Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tertusuk


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Leon sedang menuju Goropaku Restaurant untuk makan siang. Dia telah menerima email dari Asisten Pak Ariand, bahwa dokumen kerja sama kedua perusahaan manufaktur terbesar di Indonesia itu sudah ditanda tangani dan minta waktu untuk bertemu dengannya.


Leon bersedia bertemu tetapi tidak di kantornya, melainkan di Goropaku Restaurant, karena dia akan makan siang di restoran tersebut. Sehingga sebelum tiba waktu makan siang, Leon bersama asistennya menuju restoran yang telah direservasi untuk pertemuan dan makan siang mereka.


Asisten Pak Ariand, yang mewakili Hutama N & P Corp setelah menerima email tentang tempat pertemuan, segera menuju Goropaku Restaurant. Sambil menunggu kedatangan Leon, Agra membaca email laporan sekretaris Pak Ariand yang telah dikirim untuknya saat rehat rapat.


Saat Leon tiba, Agra berdiri menyambut dan menyalaminya dengan hormat. Setelah Leon duduk, Agra menyerahkan dokumen yang telah ditandatangani oleh Pak Ariand. Leo memeriksa semua kelengkapan dokumen yang diberikan oleh Agra, dan menandatanganinya. Setelah dicap oleh kedua pihak, mereka menyimpan masing-masing dokumennya.


Leon memberikan dokumen tersebut kepada asistennya untuk disimpan. "Semoga kerja sama kita ke depan bisa berjalan baik dan lancar, Pak Leon." Ucap Agra, lalu menjabat tangan Leon dengan hangat. Leon menyambut jabat tangan Agra, sambil tersenyum dan mengangguk.


"Ooh iya, Pak Agra. Apakah di Hutama ada menerima pegawai baru?" Leon bertanya, mengingat permintaan adiknya. Dia sengaja tidak menerima kedatangan Agra di kantor, agar bisa berbicara santai dengan Agra perihal keinginan adiknya.


"Maksud Pak Leon, bagaimana? Kami menyediakan ruangan untuk pegawai Piltharen yang berkantor di Hutama, sebagaimana perjanjian kerja sama kita." Agra bertanya, karena belum mengerti maksud dari pertanyaan Leon.


"Bukan pegawai dari kantor kami, Pak Agra. Tetapi apakah saat ini kantor Hutama ada menerima pegawai baru?" Tanya Leon, lebih menjelaskan maksudnya.


"Ada seorang wanita yang hendak saya rekomendasikan untuk bekerja sebagai pegawai Hutama bukan dari Piltharen. Dia baru lulus kuliah, dan mau cari pengalaman kerja di kantor seperti Hutama." Leon menjelaskan lagi.


"Apakah wanita ini baik, jujur dan bisa dipercaya, Pak Leon?" Tanya Agra mengingat permintaan pimpinannya untuk sekretaris putranya.


"Kalau itu, saya jaminannya. Saya tidak akan mengajukan sembarang orang untuk bekerja di kantor sebesar Hutama. Karena untuk di kantor saya juga, mengutamakan hal tersebut." Leon meyakinkam Agra.


"Kalau Pak Leon sudah berbicara seperti itu, saya percaya dan akan memberikan kesempatan untuknya. Kami sebenarnya belum membutuhkan tambahan pegawai baru. Tetapi ada satu bagian yang sedang mencari sekretaris." Agra menjelaskan kepada Leon, kenapa dia menerima tawarannya.


"Pak Leon bisa mengatakan kepadanya agar datang menemui saya besok jam sepuluh untuk interview. Saya sendiri yang akan menginterviewnya." Ucap Agra tenang dan meyakinkan. Dia berharap, inilah sekretaris yang bisa mememuhi standart pimpinanannya agar dia tidak perlu mencari lagi.

__ADS_1


"Baik, Pak Agra. Terima kasih untuk bantuannya. Untuk pertemuan dan interviewnya, saya serahkan kepada Pak Agra. Kalau orangnya tidak sesuai dengan standart Hutama, tidak usah diterima." Leon mau Agra bersikap profesional saat menerima Riri bekerja. Oleh karena itu, dia tidak mengatakan adiknya yang direkomendasikan.


Bagi Leon, walaupun Riri tidak diterima oleh Hutama sebagai pegawai di sana, Riri tetap akan bisa berkantor di Hutama sebagai pegawai Piltharen. Jadi dia tidak perlu menyampaikan itu kepada Agra, bahwa adiknya yang akan datang.


Asisten Leon hanya mendengar dalam diam, karena tidak mengetahui siapa wanita yang sedang direkomendasikan oleh pimpinannya. Dia memberikan isyarat kepada waiters untuk mendekati meja mereka, setelah menerima isyarat dari pimpinannya untuk menyiapkan makan siang.


Sambil menunggu menu disajikan, Leon dan Agra membicarakan kelanjutan kerja sama perusahaan mereka. Persiapan ruang kerja bagi pegawai Piltharen dan kapan waktu yang tepat mereka sudah bisa menempati ruangan tersebut.


Agra sangat senang dan menghormati Leon, karena tidak bersikap seperti seorang pimpinan saat mereka hendak makan. Sangat berbeda saat bertemu dengannya di kantor Piltharen. Pembawaannya yang tenang dan hangat, membuat orang merasa tenang dan tidak tertekan. Dia tidak seperti sedang berbicara dengan seorang boss besar.


Tidak lama kemudian, menu makan siang mereka disajikan dan mereka menikmatinya. Di sela-sela makan, Agra menceritakan kenapa pimpinananya tidak bisa datang bertemu, karena sedang ada rapat direksi.


"Tidak mengapa, Pak Agra. Nanti saya akan menemui Pak Ariand saat penempatan pegawai kami di sana." Leon memaklumi, karena dia juga kadang berada di posisi yang demikian.


Saat mereka sedang makan, mereka  dikejutkan oleh suara orang yang datang menyapa. "Leon, bisakah kita berbicara sebentar?" Karena keasyikan mengobrol dan makan, Leon tidak menyadari kehadiran Sophia yang telah berdiri di sampingnya.


"Aku tinggal sebentar, Pak Agra. Ada yang membuat makananku nyangkut, perlu diguyur. Silahkan teruskan makan siangnya." Leon pamit kepada Agra dan memberikan isyarat kepada asistennya untuk menemani Agra makan dan berbicara.


Setelah melihat asistennya mengangguk mengerti, Leon berjalan ke meja yang lain di sudut ruangan restoran tersebut. Sophia berjalan mengikuti Leon dengan hati senang, karena Leon mau memberikan kesempatan berbicara baginya.


Kemudian Leon memberikan isyarat kepada waiters untuk mendekati mejanya yang baru. "Saya minta air mineral satu, ya." Ucap Leon santai lalu balik menghadap Sophia, dengan tenang dia menanti apa yang akan dibicarakankan oleh Sophia.


Tidak lama kemudian, waiters membawa segelas air mineral pesanan Leon. Dia mengambil gelas tersebut dari tangan waiters, lalu meneguknya dalam satu kali tarikan nafas. Sophia tercengang melihat apa yang dilakukan Leon. Dia mengira Leon pesan minuman untuknya.


Setelah selesai minum, Leon kembali tenang dan diam menunggu. Menyadari sikap yang ditunjukan Leon, Sophia segera berbicara. "Leon, maafkan aku." Akhirnya dia bisa berbicara, karena khawatir Leon tidak memberikan banyak waktu untuknya.


"Aku telah memaafkanmu." Ucap Leon tenang, membuat hati Sophia sedikit lega.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita bisa seperti dulu lagi, kan?" Tanya Sophia, dan mulai bersikap mamace (manis manja ceriah).


"Sebenarnya, kau sedang minta maaf atau minta pacaran lagi?" Leon menjawab pertanyaan Sophia dengan balik bertanya, tenang dan serius. Mendengar pertanyaan Leon, Sophia agak panik. Dia tidak menyangka Leon yang humoris bisa bertanya seperti itu dengan serius.


"Jika kau sudah memaafkanku, berarti kita bisa kembali bersama seperti dulu lagi, bukan?" Sophia bertanya dengan was-was, saat mendengar pertanyaan Leon.


"Meminta maaf dan meminta pacaran, adalah dua permintaan yang berbeda. Kau minta maaf, aku sudah maafkan. Bukan berarti dengan memaafkan otomatis bisa pacaran lagi." Leon berbicara serius, sambil menatap Sophia.


"Saat mengetahui siapa kau sebenarnya, aku sudah menghapusmu dari semua ingatanku. Itu bagian dari memaafkanmu. Jadi tidak ada lagi kenangan atau namamu di pinggiran perjalanan hidupku." Ucap Leon dengan rahang mengeras.


"Ketika bertemu denganmu, aku berpikir semua orang sama, tidak ada perbedaan dalam strata kehidupan sosial. Mau kaya, mau sederhana, yang penting perilakunya baik. Bisa membangun hidup bersama tanpa melihat perbedaan itu."


"Tetapi kau hanya memanfaatkan kehidupan orang lain untuk kesenangan dirimu sendiri. Aku ini manusia, bukan batu yang bisa kau pakai sebagai tempat loncatan untuk mencapai tujuanmu." Leon berkata tenang dan tegas.


"Leon, kau tau aku sangat mencintaimu." Senjata terakhir Sophia untuk meluluhkan hati Leon. Dia tahu, Leon sangat menyayanginya.


"Sebelumnya aku mengira begitu, tetapi barang yang palsu tidak akan bertahan lama. Suatu saat akan terlihat keasliannya, seberapa kuat kau menutupinya." Ucap Leon lagi.


"Sekarang ini tiba-tiba kau datang minta maaf kepadaku. Apakah kau merasa bersalah atas perbuatanmu? Atau di luar sana tidak ada lelaki yang bisa memberimu makanan enak?"


"Atau tidak ada lelaki yang bisa membeli baju, tas dan sepatu branded untukmu? Atau lelaki itu tidak bisa memberimu liburan mewah?" Tanya Leon beruntun dengan sinis, mengingat perbuatan Sophia yang mengakalinya untuk bisa hidup senang dan bermewah-mewah bersama simpanannya.


"Leonardo, kau sangat keterlaluan padaku. Aku akan mengembalikan semua yang kau berikan untukku." Sophia menjadi kesal dan putus asa melihat sikap Leon yang sangat tidak diduganya.


"Aku yang keterlaluan atau kau yang tidak sadar diri? Jika kau masih muncul di sekitarku dengan alasan apapun, sikapku tidak akan selunak ini." Leon menatap Sophia lekat, lalu berdiri meninggalkan Sophia yang tercengang.


Temannya memberitahukan padanya, Leon sedang berada di Goropaku Restaurant. Sophia berpikir ini adalah kesempatan untuknya bisa bertemu dan berbicara dengan Leon. Karena Leon tidak mungkin menolak atau berkata kasar padanya di tempat umum. Tetapi yang terjadi tidak seperti dipikirkannya. Leon berbicara pelan, tapi menusuk sampai ke usus duabelas jari.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2