
~•Happy Reading•~
Di tempat yang lain ; Aaric telah bangun pagi dengan kondisi yang sudah lebih baik. Setelah mandi dengan air hangat dan mengenakan pakaian santai, dia keluar kamar untuk sarapan. Jekob telah pulang tadi malam seperti yang dimintanya. Sehingga pagi ini dia sarapan sendiri dengan apa yang ada. Sereal dan susu menjadi sarapannya, karena itu yang tersedia.
Kemudian dia mengambil jacket, topi, reben dan mengenakan sneakers, lalu melangkah keluar apartemen. Dia tidak membawa apapun selain dompet dan ponsel di kantong jacketnya. Setelah di lobby apartemen, Aaric pesan mobil online untuk perjalanannya.
"Pak, setelah dari tempat ini, saya mau teruskan perjalanan lagi. Bapak bersedia antar saya ke tempat tujuan berikutnya tanpa aplikasi? Saya akan membayar dua kali lipat penghasilan bapak hari ini." Aaric berkata kepada sopir, setelah berada dalam mobil online yang dipesannya.
"Baik, Pak. Siap. Terima kasih." Jawab sopir senang dengan wajah berseri-seri. Bagi sopir, ini adalah rejeki nomplok. Dia tidak perlu bermacet ria sepanjang hari. Setelah melihat customernya telah duduk dalam mobil dengan aman, dia menjalankan mobilnya meninggalkan apartemen menuju ke tempat tujuan.
Tidak berapa lama, mobil yang ditumpangi Aaric berhenti di toko bunga yang berjejer di sepanjang jalan. Aaric mengenakan topi dan reben lalu turun dari mobil. Dia berjalan menuju salah satu toko bunga segar dan masuk ke dalamnya.
Tidak lama kemudian, Aaric keluar dari toko tersebut sambil membawa dua buket besar bunga mawar putih. Buket bunga tersebut dipeluk dengan tangan kiri dan kanannya. Sopir yang melihat itu, langsung turun dan membantu buka pintu mobil agar Aaric bisa meletakan buket bunga mawar tersebut dengan baik di kursi belakang.
Setelah merasa rapi dan aman buket bunganya, Aaric memberikan alamat tujuan berikutnya kepada sopir. Dia duduk di kursi belakang, sambil memegang buket bunganya, agar tidak berantakan. Sopir jadi menjalankan mobilnya dengan pelan dan hati-hati saat melihat customernya memperlakukan buket bunganya dengan hati-hati.
"Bapak tunggu di sini dan tolong jaga buket bunga ini, ya. Saya mau turun sebentar, dan nanti kembali lagi." Ucap Aaric setelah mereka tiba di Jakarta Utara, dekat pantai. Dia turun dari mobil dan berjalan ke arah dermaga, dekat kapal-kapal kecil yang sedang berlabuh.
Setelah berbicara dengan yang empunya kapal, Aaric kembali ke tempat parkir mobil untuk mengambil buket bunga mawar putih yang dibawanya. "Mari, Pak. Saya bantu membawa satu buket bunga itu." Ucap Sopir, karena melihat Aaric agak kesulitan membawa buket besar bunga mawar tersebut.
__ADS_1
Aaric mengangguk lalu memberi salah satu buket bunganya kepada sopir. "Terima kasih, Pak. Tolong antarin ke kapal, ya." Ucap Aaric lalu memegang buket bunga yang lain dengan tangan kirinya. Kemudian dia memakai topi dan rebennya. Setelah menutup pintu mobil, sopir berjalan cepat mengikuti Aaric yang telah berjalan ke arah dermaga.
Aaric menyerahkan buket bunga di tangannya kepada kapten kapal, kemudian mengambil buket bunga dari tangan sopir untuk dibawanya naik ke kapal. "Terima kasih, Pak. Tolong tunggu saya di mobil." Ucap Aaric, lalu naik kapal yang telah siap berangkat.
Saat tiba di tempat yang dituju, Aaric meminta kapten kapal untuk berhenti. Dia bersyukur, air laut agak tenang jadi lebih mudah baginya untuk melakukan niat hatinya. Hanya ombak kecil yang mengayunkan kapal. Aaric mengambil buket bunga mawar putih yang dibawanya lalu berdiri di anjungan kapal.
Sambil memandang jauh ke luasnya laut, Aaric menebar setiap tangkai bunga mawar di tangannya. Ketika tangkai bunga mawar putih bertebaran di laut, dan sekeliling kapal, Aaric tertunduk dan hatinya jadi terharu.
Laut disekitar kapal telah dihiasi tangkai bunga mawar putih. Sebagian bunga juga telah di bawa oleh ombak. 'Naina, maafkan aku. Belesan tahun baru bisa datang untuk melepas kepergianmu.' Aaric berkata dalam hati, saat melihat tangkai mawar putih kesukaan Naina menghiasi laut.
'Terima kasih telah mensupportku dan mencintaiku selama kita bersama. Aku akan hidup dengan baik dan berbahagia seperti yang kau inginkan. Aku berharap kau menjadi bintang di langit, agar bisa melihatku bahagia.' Aaric terus membantin di anjungan kapal sambil melihat laut luas yang dihiasi dengan ombak kecil dan tangkai mawar yang makin menjauh.
Hatinya menjadi ringan setelah bisa melakukan hal yang dihindarinya bertahun-tahun. Walaupun berkali-kali ke Indonesia, hatinya belum bisa menerima kepergian Naina. Sehingga tidak mampu datang ke tempat dimana abunya ditaburkan.
Setelah apa yang terjadi dengannya beberapa waktu belakangan ini, dia telah memikirkannya dengan baik dan telah memutuskan apa yang akan dilakukannya ke depan untuk hidupnya.
Ketika melihat tangkai bunga mawar telah jauh terbawa ombak, Aaric berjalan mendekati kapten kapal. "Mari Kap, kita kembali ke dermaga." Ucap Aaric pelan dan tenang. Kapten kapal mengangguk lalu menjalankan kapalnya untuk kembali ke dermaga.
Setelah membayar jasa dan sewah kapalnya, Aaric melangka turun ke dermaga lalu menuju tempat parkir mobil. Dia tidak membalikan badannya lagi untuk melihat laut yang telah ditinggalkannya bersama mawar putih dan abu Naina yang telah ditabur di tempat itu.
__ADS_1
Dia masuk ke mobil yang sedang menunggunya lalu duduk diam sejenak. "Mari Pak, kita tinggalkan tempat ini. Jalan pelan-pelan saja, karena saya sedang berpikir mau kemana tujuan saya yang terakhir." Ucap Aaric, karena sudah hampir waktu makan siang. Dia sedang memikirkan makanan yang bisa dimakan sesuai suasana hati, setelah semua yang dilakukannya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ketika melihat siapa yang menghubungiya, Aaric segera merespon.
📱"Iya, Jekob. Ada apa?" Tanya Aaric saat merespon panggilan Jekob.
📱"Selamat siang, Pak. Bapak sudah makan siang, belum?" Tanya Jekob pelan. Dia bersyukur, bossnya merespon panggilannya.
📱"Ini sedang menuju tempat makan. Ada apa?" Tanya Aaric, karena Jekob belum jawab pertanyaannya. Karena tidak mungkin dia menghubunginya hanya untuk bertanya sudah makan siang atau belum.
📱"Bapak makan siang dulu. Nanti saya menjemput bapak dimana? Karena ada yang mau saya bicarakan." Ucap Jekob. Dia tidak mau membicarakan hal yang akan membuat bossnya emosi lewat telpon dan belum makan siang. Karena dia tahu, apa yang terjadi di kantor Carren akan membuat bossnya marah besar.
📱"Bapak katakan saja tempat yang harus kami jemput. Sekarang kami akan menjemput bapak." Jekob mendesak agar bisa menjemput bossnya.
📱"Kau mau ke tempatku?" Tanya Aaric. Karena jika Jekob mau ke apartemennya, dia akan langsumg pulang dan makan siang di apartemennya.
📱"Tidak, Pak. Kami akan menjemput bapak untuk ke Sero." Jawab Jekob, membuat Aaric berpikir cepat. Pasti telah terjadi sesuatu sehingga dia harus ke Sero.
📱"Baik. Kalau begitu, minta Sapta menjemputku di tempat yang akan saya share loc. Kau siapkan makan siang untuk saya di situ. Saya tunggu sekarang juga." Ucap Aaric, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Kemudian meninta sopir untuk berhenti di pompa bensin terdekat.
__ADS_1
~●○♡○●~