Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tentang Bu Sunny.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Keesokan harinya, Aaric dan Jekob masuk kantor di Gedung Biantra. Aaric ingin melihat suasana kantor, karena selesai rapat pemegang saham dia langsung pulang jadi belum sempat melihat ruangan para direksi. "Jekob, ruang kerja Papa ditempati oleh siapa?" Tanya Aaric saat mereka telah tiba di ruang kerja Jekob. Aaric duduk di sofa yang ada dalam ruang kerja, begitu juga dengan Jekob.


"Ditempati oleh Pak Lepart, Pak. Saat itu Nyonya mau pindah ke sana, tetapi Pak Lepart meminta kepada Pak Sunijaya untuk menempati ruangan itu. Walaupun jabatannya bukan seperti Pak Biantra, tetapi beliau memintanya dan Nyonya tidak bisa membantah keputusan Pak Sunijaya. Itu yang saya dengar dari salah seorang Direktur di sini." Jawab Jekob, menjelaskan apa yang terjadi saat kantor ditinggal oleh Pak Biantra.


"Kalau begitu, tolong minta salah seorang karyawan untuk membersikan semua yang ada di ruangan itu. Saya akan menempati ruangan itu mulai besok. Kau tolong siapkan semua keperluannya setelah saya pulang dari sini." Aaric berencana menempati ruang kerja Pak Biantra, jika datang berkantor di Gedung Biantra.


Sama dengan Jekob, selama ini mereka memiliki ruang kerja sendiri di Elimus. Jadi sekarang mereka menambah lagi ruang kerja di Gedung Biantra, agar bisa ditempati jika diperlukan.


"Baik, Pak. Saya akan bersihkan semua ruangan yang telah ditingggal, termasuk ruang kerja Direktur Keuangan. Karena saya sudah mendapatkan penggantinya." Ucap Jekob dengan sigap, mengerti maksud bossnya yang hendak menempati ruang kerja Papanya.


"Kau segera cari seorang asisten untuk bekerja di sini, karena kita sering bepergian. Ooh, iya. Dimana asisten dan sekretaris Papa yang bekerja padanya? Apakah mereka masih bekerja di sini?" Tanya Aaric, mengingat orang kepercayaan Papanya.


"Sepertinya masih di sini, tapi ditempatkan di bagian yang lain. Karena Pak Lepart membawa asisten dan sekretsris sendiri ke sini. Mereka masih kerabat Pak Lepart dan mungkin termasuk cecurut." Ucap Jekob, mengikuti julukan yang disematkan bossnya untuk kaki tangan para tikus.

__ADS_1


"Baik. Kau tolong panggil mereka ke sini, sebelum pengacara tiba. Saya akan berbicara dengan mereka untuk membantu orang yang membersihkan ruangan Papa dan menyiapkannya untuk saya. Pulihkan jabatannya kembali untuk bekerja dengan saya." Ucap Aaric mulai mengatur orang yang akan bekerja bersamanya di Biantra Group.


Jekob segera melaksanakan semua yang diminta oleh bossnya. Karena mereka masih bekerja di gedung yang sama, dengan cepat mereka bisa menghadap untuk berbicara dengan pimpinan baru mereka. Asisten dan sekretaris Pak Biantra sangat terkejut dan terharu, mengetahui mereka akan bekerja untuk boss besar.


Posisi Aaric berbeda dengan Pak Biantra, karena memiliki kekuasaan lebih sebagai pemegang saham mayoritas. Jika Pak Biantra, bekerja dan harus melapor kepada istri dan mertuanya. Tetapi Aaric tidak demikian, sehingga asisten dan sekretaris Pak Biantra seperti mendapat durian runtuh setelah dibuang oleh Pak Lepart.


Setelah selesai berbicara dengan asisten dan sekretaris juga calon Direktur Keuangan yang baru, Aaric dan Jekob berdiskusi dengan pengacara yang sudah datang mememui mereka untuk membicarakan masalah hukum yang akan dihadapi oleh mereka. Baik dengan karyawan yang melakukan pencurian, juga dengan persoalan hukum Gungun.


Tiba-tiba ponsel Jekob bergetar. Ketika melihat siapa yang memghubungi, Jekob segera meresponnya. "Pak, Pak Hutama minta datang ke sini untuk membicarakan kasus Gungun." Ucap Jekob pelan kepada Aaric yang sedang berbicara dengan pengacaranya.


Aaric hendak mengetahui gambaran dari kedua pengacara, posisi Gungun dan juga keluarganya jika kasus ini bergulir di pengadilan. Agar dia sendiri harus bersiap-siap dan membicarakan itu dengan Recky. Setelah dijelaskan oleh pengacara, dia mengangguk dalam diam. Semua kemungkinan yang disampaikan pengacara, membuatnya tercengang. Hukuman yang mungkin diterima dan dijalani oleh Mamanya dan juga Opanya, jika telah pulih.


Dengan hati yang berat, dia berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya sebelum bertemu dengan Pak Hutama. Dia sudah pasrah menerima keputusan yang akan diambil oleh Pak Hutama dan keluarganya.


Tanpa diketahui Aaric yang ada di kamar mandi, tiba-tiba pintu ruang kerja Jekob dibuka dengan kasar, dan Bu Sunny menerobos masuk ke ruang kerja Jekob. Kondisi Bu Sunny sudah tidak lagi seperti seorang petinggi di Biantra Group. Sangat berantakan, membuat Jekob dan pengacara yang sedang berdiskusi terkejut.

__ADS_1


Sekretaris Jekob berlari di belakang Bu Sunny sambil minta maaf, karena tidak bisa mencegah Bu Sunny masuk ke ruangan pimpinannya. Jekob memberikan kode dengan tangan, agar sekretarisnya keluar dan menutup pintu.


Bu Sunny dalam kemarahannya, datang ke ruangan Jekob tanpa mengetahui, jika Aaric ada juga dalam ruangan tersebut. Sangking emosi, beliau tidak memperdulikan pengacara yang sedang memandangnya seakan tidak percaya dengan penampilannya.


"Kau siapa, sehingga berani memenjarakan Pak Haiman? Apa kau tidak tahu, siapa dia? Apa yang dia lakukan sehingga kau menjeruskan ke penjara? Apa hanya karena rumor-rumor itu, kau bersama anak kurang ajar itu berani memenjarakannya?" Bu Sunny bertanya beruntun dengan emosi yang meluap-luap karena mendengar dari asisten Pak Haiman bahwa bossnya sedang ditahan dikantor polisi. Bu Sunny mengira, Pak Haiman ditahan karena skandal mereka.


Tanpa menyelidiki lebih lanjut, Bu Sunny yang sedang menunggu Papah nya di rumah sakit langsung memacuh mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk bertemu dengan Komisaris Baru Biantra Group. Beliau tidak terima dengan tindakan dan keputusan Jekob.


Karena menurut laporan asisten Pak Haiman, yang memberikan laporan kepada Aaric adalah Jekob. Aaric hanya tinggal eksekusi. Sehingga dengan tergompah-gompah tanpa menyelidiki dan tidak memperhatikan penampilannya sebagai seorang petinggi di Biantra Group, Bu Sunny datang ke kantor dan menerobos masuk ke ruang kerja Jekob.


"Pak Jekob, tidak perlu menjawab orang yang tidak tahu etika dan sopan santun ini. Biarkan dia ke kantor polisi dan bertanya di sana." Ucap Aaric, yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Jekob hendak menjelaskan kepada Bu Sunny. Jekob langsung terdiam sambil memandang boss nya bergantian dengan Bu Sunny yang terkejut mengetahui Aaric ada di ruangan Jekob.


"Kau anak yang tidak tahu diuntung. Kau lebih mendengar orang ini dan juga bapakmu, tanpa perduli dengan perasaanku? Aku yang mengandung dan melahirkanmu, bukan bapakmu. Karena aku, bapakmu bisa memperoleh jabatan tinggi dan dihormati di tempat ini. Dia tidak ada apa-apanya jika tidak menikah denganku. Tetapi kau dan adikmu yang pembangkang itu lebih mendengarnya? Jika bukan karena aku, kau dan adikmu tidak bisa sekolah tinggi sampai di luar negeri." Bu Sunny meluapkan semua emosi dan kemarahan yang ditahannya setelah mendengar Pak Haiman berada di tahanan.


Bu Sunny ingin melampiaskan kepada Jekob, tetapi melihat ada Aaric, beliau jadi menumpahkan sekaligus amarah dan kesal yang dirasakan kepadanya. Semua rasa takutnya kepada Aaric dikalahkan oleh rasa khawatir akan kondisi Pak Haiman di tahanan. Membuatnya berani menentang Aaric.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2