Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kontak Batin.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Aaric tidak membalas pesan Carren, tetapi langsung menghubunginya. Karena dia berpikir, Carren baru kirim pesan, berarti belum tidur. Peristiwa yang terjadi membuat dia lupa kalau Carren belum memberitahukan padanya bahwa sudah sampai rumah.


📱"Arra, jam segini baru pulang kantor?" Tanya Aaric saat Carren merespon panggilannya.


📱"Ooh, maaf Kak. Sudah dari jam sebelasan tadi. Cuma terasa lelah dan lengket, jadi mandi dulu dan minum panas. Arra kira Kakak sudah istiraht, jadi nanti besok baru baca pesannya. Maaf ya, Kak. Kalau Arra mengganggu." Ucap Carren pelan, karena dia merasa suara Aaric yang agak kesal. Carren selalu membahasakan dirinya Arra, jika dia dipanggil dengan nama itu. Seperti yang sering dilakukan terhadap Papa dan Mamanya.


Dia baru teringat pesan Aaric saat mau tidur. Harus memberi kabar padanya setelah tiba di rumah. Secara refleks dia kirim pesan dan berharap Aaric sudah tidur. Biar pesannya dibaca besok pagi. Ternyata Aaric belum tidur, sehingga dia buru-buru merespon panggilan Aaric.


📱"Baiklah. Mulai besok tidak usah ikut lembur. Biarkan saja karyawan yang lakukan itu. Apa kau perlu tambah karyawan?" Tanya Aaric karena sebenarnya dia sedang cemas banyak hal, termasuk Carren yang baru dikenalnya.


"Tidak usah, Kak. Nanti aku usahakan pulang pada jam pulang kantor. Apakah Kak Aaric baik-baik, saja?" Tanya Carren, karena mendengar suara dan cara berbicara Aaric yang berbeda.


"Hanya agak sakit kepala. Nanti sudah tidur, mungkin akan lebih baik. Sekarang kau istirahat, kalau sudah lebih baik baru kita berbicara." Ucap Aaric, karena dia merasa kepalanya makin sakit.


"Baik, Kak. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa." Carren merasa cemas dengan apa yang didengarnya. Aaric mengakhiri pembicaraan mereka setelah mengucapkan selamat tidur untuk Carren.

__ADS_1


'Apa persoalan di restoran tadi membuat Kak Aaric sakit kepala?' Tanya Carren dalam hati. Dia tetap duduk di atas tempat tidur dan mengingat semua yang terjadi di restoran. Baik saat makan malam, dimana perlakuan Aaric kepadanya dengan cara yang tidak biasa dialaminya. Mau berbagi makanan dengannya tanpa merasa risi. Kadang tegas, kadang sangat lembut yang membuat hatinya tidak bisa berpaling dan terus memikirkannya.


Seperti saat ini, mengetahui Aaric sedang sakit kepala membuatnya sangat khawatir. 'Mungkinkah persoalan yang sedang dihadapi sangat berat?' Carren bertanya dalam hati dan dia bersyukur tidak menambah persoalan dengan mengikuti apa yang dikatakan Aaric padanya di restoran.


Carren kembali turun dari tempat tidur dan masuk ke dapur untuk mengambil air minerar, karena dia sangat gelisah. Hatinya tiba-tiba tidak tenang, ingin rasanya kembali menghubungi Aaric. Jantungnya yang berdetak tidak beraturan membuatnya, makin cemas dan tidak bisa tidur.


Walaupun mereka telah berhenti berbicara, Carren tidak bisa menghilangkan kondisi Aaric dari pikirannya. Sambil memegang dadanya, dia menengadakan wajahnya. 'Ya, Tuhan, segala sesuatu ada dalam kendali-Mu. Berilah ketenangan pada batinku, agar bisa memohon pada-Mu untuk semua yang kusayangi dan menyayangiku......' Sekarang ada tambahan nama baru dalam doanya, Aaric.


.***.


Jekob meletakan Aaric dipunggungnya dan membawanya kembali ke tempat tidur dengan sedikit menyeretnya. Aaric sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Membuat Jekob berlari mengambil ponsel, lalu menghubungi dokter Hendra untuk segera ke apartemen bossnya.


Jekob melepaskan jacket Aaric dan membuka kancing atas kemejanya. Kemudian dia melepaskan ikat pinggang dan sepatu Aaric dengan panik. Dia merasa sedikit lega, saat mendengar ketukan di pintu dan melihat dokter Hendra yang datang. Dia telah menelpon security untuk mengantar dokter Hendra ke unit apartemen bossnya. Dia segera membawa dokter Hendra ke kamar bossnya. "Ada apa, Pak Jekob? Kenapa tuan Aaric tiba-tiba seperti ini?" Tanya dokter Hendra saat memeriksa kondisi Aaric.


"Tadi beliau hanya katakan sakit kepala dan minta cari obat atau telpon dokter Hendra. Tetapi tiba-tiba terhuyung dan hampir jatuh. Untung saya berada tidak jauh, sehingga bisa menopangnya." Dokter Hendra merasa heran dengan kondisi Aaric, karena saat terakhir memeriksanya, dia dalam keadaan bugar.


"Sebentar, dok. Saya akan menghubungi dokter pribadi beliau di Swiss. Karena beliau pernah mengalami ini dulu di sana dan ditangani oleh dokter Liam." Jekob segera menghubungi dokter pribadi bossnya di Swiss dan menyerahkan ponselnya kepada dokter Hendra. Karena dokter Liam mau berbicara dengan dokter yang sedang menangani bossnya.

__ADS_1


"Pak, Jekob. Saya keluar sebentar untuk mengambil obat dan alat infus. Tunggu tuan Aaric di sini, dan tolong kabari saya jika terjadi sesuatu." Ucap dokter Hendra dan segera meninggalkan kamar dan apartemen Aaric. Jekob mengantar dan memberikan kartu aksesnya kepada dokter Hendra. Jekob kembali masuk dan duduk di tepi tempat tidur, sambil memperhatikan dada bossnya. Dia sangat khawatir, tapi tidak bisa berbuat sesuatu.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ketika melihat siapa yang menghubungi, Jekob terkejut. Dia berjalan sedikit menjauh dari tempat tidur, baru merespon panggilan di telponnya. "Alllooo, tuan muda. Apa kabar? Apa tuan muda baik-baik saja?" Tanya Jekob saat merespon panggilan Recky.


"Iya, Pak Jekob. Saya baik-baik saja. Apakah kakak baik-baik saja?" Tanya Recky dengan suara serak, orang bangun tidur.


"Iya, tuan muda. Pak Aaric sedang istirahat. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jekob pelan dan ragu, karena dia menangkap suara panik dari Recky.


"Apakah Pak Jekob sedang bersama kakak?" Tanya Recky yang sedang cemas.


"Iya, tuan muda. Tadi kami sedang banyak kerjaan, jadi Pak Aaric minta saya tidak usah pulang. Saya diminta tidur di sini, agar tidak mondar mandir." Jawab Jekob hati-hati, agar Recky tidak curiga.


"Baiklah, kalau begitu. Saya mimpi buruk tentang kakak, sehingga terbangun. Tadi saya sudah telpon kakak, tapi tidak direspon. Padahal kakak biasanya merespon walaupun sudah tidur. Saya sudah kirim pesan, tapi belum dibaca. Makanya saya telpon Pak Jekob untuk mengecek keadaan kakak." Ucap Recky, menjelaskan kenapa dia menghubungi di larut malam bahkan sudah lewat dini hari.


"Tuan muda istirahat saja lagi, nanti besok baru saya atau Pak Aaric akan hubungi tuan muda." Ucap Jekob, pelan  dan tegas untuk meyakinkan Recky. Dia khawatir menyampaikan hal yang sebenarnya, karena dia tahu Recky akan terbang pulang tanpa peduli persoalan yg sedang dihadapi. Hal itu akan mempersulit penyelesaian masalah yang sedang dihadapinya.


~●●♡●●~

__ADS_1


__ADS_2