Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kisah di Hari H (8).


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren mencengkram tangan Ayunna yang sedang menarik rambutnya. "Kau masih main kasar dengan bajumu seperti itu? Aku hitung sampai dua, tidak melepaskan rambutku, kau akan rasakan akibatnya." Ucap Carren lalu mulai menghitung. Ayunna yang tidak menganggap serius peringatan Carren, tetap memegang rambut Carren.


Pada hitungan ke dua, Ayunna belum melepaskan tangannya dari rambut Carren. Karena dia berpikir, Carren tidak mungkin akan melakukan sesuatu kepadanya di tempat yang terbuka seperti ini. Walaupun tempat mereka berdiri cendrung sepi, karena para tamu sudah berkurang. Hanya orang terdekat keluarga yang masih ada dan duduk bercengkrama.


"Aku sudah katakan, hanya berikan kesempatan untukmu sampai hitungan ke dua. Kini kau rasakan hitungan ketiga, keempat dan kelima." Ayunna langsung melepaskan rambut Carren, karena tangannya dipelitir oleh Carren setiap dia menyebut angka. Tangan Ayunna sangat sakit dan seperti terbakar. Bunyi pelintiran Carren membuat Ayunna terkejut dan memegang tangannya sambil merintih, minta dilepaskan oleh Carren.


Karena Ayunna telah melepaskan tangan dari rambutnya, Carren membalikan badannya menghadap Ayunna tanpa melepaskan tangan Ayunna dari genggamanannya. Hal itu membuat Ayunna merintih kesakitan.


"Dulu aku membiarkanmu memandikanku dengan air berlumpur. Tapi sekarang jangan berharap aku akan berdiam diri seperti dulu. Jika kau coba menggangguku, aku akan mematahkan tanganmu yang satu lagi, supaya kau tidak bisa menggagu orang dengan tanganmu yang tidak dididik ini" Ucap Carren dengan serius dan marah. Ayunna hanya bisa merintih.


"Kenapa kau tidak menarik rambut dia yang telah menikungmu, tetapi malah datang menarik rambutku? Apa kau takut padanya? Atau aku ada mengorek borokmu?" Carren bertanya sambil menatap Ayunna dengan emosi dan serius.


"Sakit di tempat lain, mau ngobatin di tempat lain? Hari ini, kau salah memilih tempat untuk mengobati rasa malu dan terluka ditikung teman sendiri. Sama seperti kau salah memilih bajumu, yang tidak bisa menutupi borok di hatimu." Ucap Carren lalu melepaskan tangan Ayunna dengan hentakan membuat Ayunna makin merintih kesakitan.


Ayunna segera berjalan cepat kembali masuk ke dalam ruangan resepsi, untuk mengambil tasnya sambil memegang tangan kanannya dengan tangan kiri. Dia mau ke mobil untuk mengobatin tangannya yang terasa sangat sakit.


Carren lalu berjalan ke arah tempat berkumpul para karyawannya untuk melihat perkembangan terakhir acara resepsi Recky dan Liana. Mereka belum bisa melakukan sesuatu, karena acara belum berakhir. Selain itu, hotel ini milik keluarga Liana, sehingga mereka bisa pakai sepuas dan sesuka hatinya. Hal itu sangat menyulitkan Carren dan semua yang bertugas. Tidak bisa prediksi jam berapa akan berakhir.


Carren yang masih terkejut dengan apa yang terjadi, hendak menghubungi Rosna. Dia tidak menyangka bisa melakukan seperti itu kepada Ayunna. Dia berjalan sambil berpikir, apa yang baru dilakukannya. Hatinya jadi kasihan kepada Ayunna, karena sekarang tangannya pasti sangat sakit. Dia bersyukur, tidak menggunakan semua kekuatannya, sehingga tangan Ayunna tidak sampai cedera.

__ADS_1


Dalam berbagai perasaan dan pikirannya, tiba-tiba tangannya diambil oleh seseorang dan jari telunjuknya dibaluk dengan sapu tangan. Carren terkejut dan hendak menatik tangannya, tetapi tangannya dipegang dengan kuat. Kemudian jari telunjuknya dimasukan kedalam mulut orang tersebut.


Hal itu membuat Carren makin terkejut, lalu melihat kepada orang yang melakukannya, dengan panik. Dia berusaha menarik tangannya dengan wajah mulai memerah. Matanya membulat dan jantungnya berdegup kencang dan tidak beraturan. Membuat dia menutupi mulut dengan tangan kirinya, lalu turun ke dada untuk menenangkan debaran jantungnya. Dia melakukannya bergantian, membuat orang yang ada di depannya tersenyum dengan matanya.


Tidak berapa lama, saat merasa sudah cukup, dia mengeluarkan jari Carren dari mulutnya lalu menutupi dengan sapu tangannya. "Apa yang kau pikirkan sampai tidak menyadari jarimu sedang terluka? Biarkan tanganmu begini dan tunggu di sini, saya akan pergi ambil obat." Orang yang menolongnya berkata lalu segera meninggalkannya.


Carren hanya diam terpaku dengan wajah memerah, diperlakukan demikian. Jantungnya berdegup makin tidak beraturan, walaupun orang tersebut telah meninggalkannya. Carren lalu melihat jarinya yang mulai terasa peri dan ada tetesan darah di lantai.


Ternyata saat mencengkram tangan Ayunna secara refleks, Carren tidak merasakan jarinya terluka oleh perhiasan yang dikenakan oleh Ayunna. Rasa kesal, marah dan sakit dikepala karena rambutnya ditarik, membuat Carren mengabaikan hal yang lain. Sehingga saat memghentakan tangan Ayunna ada goresan luka pada jarinya.


Rosna yang datang mencarinya, terkejut melihat Carren yang masih tertegun sambil memegang tangannya. "Kak Carren, kenapa?" Tanya Rosna membuat Carren tersentak dan menyadari lingkungannya.


"Ros, kau ada bawa obat dan plester? Tolong obatin jariku ini, ya. Tapi sebelumnya, kau tolong bersihkan tetesan darah itu dengan tissu basah, agar jangan diinjak orang." Rosna segera mengeluarkan tissu basah dari tas doraemonnya dan mulai membersihkan tetesan darah di lantai.


Carren tidak menjawab, tetapi terus menarik nafas panjang dan membuangnya berkali-kali untuk menenangkan debaran jantungnya. Dia mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan tangan kirinya, saat Rosna mulai mengobati jarinya. Rosna selalu membawa obat standart untuk mengobati mereka yang terluka jika sedang dekor. Apalagi jika mereka dekor dengan bunga segar.


"Kak, Ichad. Apakah aku harus ke rumah sakit? Ini jantungku tidak bisa berdetak dengan teratur. Apakah aku kena serangan jantung, karena lukaku ini?" Tanya Carren polos, sambil terus mengipasi wajahnya yang tetap merasa panas.


"Astaga, iya Kak Ichad. Mari bawa Kak Carren ke rumah sakit yang terdekat di sini. Lihat wajah Kak Carren masih seperti udang rebus." Ucap Rosna dan ikut mengipasi wajah Carren dengan kedua tangannya.


"Astaga, kalian berdua sama saja. Carren kalau dibawa ke rumah sakit saat ini, dokter yang memeriksa detak jantungnya dengan stetoskop akan pecah gendang telinganya." Ichad berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Kak?" Tanya Rosna yang tidak mengerti dengan ucapan Ichad.


"Carren sedang jatuh cinta." Bisik Ichad pelan kepada Rosna dan Carren.


"Kak Ichad bicara ngawur. Rosna tolong ambilkan aku minuman. Jangan dengarkan Kak Ichad." Carren berkata dengan salah tingkah dan wajahnya kembali makin memerah. Melihat itu, Ichad tertawa.


"Siapa pria yang tadi berbicara denganmu?" Tanya Ichad menyelidik.


"Aku ngga kenal, baru pernah melihatnya." Carren menjawab dengan wajah tersipu. Rosna kembali mendekati mereka sambil membawa minuman. Carren mengambil dan meminumnya perlahan, untuk menenangkan debaran jantungnya dan juga mengurangi rasa panas di wajahnya.


.***.


Di sisi yang lain, Sapta datang mendekati Aaric sambil membawa obat yang dimintanya. Ketika hendak ke tempat Carren, Aaric tidak jadi meneruskan langkahnya karena Carren sedang diobatin.


Melihat yang dilakukan teman-teman yang sedang mengipasi wajah Carren yang memerah, Aaric tersenyum dalam hati. "Sapta. Nanti kau tolong cek, siapa wanita itu dan segera laporksn kepada saya." Aaric berkata kepada keamanannya, sambil menunjuk Carren dengan matanya.


"Sekarang, bagaiman dengan Jekob? Apakah semuanya lancar dan terkendali?" Tanya Aaric, karena Sapta baru kembali memeriksa keadaan Recky dan Jekob. Aaric tidak mau menggunakan telpon, karena tahu dia sedang diawasi oleh Mamanya.


"Tadi tuan muda Recky sudah berangkat terlebih dulu dan sejauh ini aman, Pak Sekarang mereka sedang mengikuti Pak Jekob." Mendengar itu, Aaric segera bergegas.


"Segera cek wanita itu, saya tunggu di mobil. Kita tidak punya banyak waktu." Aaric berkata lalu meninggalkan Sapta, karena melihat sudah mulai terjadi kepanikan di dalam ballroom.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2