
...~•Happy Reading•~...
Carren masih berhati-hati menerima bantuan uang dari Aaric. Seperti permintaan Aaric akan mentransfer uang, agar Carren bisa membeli pakaian untuk acara pertunangan, Carren menolaknya dengan halus. Dia pergi ke Mall dengan Mamanya untuk membeli kebaya, kain dan lainnya dengan uangnya sendiri. Selain sekarang dia sudah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan Mamanya, dia menghindari penilaian negatif dari pihak Aaric tentang dirinya.
Aaric sangat mengerti itu, sehingga dia tidak memberikan uang tunai atau berencana untuk transfer seperti sebelumnya. "Pegang dan pergunakan saja, jika perlu. Aku percaya, kau bisa megaturnya dengan baik untuk keperluan yang memang perlu." Ucap Aaric serius, dan tidak mau dibantah. Carren mengangguk lalu menerimanya dan menyatukannya dengan kartu akses. Dia berpikir, daripada beradu argument, lebih baik dia menerima dan menyimpannya supaya tidak panjang pembahasan.
"Ada lagi yang kurang atau ada yang mau kau tanyakan? Mumpung komunikasi kita tidak tergantung atau terganggu sinyal." Aaric sudah merasa lega, karena Carren bisa mengerti dan mau menerima kartu yang diberikannya.
"Iya, Kak. Mungkin aku mau titip mobil yang di rumah, untuk parkir di tempat parkir apartemen ini. Sayang harus kena debu tiap hari atau harus parkir di depan rumah. Nanti mengganggu tetangga atau orang yang akan lewat di depan rumah." Ucap Carren mengingat mobil Recky yang terpakir di teras rumahnya. 'Mobil itu akan mempersempit ruang kerja tukang saat mereka hendak perbaiki rumah. Atau jangan sampai tergores oleh gerakan tidak sengaja tukang.' Pikir Carren, lebih baik mencegah daripada mengobati.
"Ok. Kau katakan saja pada mereka yang menjemputmu. Nanti salah seorang akan membawanya untuk parkir di bawah." Aaric mengerti kesulitan Carren, jika tukang mau perbaiki rumahnya dan mobil ada di teras rumahnya. Jekob sudah menceritakan kondisi rumah dan mobil Carren kepada bossnya, saat dia dan Sapta pergi menjemput Carren.
"Ada lagi yang mau kau bicarakan?" Tanya Aaric kembali serius, karena sedang berpikir juga bagaimana yang baik, jika dia tidak ada di Jakarta dan Carren akan memperbaiki rumahnya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi, Kak. Aku mau balik ke kantor, karena sebentar lagi sudah tiba hari H untuk acara pernikahannya. Aku harus cek lagi semua yang sudah disiapkan." Ucap Carren pelan, berharap Aaric bisa mengerti dan tidak menahannya untuk makan malam.
"Baik. Walaupun aku tidak ada, kau jangan bekerja seperti dulu lagi. Aku tidak melarangmu untuk bekerja, walau hatiku sebenarnya keberatan melihatmu bekerja seperti ini. Aku membiarkannya, karena pekerjaanmu berhubungan dengan kreatifitas dan sesuatu yang kau suka, jadi tidak mengapa. Tetapi jika kau bekerja hanya untuk mencari nafkah, aku akan melarangmu setelah kita bertunangan." Ucap Aaric serius, sambil melihat Carren dengan sayang. Dia berharap Carren bisa mengerti maksudnya dan mulai mengatur ritme kerjanya.
"Iya, Kak. Aku sudah mulai mengatur dan akan punya asisten yang bisa menggantikanku jika berhalangan. Oooh iya, Kak. Mari aku tunjukan lauk yang aku bawa untuk makan malam kakak dan Papa. Kakak tinggal hangatkan sebelum dimakan." Ucap Carren mengingat makan malam Pak Biantra dan Aaric, lalu berdiri dan mengajak Aaric ke dapur. Dia telah diberitahu Mamanya bahwa ada lauk untuk makan malam juga.
"Sebentar, aku panggil Papa. Supaya dua orang lebih baik, bisa saling mengingatkan. Aku belum pernah, jadi jangan sampai lauk itu tidak bisa untuk makan malam kami." Ucap Aaric sambil tersenyum mengingat tadi dia lupa menekan tombol untuk menanak nasi.
Dia ke ruang tamu untuk memanggil Papanya yang sedang asyik membaca di depan laptop. "Ayoo ke dapur, Pa. Carren mau balik ke kantor, jadi dia mau tunjukan lauk untuk makan malam kita. Nanti Jekob datang, Papa bisa mengajari Jekob untuk menyiapkan makan malam." Ucap Aaric serius, karena dia membutuhkan bantuan Papanya. Pak Biantra tersenyum mengerti, lalu mengikuti Aaric berjalan ke dapur.
"Iya, hati-hati. Jangan terlalu lelah bekerjanya. Nanti sering-sering ke sini nengok Papa, jangan hanya untuk bawa lauk saja baru ke sini." Ucap Pak Biantra sambil mengelus pundak Carren yang sedang mencium punggung tangannya untuk pamit. Pak Biantra sudah menganggap Carren seperti putrinya sendiri, bukan calon mantu.
"Iya, Pa. Aku akan usahakan. Tapi jika ngga bisa ke sini, Papa semangat, ya. Papa harus kuat dan sehat." Ucap Carren memberi semangat, karena Aaric telah berbicara dengannya tentang rencananya, mau membawa Pak Biantra ke salah satu rumah sakit di Swiss.
__ADS_1
"Iyaa. Papa pasti semangat dan sehat, karena kalian akan menikah dan Papa akan menjadi Eyang." Ucap Pak Biantra sambil tersenyum senang membanyangkannya. Carren jadi tersenyum malu, sambil memandang Aaric yang berjalan mendekati mereka.
"Berdua sedang bicara apa, sampai ada yang tersenyum malu seperti itu?" Tanya Aaric yang melihat wajah Carren memerah, karena malu. Pak Biantra dan Carren hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Aaric karena akan lama dan panjang pembicaraan selanjutnya.
"Ayooo, mari aku antar ke lobby." Ucap Aaric, karena tidak ada jawaban dari Carren atau Papanya. Sambil menggenggam tangan Carren, mereka berjalan keluar apartemen menuju lobby. Pak Biantra melihat kehangatan dan kasih sayang mereka dengan hati bersyukur. Putranya telah kembali menjadi pribadi yang hangat. Walaupun Aaric tidak mengatakannya, tetapi dari tindakannya, beliau tahu Aaric memang mencintai Carren.
"Arra, aku tidak bisa mengantarmu karena Jekob akan datang. Kami akan berbicara dengan Papa tentang rencanaku mau membawanya ke Swiss." Aaric menjelaskan, saat mereka sudah dalam lift.
"Iya, Kak. Ngga papa. Malah lebih baik begitu, supaya tiba di kantor aku bisa langsumg kerja. Jika kakak antar dan ikutan turun, akan terjadi keheboan di kantor. Karyawan akan banyak bertanya dan ledekin aku, akhirnya semua kerjaan akan tertunda. Bisa-bisa kami lembur, karena kebanyakan bicara daripada kerja." Ucap Carren merasa lega, Aaric tidak mengantarnya. Dia belum memberitahukan kepada karyawan, bahwa dia sudah bertunangan.
"Baik. Jangan lupa berdoa untuk semua yang sedang aku rencanakan. Semoga semua bisa berjalan dengan baik agar aku bisa cepat kembali ke sini. Oooh, iya. Jangan lupa rindukan aku juga." Ucap Aaric sambil tersenyum, lalu mencium puncak kepala Carren yang sedang berdiri di sampingnya.
"Kakak juga, jangan lupa rindukan aku. Eeehh, jangan lama-lama di sana ya, Kak. Semoga Papa baik-baik saja, supaya kakak cepat kembali." Ucap Carren tidak malu lagi menguangkapkan perasaan hatinya, yang akan merindukan Aaric. Secara refleks, Aaric mempererat pegangan tangan di pundak Carren lalu mengusapnya dengan sayang.
__ADS_1
...~●○♡○●~...