
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Sisil uring-uringan, karena hasil kerja karyawannya tidak memuaskan client. Semuanya tidak sesuai dengan keinginanan client yang telah disampaikan kepada Sisil. Hal itu membuat mereka protes, setelah selesai acara resepsi pernikahan di gedung atau pemberkatan di Gereja.
Seperti hari ini, pengantin dan keluarganya protes setelah acara pemberkatan di Gereja. Konsep dekor yang mereka inginkan tidak sesuai dengan hasil yang dibuat oleh Sisil. Hal itu membuat mereka mengajukan protes secara terbuka dan Sisil menjadi sasaran pelampiasan kekecewaan mereka.
Sisil hanya bisa diam menerima semua rasa kesal dan kecewa pengantin serta keluarganya yang sedang emosi. "Kalau tidak bisa mendekor, jangan membuat kami malu dengan dekorasimu yang norah ini." Ucap pengantin yang tidak happy, karena hasil dekorasi memperburuk foto pemberkatan mereka.
Setelah pengantin dan keluarganya meninggalkan Gereja, Sisil mendekati karyawannya yang sedang membersihkan ruangan Gereja dan merapikan perlengkapan dekorasi. "Apa kalian tidak bisa bekerja? Mendekor begini saja tidak becus. Apa kalian tidak mengerti yang aku sampaikan?" Sisil, memarahi kelima karyawan yang bekerja dengannya.
Salah seorang karyawan yang sedang membersihkan ruangan Gereja dan merapikan perlengkapan dekor membanting penyangga pot bunga yang sedang dibawanya lalu berbalik menghadap Sisil.
"Mengapa kau memarahi kami? Kami hanya mengikuti konsep yang kau berikan kepada kami. Apakah kau tidak lihat semua bunga dan slayer ini disediakan olehmu? Kami sudah berusaha membuatnya terlihat baik." Ucapnya emosi, karena tidak terima mendengar apa yang dikatakan Sisil.
"Iya, Mas Yogi. Seharusnya Mba' Sisil sendiri yang membuat konsep seperti yang diinginkan calon pengantin. Bukan suka-sukanya sendiri. Emangnya yang mau menikah itu Mba' Sisil? Aku saja sedih melihat mereka kecewa dengan hasil dekor kita." Ucap salah seorang karyawan wanita yang bekerja bersama empat pria lainnya.
"Apa kalian sedang mengajariku? Apa kalian merasa lebih tau dekor dariku? Kalau kalian tidak suka dengan cara kerjaku, silahkan cari kerja di tempat lain." Sisil menjadi emosi, karena bukan saja diprotes oleh pengantin dan keluarganya, tetapi juga para karyawan yang bekerja dengannya.
"Tanpa dibilang, kami akan pergi. Jadi sekarang bayar kerja kami, yang sudah kau nunggak sampai kali ini." Yogi langsung melepaskan semua perlengkapan yang ada di tangannya ke lantai dan mendekati Sisil.
Keempat rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan ikut mendekati Sisil. Karena mereka juga sudah tidak tahan bekerja dengan Sisil. Selain suka ngomel karena kesalahannya sendiri, dia juga suka memerintah tanpa bisa menjaga perasaan orang lain. Lagaknya seperti nyonya besar, yang hanya menyuruh tanpa mau membantu.
"Enak saja, minta bayaran. Bersihkan ini sampai selesai, baru aku bayar. Kalian sangka bisa menggertakku dengan cara receh begini?" Ucap Sisil berusaha galak, tetapi hatinya sedang was-was melihat Yogi dan yang lain berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Cindy. Jaga dia di situ, jangan biarkan dia kemana-mana. Yang lain, masukan semua perlengkapan ke dalam mobil dan bawa kunci mobil dua-duanya ke sini. Aku mau lihat, alasan apa lagi yang akan dia buat untuk menghindari bayar kita kali ini." Yogi yang sudah emosi, makin naik level emosinya. Dia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya pada Sisil, yang selalu mencari alasan untuk menunggak membayar upah mereka.
Ketiga rekannya melakukan apa yang diminta Yogi. Mereka menyerahkan dua kunci mobil kepada Yogi, setelah memasukan semua peralatan dekor ke dalam mobil.
"Ayooo, silahkan bayar kami dengan yang sebelumnya juga. Karena kami akan angkat kaki setelah itu." Ucap Yogi tegas, karena dia lebih tua dari rekan kerja yang lainnya, termasuk Sisil.
"Kau pikir aku bank yang selalu bawa-bawa uang? Aku harus pulang ke rumah baru bisa mengambil uang untuk membayar kalian." Sisil berkata dengan nada tinggi, untuk mengulur waktu.
"Ayooo, mari kalian semua naik mobil. Kau membawa mobil yang satu dan ikuti aku. Sampai di tempat, baru kita bicara lagi." Yogi berkata kepada salah satu karyawan, lalu menyerahkan kunci mobil.
"Kalau kau mau ikut dengan kami, silahkan. Tapi kalau tidak, kita akan bertemu di rumah Almh Tante Florens." Ucap Yogi tegas kepada Sisil, lalu berbalik keluar meninggalkannya. Dia tidak mau bersabar lagi, setelah mendengar yang dikatakan Sisil. Karena menurutnya, Sisil hanya mengulur-ulur waktu untuk membayar upah mereka.
Sisil yang terkejut dengan ucapan dan tindakan Yogi, segera menelpon adiknya untuk datang menjemput dengan motor. Dia harus sampai di rumah Bu Florens sebelum karyawan lainnya. Karena dia akan berbicara dengan suami Bu Florens sebelum mereka sampai di rumah.
Saat tiba di rumah Bu Florens, Sisil terkejut dan panik saat melihat Maxi, anaknya Bu Florens juga ada. Dia tidak menyangka Maxi telah pulang dari kantor. Dia tahu, Maxi tidak mudah diajak kerja sama. Berbeda dengan suaminya Bu Florens yang adalah Om nya.
"Mereka menyusul dari belakang dengan mobil, Kak. Mungkin sebentar lagi mereka sudah sampai. Aku duluan untuk siapin minuman, karena kami agak lelah bekerja hari ini." Ucap Sisil pelan, lalu menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka semua.
Semenjak Bu Florens meninggal, Sisil tinggal di rumah Om nya, karena Bu Florens tidak memiliki anak perempuan. Jadi dia bisa meneruskan usaha Bu Florens dan juga membantu mengawasi ART dan juga keperluan keluarga Om nya.
Tidak lama kemudian, Yogi dan keempat rekan kerjanya tiba di rumah Florens dan mereka bersyukur melihat Maxi ada di rumah bersama Papanya.
"Selamat sore Pak Frans dan Kak Maxi. Ini kami kembalikan kunci mobilnya. Sekalian kami mau pamit, setelah Sisil membayar upah kami. Jika selama ini kami ada lakukan kesalahan, kami mohon maaf." Ucap Yogi mewakili rekan kerjanya, langsung pada inti permasalahan.
__ADS_1
Karena saat melihat ada Maxi, Yogi makin berani menyatakan maksud hati mereka. Kalau hanya ada Pak Frans, dia agak sungkan untuk berbicara tegas.
"Ada apa ini, Yogi? Kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti itu? Ayoo, semua duduk dan mari kita bicarakan. Kita tunggu Sisil dulu, karena dia sedang menyiapkan minuman untuk kalian." Ucap Maxi dengan heran, karena tidak mengerti yang dimaksudkan Yogi.
"Maaf, Kak Maxi. Tadi kami sudah minum, jadi tidak minum lagi. Kami hanya mau minta pembayaran kami, lalu mau pulang." Yogi dan rekan kerjanya sudah tidak mau berlama-lama, bertemu dengan Sisil.
Mendengar itu, Maxi segera masuk ke dalam rumah untuk memanggil Sisil keluar. Melihat Sisil yang berlama-lama di dapur, Maxi makin curiga.
"Sisil, ayo cepat ke depan. Tidak usah bikin minuman, karena mereka sedang buru-buru mau pulang. Mereka menunggumu di luar." Maxi menahan Sisil yang hendak membuat minuman. Sisil meninggalkan yang akan dikerjakan, dan dengan berat hati mengikuti Maxi keluar.
"Silahkan kau membayar semua upah mereka, sebelum mereka pulang. Bukan hanya pekerjaan hari ini, tetapi juga yang sebelumnya." Ucap Maxi tegas kepada Sisil, setelah mendengar apa yang disampaikan Yogi.
"Tapi aku tidak ada uang sebanyak itu di rumah, Kak." Sisil terkejut dan panik, mendengar yang dikatakan Maxi. Dia tidak menyangka Om nya hanya diam mendengarkan, tanpa mau membantunya.
"Kalau begitu, kau segera ke ATM di depan. Kalian semua tunggu di sini sampai Sisil kembali." Ucap Maxi, sambil menyuruh adik Sisil mengantar Sisil dengan motor ke tempat ATM di depan komplek.
Saat Sisil sedang pergi ke ATM, Maxi berbicara dengan para karyawan dan meminta semua nomor telpon mereka. "Untuk sementara, kalian tunggu di rumah, ya. Nanti semua sudah beres, baru saya akan hubungi kalian." Maxi menyadari ada yang tidak beres dengan cara kerja Sisil.
Setelah Sisil kembali dan menyelesaikan semua pembayaran dengan karyawan, mereka pulang. Sedangkan dia duduk diam di depan Maxi. Sisil tidak bisa berputar-putar seperti biasanya, saat Maxi menyuruhnya membayar upah semua karyawan.
"Sekarang coba kau jelaskan caramu mengelolah usaha Mama selama ini. Dan melihat mereka berlima tadi, kemana Ichad, Akri dan Rosna?" Tanya Maxi, karena dia sangat mengenal mereka bertiga yang bekerja dari awal dengan Mamanya.
"Mereka tidak mau bekerja bersama kami lagi. Jadi belakangan ini, mereka tidak pernah ikut dengan kami untuk mendekor." Jawab Sisil terkejut, mendengar pertanyaan Maxi dan mencari alasan yang cepat dan terpikirkan olehnya saat itu.
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang kau telpon Ichad. Katakan padanya untuk besok jam enam sore datang ke sini." Maxi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sisil, setelah melihat perlakuannya terhadap kelima karyawan yang ada. Sisil mengambil ponselnya dengan sedih hati dan terpaksa menghubungi Ichad, karena Maxi terus memperhatikannya.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡