Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Nyaris.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Saat keluar dari Nine Five Restaurant, Parry menggubungi sopirnya untuk menjemput mereka di lobby. Sambil berjalan, Parry mengimbangi langkah Carren yang lebih pendek darinya.


"Parry, apakah kau mengenal kedua teman Ayunna dan Liana tadi?" Tanya Carren, karena dia melihat kedua teman Ayunna dan Liana sangat terkejut melihat Parry dan tidak bisa menyembunyikan ketertarikan mereka.


"Kalau kenal sih, ngga. Tapi kalau pernah bertemu, sepertinya mungkin pernah. Tapi aku lupa, pernah lihat dimana." Parry ragu-ragu menjawab, karena dia merasa pernah melihat salah satu dari mereka.


"Apa mungkin mereka berdua kuliah di Wangsa juga bersama Ayunna dan Liana?" Tanya Carren lagi ingin tahu, karena penasaran dengan kedua teman Ayunna dan Liana yang agak berbeda sikapnya.


"Sepertinya, mereka ngga kuliah di Wangsa. Karena aku ngga pernah melihat mereka di sana. Kalau Ayunna dan Liana, aku masih melihat mereka sekali-sekali dari jauh. Tapi ngga pernah berpapasan, aku hanya melihat mereka dari dalam mobil." Parry menjawab dan menjelaskan sambil berpikir tentang kedua teman Ayunna dan Liana.


"Ooh, pantesan mereka sangat terkejut melihatmu. Mungkin mereka sekalangan dengan Ayunna dan Liana." Carren mencoba menebak, karena penampilan mereka hampir sama dengan Ayunna dan Liana. Menunjukan mereka anak orang berduit.


Carren langsung menutup bibirnya dengan ujung jarinya, saat Parry menatapnya dengan alis bertaut. Dia lupa, kalau Parry termasuk sekalangan dengan mereka.


"Mendengar ucapanmu itu, berarti aku sukses berpenampilan biasa hari ini." Parry berkata sambil tersenyum, ngeledekin Carren yang sedang merasa malu.


"Sudah dibilang, ngga usah dibahas. Kau tetaplah kau, Parry Hutama. Kalau mau bukti, mari kita berdiri sejenak, dan lihat apa yang terjadi." Carren balik ngeledekin Parry.


"Carren. Memang kita mau berdiri sejenak di sini, tunggu dijemput Pak Husin." Parry tersenyum, sambil berbisik. Membuat Carren mendorong lengannya, agar Parry menjauh darinya.


"Sebentar ya, Parry. Aku terima telpon dulu." Parry mengangguk, mengerti. Lalu Carren berjalan agak menjauhi dari Parry, saat melihat calon pengantin yang menelponnya.

__ADS_1


"Hi Parry, kau dengan siapa di sini?" Tiba-tiba seseorang menepuk lengannya sambil bertanya. Membuat Parry tersentak dan menengok ke samping.


"Ooh, Tante Marsha. Parry sedang menunggu sopir. Tante sendiri dengan siapa?" Tanya Parry, lalu mengirim pesan kepada Carren agar jangan mendekat.


"Tante bersama teman-teman yang di sana. Kami abis arisan dan lunch." Bu Marsha menjawab, lalu menunjuk teman-temannya dengan wajahnya. Parry melihat kearah yang ditunjuk Bu Marsha, wajahnya langsung berubah. Karena beberapa ibu sosialita berjalan ke arahnya dengan wajah tersenyum.


"Tante, maaf. Parry duluan, ya. Sopirku sudah di depan." Parry segera pamit, setelah menerima telpon dari sopirnya. Dia langsung kirim pesan untuk Carren, agar mengikutinya.


Sampai di dalam mobil, Parry menarik nafas lega. Dia bisa lolos dari Tante Marsha, pada waktu yang tepat. Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya, jika teman-teman Tante Marsha bartemu dengannya. Dia sangat bersyukur Pak Husin menghubunginya pada waktu yang tepat dan Carren sedang tidak bersamanya.


"Ada apa, Parry? Kau tegang sekali. Ibu yang tadi, siapa?" Tanya Carren, yang telah menyusul masuk ke mobil dan duduk di samping Parry. Carren terkejut menerima pesan Parry, sehingga memperhatikan seorang wanita paru baya yang sedang berbicara dengan Parry.


"Saudaranya Papi dan Tante sedang bersama teman-temannya. Kalau tadi melihatmu bersamaku, kita ngga jadi pulang. Tante akan mengajak kita balik ke restoran terdekat dan menginterogasi kita dari A sampai Z, balik lagi ke A, terus ke Z lagi." Parry menjawab dan menjelaskan sambil tersenyum lega.


"Astaga. Ditanyainnya bolak-balik seperti strikaan, dong." Carren berucap, lalu menutup mulut dengan telapak tangannya karena ketelepasan bicara.


"Hehehe... Bisa aja. Mungkin orang tua jadi begitu, rasa ingin taunya agak tinggi." Ucap Carren, menebak. Karena Mamanya kalau khawatir, suka bertanya banyak hal juga.


"Tuan muda, tadi Pak Agra sudah mengirim pakaian yang akan tuan muda kenakan nanti. Sudah saya letakan di belakang, tuan muda." Pak Husin menyampaikan apa yang sudah dilakukannya, saat tidak mendengar Parry dan Carren sedang berbicara. Parry sedang membalas pesan dari Papinya dan Agra.


"Baik, Pak Husin. Terima kasih. Tadi Pak Agra sudah hubungi saya." Parry dikirim pakaian, karena tiba-tiba ada pertemuan yang harus dihadiri. Pak Ariand telah berangkat ke Bandung untuk melakukan pertemuan di sana. Jadi Parry akan pergi bersama Agra ke pertemuan menggantikan Papinya.


"Carren. Aku ngga bisa mengantarmu, karena ada meeting yang harus aku ikuti. Nanti Pak Husin yang mengantarmu pulang, ya." Parry melihat Carren, saat sudah selesai membalas pesan dari Papinya dan Agra.

__ADS_1


"Iya, ngga papa. Kau konsentrasi untuk meetingmu. Nanti Pak Husin antar aku ke stasiun Gondangdia saja. Ada hal yang mau aku kerjakan juga. Mumpung sudah di luar, jadi sekalian aku kerjakan." Carren akan bertemu dengan calon pengantin yang telah menelponnya.


Calon pengantin yang menghubunginya tadi, minta bertemu dengannya hari ini. Karena ada hal penting yang akan mereka bicarakan dengannya. Jadi Carren bersedia bertemu dengan mereka, karena sekalian sudah di luar rumah.


"Oooh, kalau kau mau, Pak Husin bisa mengantarmu ke tempat yang kau tuju. Aku sampai sore baru membutuhkan Pak Husin." Parry berkata serius, sambil terus melihat Carren.


"Ngga usah, Parry. Aku akan menunggu kepastian tempat pertemuan dengan mereka di stasiun saja. Jadi aku akan lebih mudah ke tempat pertemuan. Karena tadi aku sudah minta tempat pertemuannya di stasiun terdekat. Jadi Pak Husin cukup mengantarku ke stasiun Gondangdia saja." Carren tetap menolak, karena dia sedang menunggu pesan dari calon pengantin dimana tempat pertemuan mereka.


"Kalau begitu, Pak Husin langsung saja ke stasiun Gondangdia, nanti baru kembali ke kantor dengan saya." Parry meminta sopirnya merubah arah ke stasiun Gondangdia. Dia langsung mengirim pesan kepada Agra untuk menunggunya.


Parry berpikir, Carren akan langsung pulang ke rumah. Jadi dia tidak bisa mengantarnya. Tetapi kalau hanya ke stasiun Gondangdia, dia masih keburu untuk ikut meeting bersama Agra setelah mengantar Carren.


Parry menengok ke belakang untuk melihat dan memeriksa Jas yang dikirim Agra untuknya. Karena dia hanya mengenakan kaos, dia minta dikirim kemeja juga. Melihat semua yang dikirim sesuai dengan yang dimintanya, dia merasa lega dan tenang. Semua dokumen akan dibawa oleh Agra, jadi dia bisa langsung ke tempat pertemuan.


Saat hendak berbalik, Parry melihat paperbag yang disimpannya di kursi belakang. Dia langsung berpikir cepat, dia mencoba memberikannya untuk Carren.


"Carren, yang ini kau ngga boleh tolak, ya. Ini hanya souvenir yang aku bawa dari Singa beberapa waktu lalu. Aku baru bisa kasih sekarang, karena baru bertemu denganmu." Ucap Parry, kemudian mengambil satu paperbag dari kursi di belakang lalu memberikannya kepada Carren.


"Mmmm, baiklah. Makasih, ya." Carren menerima paperbag dari tangan Parry tanpa melihat isinya. Dia tidak enak menolaknya, karena dia telah menolak tawaran pekerjaan dari Parry saat mereka di restoran. Jadi dia tidak mau menambah kekecewaan Parry dengan menolak pemberiannya.


"Sorry, salah. Itu bukan, yang ini punyamu." Parry berkata cepat lalu memgambil paperbag dari tangan Carren, kemudian menggantikannya dengan paperbag yang lain. Tetapi terlebih dahulu, dia mengambil isi paparbag sebelumnya dan dimasukan ke paperbag yang baru.


Melihat Carren menerima pemberiannya dengan senang hati, Parry sengaja menukar paperbagnya. Karena dia ada membelikan ole-ole yang lain juga untuk Carren. Dia khawatir Carren tidak menerima, jadi menahan yang satunya. Tetapi saat melihat reaksi Carren yang tidak protes saat menerima ole-olenya, Parry berani memberi yang lain lagi dengan menukar paperbagnya.

__ADS_1


"Makasih, Parry." Carren menerima pemberian Parry yang baru tanpa bertanya atau protes. Dia langsung meletakan paperbag tersebut dipangkuannya, saat melihat Parry memberikan isyarat OK dengan jarinya sambil tersenyum.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2