
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, Riri kembali masuk kerja seperti biasanya. Hanya sekarang dia membawa mobilnya sendiri dan berpenampilan tidak sesederhana sebelumnya. Dia mengenakan bluose kesukaan yang dimilikinya sebelum bekerja di Hutama sebagai dalaman blasernya.
Tetapi memasih tetap mengenakan kacamata.
Sedangkan blaser dan rok, masih yang dibeli bersama kakaknya. Dia merasa, tidak perlu lagi untuk menyembunyikan identitasnya, karena Parry telah mengetahuinya. Tanpa disadari, ada yang memperhatikannya saat turun dari mobil di tempat parkir Hutama Building.
"Belum lama menjadi sekretaris, sudah punya mobil, ya. Berlagak sebagai sekretaris sederhana yang sopan dan baik, ternyata hanya untuk menjerat boss yang polos." Riri langsung melihat siapa yang sedang berkata-kata. Dia tahu, ucapan itu ditunjukan kepadanya. Saat melihat siapa yang sedang menyindirnya, Riri tersenyum.
"Selamat pagi, Mba' Anez. Hari ini saya sengaja pakai mobil, karena kemarin rambutku baru dicreambath. Sayang kalau kena udara yang agak berbau. Kasihan boss saya, bisa mual sepanjang hari." Jawab Riri tenang. Dia telah mendengar isu yang berkembang di kantor selama menjadi sekretaris Parry. Anez tidak suka padanya, karena dia berharap akan dipilih menjadi sekretaris Parry setelah boss sebelumnya, Naina meninggal.
Ternyata hanya asisten Almh Naina yang tetap dipertahankan dan ditunjuk sebagai asisten Parry. Sedangkan dia ditempatkan di bagian lain. Hal itu membuatnya sakit hati, tapi tidak bisa berbuat sesustu, karena masih mau bekerja di Hutama.
Selama ini, dia tidak punya alasan untuk mencela Riri sebagai sekretaris Parry. Sebagai sekretaris, Riri lebih kompeten darinya. Sebagai seorang wanita, Riri jauh lebih cantik darinya. Dengan penampilan Riri yang sederhana selama ini, dia merasa sedikit lebih dari Riri yang tidak mengerti fashion, menurutnya. Sedangkan dia selalu tampil fashionable, menurutnya.
Tapi saat melihat penampilan Riri pagi ini, membuat mulutnya gatal untuk menyindir Riri. Selama ini mereka tidak bertemu di tempat parkir, karena Riri masuk lewat pintu masuk utama sebaimana karyawan lainnya. Hari ini mereka bertemu, karena sama-sama membawa mobil.
Mendengar yang dikatakan Riri, dia melengos, lalu berjalan cepat meninggalkan Riri yang sedang melihatnya dengan heran. Anez tidak berani berkata atau berbuat lebih, karena dia menyadari posisi Riri lebih menguntukan daripadanya. Riri jadi percaya apa yang dikatakan karyawan bagian pengebangan tentang Anez kepadanya.
Melihat semua itu, Riri hanya tersenyum tipis lalu naik ke ruang kerjanya. Dia tidak mau memasukan ke hati, sehingga merusak harinya. Dia mulai mempersiapkan semua yang dibutuhkan oleh bossnya. Begitu juga dengan Nusa, asisten Parry telah sibuk bekerja sebelum boss mereka datang.
Tidak lama kemudian, Parry tiba dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Riri dan Nusa langsung berdiri dan menyapanya. "Alle, ikut saya." Parry berkata, setelah membalas sapaan mereka. "Baik, Pak." Ucap Riri, lalu meletakan semua yang dipegangnya di atas meja. Dia segera masuk mengikuti Parry yang sedang menunggunya.
__ADS_1
"Bagaimana, Pak?" Tanya Riri setelah berdiri di depan Parry. Dia merasa sedikit heran melihat sikap Parry saat memintanya masuk ke ruangannya.
"Kau masih diijinkan untuk bekerja di sini?" Tanya Parry, sambil melihat Riri dengan serius.
"Iya, Pak. Bapak mau pecat saya?" Tanya Riri, karena tidak mengerti yang dimaksudkan oleh Parry.
"Panggil saja namaku, jika tidak ada orang dan lagi bicara hal yang pribadi. Sekarang aku bukan membicarakan pekerjaan. Apakah orang tuamu masih menginjinkanmu bekerja di sini, atau kau sendiri yang memaksa?" Tanya Parry, untuk meyakinkan dirinya.
"Oooh, itu. Ayah dan Ibu ngga katakan apapun. Berarti aku masih bisa bekerja di sini. Hanya Kakakku yang mau bertemu denganmu. Apakah kau bersedia bertemu dengannya?" Tanya Riri ragu-ragu, karena dia tahu kakaknya minta bertemu bukan urusan pekerjaan.
"Boleh, kau atur saja waktu dan tempatnya." Parry mengerti maksud kakaknya ingin bertemu dengannya, bukan membicarakan bisnis mereka.
"Baik. Kalau hari ini, kau bisa? Biar nanti sekalian makan siang." Riri bertanya, karena Parry kadang-kadang makan siang bersama dengan orang tuanya. Dan itu sering terjadi di luar shcedulenya.
Setelah Riri keluar ruangan, Parry menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia duduk terhenyak dan merasa sefldikit lega. Tadi dia terkejut saat masuk kantor dan melihat Riri sudah masuk kerja. Padahal dia berpikir sepanjang malam tentang Riri dan keluarganya. Setelah bertemu dengan orang tuanya di pesta pernikahan Recky dan Liana, Parry berpikir Riri tidak akan diijinkan bekerja lagi oleh orang tuanya.
Sebelumnya dia tidak tahu siapa Riri sebenarnya, jadi dia tidak berpikir Riri akan berhenti bekerja, kecuali dia yang memecatnya. Riri pasti membutuhkan pekerjaan ini, jadi akan bertahan bekerja bersamanya. Tetapi sekarang dia sudah mengetahui, Riri seorang putri dari keluarga konglomerat yang tidak membutuhkan pekerjaan ini. Jika dia mau bekerja, bisa bekerja di perusahaan orang tuanya.
Parry mulai merasa terganggu memikirkan akan berhadapan dengan sekretaris baru. Sedangkan dia sudah merasa nyaman bekerja dengan Riri. Hal itu sudah dia rasakan sebelum mengetahui status Riri yang sebenarnya. Sehingga dia meminta Riri mendampinginya ke pesta pernikahan Recky dan Liana.
Sepanjang malam dia berpikir. 'Apakah Riri menyukainya sehingga mau bekerja di Hutama bukan di Piltharen? Ataukah dia hanya mencari pengalaman kerja di Hutama?' Parry terus berpikir dan bertanya dalam hatinya. Dia bersyukur, perusahaan kedua orang tuanya bukan sebagai saingan, tetapi partner bisnis. Jika saingan, dia akan berpikir lain dengan Riri bekerja di Hutama.
Tidak lama kemudian, Parry menerima chat dari Riri yang menyampaikan bahwa kakaknya bisa bertemu hari ini, saat makan siang. Membaca itu, Parry hanya menjawab OK.
__ADS_1
Menjelang waktu istirahat siang, Parry keluar dari ruangannya dan mengajak Riri untuk keluar. "Pak Nusa, kami mau keluar istirahat lebih awal, karena ada pertemuan pribadi. Jika ada yang mencari, tunggu sampai saya kembali." Parry berkata tenang dan tegas.
"Baik, Pak." Nusa berkata dan mengangguk hormat. Begitu juga, Riri pamit dengan mengangguk hormat kepada Nusa dan segera berjalan mengikuti Parry.
Saat tiba di tempat parkir khusus para Direktur dan telah berada dalam mobil. "Maaf, Parry. Tadi kau ngga bilang mau berangkat lebih awal, jadi aku bisa siap-siap. Sekarang kau menengok ke kanan, karena aku mau lepasin blazerku." Ucap Riri, lalu segera melepaskan blazernya. Dia hanya mengenakan blouse lengan 3/4 berenda yang cantik. Dia rasa cukup pantas untuk pergi makan bersama Parry dan Kakaknya.
"Iyaa. Tadi aku lupa memberitahukanmu. Ngga enak kalau kakakmu yang menunggu kita." Ucap Parry, setelah Riri katakan dia sudah rapi.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di Goropaku Restaurant. Parry merasa lebih tenang, karena mereka tiba terlebih dahulu dari kakaknya Riri. Sehingga dia bisa mengatur nafas dan berpikir dengan tenang, apa yang akan dibicarakan dengan kakaknya Riri.
Ketika melihat Leon telah masuk dan berjalan ke arah mereka, Parry berdiri dan menyalaminya dengan hangat. "Terima kasih, Pak. Sudah mau datang bertemu dengan kami." Ucap Parry dengan formal.
"Karena sekarang bukan pertemuan bisnis, panggil saja seperti Riri memanggilku." Leon berbicara pelan dan bersikap lebih santai, karena melihat Parry sedang berusaha bersikap yang pantas kepadanya.
"Aku ingin bertemu ini, karena baru tahu dari pembicaraan orang tuaku bahwa kau sudah tau, siapa Riri. Jadi aku mau bertanya secara pribadi, apakah Riri masih mau bekerja di Hutama, begitu juga sebaliknya. Aku bertanya begini, untuk kenyamanan dalam bekerja." Leon berkata serius.
"Aku mengerti, Kak. Semua keputusannya aku serahkan kepada A... Riri, bagaimana baiknya. Aku sendiri belum bisa memutuskan sesuatu, karena semua terjadi tiba-tiba. Selama ini, aku hanya tau Riri seorang pekerja." Parry berkata pelan, karena dia sudah siap jika kakaknya Riri tidak ijinkan Riri bekerja lagi dengannya.
"Riri, bagaimana denganmu? Karena kalian sudah saling mengenal, kau bekerja di Hutama atau Piltharen, sama saja." Ucap Leon memberikan kode kepada Riri, bahwa Riri pasti akan bisa bertemu dengan Parry, walaupun dia bekerja di Piltharen.
"Iyaa, Mas. Untuk sementara ini, Mas ijinkan Riri bekerja di Hutama, ya. Karena ada yang menjadi pertimbangan Riri untuk tetap bekerja di Hutama." Riri berkata dengan mata memohon. Leon melihat isyarat mata adiknya dan juga melihat Parry yang memandang Riri dengan terkejut.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1