
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Pak Biantra dan Aaric sedang berbicara serius karena sudah sangat lama, Pak Biantra tidak bicara serius dengan putra tertuanya. Memang anak-anaknya sudah dewasa dan hidup mandiri, tetapi ada hal-hal yang bisa dibagikan dari pengalaman hidup yang dilaluinya. Seperti yang dilakukan Alm. Ayahnya saat Pak Biantra mengalami masa-masa sulit dan kelam.
Pak Biantra sangat merasakan dampak dari apa yang disampaikan Ayahnya dalam mengambil keputusan dan memilih mana yang baik. Hal itu juga ingin diteruskan kepada anak-anaknya, dimulai dengan putra tertuanya. Selagi ada waktu dan masih bisa berbicara dengan baik.
"Kita sudah berbicara banyak hari ini. Nanti kita teruskan lagi jika sudah bisa berkumpul dengan adikmu. Papa ingin, adikmu juga bisa memilih dan memutuskan sesuatu dengan baik dan benar, agar hidupnya tidak terlalu bermasalah akibat kebaikan hatinya." Ucap Pak Biantra mengingat kebaikan hati putra bungsunya.
"Ooh, iya, Aaric. Jekob mau datang jam berapa ke sini? Apa kita perlu menunggunya untuk siapin makan malam?" Tanya Pak Biantra, menyadari sudah mulai merasa lapar.
"Ooh, iya, Pak. Papa bantu siapin makan malam seperti yang dikatakan Carren, ya. Jekob tidak bisa datang lebih awal untuk siapin makan malam kita. Ada yang harus dia kerjakan, jadi datangnya agak malam." Aaric menjelaskan, agar mereka tidak menunggu Jekob untuk makan malam.
"Baik. Papa hangatkan lauknya, dan kau siapkan alat-alat makan kita." Ucap Pak Biantra, lalu berdiri dan berjalan ke dapur. Aaric ikut berdiri membantu Papanya menyiapkan alat makan di meja makan.
Setelah semuanya siap tersaji di meja makan, Pak Biantra dan Aaric makan malam dengan tenang, karena tidak ada yang berbicara. Masing-masing menikmati masakan kesukaan, Pak Biantra dengan rawon kesukaannya, sedangkan Aaric menikmati ayam bumbu rujak yang baru pernah dimakan dan sangat menyukainya.
"Selesai makan, Papa biarkan saja semua alat makan yang kotor ini. Papa tidak usah mencucinya, nanti Jekob atau Bibi yang mencucinya." Aaric khawatir Papanya akan mencuci semua perangkat makan yang mereka gunakan.
__ADS_1
"Baik. Selesai makan, kau teruskan kerjamu, Papa mau ke kamar untuk lanjut membaca buku yang dibawa oleh Jekob." Ucap Pak Biantra serius, karena mengerti Aaric sedang banyak pekerjaan. Kadang beliau keluar kamar untuk mengambil minum, dan melihat putranya masih bekerja walaupun sudah larut malam.
"Iya, Pa. Setelah ini aku ada meeting. Jadi kalau Papa mau langsung istirahat, Papa istirahat saja. Tidak usah menungguku, karena aku belum tau jam berapa berakhir meetingnya." Ucap Aaric, lalu menyelesaikan makan malamnya.
Saat Aaric sedang menyiapkan perangkat kerja untuk meeting dengan para Direktur Elimus Corp yang berkantor pusat di Belanda, Carren menghubunginya.
📱"Allooo, Kak. Apa bisa siapkan lauknya untuk makan malam?" Tanya Carren, saat Aaric merespon panggilannya.
📱"Bisa. Papa yang siapkan, karena Jekob belum datang. Ini kami baru selesai makan. Kalian sudah makan malam?" Aaric menjawab dan juga balik bertanya. Karena tadi asyik berbicara dengan Pak Biantra, dia lupa menghubungi Carren.
📱"Ini kami baru mau makan malam, jadi mau ngecek lauk yang tadi aku bawa untuk makan malam Papa dan kakak." Jawab Carren, karena Bu Nancy memintanya menghubungi Aaric untuk mengecek lauk-pauk yang dibawa, sebelum mereka makan malam.
📱"Iya, Kak. Konsen saja dengan kerjaannya. Sampai besok." Ucap Carren mengerti kesibukan Aaric. Lalu Aaric mengakhiri pembicaraan mereka setelah membalas salam Carren.
Setelah itu Aaric mulai sibuk meeting, sampai Jekob dan Sapta datang. Walaupun belum selesai meeting, Aaric mengakhiri meetingnya karena melihat Jekob datang bersama Sapta. Dia menyadari ada sesuatu yang terjadi, karena Jekob tidak bilang akan datang bersama Sapta.
Aaric langsung memberikan isyarat kepada Jekob dan Sapta untuk mengikutinya ke kamar. Sekarang karena Pak Biantra ada tinggal bersamanya, dalam kondisi tertentu kamarnya berubah fungsi menjadi ruang kerja pribadi. Terutama saat hendak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan Biantra Group dan tidak boleh diketahui Papanya.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kalian sudah mengetahui orang itu?" Tanya Aaric tidak sabar, saat mereka telah duduk di kursi sofa dalam kamarnya.
"Sudah, Pak. Beliau adalah Direktur Keuangan Biantra Group di kantor pusat bernama Haiman." Jekob menyampaikan hasil penyelidikan mereka.
"Kau tidak perlu membahasakan kadal rawa-rawa itu dengan beliau. Dia tidak pantas untuk dihormati oleh kalian. Sapta, jangan sangar atau prontal selesaikan dia. Kau cukup mengirisnya tipis-tipis." Aaric berkata sambil menahan emosinya, mengingat apa yang mereka lakukan kepada Papanya.
"Siap, Pak. Saya mengerti maksud bapak. Sebelum bapak minta itu, saya sudah melakukannya. Tadi saya sudah mulai mengirisnya sangat tipis dengan jurus tiup telinga." Ucap Sapta serius melapor, tetapi terkejut melihat Jekob menatap dia dengan heran karena tidak mengerti maksud ucapannya.
"Apa maksudnya dengan jurus itu? Apa bisa mengirisnya atau kau sedang mengelusnya dengan kapak?" Tanya Aaric serius, tapi Jekob tersenyum dalam hati mendengar pertanyaan bossnya.
"Yaaa, hampir sama, Pak. Jurus tiup telinga, tanpa bayangan elusan kapak." Jawab Sapta serius. Jekob melihat bossnya dan Sapta bergantian. Karena mereka berbicara dengan kalimat kocak untuk hal yang serius.
"Jangan dielus dengan kapak. Kau cukup poles dengan pisau dapur yang tidak diasa, biar diiris tipisnya agak lama. Nanti saya yang mencincangnya dengan kapak." Ucap Aaric serius dan geram. Jekob makin tidak mengerti ungkapan dan bahasa simbolik yang digunakan oleh Sapta dan bossnya.
Kalau berbicara mengenai urusan perusahaan, Jekob memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. Jekob sangat cepat mengerti yang diinginkan bossnya. Tetapi kalau bossnya sudah berbicara dengan Sapta dalam bahasa simbolik untuk menyelesaikan suatu kasus, Jekob berasa sedang berada di dunia yang tidak dia pahami.
"Pak, boleh jelaskan sedikit maksud ungkapan tadi? Agar saya tidak cengo dan ngeri sendiri, membayangkan pisau dapur dan kapak sedang berseliweran." Tanya Jekob, berharap bossnya atau Sapta bisa mengerti, bahwa dia ada bersama mereka dalam kamar itu. Bukan hanya ada Sapta dan bossnya sendiri, jadi dia juga perlu mengerti yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Sapta... Jelaskan kepada Pak Jekob apa yang kau lakukan. Agar jangan sampai kau yang mengiris kedua kadal rawa-rawa itu, tapi Pak Jekob yang pingsan membayangkan pisau dan kapak sedang beraksi." Ucap Aaric serius, sambil menunjuk kearah Jekob yang masih cengo, karena belum paham maksud pembicaraan mereka.
...~●○♡○●~...