Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Keseruan di Lapak.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Hari berganti Minggu, Minggu pun berganti bulan, banyak bulan telah berlalu. Usaha WO Carren semakin maju dan dikenal oleh berbagai kalangan. Hal itu membuat perekonomian keluarga dan karyawan yang bekerja padanya makin membaik dengan seiring kenaikan pedapatan.


Semua itu membuat mereka semangat bekerja untuk memajukan usaha Carren. Mereka rela bekerja lembur sampai malam, jika diperlukan. Kadang mereka harus pulang larut, karena membongkar dekor setelah acara resepsi pernikahan. Mereka lakukan semua itu dengan senang hati, karena menyadari resiko pekerjaan yang mereka geluti.


Hari ini, Carren sudah bangun pagi. Dia telah mandi dan menunggu sarapan yang sedang dibeli oleh Mamanya. Dia berangkat kerja agak siang, karena akan langsung ke Jakarta utara. Dia mau melihat gedung yang akan dipakai untuk resepsi pernikahan. Dia akan diantar oleh Ichad dengan mobil yang dimilikinya.


Minuman untuk sarapan yang dibuatnya sudah hampir dingin, tetapi Mamanya belum juga pulang dari tempat tukang sayur. Mamanya pergi membeli sayur mayur dan lauk pauk skalian dengan sarapan.  Hal itu membuat Carren heran, karena Mamanya tidak biasanya seperti ini. Dia terus melihat ke pintu rumah, karena pintu pagar tertutup oleh mobil.


Ketika Carren berdiri dari meja makan untuk menyusul Mamanya, terdengar suara pintu pagar dibuka. Carren kembali duduk di meja makan, karena dia tahu Mamanya sudah pulang.


"Mama, Arra sudah lapar sekali. Arra hampir menyusul Mama ke tempat tukang sayur." Carren protes, ketika melihat Bu Nancy telah masuk ke dalam rumah sambil menjinjing kantong belajaan.


Carren berdiri mengambil belanjaan, lalu meletakan itu di dekat tempat cuci piring. Dia kembali duduk di meja makan tanpa membersihkan semua hasil belanjaan Mamanya, karena sudah lapar.


"Iyaa... Maafin, Mama. Tadi ada sedikit wawancara spontan, membuat Mama tertahan." Bu Nancy berkata sambil meletakan sarapan di meja makan dengan wajah tersenyum. Carren segera menatanya, agar bisa sarapan secepatnya. Dia tidak bertanya lagi tentang wawancara yang dimaksud Mamanya.


Flashback.


Bu Nancy sedang memilih sayur mayur dan lauk pauk di tempat tukang sayur langganannya. Karena datangnya masih pagi, semua yang dijual masih lengkap. Membuat Bu Nancy bisa memilih dengan bebas, apa yang mau dimasak. Tidak lama kemudian mulai berdatangan para Ibu tetangganya untuk berbelanja.

__ADS_1


Ketika sedang berpikir dan memilih sayur dan lauk untuk dimasak, Bu Nancy dikejutkan dengan teguran yang tiba-tiba. "Halo Bu Nancy, apa kabar? Sudah lama kita tidak bersua, ya." Bu Wawan yang baru datang, menyapa Bu Nancy dengan ceria.


Ibu-ibu yang ada di situ sudah mulai bersenggolan sambil tersenyum simpul melihat kedatangan Bu Wawan. Mereka sudah tahu sifat Bu Wawan yang suka pamer. Sambil memilih sayur dan teman-temannya, mereka melirik Bu Nancy dengan senyum ditahan.


"Oooh, halo Bu Wawan. Kabar saya, baik. Ibu yang apa kabarnya? Lama ngga kelihatan belanja di lapak ini (sebutan Ibu-ibu untuk tukang sayur langganan yang mangkal di dekat tempat tinggal mereka).


"Kabarku baik juga Bu. Iya, nih... Keseringan diajak mantu belanja di swalayan, jadi ngga ke sini, sini." Bu Wawan berkata sambil memilih yang dicari. Ibu-ibu yang lain mulai bersenggolan.


"Bagaimana Bu Nancy, apakah sudah ada yang datang ketuk pintu?" Bu Wawan mulai wawancara, tanpa persiapan. Bu Nancy melihat Bu Wawan dengan alis bertaut. Karena pertanyaan Bu Wawan tidak berhubungan dengan sayur mayur atau lauk pauk yang ada di lapak.


"Kalau ketuk pintu rumah belum, Bu Wawan. Tetapi kalau ketok pagar, sering. Mereka ngga perlu ketuk pintu rumah lagi, karena kami sudah membuka pagar." Bu Nancy menjawab dengan santai. Yang lain mulai cekikan dan memperlambat pilih sayur dan lainnya. Tukang sayur hanya bisa geleng kepala melihat Ibu-ibu yang mengaduk lapaknya.


"Bukan itu maksud saya Bu Nancy. Masa belum ada yang datang ketuk pintu untuk ngelamar putri Ibu. Beberapa hari lalu saya bertemu dan melihatnya masih jalan sendiri. Masa secantik itu belum ada yang mau sih, Bu." Bu Wawan melanjutkan wawancaranya. Bu Nancy mulai tersenyum sebagaimana ibu-ibu yang lain.


"Sayang loh, Bu. Masa secantik itu ngga punya pacar atau ngga ada yang mau? Jangan terlalu memilih, nanti susah dapat pacar, Bu. Anakku yang bungsu saja, sudah menikah. Jangan dibiarkan terlalu lama sendiri, Bu. Nanti keenakan dan ngga mau menikah." Bu Wawan mulai memberikan saran.


"Oooh, ngga papa Bu. Tuhan yang mengatur semuanya. Mungkin putri Bu Wawan ngga perlu ngantri untuk bertemu jodohnya. Sedangkan putriku masih harus mengantri. Mungkin nomor antrian jodoh putriku di angka yang besar, jadi harus menunggu waktu giliran bertemu agak lama." Bu Nancy berkata dengan tenang dan santai.


"Apa Bu Nancy ngga pingin punya cucu? Apalagi Caren hanya sendiri, sayang kan?" Bu Wawan belum puas wawancaranya. Bu Nancy memberikan semua yang sudah dipilihnya kepada tukang sayur untuk dimasukan ke kantong plastik. Begitu juga dengan ibu-ibu yang lain, mulai tentukan pilihan. Karena tukang sayur sedang menunggu dengan gemas.


"Saya sudah punya cucu banyak dari keponakan saya dan suami, Bu. Jadi dia ngga perlu buru-buru. Biarkan dia mewujudkan keinginannya. Sekarang lagi pingin kerja, biarkan saja. Nanti kalau sudah pingin menikah, orang tua ikut saja.

__ADS_1


"Tapi nanti makin lama, Ibu sudah ngga kuat momong cucu, loh." Bu Wawan masih penasaran dengan jawaban Bu Nancy.


"Kalau soal itu, gampang Bu Wawan. Sudah ngga kuat gendong cucu, letakin cucu di kereta bayi, ajak bermain. Sekarang sudah ngga perlu repot-repot seperti dulu."


"Tetapi menikah itu, bukan supaya dapatkan cucu saja, Bu Wawan. Ada banyak hal lain yang lebih berarti, untuk mau menikah. Harus dapat suami atau istri yang sepadan, bisa saling mengerti dan menerima kekurangan masing-masing. Kalau bisa dapat anak itu bonus, karena mereka telah dipandang layak menjadi orang tua." Ucap Bu Nancy lagi.


"Ooh iya, putra Bu Wawan yang tertua sudah menikah berapa tahun, ya?" Bu Nancy yang balik mewawancarai, tidak mau diwawancarai terus.


"Ooh, dia sudah menikah tiga tahun lebih, Bu. Istrinya itu yang suka mengajak saya belanja di swalayan. Maklum, dia bekerja di perusahan besar dan anak orang berada. Jadi suka manjain saya dan adik-adiknya." Bu Wawan mengeluarkan yang sudah ditahannya sejak tadi. Mau memamerkan menantunya kepada ibu-ibu yang ada di lapak.


"Oooh, ternyata mereka menikah sudah lama juga, ya. Perasaan belum lama kami pergi ke acara resepsi pernikahannya yang mewah dan meria itu." Bu Nancy berkata sambil memberikan uangnya kepada tukang sayur. Begitu pun dengan ibu lainnya.


"Ooh, ternyata Bu Nancy masih ingat, ya. Pesta yang mewah dan meria itu, menantuku yang rencanakan dan biayai semuanya. Itulah rejeki anak saya, bisa dapat istri dari kalangan orang gedongan." Bu Wawan berkata dengan bangganya, tetapi ibu-ibu makin bersenggolan sambil mulut mereka ditutup rapat agar tidak tertawa lepas.


"Yaa, ingat dong Bu Wawan. Di lingkungan sini belum ada yang melaksanakan resepsi pernikahan anak-anaknya semewah dan semeria itu. Di gedung yang mewah lagi, jadi tetap diingat." Bu Nancy berkata santai dengan wajah tersenyum.


Hati Bu Wawan makin berbunga-bunga mendengar pujian Bu Nancy. "Ooh iya, Bu Wawan. Sekarang mereka sudah dikaruniai berapa orang anak?" Tanya Bu Nancy tenang dan santai.


"Naah, yang itu Bu. Sampai sekarang mereka belum punya anak. Mereka sedang melakukan pengobatan, karena anak saya sudah kepingin punya anak." Bu Wawan menjawab tanpa berpikir lagi. Beliau sedang membuka persoalan rumah tangga anaknya.


"Ooooh... Jadi Bu Wawan belum punya cucu, dong. Ternyata anak menikah cepat atau lambat, tidak menjamin kita bisa cepat memiliki cucu, ya. Yang sabar ya, Bu Wawan." Bu Nancy dan ibu lainnya yang sudah bayar berpamitan. Mereka pulang ke rumah meninggalkan Bu Wawan yang berdiri tercengang bersama tukang sayur yang sedang tersenyum dikulum sambil merapikan jualannya.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2