Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kelegaan.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Aaric mendengar yang dikatakan Mama Carren dalam diam. Dia menyadari, kenapa tadi Bu Nancy tertegun dan dengan mata berkaca-kaca memandang Carren yang tiba-,tiba duduk di sampingnya.


πŸ“±"Sudah puluhan tahun dia tidak pernah melakukan itu. Sehingga tadi Tante sangat terkejut saat dia tiba-tiba berdiri dan duduk di sampingmu. Mungkin dia tidak menyadarinya, tetapi kami sebagai orang tua sangat mengerti. Posisi dimana dia duduk, itulah yang sudah dia pilih. Makanya tadi Tante tidak bisa berkata-kata dan tidak bisa mengendalikan keharuan yang Tante rasakan." Ucap Bu Nancy pelan, menahan keharuan di hatinya.


"Dia sudah menunjukan kepada Tante, posisinya berada di pihak Nak Aaric. Sebagaimana terhadap Papanya, Tante menerima pilihannya. Tadi ke kamar mandi untuk meredakan perasaan Tante, tetapi tidak bisa. Jadi Tante minta maaf, sudah merusak acara perkenalanmu." Ucap Bu Nancy pelan dan menyadari, telah membuat anaknya sedih di hari yang penting baginya.


πŸ“±"Tidak mengapa, Tante. Nanti bisa direncanakan lagi untuk bertemu. Terima kasih Tante mau bicarakan ini dengan saya. Sebagaimana yang tadi saya katakan di restoran, selain mau memperkenalkan diri, saya juga mau katakan hubungan kami serius. Mohon ijinkan kami bersama dan tolong doakan kami, agar bisa lebih baik ke depan." Ucap Aaric tenang dan serius, setelah bisa bernafas lega mendengar penuturan Mama Carren.


πŸ“±"Terima kasih sudah mau mengerti. Tolong Nak Aaric bicara dengan Carren, supaya dia tidak menangis lagi." Ucap Bu Nancy pelan, lalu berjalan keluar kamar lalu memberikan ponsel kepada Carren. "Nak Aaric mau bicara denganmu." Ucap Bu Nancy sambil memberikan ponsel, lalu mengusap kepala Carren dengan perasaan terharu.


Carren yang masih sedih dan tersedu, mengambil ponselnya lalu berjalan ke kamarnya. Dia tidak enak berbicara di hadapan Mamanya.


πŸ“±"Allooo, Kak Aaric." Ucap Carren pelan, setelah berada dalam kamar.


πŸ“±"Haiii... Sudah kering air matanya? Jangan boros buang air matamu. Sisain sedikit, untuk acara lamaranku." Ucap Aaric sengaja, agar bisa menghibur Carren.

__ADS_1


πŸ“±Aaah, kak Aaric. Kakak tidak apa-apa?" Tanya Carren mulai merasa lega, mendengar suara dan canda Aaric. Hatinya menjadi tenang, lalu menghapus air matanya.


πŸ“±"Yaaa... Tidak apa-apa sih, tidak. Tepatnya ada apa-apa. Tadi aku berharap kau memelukku sebelum naik ke mobil. Tapi kau naik mobil begitu saja, tanpa menyentuhku. Kau tidak rindu padaku?" Tanya Aaric, becanda dan ledekin Carren agar bisa berhenti bersedih.


πŸ“±"Yaaa, Kak Aaric. Bukannya kakak melarangku untuk memeluk kakak?" Tanya Carren serius menanggapi candaan Aaric.


πŸ“±"Itu saat aku tiba. Tapi saat pulang, yaa... bolehlah. Asal kau yang memelukku. Kalau aku yang memelukmu, nanti tambah lagi daftar kesalahanku. Makin jauh restu Mamamu kepada kita. Atau jeleknya, dikira aku kurang asem. Hahaha..." Ucap Aaric sambil tertawa, mendengar ucapannya sendiri.


πŸ“±"Yaaa, maafin Kak. Habis tadi lagi bingung, jadi main naik mobil saja." Ucap Carren, merasa bersalah. Padahal tadi dia ingin melakukannya, melihat Aaric yang lagi kecapean dan bingung.


πŸ“±"Iya, Kak. Terima kasih sudah mau mengerti. Semoga ke depan, aku bisa lebih pahami sesuatu yang tidak terduga." Ucap Carren yang sudah bisa bernafas lega.


πŸ“±"Iyaa. Begitu juga denganku. Sekarang aku bisa melihat sisi baik, dari keterlambatanku. Jika tadi penerbanganku lancar dan tiba tepat waktu, mungkin Mamamu tidak akan berbicara denganku seperti tadi. Atau beliau akan banyak pertimbangan untuk menerimaku sebagai calon mantunya." Ucap Aaric, mengingat Mama Carren terus memperhatikannya saat dia tiba.


Melihat kesederhanaan Mama Carren, tadi Aaric sempat khawatir. Bisa saja perbedaan status sosial menjadi penghalang untuk mendapat restu Mama Carren. Mungkin saja, Mama Carren merasa tidak pantas Carren berhubungan dengannya.


Dia suka memperhatikan lawan atau patner bisnisnya dalam sekali pandang. Sehingga saat Bu Nancy memperhatikan dirinya, Aaric juga mengamati sikap dan cara pandang Mama Carren. Dia berpikir, Mama Carren orang yang sederhana, tidak terpengaruh dengan penampilannya. Justru itu bisa menjadi penghalang bagi hubungan mereka. Bu Nancy tidak silau, atau tepatnya tidak 'matre', sehingga bersikap manis padanya.

__ADS_1


Tadi dia sudah membuat penampilannya sederhana mungkin, agar Mama Carren bisa menerima dia apa adanya sebagaimana Carren menerima dan mencintainya tanpa melihat status sosialnya. Aaric percaya, Carren tidak tahu siapa dia sebenarnya.


πŸ“±"Sekarang kita harus bersyukur, bisa melewati tahap pertama dengan baik. Kita akan sama-sama belajar menghadapi tahap berikutnya. Baik itu dari pihakmu atau dari pihakku. Karena pasti ada banyak kejadian yang tidak terduga berikutnya. Terima kasih sudah memilih berada di sampingku." Ucap Aaric dengan hati yang penuh rasa syukur, karena merasa dicintai dengan tulus.


πŸ“±"Iya, Kak. Aku sekarang jadi mengerti, harus tenang dalam berbagai situasi yang tidak terduga seperti tadi. Harus melihat dari sisi yang berbeda seperti yang kakak katakan." Ucap Carren pelan, karena mulai menyadari, Mamanya bisa saja tidak menerima Aaric karena status sosial mereka yang terlalu berbeda jauh. Belum lagi bertemu dengan orang tua Aaric.


πŸ“±"Yang penting, sekarang Mamamu sudah tau kita bersama dan sudah mengenalku. Jadi kalau kita tiba-tiba mau bertemu karena aku harus pergi, akan lebih mudah aku minta ijin untuk bertemu denganmu." Ucap Aaric, yang merasa lega dengan situasi yang terjadi.


πŸ“±"Sekarang istirahat saja, besok kita bicarakan lagi. Aku masih jetlag dan lumayan capek." Ucap Aaric yang memang merasa lelah dengan peristiwa saat tertunda landing dan Mama Carren yang tiba-tiba minta pamit pulang.


πŸ“±"Iya, Kak. Kakak istirahat juga." Ucap Carren, lalu Aaric mengakhiri pembicaraan mereka dengan perasaan sudah tenang.


Carren keluar kamar setelah berbicara dengan Aaric. Dia ingin bertemu dengan Mamanya yang telah bantu menyelesaiksn salah paham diantara mereka. Ketika melihat Mamanya tidak ada di dapur dan ruang tamu, dia mengetuk pintu kamar Mamanya. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, dia langsung masuk. Saat melihat Mamanya hendak mengganti baju, dia langsung memeluk dengan sayang. "Terima kasih, Ma." Hanya itu yang dia ucapkan sambil memeluk Mamanya erat.


"Sudah... ganti baju lalu istirahat. Kau tau, Mama selalu mendukung semua yang kau putuskan. Apalagi sekarang kau sudah sangat dewasa, Mama percaya pada pilihanmu. Kau akan sanggup menjalani keputusanmu dengan kekuatan yang Tuhan berikan padamu. Malam ini mari kita istirshat lebih awal, agar bisa menyambut hari esok dengan pikiran yang segar. Jangan bersedih lagi." Ucap Bu Nancy, sambil mengusap dan menepuk pelan punggung Carren yang sedang memeluknya. Beliau berkata itu bukan hanya untuk Carren, tetapi juga untuk mengingatkan dirinya.


~●○♑○●~

__ADS_1


__ADS_2