Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Merindukan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren sudah mempersiapkan semua keperluannya untuk berangkat ke Bali. Dia akan survei tempat yang nanti digunakan untuk acara resepsi salah seorang client di Jakarta. Mereka sudah minta tempat khusus di Bali, karena resepsinya akan diadakan di tempat khusus, out door dan dekat pantai.


"Arra, periksa baik-baik semua yang harus dibawa, jangan sampai ada yang tertinggal." Ucap Bu Nancy, saat melihat Carren sedang memasukan semua yang garus di bawa ke dalam koper kecilnya. Carren melihat Mamanya, lalu mengangguk mengerti.


"Ma, maaf ya. Kali ini Arra tidak bisa ajak Mama ikut bersama. Nanti lain kali baru kita pergi bersama lagi." Ucap Carren yang merasa sayang, Mamanya tidak bisa ikut dengannya.


"Tidak usah pikirkan itu. Kita sudah pernah pergi ke Bali. Sekarang kau konsetrasi urus pekerjaanmu. Nanti lain kali baru kita pergi jalan-jalan atau berlibur." Ucap Bu Nancy untuk menenangkan putrinya yang sedang tidak enak meninggalkannya di rumah.


"Iya, Ma. Nanti setelah ini kita pergi berlibur bersama. Mama hati-hati di rumah. Ada apa-apa, hubungi Arra." Ucap Carren sambil memasukan tiket dan dokumen lain yang akan dibawanya.


"Arra. Setelah bekerja, usahakan untuk santai sejenak di sana. Pergunakan kesempatan sudah di sana, dengan luangkan waktu untuk berlibur. Tambahkan satu atau dua hari lagi, di luar hari kerjamu." Ucap Bu Nancy mengingatkan, karena dua minggu lalu bersama karyawannya bekerja keras untuk client di Bandung. Kemudian minggu lalu Carren bersama karyawannya, sibuk untuk acara pernikagan seorang anak pejabat di Jakarta.


Sekarang harus berangkat ke Bali, karena cient sudah tidak sabar mau bertemu dengannya untuk membicarakan rencana dan budget pernikahan yang akan dilaksanakannya di Bali.


Carren memeluk Mamanya lalu pamit. Kemudian dia pesan mobil online untuk mengantarnya ke Bandara Soekarno Hatta. Dia tidak mau diantar sopir, karena akan sangat repot saat kembali dari Bandara. Jadi dia menggunakan mobil online untuk sekali jalan ke Bandara.

__ADS_1


Carren sudah berusaha berangkat lebih awal agar tidak terlambat dan buru-buru. Tetapi suasana jalan di jakarta, tidak bisa diprediksi. Setelah bertempur dengan jalalan yang padat merayap, akhirnya tiba di Bandara pada menit-menit terakhir. Dia bersyukur sudah check in online, jadi mempermudah dirinya.


Dengan terburu-buru dia ke tempat check in untuk melapor. Sangking tergesa-gesa, dia tidak melihat sekitarnya. Dia hanya berkonsetrasi untuk bisa berangkat, jangan sampai ketinggalan pesawat. Dia tidak berharap akan beli tiket pesawat lain, karena keterlambatanya. Setelah selesai check in, tanpa sadar Carren menabrak seseorang yang dari tempat check in dan berjalan santai.


"Maaf, Pak. Saya agak terlambat, jadi buru-buru." Ucap Carren sambil mengambil tiket dan boarding pass yang jatuh. Setelah berdiri dia meminta maaf sambil mengatupkan kedua tangannya di dada lalu berlalu.


"Nona, sebentar. Ini boarding passnya jatuh lagi." Ucap Leon yang terkejut melihat wanita di depannya yang sedang panik dan terburu-buru. Carren mengambilnya dari tangan Leon dan kembali berterima kasih dengan cara yang sama sambil agak membungkuk sebagai rasa terima kasih telah menolongnya.


Leon hanya bisa mengangguk dan terkesima, melihat sikap dan paras Carren yang cantik. Leon masih berdiri terdiam ditempat, sambil melihat Carren yang berjalan meninggalkannya. Dengan cepat Leon berjalan menyusul Carren, karena dalam pikirannya Carren akan naik pesawat yang sama dengannya ke Bali. Sepintas dia melihat itu di boarding passnya.


Dia jadi penasaran dengan gadis yang baru dilihatnya. Jika masih ada waktu, dia ingin berkenalan dengannya. Tetapi karena Leon penumpang kelas bisnis, dia tidak bisa melihat keberadaan Carren yang ada di penumpang biasa. Baik di dalam ruang tunggu atau dalam pesawat, mereka terpisah.


Leon sengaja mengambil penerbangan siang agar menjelang sore sudah tiba di Bali dan masih bisa istirahat sebentar sebelum menghadiri pertemuan tersebut. Sekarang dia pikirkan, bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan gadis yang telah menarik perhatian dan hatinya. Dia akan turun terlebih dahulu dan sudah langsung dijemput ke hotel tempat pertemuan. Sedangkan gadis yang ingin dia kenal, tidak tahu tempat duduk dalam pesawat dan kemana tujuannya di Bali. Hal itu menggelisahkan hatinya.


.***.


Di sisi yang lain ; Carren yang sudah berada dalam pesawat, merasa lega dan bersyukur bisa terbang sesuai jadwal yang direncanakan. Dia nenyandarkan punggung setelah meletakan kopernya di bagasi di atas, lalu bisa duduk. Dia bersyukur untuk orang yang menolongnya saat hampir kehilangan boarding pass yang jatuh.

__ADS_1


Sambil bersandar, dia mengingat pesan Mamanya untuk berlibur sejenak dengan menambah hari di Bali. Dia bersyukur hanya membeli tiket satu kali perjalanan, jadi bisa mengatur waktu kembalinya setelah bekerja dan sedikit libur. 'Ya, sedikit berlibur.' Carren membatin lalu tersenyum tipis.


Saat hendak memejamkan mata, kembali dia teringat kepada Aaric yang tidak ada kabarnya. 'Apakah pertemuan mereka hanya sesingkat itu.' Carren bertanya dalam hati. Dia tidak mengingat Aaric jika sedang sibuk bekerja. Tetapi jika sedang santai seperti ini, wajah dan semua yang pernah dilakukan Aaric tidak bisa hilang dari ingatannya.


Carren tidak bisa mengabaikan Aaric, apalagi setelah kehadiran orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Mamanya. 'Kenapa Mamanya bisa berpikir, dia memiliki hubungan spesial dengan Aaric sehingga datang menemuinya?' Itu sering mengganggu pikirannya.


'Apakah Kak Aaric mengatakan sesuatu kepada keluarganya, sehingga Mamanya bisa datang menemuinya?' Carren terus membatin dan makin memberatkan batinnya. Dia tidak bisa menghilangkan rasa cemas di hatinya.


Keseriusan Aaric meminta nomor telpon  pribadinya dan menghubunginya malam itu, samgat membekas di hatinya. Ucapan terakhir Aaric yang mengatakan sedang sakit kepala, sering membuatnya cemas dan sedih karena tidak tahu lagi kelanjutannya.


Sering air matanya mengalir dipinggiran matanya, mengingat kisah yang berhubungan dengan hatinya. Setiap kali dia merasa sedih mengingat pertemuannya yang singkat dan berkesan dengan Aaric, dia mengingat juga pertemuannya dengan orang yang mengaku sebagai Mamanya Aaric.


Kedatangan Mamanya memberikan sedikit harapan, bahwa dia ada berhubungan dengan Aaric. Tidak mungkin tidak ada hubungan, sehingga Mamanya bisa datang minta tolong padanya. Carren berpikir, orang mengaku Mamanya Aaric tidak sedang mengaku-ngaku sebagai Mamanya, dilihat dari penampilan yang mentereng. Apa guna baginya dengan melakukan tindakan seperti itu.


'Apa yang sedang terjadi dengan Kak Aaric?' Carren kembali bertanya dalam hatinya. Akhirnya dia tertidur karena kelelahan berpikir dan membatin. Tanpa disadari, air mata kembali mengalir dipinggiran matanya, walau sudah tertidur.


Beberapa waktu kemudian, terdengar suara pilot yang memberitahukan pesawat akan landing. Carren membuka matanya perlahan dan bersyukur, bisa istirahat sejenak. Dia merapikan penampilannya dan duduk menunggu dengan tenang. Dia tidak lagi terburu-buru seperti saat berangkat dari Jakarta.

__ADS_1


Dia membiarkan orang yang sibuk hendak turun terlebih dahulu. Setelah lega, dia mengambil kopernya lalu turun dari pesawat. Karena tidak memiliki bagasi selain koper ditangannya, Carren langsung keluar dari Bandara dan naik taksi ke hotel yang telah direservasi untuknya selama bekerja di Bali.


~●○♡○●~


__ADS_2