Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Belajar Masak.


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Setelah bertunangan dengan Carren, Aaric mulai sibuk mempersiapkan keberangkatan Papanya ke Swiss. Dia akan membawa Pak Biantra periksa kesehatan dan tinggal di Swiss selama penyelesain persoalan perusahaan Biantra dan kematian Naina. Aaric tidak ingin Papanya ada di Indonesia saat terjadi kekacauan di perusahaan dan juga di keluarganya.


Sambil menunggu keberangkatan, dia bekerja di apartemen untuk menemani Papanya. Supaya Papanya tidak bosan dan merasa sepi. Bibi hanya datang jika dia memintanya untuk melakukan sesuatu yang diperlukan. Carren tidak bisa datang menemani Papanya, karena pekerjaannya sedang masuk dalam fase terakhir untuk mendekor.


Mereka sudah kembali pada mode sibuk bekerja, mengurus pekerjaan yang menuntut tanggung jawab masing-masing. Tidak terasa tiga hari telah berlalu, Carren sedang sibuk bersama karyawannya di kantor. Menjelang makan siang tiba-tiba Bu Nancy menghubunginya.


πŸ“±"Arra, kau sibuk hari ini?" Tanya Bu Nancy saat Carren merespon panggilannya.


πŸ“±"Lumayan, Ma. Tapi sebentar lagi mau istirahat untuk makan siang. Ada apa, Ma?" Carren menjawab dan balik bertanya sambil berjalan ke ruang kerjanya. Mamanya pasti sedang membutuhkan sesuatu, sehingga tiba-tiba menghubunginya.


πŸ“±"Ini Mama ada masak lauk lebih. Apa kau bisa antar ke tempat Aaric? Mungkin Papanya bisa makan makanan rumahan. Tapi bagaimana menurutmu? Mereka mau makan atau tidak usah dikirim?" Tanya Bu Nancy ragu-ragu, meminta pendapat Carren. Aaric telah bicara dengan Bu Nancy secara pribadi malam itu, bahwa kondisi Papanya sedang kurang sehat, jadi belum bisa menentukan waktu pasti untuk pernikahannya dengan Carren. Dia akan membawa Papanya untuk periksa kesehatan terlebih dahulu.Β 


πŸ“±"Kalau begitu, Mama tolong kirim ke kantor dengan ojol, ya. Aku akan hubungi Kak Aaric sambil menunggu, agar Kak Aaric tidak pesan makan siang dari luar untuk mereka." Ucap Carren dengan cepat, karena dia khawatir Aaric atau Jekob sudah pesan makanan dari luar.


πŸ“±"Baik. Mama segera pesan ojol untuk membawanya ke kantormu." Ucap Bu Nancy lega, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam. Bu Nancy merasa senang lauknya akan dibawa, karena telah masak lauk yang lumayan banyak. Sedangkan Carren hanya makan malam di rumah.


Carren segera menghubungi Aaric, agar tidak terlambat. Minimal bisa membatalkan jika belum dikirim ke apartemen.


πŸ“±"Alloo, Arra. Kontak, ya. Aku baru mau menghubungimu, eeehh.. kau sudah menelpon. Kau dulu yang bicara." Ucap Aaric menyadari Carren menghubunginya pada siang hari, pasti ada perlu sesuatu. Biasanya hanya chat menanyakan kabar, nanti telponan setelah pulang kantor.

__ADS_1


πŸ“±"Alloo, Kak. Kakak ada di kantor?" Tanya Carren. Dia berpikir, jika Aaric ada di kantor, dia tetap ke apartemen untuk membawa lauknya untuk makan siang Pak Biantra.


πŸ“±"Tidak. Aku masih kerja di apartemen. Ada apa?" Tanya Aaric, karena mendengar suara Carren yang tidak tenang.


πŸ“±"Kakak jangan pesan makan siang dari luar, ya. Aku mau bawa lauk yang dimasak Mama." Ucap Carren cepat.


πŸ“±"Ooh, sebentar. Aku akan kirim pesan ke Jekob, agar dia jangan pesan." Aaric langsung mengetik pesan dan kirim kepada Jekob yang sedang bekerja di kantor.


πŸ“±"Ok. Sudah beres. Kalau begitu, nanti mereka menjemputmu di kantor atau di rumah?" Tanya Aaric, karena dia berpikir Carren mungkin akan ke rumah untuk mengambil lauknya.


πŸ“±"Di kantor, Kak. Aku sedang tunggu ojol, karena Mama akan mengirim lauknya ke sini. Sambil menunggu, tadi kakak bilang mau telpon, ada apa?" Tanya Carren mengingat Aaric bilang memang mau menghubunginya.


πŸ“±"Nanti saja kita bicara secara langsung, karena kau akan ke sini. Ada lagi yang kau perlukan untuk ke sini?" Tanya Aaric, karena dia berpikir apa yang akan dibicarakan dengan Carren, lebih baik secara langsung karena Carren akan datang ke apartemennya.


πŸ“±"Masak nasi? Kau mau memintaku masak nasi?" Tanya Aaric terkejut, karena dia belum pernah melakukannya dan Carren bertanya tentang itu.


πŸ“±"Maaf, ya, Kak. Maksudnya, jika kakak bisa masak. Jadi aku sampai di situ, langsung makan siang. Kalau aku yang masak, Papa harus menunggu agak lama." Ucap Carren pelan, menjelaskan maksudnya, agar Aaric tidak marah padanya. Dia sudah terlanjur bertanya baru terpikir, mungkin Aaric belum pernah masak nasi atau pegang beras di dapur.


πŸ“±"Kalau begitu, aku minta Jekob pesan nasi di luar saja." Solusi yang terlintas di pikiran Aaric, saat mendengar penjelasan Carren dan untuk mengatasi apa yang dikhawatirkan Carren.


πŸ“±"Ngga usah, Kak. Nanti aku sampai di situ baru masak saja. Ngga enak kalau makan nasi yang dibeli dari luar, makannya ngga puas." Ucap Carren mencegah. Dia berpikir, akan berbeda jika masak nasi sendiri, bisa sekalian juga untuk makan malam.

__ADS_1


πŸ“±"Baiklah. Aku akan coba melakukannya. Sekarang vc, ya. Agar kau bisa mengajariku." Ucap Aaric, mencoba mengerti maksud Carren. Dia berjalan ke dapur dan lakukan vc bersama Carren agar bisa menuntunnya tahap demi tahap cara memasak nasi.


πŸ“±"Hanya begitu?" Tanya Aaric setelah beras telah berada dengan aman dalam tempat menanak nasi. 'Ternyata tidak terlalu sulit.' Ucapnya dalam hati.


πŸ“±"Iya, Kak. Hanya begitu, nanti aku datang pasti sudah matang. Kakak biarkan saja begitu." Ucap Carren sambil tersenyum mengingat cara Aaric mencuci beras.


πŸ“±"Jangan tersenyum. Karena aku tau kenapa kau tersenyum." Ucap Aaric, saat melihat Carren tersenyum di layar ponsel.


πŸ“±"Maaf, Kak. Ketelepasan senyumnya." Ucap Carren, dia lupa mereka masih vc, jadi Aaric bisa melihat dia tersenyum.


πŸ“±"Baiklah. Aku akan minta mereka menjemputmu. C .. u." Ucap Aaric lega, lalu mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali ke ruang tamu.


"Kau tadi melakukan apa di dapur?" Tanya Pak Biantra heran, karena saat keluar dari kamar mendengar Aaric bicara di dapur sendiri sambil melakukan sesuatu.


"Sedang diajarin masak nasi sama Carren, karena dia mau datang bawa lauk untuk makan siang kita." Ucap Aaric, pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mengapa kau tidak bilang Papa? Papa bisa masak nasi." Ucap Pak Biantra tersenyum melihat wajah putranya yang memerah.


"Papa bisa masak nasi? Kenapa Papa tidak bilang? Jadi aku tidak perlu diajarin Carren." Ucap Aaric protes.


"Papa tidak tau kau mau masak nasi. Tapi itu bagus juga, kau bisa belajar masak nasi. Walaupun sudah lama tidak masak nasi, Papa masih ingat saat kuliah dan harus masak nasi sendiri untuk menghemat. Jadi dalam keadaan darurat, kau akan bisa memasaknya." Ucap Pak Biantra sambil tersenyum melihat putranya masih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Apa yang Papa bilang ini, benar, Aaric. Coba saja saat kalian menikah nanti, lalu Carren hamil dan ngidam makan nasi yang dimasak sendiri olehmu, tidak perlu repot lagi. Tinggal lakukan seperti tadi. Jadi terus ingat caranya." Ucap Pak Biantra makin tersenyum, karena bisa ledekin putranya. Aaric refleks melihat ke arah Papanya dengan wajah yang makin memerah.


~●○♑○●~


__ADS_2