
...~•Happy Reading•~...
Recky melihat kakaknya dengan serius, karena Aaric sedang menunggunya berdiri untuk mendekatinya. "Aku bisa melawan kakak, ngga?" Tanya Recky, tapi masih duduk. Dia belum berdiri seperti yang diminta oleh kakaknya.
"Melawanku? Bukankah kau sudah melawanku saat mengirim tenaga dalam itu?" Tanya Aaric sambil melihat Recky yang belum berdiri.
"Waaah... Itu bukan melawan, kak. Itu hanya iseng, saat melihat kakak berdiri sambil melihat halaman belakang dengan tangan di saku. Entah dari mana timbul niat untuk mengganggu kakak. Semacam rasa penasaran, ingin tahu apa yang kakak pikirkan sampai tidak tau aku sudah ada di dekat kakak." Ucap Recky sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Aku jadi iseng dan bilang, kakak siap-siap, aku mau kirim tenaga dalam. Kakak saja yang tidak percaya, jadi cium rumput. Padahal aku cuma sentuh punggung kakak, doang. Apa benar, aku punya tenaga dalam ya, kak?" Recky bertanya sambil tersenyum. Aaric tersenyum dalam hati, karena saat itu dia sedang memikirkan Carren. Melihat hamparan rumput di halaman belakang rumahnya, akan sangat menenangkan jika bisa bersama Carren.
"Aku sedang tidak bercanda. Ayooo, duduk dekatku." Ucap Aaric lagi, kembali ke tujuan awal meminta Recky mendekatinya, sambil menepuk tempat di sampingnya.
"Aku duduk di sini saja, Kak. Aku curiga, kakak akan ketekin aku." Ucap Recky, mencoba becanda sambil kembali menggaruk kepalanya.
"Biasanya kau senang nempel seperti perangko. Kenapa sekarang tidak mau?"
"Karena wajah kakak duarius, bukan serius lagi."
__ADS_1
"Iyaa, karena yang mau aku bicarakan denganmu limarius. Jadi mari duduk di sini, di dekatku." Aaric tetap berkata dengan serius, karena dia mau membicarakan masalah serius dan Recky harus ada di dekatnya, agar bisa mengendalikannya.
Dengan terpaksa, Recky berdiri lalu berjalan mendekati kakaknya dan duduk di sampingnya. Aaric menarik nafas panjang baru berbicara dengan Recky. "Sebagaimana pernah aku katakan saat di Aussie, keluarga kita terlibat dalam kematian Naina." Aaric mulai menceritakan persoalan yang sedang terjadi dengan keluarganya.
"Beberapa hari lalu kasusnya mulai digelar. Pak Hutama sudah berbicara denganku. Iblis di rumah dan Gungun sekarang sudah di tahan di kantor polisi, menunggu proses selanjutnya." Aaric segera mengelus punggung Recky yang tiba-tiba menegang.
"Jadi kita harus bersiap-siap, terutama kau. Jika kasusnya mulai disidangkan, mungkin saja ada yang mengetahui hal itu, dan mulai bertanya-tanya padamu. Kau bukan selebritis, tetapi kau ada sangkut paut dengan iblis itu." Aaric berbicara pelan, sambil tetap mengelus punggung adiknya. Recky hanya diam sambil menunduk.
"Dalam hal ini, aku tidak bisa mencegah agar orang lain tidak tau. Keluarga Sunijaya memiliki banyak musuh atau ada yang tidak suka pada mereka. Sehingga ini adalah kesempatan bagus meniupnya untuk menjatuhkan mereka. Aku tidak berbicara mengenai kekayaan, tetapi nama baik. Jika kekayaan mereka raib karena kasus ini, tidak akan berdampak terhadap kita. Tetapi jika orang media mengendus ini, mereka akan mengejarmu untuk menanyakan pendapatmu memiliki keluarga seperti itu." Aaric berusaha berbicara pelan dan tenang, agar Recky juga bisa tetap tenang.
Padahal batin Recky sedang bergolak, mengetahui akan ada persidangan yang melibatkan keluarganya. Biar bagaimanapun, dia seorang Biantra akan diincar para awak media. Lawan bisnis keluarganya bisa membocorkan namanya, karena dia anak dari Bu Sunny dan juga cucu dari Pak Sunijaya.
Dia kembali menunduk memikirkan apa yang akan terjadi. Akan sangat memalukan, jika wajah Mama dan Opa nya terpampang di berbagai media masa.
"Sebenarnya aku belum membawanya ke kantor polisi, tetapi mau membicarakan dulu dengan Pak Hutama, bagaimana baiknya. Tetapi wanita itu yang membawa dirinya sendiri untuk ditangkap." Ucap Aaric pelan sambil mengingat peristiwa di ruang kerja Jekob sambil tangannya terus mengelus punggung Recky yang ada di sampingnya.
"Itu mengenai masalah yang menyangkut Naina. Sekarang masalah yang menyangkut kita." Ucap Aaric tetap berusaha tenang, tetapi menggeser duduknya mendekati Recky. Tangannya tetap berada di punggung adiknya.
__ADS_1
"Bebrapa hari lalu, dalam waktu yang hampir bersamaan. Aku mendapat informasi, wanita itu telah menggugat cerai Papa dan sekarang mereka sudah bercerai." Recky yang mendengar itu, sangat terkejut dan langsung berdiri. Secara refleks Aaric menarik kaos yang dikenakan Recky untuk menahannya tetap duduk.
"Aaahhhh...." Recky kembali duduk dan mengeluarkan rasa kesalnya hanya dengan erangan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Mungkin itu lebih baik buat iblis itu." Ucap Recky sambil menarik rambutnya karena kesal.
"Kakak, besok aku ngga jadi balik ke Aussie. Aku mau ke Malang melihat Papa. Baguslah iblis itu meninggalkan Papa saat mau berada di balik terali besi. Jadi Papa tidak perlu repot-repot mengurus iblis tidak bertanduk itu." Hati Recky tetap bergolak, mengetahui orang tuanya sudah bercerai dan dia ingin bertemu dengan Papanya.
"Dia menceraikan Papa setelah semua yang Papa lakukan padanya dan keluarganya? Bukannya pergi ke Malang untuk melihat keadaan Papa, malah menceraikannya. Dia benar-benar iblis yang tidak berhati." Recky berkata dengan geram dan emosi. Aaric hanya diam mendengar sambil memegang kaos di punggungnya.
"Jadi benar apa yang sering aku dengar saat berada dengan keluarga itu, setelah kakak pergi. Opa sengaja menikahkan mereka, agar supaya bisa dapat keturunan bagi keluarga mereka." Recky berkata, sambil mengingat apa yang dikatakan keluarga Opa nya.
"Aku pernah mendengarnya, saat Opa marah Papa tidak membawa kita untuk berkumpul dengan keluarga besar. Kau ingat, Papa membentak wanita itu, saat mau menyeretmu untuk dibawa ke acara keluarga besarnya? Karena dia tahu, jika kau pergi aku akan ikut pergi. Mungkin Papa sudah dengar desas desus itu, jadi lebih memilih membiarkan kita di rumah bersama pelayan." Aaric jadi mengingat masa kecil mereka.
"Bukankah yang mengatakan ingin melihat anak-anaknya sekolah tinggi sampai keluar negeri adalah Papa? Ternyata Papa sudah memikirkan semuanya untuk menghindari kita kumpul di keluarga itu. Dan wanita yang bodoh itu berpikir, dia yang menyekolahkan kita sampai ke luar negeri." Ucap Aaric sambil mengingat yang dikatakan Papanya saat mereka hendak tidur. Aaric juga mengingat ucapan Mamanya saat memarahinya.
"Kalau dia tidak bodoh, sekarang tidak di penjarah. Sudah bodoh, licik dan jahat lagi. Lengkap untuk bersekutu dengan iblis." Ucap Recky kesal, marah dan geram mengingat apa yang dilakukan Mamanya kepada Papanya.
"Sekarang, tenangkan dirimu dan dengar baik-baik. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita, tidak untuk orang lain, termasuk orang tua kita. Jika itu yang mereka anggap baik, kita bisa berbuat apa." Aaric berbicara sambil mengelus punggung Recky untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Aku akan katakan ini, supaya kau dengar dariku tidak dari orang lain. Karena ini tidak bisa ditutupi, lambat laun, kau pasti akan tau." Aaric menarik nafas panjang dan memegang kaos di punggung Recky dengan erat.
...~●○♡○●~...