
~•Happy Reading•~
Aaric mengangkat Carren dengan berbagai rasa di hatinya. Setelah Carren berdiri di depannya, dia lalu memeluknya. "Tempatmu di sini, di dadaku." Bisik Aaric pelan, tangan kanannya memegang belakang kepala Carren lalu meletakan kepalanya di dada dan tangan kirinya memeluk punggung Carren dengan sayang. Dia menikmati sejenak, kemesraan yang dirindukannya.
"Jika aku lelah atau banyak persoalan, cukup kau lakukan seperti ini. Kau sudah memberikan kekuatan untukku." Bisik Aaric lagi, saat Carren melingkar lengan dan memeluk pinggangnya. Carren mengangguk pelan, karena dia merasakan hal yang sama ketika Aaric memeluknya. Hatinya plooong, dan tenang. Aaric mencium puncak kepala Carren yang ada dalam pelukannya, lamaaa... Detakan jantung mereka yang tidak beraturan, menyadarkan Aaric.
"Sekarang kau coba lihat di dapur. Mungkin di kulkas ada sesuatu yang bisa kita minum. Aku akan ke kamar untuk mengambil ole-ole yang kubawa untukmu." Ucap Aaric, menjaga dirinya dan Carren lalu melepaskan pelukannya. Carren mengangguk mengerti lalu melepaskan pelukannya.
Aaric berjalan ke kamar sambil menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Karena dia ingin mencium Carren lebih dari pada itu. 'Hampir saja, lepas kontrol.' Ucap Aaric dalam hati, dan menepok dahinya mengingat hampir turun mencium bibir Carren. Jika itu terjadi, dia sudah tahu kelanjutannya.
Di dalam kamar, Aaric menghubungi Jekob lalu membuka koper yang dibawanya dari Swiss. Kemudian dia mengeluarkan ole-ole yang di bawanya untuk Carren. Dia membawa bawaannya, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur dan meletakan semuanya di atas meja makan.
"Arra, ada minuman apa yang kau temukan di kulkas?" Tanya Aaric sambil mendekati Carren yang sedang memeriksa isi kulkas. "Tidak ada minuman yang bisa kita minum, Kak. Ini hanya ada beberapa kaleng bir." Jawab Carren sambil menunjuk isi kulkasnya kepada Aaric.
"Ooh, iya. Sebelum berangkat, aku sudah minta Bibi membawa yang bisa dibawa. Karena aku tidak tau, akan kembali ke sini secepat ini. Dari pada ada yang expired, lebih baik di bawa Bibi." Aaric mengingat pertemuan terakhir dengan Bibi, sebelum dia berangkat ke Sydney.
"Ini coba lihat, aku hanya bisa bawa coklat untukmu. Aku belum tau kesukaanmu, semoga kau suka coklat." Aaric menunjukan satu kotak coklat dari berbagai jenis. Carren tersenyum senang, saat melihat isi kotaknya.
__ADS_1
Dulu dia sangat suka coklat, tetapi tidak bisa membelinya. Dia teringat Papanya selalu membawa pulang sebatang coklat silver, saat gajian. Setelah punya uang, dia suka membeli beberapa batang coklat saat pergi ke swalayan/supermarket.
Kini di depannya, ada banyak coklat dan semua coklatnya belum pernah dilihat di swalayan/supermaket yang dia kunjungi di Jakarta. Hal itu membuatnya sangat senang.
"Terima kasih, Kak." Ucap Carren lalu tiba-tiba memeluk Aaric dengan hati riang. Aaric terdiam, lalu mengusap punggung Carren. "Simpan dulu semuanya di kulkas, nanti dikeluarkan saat mau pulang." Ucap Aaric, lalu Carren melepaskan pelukannya. Dia mengambil kotak berisi coklat lalu memasukannya ke kulkas. Aaric hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ada saat tertentu, sesuatu yang Aaric lakukan atau ucapkan membuat Carren secara refleks ingin memeluknya. Perhatian dan kasih sayang Aaric bagaikan magnet yang menariknya untuk selalu ingin memeluknya.
Aaric membuka kotak lain yang dibawanya lalu memasukan isinya ke dalam lemari kitchen set. "Arra, kau mau coba minum hot chocolate ini?" Tanya Aaric sambil menunjuk sachet hot chocolate di tangannya. Carren mengangguk, lalu mengambil sachet hot chocolate dari tangan Aaric.
"Kak Aaric mau dibuatin juga?" Tanya Carren, dan Aaric mengangguk mengiyakan. Carren meminta Aaric menyalahkan kompor untuk panaskan air. Carren memperhatikan yang dilakukan Aaric, karena kompor gas moderen Aaric berbeda dengan kompor gas biasa yang ada di rumah. Dia takut mencobanya sebelum melihat caranya. Dia sudah melihat juga isi dapur saat Aaric berada di kamar, jadi mudah menemukan letak cangkir dan perangkat makan lainnya.
"Sangat enak, Kak. Tidak terlalu manis, rasa coklat dan manisnya sangat pas." Ucap Carren, lalu berdiri mengambil bekas sachet hot chocolate untuk melihat mereknya. Dia ingin membeli seperti itu, jika ke swalayan nanti.
"Apa yang kau lakujan dengan itu?" Tanya Aaric tidak mengerti. "Ooh, ini Kak. Aku lagi lihat mereknya, supaya nanti akan membeli yang ini saja kalau ke supermarket." Aaric tersenyum mendengar yang dikatakan Carren.
"Itu belum ada di sini, jadi kau tidak bisa membelinya. Menurutmu, orang di sini akan menyukai produk itu walaupun mahal?" Tanya Aaric melihat ketertarikan Carren terhadap produknya. Mereka tidak mendistribusikan di Indonesia, karena produknya agak mahal.
__ADS_1
"Aku tidak tau dengan orang lain, Kak. Tapi kalau aku, akan membelinya. Jika terlalu mahal, minumnya tidak usah setiap hari. Hehehe..." Carren tertawa mendengar ucapannya.
"Kalau soal harga, di sini ada banyak orang berduit, Kak. Kalau sudah coba ini, mereka akan membelinya lagi." Ucap Carren dengan yakin, karena rasanya sangat enak. Aaric mengangguk mengerti maksud Carren.
"Satu kotak yang belum dibuka itu, nanti dibawa pulang. Aku tidak minum tiap hari, hanya saat tertentu saja." Ucap Aaric, karena melihat Carren menyukai produk tersebut. Dia akan bicarakan dengan Jekob mengenai pendapat Carren tentang produk tersebut.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Carren langsung melihat Aaric dengan wajah bertanya. Dia mulai cemas, memikirkan jika Mama Aaric yang datang. Dia pernah bilang, tidak ada hubungan dengan Aaric, pasti akan dibilang tukang bohong.
Aaric tidak memperhatikan perubahan wajah Carren, karena langsung berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Ketika melihat Jekob, Aaric langsung membuka pintunya. "Maaf, Pak. Agak terlambat datang, karena tadi tertahan penga ca ra..." Ucapan Jekob terputus-putus, saat melihat bossnya tidak sendiri.
"Jekob, kenalin. Itu Nona Carren." Aaric memperkenalkan Carren kepada Jekob, karena mereka belum pernah bertemu secara langsung. Jekob mengangguk hormat ke arah Carren, begitu juga dengan Carren. Dia mengangguk hormat dengan hati lega, karena bukan Mama Aaric yang datang.
Carren mendekati Jekob dan menyalaminya. "Saya Carren, Pak." Ucap Carren sopan. "Ini asistenku, Jekob. Panggil saja Jekob." Ucap Aaric melihat sikap Carren yang formal. "Maaf, Kak. Aku panggil Pak Jekob saja." Carren merasa sungkan untuk menyebut nama Jekob saja, karena Jekob lebih tua darinya. Aaric mengangguk mengerti, lalu membiarkannya.
Carren membersihkan meja makan dan mencuci cangkir yang digunakan. Sedangkan Aaric mengajak Jekob ke ruang tamu. "Pak, kenapa minta saya datang, jika Nona Carren ada di sini?" Jekob sedikit protes, karena tidak menyangka Carren ada di apartemen bossnya. Tadi saat telpon, Aaric hanya memintanya datang ke apartemen, tanpa mengatakan ada Carren. Dia merasa akan menjadi pengganggu kesenangan bossnya.
"Sudaaa, jangan protes. Ini bagian dari pekerjaanmu untuk menjaga ketertiban dan keamanan." Ucap Aaric serius tapi hatinya tersenyum mendengar ucapannya. Jekob refleks menutup mulutnya, karena mengerti maksud bossnya. "Siap, Pak. Dipercepat?" Tanya Jekob dengan hati senang. "Iyaaa..." Ucap Aaric singkat, tapi kembali tersenyum dalam hati karena mengerti arti pertanyaan Jekob.
__ADS_1
~●○♡○●~