
~•Happy Reading•~
Carren masih memegang dadanya yang bergetar hebat. Dia ingin berbicara untuk minta tolong, tapi suaranya tidak bisa keluar. Pandangannya mulai nanar. Dia mengulurkan tangannya untuk menggapai Aaric yang sedang memandangnya.
Ketika melihat perubahan wajah dan reaksi Carren, Aaric segera melompat berdiri dan memberikan kode untuk keamanan yang sedang mengawasinya dari jauh. Melihat gerakan bossnya dia segeta berlari. "Tolong pegang tas dan sepatu Nona Carren dan bukakan pintu kamarku." Aaric menggendong Carren yang sudah hampir kehabisan nafas.
Sambil menggendong Carrem, Aaric berjalan cepat ke kamarnya. Dia meletakan pipinya di pipi Carren untuk tetap menjaga kesadaran Carren. "Arra, jangan membuatku takut. Bicaralah padaku." Ucap Arric sebelum meletakan Carren di atas tempat tidur di kamarnya.
"Arra, lihat aku dan tetap bersamaku." Aaric terus berbicara dalam kepanikannya, saat melihat mata Carren yang tidak fokus. Melihat kondisi bossnya dan Carren, keamanan segera berlari keluar mencari petugas resort untuk meminta dokter segera datang ke kamar bossnya.
Aaric terus mengajak Carren berbicara sambil mengusap pipinya. Sebenarnya dia sudah sangat panik, tetapi berusaha tenang. Ketika dokter datang untuk memeriksa kondisi Carren, Aaric tetap duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kepala Carren yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tidak apa-apa, tuan. Nona hanya terkejut. Mungkin baru mengalami goncangan batin yang kuat. Sebentar lagi akan sadar." Ucap dokter untuk menenangkan Aaric.
"Dokter, tolong periksa kakinya. Jangan sampai terluka karena sesuatu yang beracun." Ucap Aaric, menunjuk kaki Carren yang terluka tanpa beranjak dari samping Carren. Dia khawatir kondisi Carren akibat pengaruh luka di kakinya. Dokter segera memeriksa kaki Carren yang terluka.
"Tidak apa-apa, tuan. Saya akan kelupar sebentar dan kembali dengan obat untuk mengobati kaki nona." Ucap dokter lalu meminggalkan kamar.
__ADS_1
Aaric segera berdiri dan menyelimuti tubuh Carren. Sambil berjalan di dalam kamar, dia terus berpikir. Apakah yang dikatakannya membuat Carren terguncang? Dia masih terus berpikir sampai dokter kembali datang dan mengobati luka di kaki Carren.
Setelah dikter pergi, Aaric tetap duduk di tepi tempat tidur sambil memegang tangan Carren. Dia menyesali apa yang diucapkannya. Mungkin terlalu tiba-tiba tanpa mengetahui kondisi Carren yang sebenarnya. Apa yang diucapkan adalah hal yang sudah dipikirkan setelah tertarik dan jatuh cinta kepada Carren. Dia memang sedang memikirkan bagaimana cara melamar Carren, jika nanti mereka bertemu.
Tidak tahunya pertemuan mereka dengan cara yang tidak terduga dan apa yang diucapkan keluar begitu saja. Dia terus berpikir sambil menggenggam tangan Carren dan berharap lekas sadar. Beberapa saat kemudian, tangan Carren bergerak dalam genggamannya. Aaric spontan melihat ke arah wajah Carren dan bernafas lega saat melihat Carren sedang memandangnya.
"Arra, syukurlah... Kau sudah kembali. Kau membuatku sangat takut." Ucap Aaric sambil mengusap pipi Carren pelan dengan sayang dan hati lega. Carren memberikan isyarat dengan tangan kanan untuk minta minum. Dia mau berbicara tetapi tenggorakannya terasa kering.
Aaric segera berdiri dan mengambil air mineral yang ada di meja dalam kamarnya. Dia menuang ke gelas lalu memberikan kepada Carren yang berusaha untuk bangun dan bersandar di bagian atas tempat tidur.
"Biarkan aku yang memegang gelasnya. Kau minum saja." Ucap Aaric pelan, karena Carren mau mengambil gelas dari tangannya. Aaric melihat dan merasakan, tangan Carren masih bergetar saat mau mengambil gelas dari tangannya. Oleh sebab itu, dia membantu Carren untuk bisa minum dengan baik.
"Kau tidak merepotkanku, tetapi membuatku takut." Aaric berkata lalu meletakan gelas di atas meja samping tempat tidur dengan hati lega. Dia bersyukur, Carren sudah bisa berbicara dengannya.
"Berbaringlah sebentar, agar cepat pulih. Kau ke sini dengan siapa?" Tanya Aaric yang kembali duduk di tepi tempat tidur. Carren menuruti yang dikatakan Aaric dengan kembali berbaring. Dia merasa tubuhnya belum terlalu kuat.
Aaric tadi berpikir, saat menanti kedatangan dokter. Apakah Carren datang ke tempat ini dengan orang lain. Karena terkejut tiba-tiba melihat Carren dan terluka, dia tidak berpikir untuk menanyakan Carren datang dengan siapa.
__ADS_1
Jekob hanya memgatakan padanya, bahwa hari ini Carren tidak masuk kantor. Dia sedang pergi survey tempat dan bertemu dengan client di luar kantor. Itu yang dilaporkan oleh anggota keamanan yang bertugas menjaga Carren.
"Aku ke sini sendiri, Kak. Aku sedang bekerja." Jawab Carren pelan, sambi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu melihat Aaric yang sedang memandangnya.
Aaric melihat jam di tangannya, saat melihat keluar jendela, di luar sudah mulai gelap. Kondisi Carren yang membuatnya panik, tanpa terasa waktu telah menjelang malam. "Kalau begitu, kita makan malam dulu baru kau kembali ke kamarmu. Karena kakimu seperti ini, kita makan di sini saja." Aaric berkata lalu berdiri mengambil ponsel untuk pesan makan malam setelah melihat Carren mengangguk. Carren menyetujui yang dikatakan Aaric selain karena sikap dan ucapannya, tetapi juga karena dia merasa lapar.
"Kau mau makan apa?" Tanya Aaric yang sedang melihat menu yang disediakan restoran resort, kemudian memperlihatkan kepada Carren untuk memilih. Carren menolak melihat daftar menunya. "Aku ikut Kak Aaric saja." Jawab Carren, karena dia tidak tahu menu enak yang tersedia di restoran. Aaric mengangguk mengerti maksud Carren.
Tidak lama kemudian, pelayan restoran membawa menu yang dipesan Aaric. "Kau duduk di situ saja." Ucap Aaric kepada Carren, agar tidak usah turun dari tempat tidur. Dia meminta pelayan untuk menyiapkan semuanya di dekat tempat tidur.
Setelah selesai makan, Carren merasa tidak enak jika Aaric yang merapikan perangkat dan sisa makan malam mereka. "Tidak usah dirapikan, nanti diambil oleh pelayan." Ucap Aaric, lalu mendorong meja makan menjauh dari tempat tidur. Kemudian menghubungi pihak restoran.
Setelah perangkat makan telah dirapikan oleh pelayan, Aaric mendekati tempat tidur Carren untuk mengecek kondisi tubuh Carren. "Gimana rasanya? Apa kakimu masih sakit?" Tanya Aaric, sambil berdiri di dekat tempat tidur dan memandang Carren dengan sayang.
"Sudah lebih baik, Kak." Ucap Carren, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Dia merapikan selimutnya, lalu mencoba turun dari tempat tidur. Aaric hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh Carren untuk memgetahui kondisi tubuhnya, terutama kaki.
Ketika melihat Carren sudah lebih baik, Aaric mengambil sepatu Carren untuk mencobanya. "Kau sementara tidak usah pakai sepatu di kakimu yang sakit. Nanti aku yang akan menggendongmu untuk kembali ke kamarmu. Mana kartu akses kamarmu?" Ucap Aaric, lalu mengambil tas Carren dan memberikannya. Aaric menyangka, Carren tinggal di resort sama dengannya.
__ADS_1
~●○♡○●~