
~•Happy Reading•~
Carren masih menatap Aaric. Walaupun jantungnya berbedar tidak beraturan saat menatapnya. Hatinya tersentuh mendengar namanya di sebut oleh Aaric. Itu adalah nama panggilan kesayangan Alm Papanya kepada Carren. Dan seterusnya, hanya Mamanya yang memanggilnya demikian. Tidak ada yang pernah memanggilnya Arra, selain kedua orang tuanya.
Merasa diperhatikan, Aaric mengangkat wajahnya dari ponsel, lalu melihat Carren. "Kenapa melihatku seperti itu? Kau tidak suka jika aku memanggilmu Arra?" Tanya Aaric, saat melihat Carren menatapnya dengan tertegun. Carren langsung menggelengkan kepalanya, karena tidak bisa berkata-kata.
Ketika mendengar orang lain memanggilnya demikian, rasanya sangat berbeda. Apalagi dari seorang pria yang belum dikenalnya. Sekarang bukan saja wajahnya yang menghangat, tetapi juga hatinya. Ada perasaan yang berbeda, dirasakan oleh Carren. Perasaan yang dia sendiri tidak bisa mendefenisikannya.
"Baik. Respon panggilanku, walaupun sibuk. Kau tunggu sebentar, aku akan memanggil sopirmu." Aaric membuka pintu mobilnya dan hendak turun. Tetapi kembali melihat Carren yang masih diam tertegun. "Arra, kau tidak apa-apa?" Tanya Aaric khawatir. Carren mengangguk kuat berkali-kali untuk meyakinkan Aaric, agar bisa meninggalkannya.
Aaric menutup pintu mobil dan berjalan menuju mobil di belakang mobil Carren. Sopir Carren telah turun. Karena telah diijinkan oleh Jekob, saat melihat Aaric telah turun dari mobil Carren. Pak Kusman mengangguk hormat kepada Aaric, walau dia sendiri merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Aaric. Sikap dan keberadaan Aaric membuat orang di sekitarnya merasa segan kepadanya.
"Pak, hati-hati saat jalan pulang nanti. Tolong jaga Nona Carren saat mengantarnya." Ucap Aaric, lalu memasukan tangannya berisi uang ke kantong celana Pak Kusman. Gerakan Aaric yang cepat membuat Psk Kusman tidak menyadari telah diberikan sesuatu oleh Aaric. Pak Kusman mengangguk hormat kepada Aaric saat Aaric menepuk bahunya, lalu berjalan ke arah mobilnya.
"Jekob, jangan ajak saya berbicara. Kau boleh istirahat." Aaric berkata, ketika sudah berada di dalam mobil. Dia memasang earphone, lalu menyandarkan punggungnya. Posisi yang Jekob sudah mengerti, bossnya tidak mau diganggu.
.***.
Di sisi lain ; Carren masih melihat ke arah Aaric berjalan ke mobil, sehingga bisa mengetahui, sopirnya telah kembali. Dia langsung menatap ke depan saat sopirnya telah naik dan duduk dibalik kemudi.
__ADS_1
"Maaf, Nona Carren. Tadi mereka tiba-tiba minta membawa mobil Nona. Katanya ada perlu dengan Nona. Nona kenal dengan tuan yang tadi." Ucap Pak Kusman, melihat Carren sedang diam dengan wajah yang berbeda.
Carren mengambil botol minum di sampingnya lalu minum, untuk menenangkan pikiran dan hatinya agar bisa berbicara baik dengan sopinya. "Iya, Pak. Ngga papa. Tapi lain kali jangan lakukan lagi, ya. Karena saya sangat terkejut, tiba-tiba melihat bukan bapak di situ. Saya kira sedang buka pintu mobil orang." Carren mengerti yang dikatakan oleh Pak Kusman, tetapi dia juga harus mengingatkan Pak Kusman untuk berhati-hati. Jika orang yang bermaksud jahat padanya meminta demikian, bisa lain ceritanya.
"Iya, Nona. Akan saya perhatikan. Apakah AC nya kurang dingin?" Tanya Pak Kusman, karena melihat wajah Carren memerah dan sedang mengipasi wajanya dengan tangan kirinya.
"Ngga usah, Pak. Ini sudah cukup. Terima kasih." Ucap Carren lalu nerhenti mengipasi wajahnya, karena mengerti msksud pertanyaan Pak Kusaman.
"Sekarang kita langsung ke kantor, Nona?" Tanya Pak Kusman lagi, karena itu adalah rencana semula. Carren akan melihat karyawannya yang sedang lembur.
"Ngga usah, Pak Kusman. Kita langsung pulang ke rumah saja. Saya ingin beristirahat." Carren berkata pelan, karena apa yang dialaminya dengan Aaric membuat hatinya tidak tenang. Dia mencoba bersikap biasa di depan Pak Kusman. Agar tidak timbul pertanyaan tentang Aaric yang tiba-tiba minta naik ke mobilnya.
Sehingga tadi saat melihat Carren turun dari mobilnya, Aaric merasa seprti pucuk dicinta ulam tiba. Aaric segera turun untuk mengikutinya, agar bisa bertukar sapa dengannya atau kalau bisa meminta nomor telpon pribadinya.
Saat berada dalam mobil Carren, dia telah memeriksa isi mobil dan juga memasang GPRS di dalam mobilnya. Dia selalu menyediakan alat tersebut di dalam mobilnya, karena dia sering membutuhkannya dalam keadaan darurat. Sekarang dia menganggap, hal yang berhubungan dengan Carren juga darurat. Sehingga dia memasangnya, tanpa membicarakannya dengan Carren.
Aaric merasa senang mendengar apa yang disampaikan Carren tentang dirinya kepada sopirnya. Dia bisa bersikap dewasa dan bijak dalam situasi yang tidak terduga.
Aaric mengagumi cara Carren menegur sopinya. Tidak dengan marah-marah atau membentak, padahal dia bisa melakukannya. Apa yang dilakukan oleh sopirnya adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan, karena Carren seorang wanita. Dia sendiri akan memecat sopirnya jika melakukan kecerobohan seperti itu. Memberikan kunci mobil tanpa seijinnya kepada orang yang tidak dikenal.
__ADS_1
Saat telah turum dari mobil, earphone tetap berada di telinganya dan hanya mengangguk saat Jekob pamit pulang. Aaric hanya melihat Jekob berjalan ke arah mobilnya, lalu berbalik dan masuk ke lift.
Saat sudah di dalam apartemen, Aaric tidak langsung berganti pakaian. Dia meletakan jasnya dan memantau perjalanan Carren. Ketika melihat mobil Carren telah berhenti dalam waktu yang lama, Aaric menandainya. Dia berpikir, Carren telah tiba di rumahnya. Dia meletakan ipadnya lalu masuk ke kamar untuk membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah.
Carren yang telah tiba di rumah, segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. "Arra, ngga mandi pakai sir panas?" Tanya Bu Nancy, saat mendengar bunyi suara air di kamar mandi. Bu Nancy sudah menyiapkan air panas untuknya.
"Ngga, Ma. Pingin mandi air dingin malam ini. Makasih." Ucap Carren yang membuka sedikit pintu kamar mandi untuk menjawab pertanyaan Mamanya. Bu Nancy hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menyiapkan secangir susu panas untuknya.
Setelah berganti pakaian, Carren keluar kamar untuk mengambil susu yang dibuat untuknya. Saat melihat Mamanya sedang mengaduk susu di cangkir, dia memeluk Mamanya dengan sayang. Bu Nancy menepuk pelan pipi Carren yang sedang meletakan kepala di bahunya.
"Ayooo, segera diminum mumpung masih panas. Ngga enak kalau sudah dingin." Ucap Bu Nancy, kembali menepuk pipi Carren, pelan. Carren melepaskan pelukannya, lalu duduk di meja makan untuk minum susu buatan Mamanya.
Bu Nancy ikut duduk menemaninya di meja makan. Ada perubahan diraut wajah Carren yang tidak seperti biasanya. Bu Bancy tidak bisa menjelaskannya. Dia tidak terlihat lelah seperti beberapa waktu belakangan ini.
"Ma, mengapa Mama memanggil Carran dengan nama Arra? Adakah memiliki arti tertentu, atau hanya sukanya Mama?" Carren bertanya, karena masih ingat dan penasaran tentang Aaric yang tiba-tiba memanggilnya dengan nama tersebut.
"Ada memiliki arti bagi Papamu. Ketika kau lahir, kami memberimu nama Carren seperti nama Mama Papamu. Saat kau mulai tumbuh, kondisi ekonomi kami sedang kurang baik, karena pekerjaan Papamu. Tetapi setiap pulang kerja, Papamu sangat senang melihatmu. Karena menurutnya, kau anaknya yang sangat cantik." Bu Nancy jadi teringat pada suaminya.
"Jadi saat menggendongmu, Papamu tidak pernah memanggilmu Carren, tetapi Arra. Menurutnya, kau seperti ornamen atau hiasan hati, yang membuatnya selalu merasa bahagia. Papamu berharap dengan memanggilmu demikian, hidupmu dan hidupnya diberkati. Arra itu, selalu diberkati." Bu Nancy menjelaskan, membuat Carren tertegun.
__ADS_1
~●●♡●●~