
~•Happy Reading•~
Di tempat yang lain ; Leon dan Riri selesai makan ice cream, langsung pulang ke rumah. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh Leon dan Riri, karena esok hari Riri akan interview di Hutama.
"De', jangan mandi dulu. Mari kita ke atas dan kau coba kenakan salah satu baju yang akan kau kenakan untuk pergi interview. Mas mau lihat, sebelum di dry clean." Leon berkata kepada Riri, saat mereka telah tiba di rumah.
Riri mengikuti apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dia masuk ke kamarnya dengan semua hasil belanjaan, lalu memilih salah satu stelan blazer yang cocok dan nyaman untuk dikenakan. Dia masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya, karena Leon ikut masuk ke kamarnya.
Setelah berganti pakaian, dia keluar memperlihatkan kepada Leon yang sedang duduk di sofa menunggunya. "Bagaimana menurut, Mas? Apakah ini cocok untuk Riri kenakan besok?" Tanya Riri setelah mengenakan blazer berwarna peach dengan rok hitam, tanktop warna hitam ada sedikit kerutan kecil dibagian dada mempercantik tanktopnya.
"Ok. Coba kau pakai kacamata dan rapikan rambutmu. Karena kau akan diinterview untuk menjadi sekretaris. Kau harus terlihat cekatan, cerdas, tetapi tetap modis." Leon terus memperhatikan adiknya dengan seksama. Riri mengikuti semua yang dikatakan kakaknya, lalu merapikan rambutnya yang biasanya digerai sebahu.
"Ok. Begitu sudah cukup. Kau sudah bisa menyamarkan putri Ayah. Sekarang semua baju yang baru dibeli, di dry clean. Surat-suratmu tidak memakai Piltharen, bukan?" Tanya Leon, mengingat surat-surat dan CV adiknya.
"Ngga, Mas. Piltharen hanya inisial P dibelakang nama baptis dan nama Riri, sama seperti Mas." Jawab Riri menjelaskan, agar kakaknya tenang.
"Kalau begitu, Mas akan ke kamar untuk mandi. Kau juga segera mandi. Jangan lupa minta pelayan menyiapkan minuman hangat dan snack untuk kita di balkon. Kiita akan bicara rencana selanjutnya di sana." Setelah berkata demikian, Leon berdiri dan meninggalkan kamar Riri memuju kamarnya.
Riri memanggil pelayan untuk datang ke kamarnya untuk membawa semua baju yang baru dibelinya untuk di dry clean. "Ini tolong di dry clean sekarang ya, Bi. Karena saya akan memakainya besok. Tolong juga siapkan minuman hangat dan snack di balkon." Riri menjelaskan kepada pelayan yang datang ke kamarnya.
"Baik, Nona. Akan kami kerjakan sekarang." Kemudian pelayan berjalan keluar meninggalkan kamar Riri sambil membawa semua pakaian yang baru dibelinya.
__ADS_1
Setelah itu, Riri segera mandi agar kakaknya tidak lama menunggunya. Saat berdiri di depan cermin di kamar mandi, Riri memperhatikan wajahnya dan mengingat samaran yang akan dilakukannya.
'Baiklah Riri, tidak ada salahnya mencoba. Kau pasti bisa melakukannya dengan baik. Walaupun gagal nanti, kau tidak akan merasa menyesal karena pernah mencobanya.' Riri menyemangati dirinya sambil melihat cermin.
Selesai mandi dan mengenakan baju santai, Riri keluar kamar menuju balkon dimana Leon telah menunggunya. Dia sedang minum minuman hangat dan snack yang telah disiapkan oleh pelayan.
"Mas, apakah kita akan bicara dengan Ayah dan Ibu mengenai rencana besok?" Tanya Riri sambil duduk di depan kakaknya. Dia mengambil Teko berisi minuman hangat dan menuangkannya ke dalam cangkir yang telah disediakan pelayan. Dia menuangkan juga ke cangkir kakaknya.
"Jangan dulu dibicarakan dengan Ayah dan Ibu. Kalau kau diterima bekerja di Hutama baru kita bicarakan dengan mereka. Jangan sampai kita sudah diomelin Ibu, padahal belum tentu kau diterima bekerja di sana." Leon baru terpikirkan, belum berbicara dengan kedua orang tua mereka.
"Apakah Ibu akan tetap membiarkan Riri bekerja setelah diterima di sana, Mas? Jangan sampai Ibu makin marah, karena tidak diajak bicara sebelumnya." Riri berkata demikian, karena mengingat sifat Ibunya yang cepat emosi dan marah jika merasa diabaikan.
"Ngga papa, itu bagiannya Mas. Lebih baik dimarahin setelah semuanya berjalan dengan baik. Daripada sudah bersitegang sebelum melakukannya. Kau siap jika Ibu tahu dan melarangmu untuk pergi interview, besok?" Leon bertanya membuat Riri terkejut dan menggelengkan kepalanya. Dia mulai mengerti cara berpikir kakaknya.
"Nanti dibicarakan satu paket saja, tidak jadi kuliah dan mau bekerja. Entah bekerja di Hutama atau di Piltharen. Biar penjelasannya satu kali dan dimarahinnya juga satu kali." Ucap Leon tersenyum, mengingat akan dimarahin kedua orang tuanya, terutama Ibunya.
"Besok kau diterima atau tidak di Hutama, kau akan tetap bekerja bukan? Jadi siapkan pelurumu untuk meluluhkan hati Ayah, sedangkan Ibu bagiannya, Mas." Riri langsung tersenyum ceria mendengar yang dikatakan kakaknya.
"Sekarang kita bicarakan apa yang akan dilakukan besok. Walaupum kau akan menyamar, jadilah dirimu sendiri saat interview. Jangan menyinggung Piltharen di depan mereka. Jawab sesuai yang mereka tanyakan saja, tetapi harus percaya diri. Kau harus ingat, jika tidak diterima di Hutama, kau akan datang berkantor di situ sebagai seorang pimpinan Piltharen." Leon memberikan semangat dan kepercayaan diri kepada adiknya.
"Mas membiarkan kau melakukan semua ini, karena ada yang kau inginkan. Jika tidak, Mas tidak setuju kau harus ikut interview. Jadi pergunakan kesempatan ini, untuk menguji dirimu sendiri." Leon berkata serius kepada Riri yang mendengarnya dengan serius.
__ADS_1
"Mas hanya sebagai pembuka jalan, tetapi kau sendiri yang akan menempuh jalan itu. Jika tidak sanggup lagi untuk menempuh jalan itu, silahkan berikan kode dengan angkat bendera putih." Leon tersenyum melihat adiknya yang tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangan.
"Kalau datang ke kantor Mas, Riri akan angkat bendera putih. Tetapi kalau di rumah, Riri gantung handuk putih di pegangan pintu kamar Mas. Hehehe..." Leon jadi ikut tertawa mendengar yang di katakan adiknya.
"Semoga tidak sampai seperti itu. Kau harus belajar menerima perlakuan yang baik atau yang buruk sekalipun. Di sana kau hanya seorang karyawan, sebagaimana lainnya. Mungkin dengan begini, kau lebih mengerti dunia kerja dengan semua problemantikanya. Agar saat memimpin di Piltharen, kau sudah mahir." Ucap Leon serius.
"Riri ngga usah mimpin di Piltharen, Mas. Kan sudah ada Ayah dan Mas." Ucap Riri terkejut mendengar ucapan kakaknya.
"Kau juga anak Ayah, jadi punya tanggung jawab yang sama dengan Mas. Lalu apa gunanya kau belajar dan menuntut ilmu sampai perguruan tinggi? Kau ngga lihat, Ibu juga bantu membesarkan Piltharen?" Leon bertanya serius kepada adiknya.
"Sekarang manfaatkan ilmumu untuk bekerja dan juga belajar di sana. Mas tetap mengawasimu, jadi jangan lupa kau seorang Piltharen. Jaga sikapmu dan jangan menganggap rendah rekan kerjamu. Ketika bekerja, kau sama dengan rekan kerjamu. Bukan sebagai anak Ayah." Ucap Leon lagi.
"Mulai besok, kau tidak pakai mobilmu ke kantor. Nanti ada yang mengantarmu, dan menurunkanmu sedikit jauh dari kantor. Sopir tidak pakai mobilmu, tetapi Mas akan siapkan mobil yang biasa saja, supaya jika ada yang melihatmu turun dari mobil, tidak terlalu menyolok." Leon menjelaskan kepada adiknya.
"Bagaiman kalau Riri naik mobil oline saja, Mas? Supaya Mas Leon ngga perlu mencari mobil dan sopir." Riri memberikan ide kepada kakaknya.
"Itu akan kita bicarakan setelah hasil besok. Kalau kau diterima, baru kita bicarakan mobilnya. Tetapi jika tidak diterima, kau akan pergunakan fasilitas yang ada sekarang. Kau bisa ke kantor Hutama dengan mobilmu sendiri."
"Jadi sekarang pilihannya ada di tanganmu. Mau ke kantor gunakan fasilitas yang ada, ngga usah kerja di Hutama. Tetap jadi anak Ayah mengelolah Piltharen. Tetapi jika kau mau melihat kesungguhan hati pria itu terhadapmu, jalanilah dan bersikap seperti karyawan lainnya. Riri mengerti maksud Mas?" Riri mengangguk lalu berdiri memeluk kakaknya dengan sayang.
"Sudah, jangan sia-siakan kepercayaan Mas. Semoga pria itu sepadan dengan perjuanganmu. Mas akan sabar menunggu kau memperkenalkannya, walaupun sangat penasaran. Pria seperti apa yang bisa membuatmu seperti ini." Ucap Leon lagi.
__ADS_1
"Sekarang mari kembali ke kamar untuk siapkan yang lain, sebelum Bu Linna pulang dan melihat kita dibalkon. Bu Linna akan curiga dan mendudukan kita di ruang keluarga untuk diinterhiew duluan." Leon berkata lalu tersenyum mengingat yang dilakukan Ibunya, kalau mereka berdua kedapatan berbicara sendiri di balkon.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡