutan belantara, tidak tau apa atau siapa yang berada di sekitarku." Ucap Recky pelan, setelah mendekatkan kursi ke tempat tidur Ace. Dia berbicara seperti itu, agar Ace mengerti situasinya dan mau bicara terbuka padanya.


"Iya, Kak. Aku minta maaf, sudah merepotkan." Ucap Ace pelan, tetapi cara dia mengucapkan ragu-ragu membahasakan dirinya membuat Recky tersenyum dalam hati.


"Panggil saja namaku, Recky. Bukankah kita sudah berkenalan? Karena ini sudah malam, waktu kita tidak banyak. Bisakah kau mengatakan apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?" Recky berkata serius, tetapi dia melihat gerakan mata Ace yang tidak fokus kepadanya. Recky menyadari, mungkin mereka sedang diawasi.

__ADS_1


Recky mengambil ponsel dari kantong celananya lalu mengetik. "Ada cctv di sini?" Tulis Recky di ponselnya, lalu diberikan kepada Ace untuk dibaca. Ace mengangguk setelah membaca tulisan Recky, kemudian dia mengetik 'ada yang mengawasiku' di ponsel Recky lalu berikan kembali kepada Recky.


Melihat apa yang dilakukan Ace, Recky makin mendekati tempat tidur dan mencondongkan tubuhnya mendekati Ace. Kemudian meletakan kedua tangannya di atas tempat tidur, samping Ace. "Lihat aku dan abaikan mereka. Katakan, kau ingin aku lakukan apa." Ucap Recky pelan, dan berusaha menghalangi wajah Ace karena dia bisa menerka letak cctv dari gerakan matanya. Ace mengerti tindakan Recky, lalu berbicara pelan.


"Daddy mau menjodohkan ku dengan seorang pria. Aku tidak bisa menerima, karena tidak menyukai pria itu dan aku sedang persiapan ujian tesis. Tetapi Daddy dan pria itu tetap mendesak, dan akan melamarku beberapa hari lagi."


"Aku tidak menyukai pria itu, karena niatnya jahat. Dia bersikap baik di depan Daddy, tetapi sangat kasar dan tidak sopan saat bersamaku." Ace berkata pelan untuk menjelaskan alasan tindakannya dan juga mau minta tolong Recky.


"Beberapa hari lalu, aku melihat pria itu bermesraan dengan kekasih Daddy di mobil. Aku ceritakan itu kepada Daddy, tetapi kekasihnya mengatakan aku berbohong dan Daddy percaya padanya. Padahal aku melihatnya sendiri, tapi karena terkejut aku tidak berpikir untuk foto atau membuat video. Pria itu tahu aku melihatnya, lalu mengancamku dan menerorku. Daddy tidak percaya yang aku katakan tentang pria itu. Malah memintanya untuk menemaniku jika di luar rumah." Ucapnya pelan.


"Kemaren aku bisa lolos darinya saat ke toliet. Karena panik, tertekan dan putus asa, aku jadi berpikiran pendek lalu berjalan ke laut. Mungkin aku bisa ikuti Mommy dan tidak hidup bersama pria itu. Aku juga tidak mau hidup dengan Daddy lagi, karena lebih percaya kekasihnya." Ucap Ace dengan mata berembun. Recky hanya diam mendengar.


Dia jadi mengerti, Mamanya sudah meninggal. "Kau tidak memiliki saudara?" Tanya Recky pelan.


"Sekarang apa yang bisa aku bantu? Jangan minta aku menghajar pria itu, karena tanganku belum lama sembuh dari cedera." Ketika mengatakan itu, Recky teringat kenapa wajah Papa Ace familier baginya. Saat dirawat di rumah sakit ini, dia pernah melihat fotonya di dinding rumah sakit saat terapi.


"Bisakah kakak mengeluarkanku dari Aussie? Aku mau pergi menemui keluarga Mommy di New Zealand? Aku sudah tidak bisa tinggal di sini lagi." Ucap Ace pelan dan berharap Recky mau menolongnya.


Recky melihat Ace dengan serius. Muda baginya untuk bisa mengeluarkan Ace dari Australia. Tetapi dengan pengaruh dan uang Papanya, tidak akan mudah menghindarinya. Papanya akan mencarinya kemana saja.


"Aku bisa saja menolongmu. Tapi apakah itu bisa menyelesaikan masalahmu? Masalah itu, harus dihadapi bukan berlari meninggalkannya. Karena masalah itu akan terus mengikutimu kemana saja kau pergi." Recky berkata serius dan berisyarat, karena Papanya atau pria itu mungkin saja mengikutinya.

__ADS_1


"Apakah pria itu pernah datang menemuimu saat berada di sini?" Tanya Recky serius, agar bisa mengetahui apa yang harus dia lakukan.


"Aku tidak tahu, karena tidak membuka mata untuk melihat orang yang datang. Aku belum bisa melihat Daddy." Ucap Ace pelan.


"Ace, kau lebih mengenal Daddymu. Semua pilihan ada konsekuensinya. Semua keputusan pasti ada resikonya. Kita ambil resiko yang paling kecil." Ucap Recky serius sambil berpikir. 'Jika benar Ace adalah jodohnya, apakah dia harus melepaskannya?' Tanya Recky dalam hati. Ketika berbicara dengan Ace dalam jarak dekat seperti ini, Recky bisa merasakan. Ace gadis yang baik dan lembut, matanya bagaikan telaga bening yang meneduhkan.


"Kau mau menjadi kekasihku? Mungkin dengan sudah punya kekasih, Daddymu dan pria itu bisa berpikir lagi." Recky berpikir cepat dan memutuskan, agar tidak kehilangan momen. Ace melihat Recky dengan terkejut. Dia tidak menyangka Recky akan berkata demikian.


"Apakah kakak serius?" Tanya Ace seakan tidak percaya mendengar yang dikatakan Recky.


"Apa kau melihatku sedang bercanda? Aku mau menjadi kekasihmu, jika kau berjanji tidak melakukan hal bodoh seperti kemarin. Jangan mudah terintimidasi oleh seseorang atau sesuatu." Ucap Recky serius. Ace langsung merangkul leher Recky dengan hati terharu. Dia bisa merasakan ketulusan Recky dalam ketegasan kata-katanya.


Recky perlahan merespon Ace dengan memeluknya, karena dia menyadari Ace sedang menangis. "Ace, hidup ini memang tidak mudah. Tetapi Tuhan memberikan kita kekuatan untuk menghadapinya." Ucapan Recky membuat Ace makin menangis terseduh. Dia teringat ucapan Mommynya. 'Jika seorang pria bisa mendekatkanmu kepada Tuhan, jadikan dia suamimu.'


"Heiiii... Jangan bersedih lagi. Aku akan mendampingimu melewati ini." Ucap Recky sambil menepuk pelan punggung Ace. Dia tidak mengerti, mengapa Ace begitu sedih.


Beberapa saat kemudian, Recky merasa sedikit lega, karena tangisan Ace mulai berkurang. "Istirahatlah, agar bisa cepat sembuh. Ada banyak hal yang akan kita bicatakan." Ucap Recky sambil mengelus punggung Ace dengan sayang, lalu melepaskan pelukannya. Ace mengangguk sambil cegukan lalu merebahkan tubuhnya. Recky menurunkan tempat tidur, lalu kembali duduk setelah merapikan selimut. Ace memegang tangan Recky lalu memecamkan matanya.


"Kau mau aku tetap di sini?" Ace mengangguk pelan dengan mata terpecam. "Aku akan menemanimu sampai tidur. Jadi  sekarang berdoa, agar bisa tidur dengan tenang." Ace kembali mengangguk pelan, tanpa melepaskan tangan Recky.


Daddynya melihat semua yang terjadi di ruang perawatan putrinya tertunduk sedih. 'Aku hampir kehilangan kalian semua.' Ucapnya pelan sambil mengelus bingkai foto keluarganya di atas meja kerjanya.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2