Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Mimpi.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah pulang dari acara pemakaman, Carren mengirim pesan kepada Parry. Dia sangat berterima kasih, karena Parry telah meminjamkan mobil untuk digunakan sepanjang acara pamakaman Bu Florens.


Ketika melihat pesannya hanya ceklis satu, Carren teringat apa yang dikatakan Parry sebelumnya. Dia akan sibuk sampai malam bersama Papinya. Carren meletakan ponselnya dan keluar untuk membantu Mamanya menyiapkan makan malam.


Selesai masak, Carren menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum makan malam. Setelah keluar dari kamar mandi, Carren melihat Mamanya masih bekerja di ruang jahit.


"Ma, mandi dulu, supaya kita bisa cepat makan malam. Laparrrr..." Ucap Carren, sambil mengelus perutnya, karena melihat Mamanya masih asyik menjahit. Mendengar yang dikatakan putrinya, Bu Nancy segera berdiri meninggalkan jahitannya dan mengambil handuk.


Setelah berganti pakaian, Carren menuju dapur untuk menata semua masakan di atas meja makan sambil menunggu Mamanya selesai mandi. Meja makan mereka berada jadi satu dengan dapur, karena mereka tidak memiliki ruang makan tersendiri.


Rumah mereka sederhana, tetapi berada di depan jalan yang bisa dilewati mobil. Jadi bisa dengan muda kemana-mana, tanpa harus berjalan jauh keluar gang untuk naik angkutan umum.


Di dekat rumah mereka ada gerbang masuk perumahan yang lumayan bagus. Jadi mereka dapat menikmati fasilitas jalan untuk perumahan. Hal itu mempermudah usaha Carren dan Mamanya.


"Mari makan, Ma. Arra masak bahan yang ada saja. Ngga ada sayur, jadi tempenya Arra kecapin agar bisa temani telur mata sapinya. Hehehe..." Ucap Carren, sambil tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Iya, Arra. Masih bagus, telur mata sapi ada temannya, tempe dikecapin. Kasihan kalau sendiri, sepi. Hehehe..." Ucap Bu Nancy ikutan tertawa, mendengar yang dikatakan Carren.


"Ini sudah sangat bersyukur ko', Na. Nanti besok baru Mama beli sayur. Tadi sibuk mau ke rumah duka, jadi Mama ngga sempat ke tukang sayur. Mari kita berdoa dan lekas makan. Katanya sudah lapar." Ucap Bu Nancy serius, lalu mereka berdoa dan makan.


"Waaah... Tempe yang kau masak ini sangat enak, Arra. Besok-besok Mama akan lebih sering beli tempe, biar bisa masak yang beginian lagi. Jadi tempe ngga selamanya digoreng saja." Ucap Bu Nancy, senang dengan masakan tempe putrinya.

__ADS_1


"Kalau Mama bilang enak, makasih Ma. Tapi jangan sering-sering beli tempe ya, Ma. Karena Arra ngga bisa masak setiap hari. Seperti besok, Arra mau ke rumah orang yang akan menikah bulan depan. Biar bisa berbicara dengan keluarganya dan sekalian melihat rumah yang akan dijadikan tempat acara repsesi." Ucap Carren mengingatkan Mamanya.


"Iyaa, ngga papa. Mama juga mau belajar membuat masakan seperti ini. Jadi kalau Arra ngga bisa masak, Mama bisa memasaknya. Arra belajar dari mana? Karena Mama belum pernah masak yang begini." Ucap Nancy, sambil menikmati nasi panas dan tempe masak kecap buatan Carren.


"Oooh, Arra lihat di tutorial masak, Ma. Makanya tadi mau ambil telur, lihat ada tempe di kulkas, pingin coba." Ucap Carren sambil mencoba masakannya. Dia sendiri merasa takjub dengan hasil masakannya yang memang enak seperti kata Mamanya.


"Melihatmu masak begini dan enak, nanti Mama akan coba masak campur dengan ikan tetapi ngga pakai kecap. Jadi agak pedas-pedas sedikit." Ucap Bu Nancy, karena terinspirasi dari masakan putrinya.


"Waaah... Benar, Ma. Pasti lebih enak dan akan menambah nafsu makan. Tetapi jangan sering dimasak begituan, Ma. Bisa-bisa kita pada melar dan Arra ngga bisa naik tangga untuk dekor." Ucap Carren sambil tersenyum, membayangkan dia gemuk dan harus naik tangga.


"Iyaa, ya. Sekarang juga sudah mulai terasa berat kalau dibuat jalan. Nanti kalau sudah ngga terlalu cape' kita bangun pagi dan jalan-jalan di dalam komplek perumahan. Di dalam udaranya masih sejuk, kalau pagi hari." Ucap Bu Nancy memberikan Ide dan Carren mengangguk setuju.


Selesai makan malam bersama Mamanya, Carren membersihkan semua perangkat masak dan perangkat makan mereka. Setelah melihat semuanya sudah rapi, Carren mendekati Mamanya di ruang jahit.


Saat di kamar, Carren mengambil ponselnya untuk melihat pesannya untuk Parry. Mungkin sudah dibaca atau sudah ada balasan pesan dari Parry. Ternyata belum dibaca oleh Parry. Yang ada mala pesan dari Recky. Carren membuka dan membacanya.


"Malam, Carren. Apa kabar & lagi ngapain?" Isi pesan Recky.


"Malam, Recky. Kabar baik, makasih. Baru selesai makan. Apa kabarmu juga?" Jawab Carren dan balik bertanya. Dia meletakan ponselnya di atas tempat tidur dan mengambil laptopnya untuk bekerja.


Beberapa saat kemudian, Recky tidak membalas pesannya tetapi mala menelponnya.


📱"Alloo, Carren. Sorriii... Apakah aku mengganggumu?" Tanya Recky, saat Carren merespon panggilannya.

__ADS_1


📱"Alloo, Recky. Ngga juga, aku hanya lagi lihat-lihat yang mau dikerjakan besok saja. Bagaimana kabarmu?" Tanya Carren, karena tadi Recky belum menjawab pesannya.


📱"Aku lumayan baik. Tetapi kepalaku hampir penuh, jadi mau ngobrol denganmu. Supaya jangan sampai isi kepalaku penuh dan tumpah. Hahaha..." Ucap Recky, dan langsung tertawa mendengar yang diucapkannya.


📱"Oooh, kau isi kepalamu dengan benda padat atau cair? Mungkin aku bisa berikan tips atau kirim alat kuras untukmu. Hahaha..." Ucap Carren, dan juga ikut tertawa.


📱"Hahaha... Ngga usah kirim, ini kau sudah kuras. Thanks, sudah membuatku bisa tertawa. Sekarang mataku mungkin sudah persegi, karena seharian di depan laptop. Aku lagi persiapan mau ujian, jadi belakangan ini agak sibuk." Ucap Recky senang, karena berbicara dengan Carren membuatnya sedikit lebih santai.


📱"Oooh. Selamat, ya. Semoga isi kepalamu ngga mengecewakanmu pada saat ujian. Jadi jangan dikuras semua, tinggal tigaperempat supaya hasilnya ngga mengecewakan." Ucap Carren tersenyum, saat mengetahui Recky mau ujian akhir. Dia teringat Parry juga mau ikut ujian. 'Jadi teman-teman sudah pada mau selesai kuliah.' Carren membatin.


📱"Ok, thanks. Doain ya, semoga semuanya lancar dan bebas hambatan." Ucap Recky menanggapi yang dikatakan Carren. Mengetahui Carren terlambat menjawab, Recky tersadar. Dia menyadari keberadaan Carren yang tidak kuliah.


📱"Carren, selain mau minta didoa'in, aku juga mau cerita." Ucap Recky lagi, saat mengetahui Carren terdiam. Dia bisa mengerti perasaan Carren, karena dia bukan orang yang kurang pintar dan malas belajar. Jadi akan terpikirkan, kalau dia kuliah pasti sudah mau selesai seperti mereka.


📱"Aku akan mendoakanmu, jadi tenang saja belajarnya dan jaga isi kepalamu agar ngga tumpah. Hehehe.... Kau mau cerita apa?" Tanya Carren, menyadari dia sedang berbicara dengan Recky.


📱"Tadi aku menanyakan kabarmu, karena tadi malam aku mimpi melihatmu seperti apa, ya. Bidadari atau malaikat begitu, aku ngga bisa menggambarkan atau mendefenisikannya. Karena kau berdiri agak jauh dariku, tetapi aku yakin, itu kau." Ucap Recky, serius. Karena setelah mimpi demikian, dia langsung bangun dan tidak bisa tidur lagi.


📱"Astaga Recky, mimpi itu hanya bunga tidur, ngga usah ditanggapi serius. Pikirkan bahan yang akan ujian saja." Ucap Carren, tetapi jantungnya berdenyut cepat. Recky berbicara mengenai malaikat, sedangkan dia baru pulang dari tempat kedukaan.


📱"Aku serius, Carren. Karena aku tidak pernah mengalami yang begituan. Aku melihat kau berdiri di pinggir taman bunga. Ketika aku mau mendekatimu, kau menjauh dariku dan masuk ke tamannya. Tetapi saat kau berbalik, di belakangmu ada tumbuh seperti sayap. Makanya tadi aku bilang, melihatmu seperti bidadari atau malaikat." Ucap Recky masih serius.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2