Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Masakan Kesukaan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Aaric menyadari, apa yang dikatakan Papanya ada benarnya, tetapi saat ini Papanya sedang ledekin dia. "Astagaa... Papa mikirnya sudah sampai ke sana. Jika terjadi demikian, lebih tidak repot lagi, sekalian saja pesan nasi dengan lauk-pauknya. Begitu saja, ko' repot." Ucap Aaric yang tidak pernah memikirkan hal itu dan juga balik ledekin Papanya


"Wanita hamil, sangat sensitif. Dia akan tau, sebelum memakan nasinya. Itu nasi yang dibeli atau dimasak sendiri. Percaya yang Papa katakan ini, karena Papa akan memberikan bocoran pada Carren saat dia hamil nanti." Ucap Pak Biantra tersenyum senang bisa ledekin Aaric, dan membayangkan mau punya cucu.


"Astagaaa, Papaa. Nikah saja belum, sudah bicarakan hamil segala. Sesuatu yang Carren lakukan dan aku tidak memberitahukan padanya, aku tau dia dapat bocoran dari siapa. Papa lihat tuh, jangan sampai aku salah memasak nasinya." Ucap Aaric dengan wajah makin memerah, mengingat Papanya akan berpihak kepada Carren dan membocorkan hal-hal yang dia tidak suka atau suka.


"Astaga, Aaric. Untung kau bilang. Kau belum tekan tombol untuk memasak/menanak. Begini Carren datang, dia akan masak nasi dan beras ini dibuang." Ucap Pak Biantra terkejut lalu menekan tombol untuk menanak.


"Sepertinya tadi aku sudah menekannya, kenapa jadinya belum, ya?" Tanya Aaric tidak mengerti. 'Apa karena dilihat Carren, jadi grogi sampai tidak tau sudah ditekan atau belum?' Tanya Aaric dalam hati.


"Sesuatu yang baru pernah dikerjakan itu, harus dicek ulang sebelum ditinggal, agar bisa yakin semuanya sudah sesuai dan tepat." Ucap Pak Biantra pelan, tetapi Aaric melihat Papanya dengan terkejut.


Baginya, yang dikatakan Papanya, merupakan suatu nasehat bukan hanya untuk memasak nasi, tetapi juga untuk pekerjaan dan juga penyelesain persoalan yang sedang diselesaikannya.


"Tetima kasih, Pa. Aku akan ganti celana, karena mau turun ke lobby untuk menunggu Carren. Jalanan ngga terlalu macet, jadi sebentar lagi sudah tiba." Ucap Aaric lalu ke kamar untuk menganti celana pendeknya dengan celana panjang.

__ADS_1


Kemudian dia mengambil kartu akses sambil memikirkan apa yang dikatakan Papanya. Kadang suatu ucapan yang tiba-tiba dari seseorang adalah suatu sinyal untuknya. Itu sering terjadi dan dia selalu memikirkannya sebagai nasehat atau peringatan.


Setelah mendapat info dari anggota keamanan yang mengantar Carren sudah mendekati apartemen, dia turun ke lobby untuk menjemput Carren. Saat Carren turun dari mobil, dia mengambil kantong dari tangan Carren dan menjinjingnya. "Apa ini, Arra. Ko' berat sekali dan masih hangat?" Tanya Aaric saat mereka sudah berada di dalam lift. Kantong yang dijinjingnya terasa berat dan hangat menyentuh pahanya.


"Aku ngga tau, Kak. Tadi saat ojolnya datang, aku mengambilnya dan langsung ke sini. Mama ngga bilang, masak lauk apa." Ucap Carren, karena tidak tahu membawa lauk apa. Tetapi dia percaya, masakan Mamanya pasti lezat. Apalagi mau diberikan kepada orang lain. Eeehh, kepada caman dan cabes.


"Kau cape' sekali? Apa pekerjaannya masih banyak?" Tanya Aaric sambil mengelus lengan Carren dengan tangan kirinya, karena Carren yang berdiri di sampingnya terlihat lelah. "Lumayan banyak, Kak. Karena sudah mendekati hari H, banyak yang harus diperiksa lagi agar jangan ada yang tertinggal." Ucap Carren senang dengan perlakuan Aaric padanya. Menenangkan dan meringankan beban pekerjaan yang sedang dikerjakannya.


Aaric melihat Carren dengan terkejut, karena mendengar hal yamg sama dikatakan oleh Carren dengan Papanya. Harus memeriksa lagi, agar tidak ada yang tertinggal. Dia makin serius menanggapinya, karena itu adalah sinyal baginya.


"Papa bilang saja sudah bosan dengan makanan dari luar, jadi senang Carren bawa lauk yang dimasak sendiri. Ngga usah tambah dengan yang lain-lain." Ucap Aaric lalu berjalan ke ruang makan dan meletakan lauk yang dibawa Carren di atas meja makan.


Carren selesai memberikan salam dengan mencium punggung tangan Pak Biantra, segera menyusul Aaric ke ruang makan untuk menyiapkan makan siang mereka. Aaric mengikuti Carren ke dapur saat Carren hendak memeriksa nasi yang dimasaknya.


"Bagaimana, sukses yang aku lakukan?" Tanya Aaric was-was, mengingat kejadian lupa menekan tombol menanak. "Iya, Kak. Sukses." Ucap Carren sambil mengangkat kedua jempolnya. Aaric bernafas lega sambil melihat Papanya yang sedang melihat mereka. Ternyata Pak Biantra juga was-was, khawatir nasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan.


"Sekarang Papa dan Kak Aaric tunggu di ruang tamu, ya. Biar aku bisa cepat menyajikan semuanya di meja makan." Carren berkata sambil menata perangkat makan di meja makan. Dia memeriksa lauk yang dimasak Mamanya lalu menyajikannya di meja makan.

__ADS_1


Ketika semua sudah tersaji, Carren memanggil Pak Biamtra dan Aaric untuk makan siang. "Waaaah... sudah lama ingin memakannya di Malang, eeeh.. taunya bisa makan di sini. Bilang Mama, terima kasih, ya." Ucap Pak Biantra sambil duduk di kursi. Beliau sangat senang, melihat masakan yang di bawa Carren adalah Rawon.


Aaric melihat Papanya yang sangat senang dengan heran. "Carren, ini apa? Ada lauk lain ngga?" Tanya Aaric, karena dia tidak suka melihat Rawon yang berwarna coklat kehitaman. Dia belum pernah memakannya, jadi sudah timbul rasa tidak suka terlebih dulu saat melihat penampilannya.


"Ada, Kak. Ayam dibumbu rujak, tapi untuk makan malam. Kakak coba ini sedikit dulu, ya. Kalau tidak suka, aku akan berikan ayam sebagai gantinya." Carren mengambil piring kecil dan mengambil sedikit rawon untuk dicoba Aaric.


"Sebelum dicoba, mari kita berdoa agar makanannya bisa dinikmati." Ucap Pak Biantra, karena sudah tidak sabar mau makan rawon kesukaannya. Aaric dan Carren mengikuti permintaan Pak Biantra untuk berdoa, karena mengerti ketidak sabaran Papanya.


Setelah berdoa, Pak Biantra langsung mengambil nasi sendiri. Carren membantu mengambil rawon dan memasukan ke dalam mangkok yang sediakan. Pak Biantra menambah toge sesuai seleranya dan membelah telur asin yang dibawa Carren. Mama Carren menyiapkan rawon lengkap dengan teman-temannya. Aaric melihat yang dilakukan Papanya dengan terkesima.


Dia mencoba sedikit kua rawon dan daging yang diletakan Carren di piring kecil. Ketika mencicipinya, dia baru menyadari kenapa Papanya begitu semangat memakannya. Ternyata rawonnya sangat enak. Dia memberikan isyarat kepada Carren, mau makan rawon saja.


"Itu seperti yang sering dikatakan, tak kenal maka tak sayang. Sudah kenal maka ...." Pak Biantra tidak meneruskan ucapannya, karena Carren sudah menceganya.


"Jangan mengucapkan kata ajaib lagi, Pa. Nanti kua rawon masuk ke hidung seseorang." Ucap Carren tersenyum, karena melihat wajah Pak Biantra akan ledekin Aaric yang mau makan rawon. Pak Biantra tersenyum, mengerti maksud Carren lalu meneruskan makan siangnya.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2