
~β’Happy Readingβ’~
Setelah menangani acara pernikahan di gedung Hirakku, Carren mempersiapkan dekor untuk acara pernikahan Maxi. Calon istrinya telah menghubungi Carren untuk membicarakan rencana dan nuansa warna yang diinginkan.
Carren telah mengirim desain bunga kering untuk calon istri Maxi. Dia telah bantu mengukur ruangan Gereja yang akan didekor. Sehingga Carren lebih mudah merangkai bunga dan Bu Nancy bisa membuat slayer untuk dibawa ke Malang. Bu Nancy menyiapkan slayer sesuai nuansa yang diinginkan oleh calon istri Maxi. Semua keperluan untuk acara pernikahan Maxi sudah 98 %, tunggu berangkat ke Malang.
Sambil menunggu waktu ke Malang, Carren dibantu Maxi mengurus dan mempatenkan nama Wedding Organizernya. Sebagaimana yang diinginkan Carren dan Bu Nancy, nama Bu Florens yang dipakai. Hal itu membuat Maxi, adik-adik dan Papanya sangat terharu. Apalagi saat melihat ruko telah menjadi kantor resmi 'Florens Wedding Organizer.' Papan namanya di letakan di atas pintu masuk ruko.
Suasana kantor juga sudah disulap menjadi sebuah kantor yang nyaman dan berkelas dengan kursi dan meja kayu. Carren memasang tirai yang bagus dengan warna-warna yang cantik. Hal itu membuat suasana kantornya bisa menerima client dari bebagai kalangan.
Carren menempatkan satu buah komputer dan printer untuk bagian admistrasi. Begitu juga dengan ruang keuangan. Dia juga meletakan meja kerja dan kursi cantik untuk ruang kerjanya, agar bisa menerima client secara pribadi.
Sebuah dispenser juga Carren siapkan, agar mereka bisa minum minuman panas atau dingin yang mereka inginkan. Menjelang berangkat ke Malang, mereka kedatangan client yang melihat iklan tentang WO mereka di sosial media. Membuat mereka tetap sibuk, karena ada saja client yang datang menggunakan jasa mereka.
Ada juga permintaan dari pihak gedung dan catering atau dari telpon Bu Florens. Carren mencatat semua tanggal acara pernikahan yang telah setuju memakai jasa mereka. Hal itu membuat Carren mempersiapkan Rosna untuk menangani client yang datang, jika dia tidak ada di tempat.
.***.
Beberapa waktu kemudian, Carren bersama Bu Nancy, Ichad dan Yogi dalam perjalanan ke Malang dengan menggunakan mobil pemberian Maxi. Mereka hanya bisa berempat, karena membawa bunga dan alat dekor lainnya. Jadi tidak banyak tempat yang tersisa. Carren tidak bisa membawa rekan kerja yang banyak, karena Ini adalah perjalanan jauh. Rekan kerja yang lain mengerti, kenapa tidak bisa ikut.
Saat mereka berada di tol, ponsel Carren bergetar. Melihat siapa yang menghubunginya, Carren langsung reject dan mengirim pesan. "Recky, aku minta maaf ngga bisa terima telpon, karena sedang di tol. Ini dalam mobil ada Mama dan teman-teman." Isi pesan Carren yang dikirim kepada Recky dengan hati yang tidak enak.
"Ooh, ok. Ngga papa. Kalian mau ke mana?" Balasan pesan Recky.
"Kami mau ke Malang."
"Kalian lama di sana?"
"Iya, lumayan. Nanti saat berhenti di rest area, aku telpon, ya. Aku ada perlu denganmu." Pesan Carren kepada Recky.
"Baik, aku tunggu." Carren menarik nafas lega dan pelan, khawatir Mamanya mendengar dan bertanya.
__ADS_1
"Mas Yogi, nanti kalau ada rest area di depan, berhenti dulu, ya. Kita istirahst sebentar untuk makan dan minum minuman hangat." Carren berkata kepada Yogi yang sedang giliran membawa mobil. Yogi mengangkat jarinya mengisyaratkan OK. Dia mengerti maksud Carren dan juga mau ke toilet.
Setelah sampai di rest area, Carren turun dan berjalan agak menjauh. Mamanya, Ichad dan Yogi sedang berbicara sambil minum minuman hangat dengan cemilan. Dia katakan hendak menelpon, karena penting. Setelah agak jauh dan tidak terlihat oleh mereka, Carren menghubungi Recky.
π±"Recky. Maaf, ya. Ini baru bisa telpon karena baru tiba di rest area." Ucap Carren, saat Recky merespon panggilannya.
π±"Iya, ngga papa. Apakah kalian lama di Malang?" Tanya Recky langsung pada intinya, karena dia berpikir Carren tidak punya waktu lama untuk berbicara.
π±"Iya. Dengan perjalanan, mungkin lebih dari satu minggu. Ada keluarga yang mau menikah di Malang." Carren menjelaskan perkiraan waktu perjalanan dan tinggal di Malang untuk pernikahan.
π±"Yaaaa, belum nasibku untuk bertemu denganmu. Padahal sekarang aku sudah ada di Jakarta, mau bertemu denganmu. Aku mau bagi kebahagiaan, karena sudah lulus, jadi mau mentraktirmu." Nada Recky sedikit kecewa. Sebenarnya dia tidak bilang kepada Carren mau pulang ke Indonesia. Dia mau buat surprise untuk Carren. Ternyata dia sendiri yang surprise.
π±"Ooh, syukur deh. Selamat ya, Recky. Aku ikut berbahagia, walaupun tidak ditraktir." Carren berkata dengan tulus, karena dia merasa senang Recky sudah lulus.
π±"Baiklah. Padahal... Sudahlah, nanti saja." Recky tidak jadi mengucapkan apa yang hampir diucapkannya.
π±"Ooh iya, Recky. Beberapa waktu lalu, aku ke Bank untuk mentransfer uangmu. Karena pekerjaanku sudah selesai dan sudah dibayar. Tetapi pihak Bank bilang nomor rekening yang kau kasih itu tidak ada. Aku menghubungimu tetapi tidak bisa." Carren teringat tentang uang Recky.
π±"Astaga Recky. Pantesan. Aku kira kau salah memberikan nomor rekeningmu." Carren terkejut mendengar yang dikatakan Recky.
π±"Jangan meminta nomor rekeningku lagi. Aku repot untuk mengganti nomor rekeningku. Yang aku bilang itu serius, jadi tolong didengar dan lakukan saja. Simpan dan pakai untuk pekerjaanmu. Aku ini mau bertemu denganmu saja, mikir. Jangan-jangan kau mau datang bertemu denganku, untuk mengembalikan uang itu." Ucap Recky, masih serius.
π±"Aku sudah tiba dari tadi malam, tapi baru sore begini menghubungimu. Yaaa, aku pikirkan yang tadi. Jadi jangan membuatku menyesal meminjamimu uang. Aku mau bertemu denganmu, jadi harus mikir banyak hal." Recky menyampaikan yang ada dihati dan dipirkannya.
π±"Iya, baiklah. Aku ngga akan ungkit-ungkit lagi. Karena kau sudah sangat menyebalkan. Makasih." Ucap Carren, lalu tersenyum.
π±"Hahahaha... Iya, yaa. Ngga papalah, kalau aku menyebalkan. Kau terima nasibmu berteman dengan orang sepertiku." Ucap Recky, diselah-selah tawanya.
π±"Oo iya, Carren. Sebenarnya aku pulang ke sini tadi malam, karena mau bertemu denganmu besok. Aku mau berangkat lusa ke Jerman. Tetapi kau tidak ada disini, ya sudah. Besok aku bisa saja menemuimu di Malang, tetapi sepertinya ngga keburu. Aku seharusnya sudah berangkat ke Jerman dari Aussie, tetapi aku mampir sebentar di sini untuk bertemu denganmu." Secara tersirat, Recky telah menyatakan Carren benar-benar spesial baginya.
π±"Seperti aku bilang, kau terima nasib, yaa... aku juga harus terima nasib. Hahahaha..." Recky tertawa mendengar ucapannya kepada Carren dan dirinya.
__ADS_1
π±"Apakah kau lama bekerja di sana?" Tanya Carren ragu-ragu. Karena mendengar cara bicara Recky yang lepas, membuat dia berpikir ada sesuatu yang terjadi dengannya.
π±"Iya, lumayan lama. Dan komunikasi juga mungkin tidak sebaik di Aussie. Tapi ngga papa, nanti aku akan lihat di sana. Kalau begitu, besok aku langsung berangkat ke Jerman saja. Aku malas lama-lama di sini, banyak hantu gentayangan." Recky, berbicara lepas ingat ucapannya pada Ayunna.
π±"Apalagi kalau hantunya bisa napak di tanah dan belakangnya ngga bolong. Hehehe..." Carren tertawa mendengar ucapannya.
π±"Naahh, itu dia. ginjunya bermerek lagi. Hahaha.... Ini Sofyan sudah menelponku berulang kali. Sepertinya dia bisa mengendus bauku, jadi tau aku ada di sini." Recky tersenyum sendiri mendengar yang dikatakannya.
π±"Astaga, kau kira Sofyan itu ...eehhhm." Carren tidak meneruskan ucapannya dengan menutup mulut dengan jarinya.
π±"Carren, aku tahu maksudmu. Dia mungkin tempelin hidungnya di pintu rumahku. Hahaha... Tapi dia lebih sayang aku dari pada kau. Dia selalu chat atau hubungiku tiap hari. Makanya sekarang dia telponku." Recky mulai berbicara terbuka.
π±"Lalu kenapa kau tidak meresponnya dulu. Mungkin dia ada perlu denganmu." Carren memerikan saran.
π±"Yaa, jangan. Nanti aku harus bilang lagi di Jakarta kalau dia tanya lagi dimana. Sebelumnya, aku tidak terima telponnya, karena lagi di Jakarta bantu Papa. Tunggu di Aussie baru aku terima dan bilang ada di Aussie. Aman. Ngga perlu berbohong, kan?"
π±"Bukan promosi ya, Carren. Begini, begini, aku takut Tuhan, loh. Berani berbohong, bisa dikemplang. Kalau ngga mampir di ICU, yaaa, ngantri peti." Recky tersenyum mendengar ucapannya, begitu juga dengan Carren.
π±Apa maksudmu dengan begini, begini?" Carren ngeledekin Recky, untuk mengalihkan pembicaraannya. Karena ucapan Recky, membuatnya merinding.
π±"Ngga usah diperjelas. Kau mau membuka kartuku?" Recky bertanya, sambil tersenyum.
π±"Bagaimana aku mau membuka, kalau tidak pegang kartumu?" Carren menjawab dengan balik bertanya.
π±"Baiklah. Nanti kembali dari Jerman, aku akan berikan kartuku. Biar kau pegang dengan hatimu. Hehehe..." Recky makin lepas berbicara dengan Carren, ketika mendengar jawaban Carren terhadap candaannya.
π±"Kau bisa aja. Ooh iya, Recky. Kita udahan dulu, ya. Ini Mama telpon, sepertinya mereka mencariku." Carren melihat nama Mamanya di layar ponsel.
π±Ok, nanti setelah aku urus keberangkatanku, kita lanjutkan chat sampai kau tidur. Aku lagi bosan di sini, jadi ngobrolnya lewat chat saja sampai kau juga bosan. Hahaha..." Ucap Recky sambil tertawa, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Dia telah mendengar bunyi telpon di ponsel Carren berkali-kali.
β‘β’~Jangan lupa like, komen, vote danΒ favorit, yaa... ππ» Makasih~β’β‘
__ADS_1