Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Berbagi Rasa.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Aaric memegang kedua kaleng soft drink di pundak dan belakang leher Recky, sambil terus berpikir untuk menenangkan dirinya dan Recky. Dia merasa sudah cukup energi yang dibuang untuk sesuatu ysng tidak bisa dirubah lagi. Dia mengharapkan Recky juga tidak perlu membuang energi untuk sesuatu yang akan makin menyakitinya.


"Recky, cobalah tenang dan melihat semua ini dari sisi yang berbeda. Dari sisi yang lain, bukan dari yang kita pikirkan sekarang. Karena saat ini, aku sangat lelah setelah hadapi semua yang baru terjadi. Jangan kau tambah lagi, dengan melakukan sesuatu yang menyakitimu, jika tidak ingin melihat saraf-saraf di kepalaku putus." Ucap Aaric sambil menepuk pelan punggung Recky.


"Kita sekarang sudah sangat dewasa. Jadi bisa berpikir dengan baik, selayaknya orang dewasa. Aku tau, sekarang kau merasa marah kepada lelaki itu, begitupun denganku saat pertama mendengarnya dari Jekob." Aaric mulai berbicara pelan dan tenang, mencoba berbagi rasa yang dirasakannya saat pertama mengetahui Mamanya berselingkuh.


"Tetapi setelah aku berpikir lagi, tentang hubungan mereka, tidak sepenuhnya kesalahan ada pada lelaki itu. Apapun alasannya, dia mendekati wanita itu. Karena jika lelaki itu mengganggu atau menggoda wanita itu, hubungan tidak akan terjalin, jika sang wanita tidak menanggapinya. Tetapi yang terjadi seperti gayung bersambut. Yaaa ... sama-sama timba air dan mengguyur tubuh mereka." Ucap Aaric pelan memikirkan kembali hubungan Mamanya dengan Pak Haiman.


Recky tetap meletakan dagunya di atas lutut dan memeluk kakinya sambil mencerna yang dikatakan kakaknya. Aaric meletakan kedua kaleng soft drink di lantai, lalu duduk di lantai dekat Recky. "Mari sama-sama belajar melapangkan dada untuk tidak membenci mereka berdua, termasuk Opa. Aku baru menyadarinya beberapa hari ini. Belasan tahun kemarahan dan kebencian itu aku simpan di hati, tetapi bukan kebahagian yang kudapatkan.  Sekarang yang kurasakan hanya kesedihan dan kelelahan. Membenci itu sangat melelahkan." Aaric berkata sambil melihat Recky dengan serius.

__ADS_1


"Jika kita membenci orang lain, ibarat ada tikus dalam rumah. Jangan kita mengusir tikus itu dengan membakar rumah. Cukup kita memukulnya dan membuangnya ke tempat sampah." Ucap Aaric sambil menarik nafas panjang dan dalam, menyadari hati dan pikiran adiknya sedang bergolak.


"Jika kita sudah tau, kebencian dan kemarahan itu tidak berguna untuk kita, mari kita membuang semuanya itu ke tempat sampah. Jangan membakar tubuh kita dengan membiarkan kebencian dan kemarahan menguasai hati dan pikiran kita. Kita yang harus memutuskan untuk mempertahankan atau membuang sesuatu yang tidak berguna itu." Aaric berkata serius, sambil melihat Recky yang diam. Dia tahu adiknya sedang menyimak yang dikatakannya.


"Jika kita terus membencinya, selain akan merusak hati, pikiran dan tubuh, kita tidak bisa fokus untuk melakukan sesuatu yang baik. Kebencian itu akan selalu mengganggu konsentrasi kita untuk terus memperhatikan mereka." Aaric merasa telah melewati itu, sehingga dia tidak fokus untuk melakukan sesuatu yang baik dengan tetap dan benar.


"Sekarang kau lihat keadaan kita saat ini, kebencian hampir merusak hidup dan tubuh kita. Tetapi apakah ada pengaruhnya untuk mereka? Mereka tetap melakukan niat dan keinginan hati dengan senang, tanpa mempedulikan rasa marah dan benci kita." Aaric berkata demikian, mengingat Papanya pernah menyimpan semua rasa itu, sehingga hampir merusak tubuhnya.


Sekarang Papanya lebih tenang, setelah membuang semua rasa itu dari hatinya. "Jika mereka berbuat salah, biarkan mereka tanggung akibat dari perbuatannya. Kebencian dan kemarahan kita tidak akan menambah penderitaan mereka, tetapi membuat kita yang sakit dan menderita." Aaric melihat semua itu dirasakan Papanya saat berada di rumah sakit. Begitupun dengan luka hatinya saat membenci orang tuanya.


"Apa lelaki itu mencuri sesuatu?" Tanya Recky pelan, setelah sekian lama menyimak apa yang dikatakan kakaknya.

__ADS_1


"Iyaa... Dia mencuri uang perusahaan. Aku mengatakan mencuri, karena dia mengambil yang bukan miliknya. Tidak usah membaurkan itu dengan mengatakan dia menggelapkan uang perusahaan atau korupsi. Seseorang akan sangat malu jika dikatakan pencuri, daripada koruptor." Aaric mengingat surat tuntutan yang diserahkan kepada polisi untuk menjerat Pak Haiman dan Pak Lepart beserta kaki tangannya.


"Soal hukuman yang akan diterima, biar hakim yang menentukan. Saat Pak Hutama mengatakan, aku harus bersyukur dalam segala keadaan, yaaa.., aku bisa melihatnya sekarang. Wanita itu telah bercerai dengan Papa, baru didakwa soal rencana pembunuhannya. Jadi dalam surat penuntutan/dakwaan, dia tidak memakai nama Biantra lagi. Tetapi memakai nama sebelum menikah dengan Papa, karena dia telah kembali kepada keluarganya." Ucap Aaric pelan, saat sedang berbicara dia melihat Recky tiba-tiba menatapnya.


"Dalam hidup ini, kita meliliki Hakim Yang Maha Kuasa. Dia akan memberikan ganjaran yang setimpal untuk semua perbuatan kita. Saat ini mungkin kita merasa malu beribukan wanita seperti itu. Tetapi lambat laun, orang akan menilai kita berdasakan diri kita sendiri, karena melihat perbuatan kita. Bukan karena kita lahir dari keturunan siapa." Aaric berkata tegas untuk menguatkan dirinya dan juga Recky agar bisa semangat dan tidak usah berkecil hati atau merasa malu terhadap orang lain.


"Jadi mari angkat wajahmu untuk melihat dunia ini dan juga orang yang kau jumpai. Ketika orang melihat sikap dan kebaikan hatimu, orang akan heran dan seakan tidak percaya kau dilahirkan oleh seorang wanita seperti dia." Aaric menyemangati adiknya, agar tidak terpuruk karena perbuatan Mamanya.


"Seperti yang Papa suka katakan saat menemani kita. Mungkin suatu saat kita bisa bertemu atau berkumpul dengan orang yang tidak baik, tetapi jangan menjadi serupa dengan mereka. Itupun berlaku dalam keluarga kita. Jangan menjadi serupa dengan yang suka berbuat jahat, walaupun itu orang tua sendiri." Aaric terus mengingatkan Recky, karena dia merasa ini adalah waktu yang baik untuk saling mengingatkan. Karena kesibukan sering menyita waktu mereka untuk bisa berbicara seperti ini.


"Kita memiliki akal dan pikiran untuk bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Bukan karena ucapan seseorang. Seperti sekarang ini, kau memiliki akal dan pikiran sendiri untuk memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik dari semua yang aku katakan." Aaric berkata demikian, agar adiknya bisa menentukan sendiri yang baik baginya.

__ADS_1


"Ambillah yang baik dari apa yang aku katakan. Tidak ada seorangpun dapat mengalihkanmu dari hal yang baik, jika kau yakini itu baik. Termasuk aku, kakakmu dan juga Papamu. Ini nasehatku untuk kita bersama hadapi hari esok. Karena semua ini belum berakhir." Ucap Aaric sambil mengacak rambut adiknya dengan sayang. Kemudian dia berdiri lalu mengajak Recky juga berdiri dengan mengangkat lengannya.


...~●○♡○●~...


__ADS_2