Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Rumah Kita 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pak Tony dan Bu Lisye mengangguk dengan hati lega, setelah sangat was-was dengan nasib mereka beberapa hari belakangan ini. Ketika mendengar apa yang terjadi dengan Nyonya besar, tidak ada tuan besar dan kedua tuan muda, benar-benar mengkhawatirkan semua karyawan yang bekerja di rumah itu. Mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Tidak tau mau lakukan apa dan mau menanyakan siapa untuk tetap bertahan di rumah keluarga Biantra.


Recky hanya diam mendengar apa yang dikatakan kakaknya. Apa yang dibicarakan kakaknya sebelum mereka tidur tadi malam, benar terjadi. Kondisi rumah seperti yang digambarkan Aaric, sehingga dia menyerahkan semua penyelesaian kepada kakaknya.


"Pak Tony, apa ada orang yang datang beberapa hari ini?" Tanya Aaric, setelah melihat mereka mengangguk mengerti yang dia maksudkan. Dia berpikir cepat setelah melihat kondisi rumah dan para pekerja yang bekerja di rumah itu.


"Iya, tuan muda. Pengacara Nyonya datang untuk mengambil keperluan Nyonya. Kemudian ada keluarga Nyonya juga datang, tapi kami tidak ijinkan masuk karena tidak ada orang di rumah." Jawab Pak Tony, sigap.


"Baik. Mulai sekarang, Pak Tony dan Bu Lisye hanya mendengar kami berdua. Tidak boleh mengijinkan siapa pun masuk ke rumah ini. Termasuk Nyonya besar kalau pulang. Katakan kepada Nyonya, jika mau masuk ke rumah ini, silahkan bicara dengan saya atau adik saya." Ucap Aaric tegas. Karena dia dan Recky telah berbicara tadi malam, jika seandainya Mama mereka bisa ditahan di rumah, ada mansion orang tuanya yang bisa ditinggali. Sekalian bisa mengurus orang tuanya yang sedang tidak sehat di sana.


Saat ini, Bu Sunny tidak kekurangan tempat untuk tinggal. Karena mansion orangtuanya yang besar dan luas tidak kekurangan kamar untuk ditempati. Aaric dan Recky telah sepakat mengamankan rumah itu dari semua keluarga Mamanya sebelum diputuskan oleh pengadilan.


Pak Tony, semua akses dan pengamanan akan saya perbaharui. Cctv dan pengamanan rumah ini akan berhubungan langsung dengan saya dan adik saya. Jadi bapak bisa berkomunikasi dengan kami berdua, jika ada keadaan darurat. Pak Tony jangan ambil keputusan sendiri, sebelum berbicara minimal dengan asisten saya." Aaric mulai mengatur untuk mengamankan rumah Papanya.

__ADS_1


"Maaf, tuan muda. Apakah kedua tuan muda akan tinggal di sini lagi?" Tanya Bu Lisye berharap. Karena semenjak Aaric dan Recky tidak tinggal di rumah itu, rumah sangat sepi. Jadi Bu Lisye berharap dalam hati, Aaric dan Recky mau kembali tinggal dan membawa Pak Biantra untuk tinggal bersama mereka.


"Tidak, Bu Lisye. Kami ada tempat tinggal sendiri dan adik saya akan kembali ke luar negeri, karena dia bekerja dan tinggal di sana. Tetapi semua kebutuhan pekerja di rumah ini, kami yang bertanggung jawab. Baik kebutuhan sehari-hari atau gaji pekerjanya." Ucap Aaric lagi. Pak Tony dan Bu Lisye makin bernafas lega.


"Untuk para pelayan, Bu Lisye silahkan pilih yang dibutuhkan saja untuk tetap dipekerjakan. Karena di sini sudah tidak banyak orang yang butuh dilayani. Petugas taman dan yang membersihkan rumah tetap dipertahankan. Begitu juga dengan koki untuk melayani yang masih bekerja. Jika ada yang mau mungundurkan diri, karena tidak mau bekerja lagi, silahkan disampaikan kepada Pak Tony." Ucap Aaric rinci, kepada Bu Lisye. Recky telah berbicara dengan Aaric bahwa Pak Tony bisa dipercaya. Karena Pak Tony telah bekerja di rumah dari mereka masih remaja.


"Baik, tuan muda. Itu yang saya pikirkan. Ada beberapa pekerja yang tidak dibutuhkan lagi, karena rumah ini tidak ada orang yang harus dilayani. Jadi kami hanya bekerja bersih-bersih saja." Bu Lisye berkata sambil melihat Aaric dan Recky bergantian.


"Baik. Kami serahkan itu untuk Bu Lisye. Bijak-bijaklah menyikapi kondisi saat ini. Jika tidak ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan di sini, Ibu bisa merumahkan mereka. Tetapi tetap minta alamat dan nomor telpon mereka. Jika kondisi rumah ini sudah lebih baik dan membutuhkan mereka, akan mudah dihubungi. Mereka tetap akan menerima pesangon, saat dirumahkan." Ucap Aaric tegas dan serius.


"Pak Tony dan Bu Lisye, tolong tulis semua kebutuhan di rumah ini untuk seminggu ke depan. Ada yang mau kami periksa, nanti kami kembali lagi ke sini untuk berbicara. Oooh iya, kamar utama dikunci atau tidak?" Aaric bertanya kepada Bu Lisye, karena mereka mau ke kamar orang tuanya.


"Dikunci, tuan muda. Kuncinya saya simpan. Saya masuk ke kamar utama untuk membersihkannya saja, tuan." Ucap Bu Lisye lalu berdiri untuk mengambil kunci lalu memberikannya kepada Aaric. Dengan kunci di tangan, Aaric berdiri lalu mengajak Recky ke kamar utama. Recky mengambil tas dari atas meja makan dan mengikuti kakaknya.


"Ooh iya, Pak Tony. Saat pengacara ke sini, masuk ke kamar utama atau tidak?" Tanya Recky hendak beranjak, tetapi mengingat apa yang dikatakan Pak Tony.

__ADS_1


"Tidak tuan, muda. Saya menganjaknya ke kamar tuan muda Aaric, karena hanya memgambil keperluan Nyonya." Jawab Pak Tony, mengingat kedatangan pengacara. Recky mengangguk dan mengangkat tangan lalu membentuk jarinya sebagai tanda 'OK'.


Kemudian Recky berjalan cepat ke kamar utama mengikuti kakaknya yang sudah hampir masuk ke kamar utama. Setelah berada di kamar utama, mereka memeriksa seisi ruangan kamar. Recky menarik semua laci yang bisa dibuka tanpa dikunci. "Kakak, lihat ini." Ucap Recky memanggil Aaric yang sedang memeriksa semua lemari yang bisa dibuka.


"Ada apa?" Tanya Aaric sambil berjalan mendekati Recky untuk melihat apa yang ditemukan. Recky memperlihatkan isi laci yang ditemukannya. Ada dua ATM dan dua CC milik perusahaan atas nama Papanya. Ada juga surat-surat mobil.


"Apa ini mobil Papa? Isi semuanya dalam tasmu. Mungkin mobilnya ada di luar dan Papa membawa kuncinya atau ada pada wanita itu." Ucap Aaric, saat tidak melihat kunci mobil dalam laci bersama surat-suratnya.


"Sepertinya ini bukan mobil Papa, Kak. Karena mobil pribadi Papa bukan dari merek ini. Mungkin mobil kantor yang sering dipakai Papa untuk keperluan dinas." jawab Recky mencoba menebak.


"Masukan saja semuanya, nanti kita cek and ricek lagi di apartemen. Ayooo... Mari kita keluar dan bicara lagi dengan Pak Tony dan Bu Lisye, agar mereka bisa mengurus semua ini." Ucap Aaric lalu berjalan keluar kamar utama disusul oleh Recky dan langsung mengunci pintu kamarnya.


Sampai di ruang makan, mereka telah ditunggu oleh Pak Tony dan Bu Lisye dengan kertas di tangan. Pak Tony dan Bu Lisye memberikan catatannya kepada Recky. "Kalau untuk kebutuhan sehari-hari masih ada tuan muda dan waktu gajian belum tiba. Itu semua saya tulis dengan gaji para pelayan. Nanti setelah ini baru saya bicara dengan pelayan dan mulai seleksi." Ucap Bu Lisye cekatan. Bu Lisye mengerti kondisi dan kesulitan yang dialami kedua tuan muda. Mereka mau datang saja, Bu Lisye dan sudah bersyukur. Mengingat selama ini mereka tidak pernah tinggal di rumah tersebut.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2